Penjaga Hati

Penjaga Hati
Maaf


__ADS_3

Tiba di rumah sepupu Shinta, Cenza segera minta untuk men charge ponselnya.


Ia menghidupkan kembali ponselnya yang sempat mati karena low bet.


Chat dari Arka masuk.


"Sayang, maaf karena tidak menjawab panggilanmu"


"Aku baru selesai meeting"


"Kamu sudah di mana sayang? "


"Tadi perginya sama siapa?"


"Kenapa nomor kamu tidak aktif?????"


"Aku ke sana sekarang!!!!!"


Apa? Arka ke sini? gila apa dianya. Emang tidak bisa apa tunggu dia balik saja, kalau mau marah ya nanti saja marahnya.


Tapi ia tahu, ia tidak mungkin menghentikan Arka.


Ia pun segera membalas sebelum Arka makin murka


"Aku sudah sampai sayang"


"Tadi ponsel aku lowbet makanya tidak aktif"


"Hati-hati mengemudi nya sayang"


Ia tahu tidak mungkin Arka sama Pak Arif, Ia pasti datang sendiri, mengingat wataknya yang keras kepala.


Arka membaca pesan Cenza tapi tidak membalasnya.


Cenza dan teman-temannya sudah selesai bersiap-siap dan mereka segera ke tempat resepsi.


Sejak mereka tiba Cenza sibuk mengecek ponselnya, takut saja Arka menelefon dan dia tidak mendengarnya. Satu jam kemudian ponselnya berdering, Cenza buru-buru menjawabnya.


"Ya sayang"


"Ke Parkiran sekarang"


Tanpa membantah Cenza segera berjalan ke parkiran.


"Za mau ke mana" tanya Shinta


"Bentar, nanti aku balik"


Cenza buru-buru ke parkiran sebelum Arka kesal.


Ia melihat mobil Arka terparkir dan masih hidup.


Dibukanya pintu mobil dan masuk ke dalam. Baru juga ia duduk Arka segera menarik dan mencium bibirnya, Ia cuma bisa membalas ciuman Arka tanpa bisa memprotes.


Arka melepas ciumannya, menatap gadisnya dan seolah-olah mengecek dari ujung kaki, sampai kepala.


"Siapa yang mengijinkan kamu pergi? "


"Sayang aku sudah menelefon mu tapi... "


Arka kembali membungkamnya dengan ciuman.


"Itu hukuman karena kamu pergi tanpa persetujuan ku"


"Maaf sayang" Cenza memegang kedua pipi Arka dan menggosok ujung hidungnya dengan hidung Arka yang mancung.


Arka kembali menciumnya, membuat tubuhnya menegang karena Arka menyentuh dadanya.


"Sayang" erang Cenza dan menjatuhkan kepalanya ke dada Arka.


Arka merangkul Cenza dan mencium puncak kepalanya.


Ponsel Cenza berdering pelan, Shinta memanggil...

__ADS_1


"Sayang kita turun sekarang yuk"


"Rapikan dulu lipstikmu sayang"


Cenza pun meraih tasnya, mengeluarkan lipstik dan memoles ulang bibirnya.


Cenza berjalan sambil melingkarkan tangannya di lengan Arka. Arka sangat tampan, membuat mata orang-orang tidak lepas memandangnya. Adapula yang berbisik-bisik, mungkin mereka mengenal Arka, karena sebagai salah satu Pengusaha terkenal, ia beberapa kali pernah muncul di televisi Nasional.


Shinta mencubit tangan Kevin cukup keras membuat Kevin mengeluh kesakitan


"Apa-apaan si Patimeh? " gerutu Kevin kesal


"Vin, siapa tuh yang digandeng Cenza? kok seperti pengusaha muda yang cakep itu, siapa namanya?"


"Arka Adijaya" sambung teman-temannya yang lain seperti koor.


"Benar, itu dia, Ayahnya saja si Ray Adijaya gantengnya tidak pudar-pudar, rasanya aku ingin dijadikan istri muda, apalagi anaknya, mimpi apa aku semalam bisa berjumpa dengannya" ucap Shinta


Kevin gantian mencubit Shinta "Sadar Patimeh. Kamu cocok jadi pembokat nya"


"Sialan Lo Vin" umpat Shinta.


Cenza menggandeng Arka menuju ke arah teman-temannya.


"Hi Guys kenalkan calon suami ku"


Semua berebut menyalami Arka, hanya Kevin yang bersikap biasa-biasa saja, karena dia sudah pernah melihat Arka saat mengantar Cenza pulang.


Arka duduk di samping Cenza, dan Cenza mulai ditodong berbagai macam pertanyaan oleh Shinta. Karena selama ini mereka tidak tahu bahwa Cenza tinggal di rumah keluarga Adijaya. Hanya Kevin yang tahu.


"Kok bisa sih Za, ketemu sama yang kinyis-kinyis mantap mempesona menggoda iman ini? " bisik Shinta di sampingnya.


"Hahaha gila, kinyis-kinyis pala Lo"


"Makan apa sih kamu Patimeh bisa dapat cowok langka ini"


"Tau Ah. Makan cinta kali Shin"


Kevin yang duduk di samping Shinta merasa diabaikan.


"Diem Lo Bambang"


Cenza hanya tertawa melihat kekonyolan kedua temannya tersebut.


Arka mulai bosan, Cenza menyadarinya karena ia mendengar Arka sudah beberapa kali menarik napas panjang.


"Sayang, kamu bosan ya? " bisik Cenza


dan setiap kali Cenza atau Arka bergerak, mengundang perhatian teman-temannya yang lain.


Arka tidak menjawab tapi menggenggam tangan Cenza, membawa ke bibirnya, kemudian mengecupnya.


"Ah so sweet" Shinta gemas dan mencubit Kevin. Lagi-lagi Kevin meringis kesakitan.


Ia balas mencubit Shinta tapi Shinta terlalu sibuk memperhatikan dua sejoli di sampingnya.


Cenza bersyukur karena Arka mau bertahan sampai acara selesai.


Namun untuk menghindari sorotan berpasang-pasang mata, mereka segera ke mobil, Cenza pulang bersama Arka.


"Makasih ya Sayang, karena sudah mau temani aku" kata Cenza sambil memberi kecupan di pipi kekasihnya.


Arka menatap Cenza, mengusap-usap pipi Cenza.


"Aku akan segera menikahimu Sayang" gumamnya.


Cenza memegang tangan Arka di pipinya.


Ia benar-benar bahagia mendengarnya.


Keesokan harinya di kantor menjadi hari yang melelahkan untuk Cenza.


Bukan karena pekerjaan nya yang banyak, tapi karena harus diberondong pertanyaan teman-temannya.

__ADS_1


"Ayolah Za cerita ke kita, kok bisa kamu ketemu makhluk langka itu"


"Gila kamu Shin, memangnya alien apa? "


"Habis dianya cakep banget Za, sudah itu tajir melintir lagi, tujuh turunan tidak bakalan habis itu"


"Iya Za, ceritain dong, kepo nih" sambung yang lain


"Intinya Papa aku sama Om Ray, Papanya Arka temenan"


"Serius Za? pantesan, pasti kalian dijodohkan ya? " sahut Shinta


"Tidak juga. Justru awalnya dia jutek banget sama aku, tapi ya lama kelamaan jadi cinta deh"


"Aww... beruntungnya kamu Patimeh" ujar Shinta sambil memukul-mukul manja lengan Cenza.


Cenza berniat untuk membuat kejutan untuk Arka, jam makan siang ia ke kantor Arka menggunakan Taxi.


Namun sebelum ia turun dari taxi, ia melihat Arka keluar kantor berjalan dengan seorang gadis yang tinggi cantik berambut pendek sebahu.


Mereka berjalan menuju mobil yang telah menunggu mereka di depan.


"Gimana Neng? jadi turun? "


"Balik saja Pak, ke restoran dekat kantor yang tadi Pak"


"Baik Neng"


Cenza tidak berselera, ia masih memikirkan cewek yang tadi sama Arka. Siapa sih cewek itu.


Ia tidak menyadari sudah ada orang yang duduk di depannya.


"Cenza, Cenza bukan? "


Cenza berhenti mengaduk makanan dan mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata Pria tampan yang duduk di depannya.


"Kak David? "


Cenza benar-benar terkejut dibuatnya


"Sukurlah kamu tidak lupa sama aku"


Bagaimana bisa lupa, David dulu tetangganya, sebelum keluarganya pindah. Neneknya, Ibu dari mamanya berdarah Belanda, sehingga ia memiliki wajah sedikit bule.


David adalah cinta pertama Cenza, dulu ia sangat menyukai dan mengagumi David. Meskipun waktu itu David tidak menunjukkan kalau dia menyukai Cenza, karena David sering mengajak ceweknya ke rumah.


"Apa kabar Cenza, bagaimana keluarga mu"


tanya David setelah mereka bersalaman.


"Papa dan Mama ku sehat Kak. Aku pindah ke sini karena pekerjaan"


"Sama, aku juga kerja di sini. Kamu makin cantik saja Cenza" puji David


"Biasa saja. Kak David sudah menikah? " tanya Cenza dengan wajah bersemu merah


"Belum. Apakah kelihatan seperti orang yang sudah menikah? " candanya


"Hahaha tidak juga Kak"


"Kamu sudah punya pacar?"


"Ya Kak. Kak David sendiri? "


"Aku baru saja putus dengan pacarku. Kamu tinggal di mana? siapa tahu aku punya waktu untuk berkunjung"


Cenza menulis alamatnya untuk David.


"Sampai nanti Kak. Aku mau balik ke kantor, sudah selesai jam istirahat"


"Mau ku antar? "


"Makasih kak, kantor aku dekat kok, tuh di seberang"

__ADS_1


"Ok, See you"


__ADS_2