
"Papa pulang" teriak Zara
Ia segera berlari memeluk Pak Ray
"Papa curiga nih, anak gadis Papa sebenarnya merindukan oleh-olehnya bukan merindukan Papa" goda Pak Ray
"Terserah Papa deh" cemberut Zara
Arka yang baru kembali mengantar Reno ikutan meledek adiknya
"Betul banget tuh Pa. Papa kan tahu Zara"
"Ini lagi. Mentang-mentang sudah punya cewek kerja nya cuma meledek orang"
Pak Ray yang sudah tahu pura-pura bertanya
"Memangnya siapa yang mau sama Manusia es ini Ra"
" hahaha manusia es kata Papa? Papa belum liat kalo sudah berdua, kita yang lain cuma ngontrak Pa" ejek Zara
"Maksud kamu apa Ra? Papa tidak mengerti"
"Papa liat saja nanti. Bentar ya Zara panggilkan Mama dan Kak Cenza, mereka berdua lagi sibuk sama bunga-bunga Mama di taman"
Zara berlari ke taman belakang menemui Bu Riri dan Cenza.
"Ka, Papa harap kamu jangan main-main sama Cenza"
"Siapa yang main-main Pa, Arka serius kok sama Cenza"
"Sukurlah kalau memang kamu serius. Papa justru maunya kalian segera menikah"
"Arka juga maunya begitu sih Pa, tapi Arka terserah Cenza saja Pa, Arka tidak mau mendesaknya".
Zara kembali bersama Bu Riri dan Cenza
" Kok sudah pulang Pa? bukannya lusa baru balik?"
"Urusan nya cepat selesai Ma, makanya jadwal pulangnya dipercepat"
Cenza menyalami Om Ray
"Apa kabar Nak? "
"Baik Om" jawab Cenza sambil tersenyum
"Bukan cuma baik tapi sangat baik Pa" sambung Zara
"Hus anak ini" kata Bu Riri kemudian tertawa.
"Sayang duduk di sini" kata Arka sambil menepuk sofa di sampingnya
Cenza pun menurut, meski enggan karena ada Om Ray. Lebih baik menurut daripada Arka bertingkah.
"Lihatkan Pa, Zara bilang juga apa"
"Anak kecil reseh, apa salahnya duduk sebelahan sama pacar sendiri"
Zara melengos, Ia mulai sibuk memeriksa oleh-oleh bawaan Pak Ray.
"Om ingin tanya ke kamu Za, kamu serius sama Arka? "
"Iya Om, Cenza serius"
"Kamu bagaimana Ka? "
"Arka juga serius Pa, Arka justru maunya segera menikah, tapi semua tergantung Cenza"
__ADS_1
Cenza terkejut tapi juga senang mendengarnya.
"Bagaimana Za? kamu dengar sendiri barusan Arka bilang apa"
"Ya Om, nanti Cenza coba bicarakan sama Papa dan Mama dulu"
"Tapi Cenza sendiri bagaimana? kalau belum siap bilang saja belum siap"
"Cenza tidak keberatan Om"
Arka meraih tangan Cenza dan menciumnya.
"Thanks Sayang"
"So sweet" kata Zara sok imut disambut tawa semuanya.
"Ya sudah, begitu saja, Om mau ke kamar istrahat dulu"
"Ya Om"
Setelah Pak Ray ke kamar, merekapun sibuk dengan oleh-oleh.
Tak lupa untuk sopir dan semua pelayan, semua mendapat jatah.
Cenza sudah siap hendak ke kantor, begitu juga dengan Arka, mereka berangkat bareng.
Pak Arif siap mengantar Tuan mudanya.
Sepanjang perjalanan ke kantor Cenza, Arka serius mempelajari berkas yang ada di tangannya.
Ia nampak serius, karena hari ini akan ada rapat penting berkaitan dengan proyek besar yang akan mereka kerjakan.
Cenza justru merasa lega, karena jika tidak, ia pasti sudah disuruh menempel sejak tadi.
Mobil berhenti, Arka melepaskan perhatiannya dari berkas-berkas itu.
"Selamat bekerja Sayang. Aku turun dulu" Pamit Cenza sambil mencium pipi Arka
Cenza turun, disambut teriakan Kevin, Kevin memang selalu heboh. Ia tidak tahu bahwa Cenza diantar Arka yang sekarang sudah menjadi pacarnya.
"Hi cantik, pagi-pagi begini liat yang bening-bening bikin mata segar" Kata Kevin sambil tertawa.
Arka yang mendengarnya jadi gusar.
"Itukan cowok yang kemarin sama Cenza" batinnya.
Pak Arif sudah mau jalan lagi tapi diminta untuk tunggu sebentar oleh Arka.
Ia ingin melihat reaksi Cenza.
"Dasar playboy, tidak bisa lihat cewek cantik sedikit" balas Cenza, ia tidak menyadari kalau mobil Arka masih di situ.
"Tumben hari ini diantar mobil mahal, pantas saja tidak minta tolong aku jemput. Mobil siapa Za? " tunjuk Kevin dengan dagunya.
Cenza pun berbalik, ia langsung paham ini pasti gara-gara ucapan Kevin saat ia sampai tadi.
Cenza tersenyum dan melambaikan tangannya, dan mobil pun bergerak maju.
"Untung saja dia tidak turun" batin Cenza.
"Siapa sih Za? " tanya Shinta ikutan kepo
"Calon suami aku" jawab Cenza cuek sambil terus berjalan
"What? serius Lo? " kejar Shinta dan Kevin
"Kalian berdua kenapa sih, emangnya aku sejelek itu jadi tidak bisa punya pacar ya? "
__ADS_1
"Bukan begitu dodol, kemarin-kemarin kamu kan jomblo kritis, Tiba-tiba saja punya calon suami, siapa yang tidak shock Patimeh" jawab Shinta Kocak.
"OMG, kau membuat ku patah hati Za" Kevin pura-pura lemas, tapi justru ditinju Shinta dan Cenza.
Sekitar pukul 15.00, Cenza mencoba menghubungi Arka tapi tidak dijawab, chat dan panggilannya tidak dijawab Arka. Cenza hendak memberitahu bahwa ia dan teman-teman kantornya hendak keluar kota menghadiri pernikahan salah seorang teman mereka. Karena acaranya di luar kota dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan sehingga mereka harus berangkat pukul 16.00
Kevin mengantar Cenza ke rumah untuk mengambil baju dan keperluannya yang lain setelah terlebih dahulu ke rumahnya, menukar motor dengan mobil dan membawa keperluannya juga. Kebetulan sepupu Shinta tinggal di sana jadi mereka bisa numpang mandi sebelum ke acara pernikahan.
"Tante, Cenza pamit ya, Cenza sama teman-teman kantor mau ke acara nikahan teman di luar kota, karena butuh waktu dua jam ke sana jadi harus jalan sekarang Tante"
"Sudah bilang ke Arka Sayang? "
"Cenza sudah coba hubungi Arka, Tan, tapi tidak dijawab, sepertinya lagi meeting. Tolong Tante sampaikan ke Arka ya Tan. Takutnya dia marah lagi"
"Baik Sayang, hati-hati di jalan"
"Bye Tan" Cenza mencium pipi Bu Riri dan masuk ke mobil Kevin"
Karena meetingnya diundur akhirnya selesai sudah hampir jam lima sore.
Arka segera mengeluarkan ponsel dan berjalan kembali ke ruangannya, diikuti sekretarisnya dengan membawa berkas-berkas meeting.
Ia terkejut melihat panggilan Cenza sebanyak sembilan kali, belum lagi chatnya di WA.
Ia segera membuka chat dari Cenza
"Sayang, kok tidak dijawab? "
"Lagi meeting ya? "
"Aku mau minta ijin ke acara nikahan teman di luar kota"
"Bareng teman-teman kantor"
"Tadinya aku mau ajak kamu sayang, tapi sepertinya kamu sibuk"
"sampai jumpa nanti malam ya sayang"
"Peluk dan cium sayang untukmu🤗😘"
Arka mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sekretarisnya yang masuk membawa berkas meeting terheran-heran melihat bossnya seperti orang yang lagi stress. Tapi ia tidak berani bertanya. setelah menyimpan berkas ia segera keluar.
Arka menelefon Cenza tapi nomornya tidak aktif, membuat Arka makin stres. Kalau Cenza bareng teman-teman nya ia kuatir Cenza naik motor bareng Kevin.
"Brakkk" Arka menggebrak mejanya
Ia segera menelefon Pak Arif, "Pak tolong jemput saya sekarang ya" dan langsung mengakhiri panggilannya.
Belum juga Pak Arif benar-benar berhenti, Arka langsung turun dengan buru-buru.
Segera naik ke kamarnya, mandi dan bersiap untuk jalan, namun ia baru sadar kalau ia tidak tahu alamat teman Cenza yang menikah.
"Sialan" umpat nya
Ia berlari turun mencari mamanya.
"Ma, buka pintunya Ma" Arka mengetuk pintu
"Ada apa Ka? kamu mau ke mana? "
"Ma, mama tahu tidak alamat teman Cenza yang nikah di luar kota itu? "
"Bentar Mama liat dulu, tadi Mama sempat tanya Cenza dan dia kirim di WA"
"Mama teruskan saja ke Arka, Arka pamit Ma" teriak Arka dan segera pergi
__ADS_1
"Hati-hati sayang" Bu Riri terpaksa berteriak karena Arka sudah berlari ke depan.
Arka segera melaju, menyusul Cenza dan teman-temannya.