
Mendengar Cenza mengatakan bahwa David adalah cinta pertamanya membuat Arka murka.
Cenza sadar ia telah salah mengeluarkan kata-kata melihat rahang Arka yang mengeras.
Arka nampak mengepalkan tangannya
Cenza tahu, obat mujarab untuk menangkal amarah Arka cuma satu, ia segera memeluk Arka dan mencium lembut bibir kekasihnya itu.
"Sayang, itu dulu waktu aku masih kecil, sekarang sudah tidak kok"
Arka masih diam, nampaknya ia masih kesal.
Dalam hati Cenza menggerutu, "Kemarin saja waktu dia ketemu mantannya aku tidak protes. Dasar egois"
"Sayang.... " Cenza makin mempererat pelukannya.
Di saat Cenza sedang berusaha meredam amarah Arka, Zara muncul justru membuat Arka makin kesal
"Kak yang barusan itu siapa? aduh sumpah cakep banget, OMG. Seandainya saja aku lahir lebih cepat sudah ku pacari dia" seru Zara
Cenza tidak menyahut, lebih baik mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Cakep dengkulmu" semprot Arka
"Lah emang cakep kok Kak. Teman Kakak ya? tapi kok Zara tidak pernah melihatnya"
"Bi.... Bi Inah" teriak Arka
Bi Inah datang secepat kilat
"Ya Tuan"
"Lain kali kalau cowok itu datang mencari Cenza bilang saja tidak ada".
" Baik Tuan" sahut Bi Inah dan kembali ke belakang.
Zarra baru paham, berarti cowok itu teman Kak Cenza, atau jangan-jangan mantannya lagi, pantasan dari tadi Kak Cenza menempel pada Kakaknya, pasti gara-gara Kak Arka marah-marah.
" Cowok tadi teman Kak Cenza? atau jangan-jangan mantan ya kak? Kak Cenza keren banget sih punya mantan sekeren itu. Bagaimana Kak Arka tidak murka Kak? " Zara sengaja membuat kakaknya makin kesal.
"Huss sana kamu" usir Cenza, ia tahu Zara sangat senang menggoda Kakaknya membuat Arka kesal.
"Hahaha Kak Cenza, sepertinya Kak Cenza harus menempel terus kayak cicak sampai malam baru bisa hilang kesalnya tuh" ucap Cenza dan naik ke kamarnya sambil tertawa mengolok Arka.
"Sayang, kamu tidak marah lagi kan? "
"Mulai sekarang aku akan menjemputmu makan siang, kalau aku tidak sempat maka Pak Arif yang jemput"
"Tapi Ka... "
"Tidak ada tapi-tapian, atau kamu mau makan sama dia tiap siang? "
Cenza diam.
"Jika kamu melanggarnya sekali saja aku akan membuat mu tidak bisa keluar rumah"
"Sayang bagaimana kalau aku ingin makan dengan teman-teman ku?"
__ADS_1
Arka berpikir sejenak,
"Jika kamu bisa pastikan kamu hanya makan dengan teman mu kamu diijinkan, tapi jika sampai David ada di tempat yang sama, kamu siap untuk menerima akibatnya"
"Sayang kamu terlalu overprotective ke aku. Nanti teman-teman ku berpikir aku menjaga jarak dari mereka"
"Jadi kamu keberatan dengan aturan yang aku buat? "
"Bukan begitu sayang, lagipula kita kan belum menikah, jadi... "
"Jadi kamu bebas ingin berteman dengan siapa saja termasuk David? "
"Ya Tuhan salah lagi" batin Cenza
"Bukan itu maksud aku sayang, aku janji tidak akan meladeni Kak David, kamu kan dengar sendiri aku memperkenalkan kamu sebagai calon suami aku sayang, mana mungkin juga dia suka sama aku? "
"Kata siapa dia tidak suka sama kamu, emangnya kamu bisa melihat isi hatinya? "
Cenza benar-benar kewalahan menghadapi keras kepalanya Arka.
"Ok Sayang, aku setuju tiap siang kamu jemput aku, tapi kalau kamu tidak sempat ijinkan aku makan bareng teman-teman ku ya" bujuk Cenza memasang wajah memelas. Digoncang-goncangnya tubuh Arka dalam pelukannya.
Arka yang dari tadi tidak merespon pelukan Cenza segera memeluknya. Entah kenapa melihat David membuat dia kuatir akan hubungannya dengan Cenza. Itulah yang membuat ia tadi sangat kesal.
Ia merapikan rambut yang berantakan di kening Cenza, menghadiahi nya sebuah kecupan
"Kamu tahu sayang, aku tidak ingin kehilangan kamu" bisik Arka kembali menyandarkan kepala Cenza di dadanya.
Cenza tidak menjawab, ia hanya memeluk Arka, karena tanpa ia mengucapkannya Arka sudah tahu bahwa Cenza pun memiliki rasa yang sama dengannya.
Namun baru saja ia hendak pamit untuk kembali ke kantor , ponsel Cenza berdering, dan sial nya, David yang menelefon.
Spontan Arka menjawab panggilan David
"Hallo"
"Hallo, Arka ya, bisa bicara sama Cenza? "
"Cenza sudah tidur, jika ada pesan sampaikan saja pada ku"
"Ok, tolong sampaikan ke Cenza mamaku mengajak Cenza makan malam bersama kami nanti malam"
"Ya nanti aku sampaikan, tapi aku berani jamin dia tidak bisa pergi" Arka mengakhiri panggilan David.
Ia beralih menatap Cenza
"Sejak kapan kamu punya nomor si brengsek itu? "
"Aku tidak memberinya , tadi dia ke kantor ingin mengajak ku makan siang, karena aku tidak masuk ia meminta nomor aku pada Kevin, dan tadi sebelum kamu pulang dia sempat menelefon aku"
Arka menggenggam ponsel Cenza sampai buku jarinya memutih.
"Mulai sekarang jangan menjawab panggilannya"
Arka benar-benar marah, tapi tidak mungkin ia meluapkan amarahnya pada Cenza. Karena bukan salah Cenza jika David bersikap agresif kepada kekasihnya itu.
Arka kembali memeluk Cenza, ia sudah merencanakan sesuatu di kepalanya, dan ia berniat segera melakukannya.
__ADS_1
"Aku ke kantor dulu sayang, kamu istirahat lah lagi di kamar"
"Kamu tidak marah lagi kan Sayang? "
Arka tidak menjawab tapi mengecup kening Cenza.
\*
Malam ini semuanya hadir di meja makan.
Pak Ray, Bu Riri, Arka, Zara dan Cenza.
"Bagaimana sekolah mu sayang?" tanya Pak Ray pada putri nya.
"Baik Pa, tidak ada masalah" jawab Zara
"Bagus, kamu Arka? bagaimana hari ini di perusahaan, tadi Papa bertemu Tuan Nagamori. Ia sudah bersepakat bekerja sama dengan kita"
"Di kantor baik-baik saja Pa, tidak ada masalah"
"Cenza, bagaimana sudah sehat? " tanya Pak Ray mengalihkan pandangannya ke arah Cenza.
"Cenza sudah baikan Om, tadi cuma masuk angin kok"
"Syukurlah"
"Pa, Arka mau minta sesuatu, Arka harap Papa bisa mengabulkannya"
"Apa Ka? serius benar kelihatannya"
"Arka ingin segera menikah dengan Cenza"
Zara hampir tersedak makanannya, Cenza, Bu Riri, Pak Ray menatap Arka menunggu kelanjutan kata-kata Arka
"Arka serius Pa, Ma. Sayang, kamu tidak keberatan bukan?" tanya Arka pada Cenza.
Cenza mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Arka di atas meja.
"Aku terserah kamu saja Ka"
Arka mendekat dan mencium pipi Cenza tanpa malu dilihat orang tua dan adiknya.
Zara mencibir, "Pasti gara-gara cowok yang siang tadi mencari Kak Cenza"
"Cowok siapa? tanya Bu Riri
" Cowok cakep ma, kayak ada bule-bulenya, mungkin Kakak takut Kak Cenza direbut cowok itu" jawab Zara tidak menghiraukan tatapan mengancam kakaknya
"Papa terserah kalian, kalau kalian sudah siap menikah, Papa bisa membicarakannya dengan Om Hengky"
Arka bernafas lega.
Sebentar lagi ia akan mengikat Cenza dengan pernikahan, sehingga tidak ada lagi yang bisa menggoda kekasihnya.
__ADS_1