
setelah mandi dan berganti pakaian, Via langsung pamit pulang.
sampai di rumahnya, dengan tidak sabaran Via mencari Mamanya.
"Ma..., Ma..., Mama dimana...?!"
"disini sayang...!" balas mamanya, dari ruang keluarga.
memasuki ruang keluarga, nampak mama, papa, serta ke dua adiknya sedang asik menonton film.
"sudah pulang, sayang...?" tanya mamanya menyadari kehadiran Via.
"iya, Ma..."
"kamu sudah makan?" tanya mamanya lagi.
"belum, Ma..."
"ya sudah, kalau begitu bantu mama siapin makan malam, yuk..."
Via mengangguk.
tidak berapa lama, Via dan mamanya terlihat asik memasak di dapur.
"Ma..., memang mama mau bicarain apa?" tanya Via sambil mengaduk-aduk penggorengan.
"mengenai masa depanmu, sayang...!"
"ah, itu lagi...! apa ga ada yang lain...?" Via berkata malas.
"jangan begitu sayang...! ini semua kan demi kebaikanmu...!"
"kebaikan Via? atau kebaikan papa mama...?!" Via terlihat sedikit emosional.
"kebaikanmu sayang... dan juga keluarga kita..."
"tapi Ma...! Via kan sudah berkali-kali bilang, kalau Via..."
"sudah Vi, jangan dibahas sekarang...! nanti saja setelah makan malam, biar sekalian dengan papamu...!"
"i... iya, Ma..."
***
setelah bersantap malam, Via, papa dan mamanya lalu duduk di ruang tamu. sedangkan kedua adiknya kembali asik menonton film.
"gimana acara kalian semalam? seru?" papanya memulai pembicaraan.
"seru banget pa...! soalnya ada pesta kembang api dan acara lempar-lemparan botol...! hehehe..." jawab Via sumringah.
"lempar-lemparan botol...?! acara apaan tuh...?!" papanya terlihat heran.
"acara baru Pa, buat ngusir orang gila...!hehehe..." jawab Via terkekeh.
"acara yang aneh...! lalu, apa yang punya acara tiba-tiba pergi meninggalkan kalian...?"
"lho, kok papa tau...?" kali ini Via yang terlihat heran.
"soalnya semalam tiba-tiba Adi datang kerumah untuk pamitan...! dan Dia bilang kapalnya sudah mau berangkat...! papa yang dari awal merasa aneh dengan tempatnya mengadakan acara..., ditambah perubahan keberangkatannya yang tiba-tiba, menduga Dia sengaja mau kabur dari kalian..., dan papa rasa tebakan papa benar...!, hehehe..." jelas papanya.
"Di...., sama papa mamaku kamu masih pamitan...! masa sama aku kamu ga bilang apa-apa...?! dasar bodoh...!!!"
"papa benar...! si bodoh itu memang kabur dan meningalkan acara seenaknya...!" balas Via terlihat kesal.
"hahahaha... sudah papa duga...! Dia memang anak yang aneh...! hehehe..." balas papanya lagi terkekeh.
"tapi bukan itu yang kami mau bicarakan sekarang, Vi..., melainkan masa depanmu...!" kembali papanya terlihat serius.
"masa depan apa lagi, Pa...? bukannya sekarang Via sudah menuruti mau papa dan mama untuk kuliah di manajemen, dan belajar sebagai pengusaha...?! lalu, apalagi...?!"
"kami tau itu..., tapi papa cuma mau tanya, apa sekarang kamu merasa bahagia...?"
sejenak Via terdiam, kemudian menjawab, "Via juga ga tau Pa...! tapi yang jelas, Via sudah mengikuti apa yang papa dan mama mau...! dan selama papa mama bahagia, Via juga ikut senang...!"
"kamu memang anak yang baik..., papa bangga dengan mu...! tapi sekali lagi papa mau tanya, apa kamu bahagia...? tolong jujur pada kami...!"
kembali Via terdiam,
"jujur saja, selama ini Via selalu merasa tertekan...! bukan karena Via tidak mau belajar...! tapi Via ga bisa...!!! bagaimanapun Via mencoba mempelajari yang namanya organisasi, pengaturan, dan angka-angka...,Via ga pernah paham...! bahkan sampai sekarang Via tidak pernah mengerti yang namanya neraca dagang...!"
lVia terlihat muram, seolah sedang menanggung beban yang sangat berat.
"kalau begitu, bagaimana selama ini kamu selalu bisa menyelesaikan tugasmu...?" tanya papanya lagi.
"karena selama ini Via tidak mengerjakannya sendiri, Pa...! Via dibantu Adi...!"
"sudah Papa duga..., tidak mungkin kamu bisa mengerjakannya sendiri, pasti ada seseorang yang selama ini membantumu...!"
__ADS_1
"oh, jadi selama ini Adi yang selalu bantuin kamu...? tapi sayang...? bukannya Adi itu ga kuliah...?! bagaimana bisa Dia membantumu...?!" kali ini mamanya yang bertanya.
"mungkin mama tidak percaya..., tapi Dia sangat pintar dalam hal-hal yang berhubungan dengan bisnis dan manajemen..., baik itu hukum dagang, sistem kerja, neraca rugi laba, keuangan dan lainnya...! hanya dengan sekali membaca buku saja Dia sudah banyak mengerti dan paham mengenai hal -hal itu....!" jelas Via
"oya...?! kalau begitu, berarti teman baikmu itu calon pengusaha sejati, dong...?!" mamanya nampak terkejut.
"ah, sayang sekali Dia pergi...! andai Dia bisa terus membantumu selamanya..., pasti kita semua akan sangat bahagia...!" lanjut mamanya tersenyum penuh arti.
"ma..., maksud mama...?" tanya Via terbata.
"maksud Mama..., andai Adi bisa jadi suamimu, pasti Mama dan Papa akan merasa tenang...! karena ada yang bisa dipercaya meneruskan usaha kami...! dan pastinya kamu juga akan sangat bahagia menjadi istrinya...! bukan begitu, Sayang...? hehehe..." jawab mamanya tersenyum lebar.
"ah, mama...!" wajah Via mendadak merah padam, semerah bara api yang belum padam.
...
"kita kembali lagi..., kalau kamu tidak bahagia menjadi pengusaha, lalu apa sebenarnya cita-citamu...?!" papanya kembali bertanya.
"seperti yang Via pernah bilang, Via ingin jadi DOKTER..! Via ingin menyembuhkan berbagai macam penyakit...!"
"tapi Vi..., kan papa sudah bilang berkali - kali, jadi dokter itu tidak gampang...! lebih sulit dari jadi pengusaha...! selain harus teliti dan gesit, ingatannya juga harus kuat...! bukannya papa mau meremehkanmu, tapi kamu sendiri tau, selain lambat, ingatanmu ga sebagus itu...! bahkan hal-hal sepelepun kamu sering lupa... !!!"
"Via tau Pa, Via tau...! Via tau mustahil bagi Via menjadi dokter...! tapi itulah keinginan Via...!" Via terlihat sedih.
sejenak suasana menjadi hening.
nampak kedua orangtuanya memperhatikan Via yang menunduk sedih, hingga beberapa saat kemudian, mamanya kembali berkata,
"mama masih tidak mengerti...! walaupun kamu tau kemampuanmu tidak memungkinkanmu menjadi dokter..., tapi kenapa kamu tetap bersikeras ingin menjadi dokter...?!"
"karena seperti yang Via bilang tadi Ma, Via ingin menyembuhkan banyak penyakit...!" jawab Via.
"jika hanya itu alasannya, mama rasa tidak mungkin kamu sekukuh ini...! kamu pasti menyembunyikan sesuatu...!" mamanya memandang Via dalam, seolah-olah mencari jawaban atas pertanyaan tadi.
Via hanya diam, tidak membalas kata-kata Mamanya.
"Via sayang..., coba katakan dengan jujur, apa sebenarnya yang memotivasimu, sehingga kamu bersikeras ingin menjadi dokter..? siapa tau saja kami bisa membantumu mencarikan solusinya...!" kali ini papanya yang berkata dengan lembut.
untuk beberapa saat Via terlihat ragu. namun karena kedua orangtuanya terus memandangi-nya, akhirnya Via berkata,
"semuanya karena Dia..., Via ingin melindunginya...!"
"Dia siapa, sayang...?"
"A... Adi...!"
belum sempat papa mamanya bertanya lagi, Via kembali berkata,
"selama ini Adi selalu menolong, menjaga dan melindungi Via..., bahkan sering kali Dia harus terlibat pertengkaran dan perkelahian karena membela Via...! tetapi Via tidak pernah bisa membalasnya...! jangankan membalasnya, membantunya saja Via jarang...! bukannya Via tidak mau, tapi Via tidak pernah tau caranya...! Dia terlihat selalu sempurna, seolah-olah tidak memerlukan bantuan Via...!"
"mungkin saat ini Via memang tidak bisa membantunya, tapi Via yakin..., suatu saat ketika Dia kembali lagi, Dia pasti akan membutuhkan bantuan Via...! karena itu Via ingin menjadi dokter, supaya bisa mengobatinya dan melindunginya dari orang-orang yang ingin mencelakainya nanti...!"
"kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu...?! maksud Papa, kenapa kamu bisa mengira akan ada orang yang akan mencelakainya...?" Papanya terlihat heran.
"karena suatu saat, DIA PASTI AKAN MENJADI ORANG BESAR...!!!"
"hahahaha... jadi maksudmu, si Kampret itu suatu saat akan menjadi orang hebat, dan banyak orang yang akan menjadi saingan dan lawannya, sehingga kamu merasa perlu menjaganya sebagai dokter...?"
Via mengangguk.
kembali Papanya tertawa,
"hahahaha... pemikiran yang sangat jauh...! tapi terus terang, Papa suka pemikiranmu itu, setidaknya kamu memiliki tujuan yang jelas akan masa depanmu...!!!"
"tapi Via sayang..., jika memang kamu ingin membantunya, kenapa kamu harus memilih menjadi dokter yang jauh diluar kemampuanmu...?! kenapa kamu tidak memilih menjadi yang lain...? mungkin pengacara atau psikiater...!" lanjut papanya.
"Via juga tidak tau, Pa...! tapi perasaan Via mengatakan itu adalah takdir Via...! entah mengapa Via selalu merasa ada panggilan jiwa untuk menolong dan membantu orang yang sakit...!"
"panggilan jiwa...?!" kembali papanya terlihat heran, kali ini sambil mengusap-usap dagunya yang tidak berjenggot.
Via mengangguk lagi.
"mungkin kalian akan menganggap Via berlebihan..., tapi semenjak lima tahun lalu, Via sering bermimpi aneh...! kadang Via bermimpi mengobati binatang-binatang liar dihutan, kadang Via bermimpi mengobati orang-orang dengan mahkota emas dan berlian...! kadang Via bermimpi mengobati anak-anak kecil di tempat yang aneh, dan tidak jarang..., Via bermimpi mengobati mayat dan menari diatas pemakaman...!!!"
"mimpi yang benar-benar aneh...!" papanya terlihat menggumam sendiri.
"tapi itu belum seberapa Pa, Ma...! belakangan, Via pernah bermimpi sekaligus mengalami kejadian yang sangat tidak masuk di akal...!"
"tidak masuk diakal...?!"
kembali papa dan mamanya menatap Via dengan heran.
"da... dalam mimpi itu.., semua terlihat seolah-olah nyata...! dan ketika Via bangun, apa yang Via alami dalam mimpi itu menjadi nyata di tubuh Via...!"
"maksudmu menjadi nyata...?" tanya papanya.
"apa yang Via alami dalam mimpi ternyata membekas ditubuh Via...!!!" jelas Via.
__ADS_1
"oya...? sejak kapan kamu mengalami itu...?" kali ini papanya terlihat gusar.
"sekitar enam bulan lalu, pa...! saat itu Via bermimpi di pukul Siska, dan ketika bangun, Via merasa perut Via sakit, seakan benar-benar kena pukul...! tapi saat itu Via tidak terlalu menghiraukannya, Via kira kebetulan saja perut Via membentur sesuatu...!"
"lalu yang kedua sekitar empat bulan lalu...! saat itu Via bermimpi BERCINTA DENGAN AYU..., dan saat Via bangun, semua ciuman Ayu dalam mimpi membekas ditubuh Via...! dada dan leher Via merah-merah kayak digigit nyamuk raksasa...! saat itu Via yakin, itu pasti bukan suatu kebetulan, pasti ada yang tidak beres...!!!"
"ke... kenapa selama ini kamu ga pernah cerita ke mama, sayang...?" mamanya ikut terlihat gusar.
"karena Via takut mama ga percaya...! malahan mungkin mama akan mengira Via penyuka sesama jenis, karena bermimpi Bercinta dengan Ayu...!"
sejenak papa dan mamanya saling memandang, seolah mereka sedang berbicara tanpa kata-kata.
setelah beberapa saat, kembali papanya berkata, "Vi..., kamu tunggu disini sebentar..., ada yang papa dan mama mau bicarakan berdua..."
"i... iya, Pa..."
papa dan mamanya kemudian masuk kedalam kamar
...
setelah beberapa saat, papa dan mamanya kembali ke ruang tamu.
"Vi..., tadi Papa dan mama sudah berdiskusi mengenai masa depanmu..., dan kami menyarankan, sebaiknya kamu mengurungkan niatmu untuk menjadi Dokter...!!!" kata papanya.
"i... iya pa..., Via mengerti...!" jawab Via pelan, kekecewaan tergambar jelas diwajahnya.
"tapi sebagai gantinya..., jika kamu benar-benar ingin mempelajari ilmu pengobatan, kamu bisa menemui nenekmu, mama dari mamamu...!"
"nenek dari mama...?! memangnya Via masih punya nenek...?! bukannya nenek sudah meninggal...?!" Via nampak terkejut.
"hush! jangan ngomong sembarangan...! jangan seenaknya membunuh nenekmu...! memangnya kapan kami pernah bilang nenekmu sudah meninggal...?!" tegur mamanya.
"habisnya..., selama ini Papa dan mama tidak pernah membicarakannya...! jadi Via pikir nenek sudah meninggal...! hehehe..." Via cengar-cengir ga jelas.
"tidak pernah membicarakan kan bukan berarti sudah meninggal...!!! selama ini kami hanya malas membahasnya...!" balas mamanya.
"trus, kenapa Via harus bertemu nenek...?"
"jadi begini sayang..., tadi kamu bilang ingin menyembuhkan berbagai macam penyakit, sedangkan kamu tau sendiri, kamu tidak cukup mampu untuk mempelajari ilmu kedokteran...! karena itu, satu-satunya jalan untuk mengobati penyakit tanpa mempelajari ilmu kedokteran adalah dengan mempelajari ILMU PENGOBATAN TRADISIONAL...!"
"maksud mama jadi DUKUN...?!"
"bukan dukun sayang..., lebih tepatnya TABIB...!"
"oh, Tabib...! lalu, apa hubungannya dengan nenek...?!"
"nenekmu, Dia sangat hebat dalam ilmu pengobatan tradisional, saking hebatnya, sampai-sampai dijuluki PENYIHIR, karena Dia mampu mengobati yang tidak mampu diobati orang lain...! bahkan dokter terbaik diduniapun pernah dibuat terkagum-kagum dengan kemampuannya...!"
"jadi maksud mama, Via harus belajar ilmu pengobatan tradisional dari nenek...?"
"iya, sayang..., itupun kalau kamu mau...!"
"Via mau...!" balas Via tanpa berfikir.
"jangan buru-buru, sayang...! kamu pikir saja dulu baik-baik, baru putuskan...! karena setelah memutuskannya, maka banyak hal yang harus kamu korbankan...! kamu akan jauh dari kami, kamu akan kehilangan teman-temanmu. kamu akan diam di tempat yang belum tentu kamu sukai, dan pastinya, kamu akan kehilangan segala kesenangan yang selama ini kamu dapatkan...!!!"
Via terdiam, memikirkan kata-kata mamanya.
"Vi..., sebaiknya kamu istirahat saja dulu, dan pikirkan matang-matang usulan kami tadi. besok, atau kapanpun setelah kamu membuat keputusan, baru kita bicarakan lagi mengenai hal ini...!"
"tidak perlu...!" balas Via cepat.
"Via sudah yakin dengan keputusan Via...! VIA MAU BELAJAR ILMU PENGOBATAN DI TEMPAT NENEK.
"ya sudah, kalau memang kamu sudah yakin, mulai besok kamu harus mulai mempersiapkan diri. kamu harus memperkuat fisikmu dan membiasakan diri dengan hutan, karena nenekmu tinggal didalam hutan...! tiga bulan lagi, setelah usiamu genap dua puluh satu tahun, baru kamu pergi menemui Nenekmu." kata papanya.
"tiga bulan lagi...?! kok lama sekali, Pa...? apa tidak bisa dipercepat?" balas Via.
"jangan meremehkan hutan...!!! dengan kemampuanmu yang sekarang, apa kamu pikir bisa bertahan lebih dari satu hari di hutan...?!" Papanya terlihat sedikit emosi.
"Papamu benar, sayang..., hutan tidak semudah yang kamu pikirkan...! lebih baik kamu turuti kata-kata papamu, latih tubuhmu dan mentalmu dulu, sebelum kamu pergi kesana...!" mamanya ikut menasehati.
"i... iya ma..., mulai besok Via akan mulai berlatih selama tiga bulan...!" Via tidak berani lagi membantah.
"bagus, kalau begitu sekarang kamu istirahat...! besok pagi kita pergi ke toko untuk membeli perlengkapanmu...!"
"i... iya pa..."
baru saja Via melangkah meninggalkan kedua orang tuanya, Tiba-tiba papanya berseru,
"oh iya Vi...! satu hal lagi...!"
"i... iya, Pa..." balas Via sambil membalikan badan.
"kalau kamu bermimpi aneh lagi, cepat beritahu kami...!"
"i... iya, Pa..."
__ADS_1