
Vanny berjalan memasuki cafe yg menjadi tempat pertemuannya dengan David. Kedua orang itu memang tidak puas jika belum berhasil melaksanakan niat mereka untuk mencelakai Cenza.
Ia duduk di meja yang terletak di pojok cafe menunggu David datang. Tidak menunggu waktu lama ia melihat David masuk, Vanny pun melambaikan tangannya.
"Sudah lama Van?, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan tadi"
"Belum lama Dave. Kita pesan minum dulu ya, mau minum apa Dave? "
"Americano Van"
Vanny pun memanggil pelayan dan memesan dua Americano.
"Bagaimana rencana kita selanjutnya? aku semakin kesal karena gadis itu menantang ku akan segera menikahi Arka"
"Bisakah kamu mendekati Arka lagi dan membuatnya tertidur? kita buat seolah-olah ia bercinta denganmu dan menyebarkan fotonya"
"No Dave. Aku lebih baik menyerang langsung gadis itu, aku tidak ingin lagi berurusan langsung dengan Arka. Terakhir kali ia sudah mencurigai aku"
"Hmmmm kalau begitu tidak ada cara lain, kita harus menculik Cenza dan membuat Arka gila"
"Kamu yakin bisa melakukannya?"
David tersenyum penuh misteri.
"Kau tunggu saja, aku akan buat dia menyesal berurusan denganku"
Keduanya menikmati minuman mereka tanpa menyadari seseorang memotret mereka.
"Aku tidak ingin dikaitkan dengan penculikan Cenza, kau tahu kan dia pasti akan langsung mencurigai aku"
"Hahaha kau terlalu kuatir Van. Aku pastikan Pria sombong itu benar-benar menyesal berurusan dengan ku. Dia pikir dia bisa mengancam ku seenak perutnya, aku bukan anak kecil yang mudah ia takuti".
" Kapan kau akan melaksanakan rencana mu? "
"Sesegera mungkin. Kamu tunggu saja dan lihat apa yang bisa aku lakukan"
"Well, kalau kau sudah mantap aku hanya bisa menyaksikan. Aku sarankan kamu berhati-hati"
Mereka pun meninggalkan Cafe setelah selesai membahas rencana jahat mereka.
Sementara itu, orang yang tadi memotret Vanny dan David segera mengirimkan hasil jepretannya kepada Arka
Arka segera mengecek foto yang dikirimkan pada nya.
"Hmmm kalian berdua ternyata bekerjasama ya?" gumam Arka
Arka menelepon Cenza, menanyakan keberadaan gadis itu.
"Sayang, kamu di mana? "
"Aku baru juga mau pulang Ka"
"Tunggulah di situ, aku akan menjemputmu"
"Baiklah. Hati-hati mengemudi"
"I love you"
"Love You too"
__ADS_1
Shinta menghampiri Cenza,
"Kau belum pulang Za? "
"Aku dijemput suamiku" sahut Cenza tanpa menyadari pelototan Shinta karena ia sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan merapikan meja kerjanya.
"Suami mu? kapan kau menikah Za? kok tidak bilang-bilang? kamu hamil ya makanya menikah diam-diam? "
Cenza yang baru sadar ucapannya sudah membuat Shinta heboh segera memutar otak
"Memangnya aku bilang apa Shin? aku kan bilang calon suami ku yang jemput, Arka kan akan menjadi suami aku"
Mudah-mudahan Shinta tidak menaruh curiga
"Aku belum tuli Za, jelsa-jelas tadi kau mengatakan suami, bukan calon suami"
"Entahlah Shin, tapi maksud aku calon suami, bukan suami" bantah Cenza
Shinta masih penasaran, ia hendak melanjutkan pertanyaannya namun dering ponsel Cenza menghentikannya
"Ya ka? "
"Keluarlah sayang, aku di depan"
Cenza segera berdiri dan keluar dari ruangan diikuti Shinta
"Za boleh ikut tidak? kebetulan hari ini aku tidak bawa mobil"
"Boleh, ayo Arka sudah menunggu"
Arka membuka pintu mobil untuk Cenza.
"Ka, kita antar Shinta dulu ya, tadi dia tidak bawa mobil"
"Thanks Ka, sorry merepotkan" sahut Shinta
"Tidak merepotkan kok, iya kan sayang? " Cenza yang menyahut
Arka tidak menjawab tapi mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Cenza. Membawa tangan Cenza ke bibirnya dan mengecupnya.
Aaaa so sweet, kenapa sih Cenza beruntung benar bisa mendapatkan cowok setampan dan se tajir Arka? mana romantis lagi. Mereka merobek jiwa jomblo ku
Cenza bersemu merah. Tapi ia tidak ingin menarik tangannya karena ia tahu Arka pasti akan marah jika hal itu ia lakukan. Shinta pasti akan mengolok-oloknya besok.
Setelah mengantar Shinta, Arka segera membawa Cenza kembali ke rumah, rumah baru mereka.
\*
Arka menghempaskan tubuhnya ke ranjang mereka yang empuk diikuti Cenza yang duduk di sampingnya.
"Aku siapkan air hangat ya untuk kau mandi"
Arka malah meletakkan kepalanya di paha Cenza.
"Sebentar, biarkan seperti ini dulu"
__ADS_1
Cenza mengelus kepala Arka dan memberinya pijatan ringan.
Ia sangat bahagia karena bisa memiliki Arka, Cinta yang ia inginkan.
Arka memejamkan matanya menikmati pijatan tangan Cenza di kepalanya.
"Sayang sebaiknya mandi dulu, nanti kau bisa ketiduran kalau seperti ini. Ayo mandi dulu. selesai mandi aku pijitin lagi"
Arka tidak menjawab tapi malah menarik Cenza ke atas ranjang, Cenza memekik karena terkejut
Arka ******* bibir istrinya yang merah menggoda membuat Cenza hampir kehabisan nafas.
Arka tidak berhenti, tangannya menyusup masuk ke dalam baju Cenza, tanpa melepaskan pagutannya di bibir Cenza. Ia menciumi leher Istrinya membuat Cenza mendesah karena gairah yang ditimbulkan karena ciuman Arka.
Mereka berdua asik bercumbu mesra sampai berhasil mencapai kepuasan. Cenza memeluk tubuh Arka yang berkeringat. disusupkan nya kepalanya di dada Arka yang bidang. Menghirup aroma tubuh Arka yang disukainya.
Arka mengelus rambut Cenza penuh rasa sayang, kemudian dikecup nya puncak kepala istrinya.
"Bangunlah, kita mandi bareng" bisik Arka sambil menggigit lembut telinga Cenza.
Cenza menggeliat.
"Aku tidak bs berjalan sayang, gendong"
rengek Cenza manja.
Arka segera bangun dan menggendong istrinya ke kamar mandi. Cenza cekikan karena kesenangan. lengannya melingkar di leher Arka, ia menghadiahkan ciuman di pipi Arka.
Arka dan Cenza mandi sambil sesekali bercanda, sehingga saat Bi Ria mengetuk pintu mereka tidak mendengarnya. Bi Ria pun turun kembali menemui Papa, mama dan adik Arka d ruang depan.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Arka dan Nona Cenza tidur, sudah saya ketuk pintunya berkali-kali tidak ada sahutan"
"Ya sudah kita makan duluan saja"
"Setuju Pa, Zara sudah lapar soalnya"
Mereka bertiga makan malam sambil berbagi cerita bersama Om Hengki dan istrinya.
Mereka sudah selesai makan baru Arka dan Cenza muncul.
"Loh bukannya kalian lagi tidur? " tanya Bu Riri
"Tidak kok Ma, sejak kapan Arka tidur kalau pulang kantor? "
"Tadi Bi Ria ke atas panggil Kakak sama Kak Cenza tapi tidak ada sahutan, makanya kirain lagi tidur"
"Oh Tadi Kakak lagi mandi"
Hmmmm pasti kak Cenza sama kakak mandi bareng
"Kalian duduklah, makan" ujar Pak Hengki
"Semua sudah makan? " tanya Cenza
"Iya sudah kalian berdua makanlah, nanti bergabung di ruang keluarga saja" dan Papa Arka bangun diikuti yang lain.
Cenza duduk di samping Arka, mengisi piring Arka dan piringnya sendiri.
"Sayang jangan banyak-banyak aku tidak bisa menghabiskan itu sayang"
__ADS_1
"Sedikit kok, jangan alasan, harus makan" pelotot Cenza
"Ckcck kejamnya melebihi ibu tiri" goda Arka yang dibalas dengan cubitan oleh Cenza.