
Keluarga Adijaya bersepakat mereka bersama dengan Cenza akan mengunjungi kediaman orang tua Cenza, untuk menyampaikan maksud hati keluarga untuk melamar Cenza.
Mereka disambut Orang tua Cenza dengan ramah.
Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Ray pun mengutarakan niat mereka untuk melamar dan menikahkan Cenza dengan Arka.
Pak Hengky dan istri saling berpandangan. Raut wajah mereka berubah muram.
Bukan hanya keluarga Arka yang heran melihat air muka sepasang suami istri itu berubah, Cenza pun heran.
"Ada apa Pa, Ma?" tanya Cenza
"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya Ray"
kata Pak Hengky
Istrinya hanya menunduk, meremas jari tangannya, seolah-olah mereka telah menyembunyikan sesuatu selama ini.
"Mohon maaf untuk apa Hengky? " Pak Ray bingung dengan sikap temannya yang tiba-tiba berubah.
Cenza menghampiri Mamanya, menggenggam tangan mamanya dan bertanya "Ma, ada apa sih, coba ceritakan sama Cenza"
"Biar Papamu saja yang cerita sayang"
Cenza beralih menatap Papanya menuntut penjelasan.
"Pa, tolong ceritakan ada apa ini, jangan membuat Cenza dan yang lainnya menunggu"Pak Hengky berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa kering dan sesak.
" Sebenarnya saat Perusahaan Papa tahun lalu tutup karena bangkrut, Papa sudah menggadaikan Tanah dan rumah kita ini pada keluarga Hermawan.
Minggu lalu mereka ke sini untuk meminta biayanya karena sudah jatuh tempo, tapi Papa tidak bisa melunasi nya.
Tiba-tiba kemarin David menelefon, katanya Ia dan orang tuanya akan kemari besok, untuk membicarakan lebih lanjut rencana untuk melamar kamu menjadi istrinya. Jika Papa setuju menikahkan kamu dengan David maka mereka akan mengembalikan rumah dan tanah kita yang sekarang menjadi milik mereka karena sudah jatuh tempo.
Papa hendak memberitahu kamu, tapi karena kamu menelefon kamu akan berkunjung jadi Papa memutuskan untuk menunggu kamu tiba di sini baru Papa sampaikan sama kamu, Za"
Pak Hengky berhenti, Cenza hanya bisa memandang Papanya tidak percaya, air matanya sudah menggantung, dan akhirnya jatuh membanjiri wajahnya.
__ADS_1
Arka yang mendengar nama David saja sudah sejak tadi ia merasa marah.
"Berarti si brengsek itu bukannya kebetulan bertemu Cenza, Ia memang membuntuti Cenza" batin Arka. David benar-benar licik.
"Kenapa selama ini Papa dan Mama tidak pernah bilang ke Cenza kalau rumah kita digadaikan Pa? " tanya Cenza sambil terisak.
"Kami tidak ingin membuat kuatir dan kepikiran sayang, karena itulah Papa dan Mama menyetujui saat kamu ingin pindah karena kantor mu buka cabang di kota yang kebetulan ada Pak Ray teman Papa".
Cenza menangis, tidak saja karena malu karena sudah membawa Arka dan keluarganya jauh-jauh untuk bertemu orang tuanya dan hasilnya malah seperti ini, tapi ia juga sedih memikirkan betapa tersiksa nya orang tuanya selama ini memikirkan cara untuk menebus rumah mereka.
Cenza berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamar.
"Apakah Pak Hermawan dan keluarga tidak mau menerimanya jika biayanya bisa dibayar sekarang?" Tanya Pak Ray
"Awalnya mereka sudah berjanji akan mengembalikannya setelah kami mendapatkan uang untuk menebusnya, tapi entah kenapa beberapa hari lalu mereka berubah pikiran, mareka tidak akan menagih uangnya, tapi kami harus menikahkan putri kami Cenza dengan putra mereka David". Tutur Pak Hengky
"Ini pasti gara-gara si brengsek itu" geram Arka.
"Siapa maksud kamu Arka? "
"Jadi bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan? " tanya Pak Ray
"Kami tergantung Cenza saja Ray, jika memang Cenza ingin menikah dengan Arka, kami iklas, karena kebahagiaan Cenza lebih penting bagi kami" sahut Mama Cenza.
Arka bangun, berjalan mondar mandir saking bingungnya, ia tahu Cenza benar-benar dilema saat ini. Di sisi lain ia pasti ingin menebus rumah mereka namun di sisi lain ia ingin menikah dengan Arka.
"Boleh saya bicara dengan Cenza? " Arka meminta ijin kepada orang tua Cenza
"Boleh Nak, silahkan" jawab mamanya Cenza
Arka bergegas ke kamar yang tadi dimasuki Cenza.
Diketuk nya pintu dan membukanya.
Ia melihat Cenza menangis memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur. Wajahnya tersembunyi di atas kedua lututnya.
Arka menghampirinya, membawanya ke dalam pelukannya. Airmatanya semakin banyak mengalir, tapi suara isaknya tidak terdengar.
__ADS_1
Arka membelai rambutnya berusaha menenangkannya.
"Sayang, kamu tahu betapa aku sangat menginginkan pernikahan kita, aku mencintai kamu sayang. Aku dan Papa bisa menebus kembali rumahmu, tapi itu jika David dan keluarga mau menerimanya.
Apabila mereka berkeras untuk tetap harus menikahkan mu dengan David agar bisa menebus kembali rumah kamu, maka aku menyerahkan keputusannya di tangan kamu. Aku tidak akan memaksamu harus memilih aku sayang. Aku tahu rumah mu juga berarti untukmu dan keluarga.
Cenza semakin membenamkan dirinya ke dalam pelukan Arka. Ia benar-benar bingung saat ini, ia tidak bisa mengambil keputusan dengan terburu-buru.
"Apa aku harus menelefon David Ka? untuk menanyakan apakah mereka mau menerima bayarannya sekarang dan membiarkan kami memiliki rumah kami kembali? "
Arka sebenarnya keberatan tapi itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui keputusan keluarga David.
Arka mengiyakan nya dengan menganggukkan kepalanya.
Cenza segera meraih ponselnya, dan memanggil nomor David.
"Hallo Za, apa kabar? sudah sehat? "
mendengar suara David Cenza merasa amarahnya menggumpal dalam dada, ia sungguh tidak menyangka David akan selicik dan setega itu pada kedua orang tuanya.
"Ya aku sudah sehat Kak. Aku ingin to the point saja, apa benar orang tua ku menggadaikan rumah kami pada keluargamu Kak? dan apa benar sudah jatuh tempo? "
"Hahaha akhirnya kamu tahu juga Za, iya benar Za, dan apakah kamu juga sudah tahu persyaratannya untuk bisa menebusnya kembali? "
Cenza tertegun, apakah benar David yang ia kenal yang sekarang tertawa mengejeknya?
"Kamu serius dengan persyaratan konyol mu itu Kak? " tanya Cenza masih heran
"Sangat serius Cenza. Meskipun kamu membawa segudang uang kekasihmu yang angkuh itu untuk menebusnya aku tidak akan memberikannya, kecuali kamu mau menikah dan menjadi istri ku" katanya penuh ancaman. Cenza bisa membayangkan wajah tampan David menyeringai jahat.
Arka yang ikut mendengar apa yang diucapkan David sudah hampir kehilangan kesabaran.
"Sudahlah Kak, berhenti berpura-pura menyukai aku, dari dulu kan kamu tidak menyukai aku Kak, aku hanya gadis kecil yang seperti adik bagimu. Kenapa sekarang kakak menjadi seperti ini? "
"Kata siapa? dari dulu aku sudah menyukaimu Cenza Putri, tapi aku tidak menunjukkannya karena Papa kamu tidak senang dengan ku, karena aku sering membawa pacar-pacarku ke rumah ia selalu berusaha menjauhkanmu dari ku" suaranya yang selama ini lembut menjadi menyeramkan di telinga Cenza.
Arka merebut ponsel dari tangan Cenza, "Dasar kamu banci brengsek, Sakit jiwa, aku tidak akan merelakan Cenza untuk menjadi istrimu" umpat Arka, kesabarannya sudah melampaui batas.
__ADS_1