Penjaga Hati

Penjaga Hati
Awal permainan


__ADS_3

Cenza sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah deadline, dan baru saja ia menutup lembar kerjanya hendak berkemas pulang, Ia menerima pesan dari nomor yang tidak dikenalnya


"Jika ingin Ibumu selamat, temui aku sendirian di Gudang Tua pinggiran kota, kamu tahu tempatnya"


disertai Foto wanita yang terikat di kursi, yang meskipun wajahnya tertutup rambut, Ia yakin itu ibunya. Cenza panik, HP nya kembali berbunyi


"Jangan coba-coba untuk menghubungi siapapun, apalagi polisi, aku tidak akan segan-segan membunuh Ibumu"


Cenza merasakan tangannya dingin, Ia panik namun takut untuk menghubungi Arka.


Meskipun ragu, Ia menyambar tasnya di atas meja dan berjalan keluar


"Za, dijemput ya? boleh ikut lagi? "


"Sorry Shin, aku pake taxi, see you"


Cenza melambai ke arah Shinta dan terus melangkah keluar, menyetop taxi dan menuju ke gudang yang dimaksud orang yang mengirim pesan


Sopir taxi menatap heran melalui kaca, ada urusan apa gadis ini di gudang tua itu? namun ia tidak bertanya karena sepertinya gadis di belakangnya tidak ingin bercakap-cakap, hanya wajahnya yang kelihatan cemas, jari tangannya saling meremas menunjukkan kegelisahan nya.


Langit senja berwarna jingga mengantar sang Raja siang ke peraduannya. Lampu-lampu kendaraan sudah menyala.


Taxi berhenti di jalan tanpa masuk ke jalan menuju gudang, karena Cenza menerima instruksi agar turun di jalan. Cenza menyodorkan uang kepada sopir taxi


"Yakin mau turun disini Nak?"


"Iya Pak, saya ada urusan sebentar Pak" Cenza memberi senyuman meyakinkan untuk menghapus kecurigaan sopir taxi yang sudah cukup berumur itu.


Cenza turun dan dengan ragu melangkah ke arah bangunan tua yang kelihatan sedikit menyeramkan karena senja perlahan berganti malam, hanya ada seberkas cahaya kecil yang menerobos celah-celah pintu dan jendela.


Ia berhenti mendadak oleh dering ponselnya, Arka memanggil.


Cenza berdehem untuk menghilangkan kecemasan nya kemudian menjawab panggilan Arka


"Hallo Sayang"


"Kamu masih di kantor sayang? maaf tidak bisa jemput, aku masih menemani investor kita dari Jepang"


"Aku pulangnya dengan taxi saja, sampai jumpa di rumah sayang"


"see you Honey, love you"


" Love you too Ka"


Cenza memandang ponselnya sebentar, namun ia kembali bertekad untuk menemui orang yang sudah mengancamnya.


Sebelum sempat mengetuk, pintu terbuka. Cenza melangkah masuk dengan enggan. ia belum melihat orang yang sudah mengancamnya, saat merasakan ada seseorang di belakangnya ia segera berbalik, namun belum sempat ia melihat siapa orang tersebut, mulut dan hidungnya sudah dibekap dengan sapu tangan, Cenza pun terkulai lemas.


 

__ADS_1


\*


 


Arka bersiul-siul riang dan melangkah turun dari mobilnya. Bi Ria membuka pintu dan bertanya dengan heran


"Tuan tidak bersama Nona? "


Arka reflex berhenti dan berbalik menatap Bi Ria dengan dahi berkerut


"Loh bukannya Cenza sudah pulang Bi? "


" Belum Tuan"


Arka mengeluarkan ponselnya dan menelefon Cenza, namun tidak dijawab.


Ia mencoba sekali lagi, namun tidak ada jawaban.


Arka memanggil nomor Zara.


"Hi Kak, tumben telefon Zara"


"Kak Cenza sama kamu? " tanya Arka tanpa basa-basi


"Kak Cenza? tidak kok. Zara di rumah cuma sama papa dan mama"


" Tolong kirimkan nomor Shinta, kamu punya kan?"


Arka segera menelefon Shinta setelah menerima nomornya dari Zara. Arka mulai panik karena menurut informasi dari Shinta, Cenza sudah pulang dengan menumpang taxi. Ia melangkah masuk menemui mertuanya.


Pak Hengki dan istrinya sedang menonton TV di ruang keluarga ketika Arka masuk


"Pa, Ma, ada tahu Cenza kemana? "


"Tadi pagi cuma pamit ke kantor kok, Mama pikir Cenza sama kamu Ka, makanya belum pulang"


"Kalian bertengkar? " tanya Pak Hengki


"Tidak kok Pa. Oh My God, nomornya aktif tapi tidak ada jawaban"


Arka sibuk menelefon kesana kemari tapi tidak ada yang tahu kemana Cenza pergi.


Tiba-tiba ia teringat untuk melacak ponsel Cenza.


Zara yang sebelumnya segera ke rumah Arka bersama Papa dan Mamanya setelah mengetahui Cenza menghilang, menemani kakaknya.


Mereka berdua melacak keberadaan ponsel Cenza, dan Arka semakin panik mengetahui daerah tersebut daerah yang sepi dan rumah yang berada disana letaknya cukup berjauhan satu sama lain.


Semakin dekat ke titik dimana ponsel Cenza berada, Arka semakin cemas. Zara berusaha tenang karena tidak ingin membuat kakaknya semakin panik, meskipun dalam hati ia memiliki firasat buruk.

__ADS_1


Arka memarkirkan mobilnya di depan gudang tua dimana ponsel Cenza berada. Tanpa menunggu Zara, ia segera membuka pintu mobil dan berlari membuka pintu gudang sambil menelefon Cenza.


Ponsel Cenza tergeletak di lantai. Lilin yang sebelumnya jadi penerang di ruangan tersebut telah padam sebelum Arka dan Zara tiba di situ.


Satu-satunya cahaya hanya dari ponsel milik Cenza yang berdering di lantai yang kotor. Terdapat meja dan kursi dari kayu yang sudah nampak rapuh di pojok ruangan. Di atas meja nampak asbak yang dipenuhi abu rokok, namun puntung rokoknya tidak ada satupun di dalam asbak.


Arka dan Zara memanggil nama Cenza berkali-kali namun tidak ada sahutan, mereka memeriksa ke belakang gudang, namun tidak ada siapa-siapa disana, hanya terdapat jejak ban mobil.


Arka duduk di dalam mobil dengan perasaan campur aduk, hal-hal buruk bermunculan di dalam kepalanya. Zara menangis ketakutan memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada kakak iparnya.


Mereka berdua diam membisu dengan pikiran masing-masing. Sirene mobil polisi meraung dari kejauhan, sesaat kemudian mobil patroli tersebut berhenti di samping mobil Arka.


Disusul dengan satu mobil lagi berisi tiga orang polisi yang tidak memakai seragam kepolisian.


Setelah menjawab beberapa pertanyaan Arka bersandar ke mobilnya dengan wajah kusut dan mata yang memancarkan ketakutan dan kekuatiran. Zara hanya bisa memeluk lengan kakaknya berusaha menenangkan, meskipun hal itu tidak berpengaruh.


Polisi sibuk memeriksa dan meneliti setiap sudut, untuk mendapatkan petunjuk, sekecil apapun itu.


 


\*


 


Sudah seminggu berlalu, belum ada tanda-tanda bahwa keberadaan Cenza diketahui.


Semua keluarga dan teman-temannya dilanda kekuatiran yang semakin besar.


Arka yang mencurigai Vanny dan David dibuat kecewa, karena kedua orang itu tidak terbukti telah menculik Cenza. Tentu saja polisi tidak mungkin menahan kedua orang itu jika tidak ada bukti yang kuat.


David menelefon Vanny sekembalinya dari kantor polisi.


"Van, untuk sementara jangan hubungi aku"


"Dimana kau sembunyikan dia? "


"Jangan gila Van, bukan aku yang menculiknya" bantah David


"Kau kan berencana menculiknya Dave, jangan pura-pura tidak tahu"


"Aku memang berencana menculiknya Van, tapi dengar baik-baik, bukan aku pelakunya"


"Oh My God, atau jangan-jangan kau telah membunuhnya Dave? "


"Sialan kau Vanny, jangan coba-coba berbicara yang macam-macam atau kau akan menyesal, karena bukan aku yang menculiknya" teriak David


"Ok, kita lihat saja nanti, ingat aku tidak ingin dibunuh Arka kalau sampai Pacarnya terluka"


David membanting ponselnya ke tempat tidur

__ADS_1


Sialan si Vanny, mulutnya bisa membahayakan aku


__ADS_2