
selesai bersantap pagi, ditemani Arum, Via langsung menuju taman belakang untuk menemui Wira.
nampak Wira saat itu sedang tidur-tiduran diatas rumput sambil melanjutkan membaca surat kabarnya yang tadi sempat tertunda.
"apa yang ingin kamu bicarakan denganku...?" Via langsung bertanya tanpa basa-basi.
"tunggu sebentar, aku sedang membaca berita yang menarik...!" balas Wira tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar.
Via yang malas berdebat langsung merebahkan pantatnya disebelah Wira.
selang beberapa saat, tiba-tiba Wira berkata, "kamu tau ORPEKEDIA, ga...?"
"aku tau sedikit, beberapa temanku sering membahasnya, tapi terus terang aku kurang tertarik...! memang kenapa...? apa itu yang mau kamu bicarakan denganku...?"
"oh, bukan, bukan...! aku cuma sekedar bertanya, soalnya ada berita menarik mengenai mereka...!" jawab Wira bangkit dari tidurnya dan duduk disamping Via.
"berita apa...?"
"sudahlah, tidak usah membahas itu sekarang, toh kamu tidak tertarik...! nanti saja kamu baca sendiri...!" jawab Wira sambil melempar koran yang baru habis digulungnya ke Via.
"yang sekarang aku mau bicarakan mengenai ANJINGMU...!"
mendengar kata-kata Wira, seketika Via teringat akan Simba yang sejak tadi tidak dilihatnya.
"anjingku...! ada apa dengannya...? dimana Dia...?"
sesaat Wira terlihat ragu, kemudian berkata, "dari semalam anjingmu tidak bisa diam dan terus menggonggong...! karena kesal, aku menyuruh om Juna untuk menggorengnya dan menjadikan isian di roti yang kita makan tadi...!"
"hah...! kamu serius...?!" wajah Via mendadak pucat.
"tentu saja...! apa kamu tidak merasa kalau daging yang kamu makan tadi sedikit berbeda...?"
"ka... kamu...! dasar bajingan...! hoek...!!!" tiba - tiba Via merasa perutnya sangat mual.
melihat Via mau muntah, Wira tertawa terbahak-bahak, "hahahaha... hahahaha... ternyata kamu memang bodoh seperti yang kukira...!!! hahahaha... hahahaha..."
"aku cuma bercanda, Vi...! mana mungkin aku tega memakan anjing peliharaan temanku, hahahaha... hahahaha..."
"dasar brengsek...!!!" maki Via lagi sambil berusaha menahan rasa mualnya.
setelah berhasil meredakan mual diperutnya, Via lalu berkata, "trus, sekarang anjingku dimana?"
"tenang saja, Dia baik-baik saja, bahkan mungkin sangat baik-baik...! hehehe..."
"mbak Arum, tolong bawa anjing nona ini kesini...! sekalian juga Billa...!"
"baik, tuan muda...!"
...
setelah Arum pergi, kembali Via berkata, "apa yang mau kamu bicarakan mengenai anjingku?"
"sebelum mengatakannya, boleh aku tau apa tujuanmu bertemu nenekmu?"
__ADS_1
"sudah kubilang itu urusanku...! ga ada hubungannya denganmu...!"
"baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi, tapi... apakah saat ini kamu terburu-buru untuk pergi kesana?"
"aku rasa tidak juga...! memang kenapa?"
"kalau kamu tidak terburu-buru, MAUKAH KAMU MENGINAP DISINI SELAMA TIGA HARI...?"
"tiga hari...! untuk apa...?"
"untuk menemaniku diranjang, hehehe..." Wira menyeringai cabul.
"Plak...!" seketika tangan Via menampar pipi Wira.
"kalau ngomong pake otak...! bukankah sudah kubilang aku bukan wanita seperti itu...! dasar cowok mesum...!!!" bentak Via.
"lho, kok marah...! akukan cuma nanya...! kalau mau syukur...! kalau ga mau juga gapapa...!" protes Wira.
"tapi pertanyaanmu itu bukan pertanyaan yang pantas ditanyakan kepada gadis yang baru kamu kenal...! apa setiap gadis yang kamu temui kamu ajak tidur...!!!"
"ga juga sih...! kalau jelek aku ga sudi...! tapi kalau cantik seperti kamu..., ya begitulah, hehehe..."
"jangan coba merayuku...! aku tidak akan tergoda gombalanmu...!"
"ya terserah kamu saja, hehehe..."
sejenak mereka sama-sama terdiam, hingga tidak lama, Arum datang kembali bersama Simba dan seekor anjing betina berbulu emas disebelahnya.
melihat Via, sontak Simba berlari kearahnya dan meloncat kegirangan. tetapi kemudian Simba berlari kembali kearah anjing betina tadi.
"ya, Dia anjing kesayanganku, namanya Billa...!"
"anjing yang bagus...!" puji Via.
"tentu saja bagus...! tuannya ganteng, masa anjingnya jelek, hehehe..."
"dasar manusia sombong...!" gumam Via.
"jadi, apa yang mau kamu bicarakan mengenai anjingku...?" lanjutnya.
sesaat Wira berfikir, kemudian berkata,
"mbak Arum, bisa tinggalkan kami sebentar...!"
"baik, tuan muda...!"
selepas Arum pergi, Wira kembali berkata,
"kamu pasti tau, anjingku dan anjingmu bukan anjing biasa, mereka keturunan anjing spesial...!"
"oya? masa sih...? aku baru tau...!" Via sedikit terkejut.
"lho, memangnya kamu ga tau anjingmu itu keturunan SERIGALA...!!!"
__ADS_1
Via menggeleng,
"sejujurnya, Dia bukan anjingku...! seorang temanku menitipkannya padaku dengan seenaknya...! sedangkan temanku itu mendapat anjing ini dari mantan pacarnya...!"
"oh begitu...! jadi temanmu itu juga tidak tau anjing ini keturunan serigala...?"
"ya, begitulah...!"
"tapi, apa selama ini kamu tidak pernah menyadarinya waktu malam bulan penuh? maksudku, apa kamu tidak pernah melihatnya berubah saat bulan purnama...?"
"tidak, tidak pernah...! selama ini aku selalu mengurungnya di gudang bawah rumahku, karena temanku berpesan untuk menghidarinya dari melihat bulan purnama...! memang aku sempat curiga anjing ini keturunan serigala, dan kadang aku ingin membuktikannya dengan membiarkannya melihat bulan purnama, tapi untuk saat ini aku masih terlalu takut, mungkin..."
"jangan...!!! jangan pernah lakukan itu...! kecuali kamu ingin terkena masalah serius...!" potong Wira cepat menghentikan kata-kata Via.
"saat melihat bulan purnama, Dia akan berubah menjadi liar dan ganas. Dia akan mengamuk, dan menerkam siapa saja yang dianggapnya berbahaya, termasuk tuannya sendiri...!"
"ish..., seram...!" Via merasakan bulu kuduknya berdiri.
"da... darimana kamu tau...? apa kamu pernah melihatnya...?"
Wira mengangguk, kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"dulu, aku pernah melihatnya sekali...! saat itu aku dan beberapa temanku yang penasaran mengurung seekor dari mereka didalam kerangkeng yang terbuat dari baja, dan sengaja membiarkannya melihat bulan penuh...!"
"awalnya kami menikmati keliaran dan keganasan mahluk itu dalam kerangkeng, tapi kemudian, terjadilah bencana itu...!!!"
"semakin malam, mahluk itu semakin mengerikan. tubuhnya membesar lebih dari dua kali lipat. matanya merah semerah darah, kupingnya semakin panjang dan lancip. bulunya semakin lebat, taring dan cakarnya semakin besar dan tajam, mahluk itu sudah seperti monster...!!!"
"kekuatannya pun semakin mengerikan, tanpa mengenal lelah, mahluk itu terus mengamuk selama lebih dari dua jam, hingga akhirnya, kerangkeng yang terbuat dari baja itu berhasil di jebolnya...!!!"
"setelah berhasil keluar kandang, mahluk itu kembali mengamuk dan menyerang kami satu persatu, hingga menyebabkan beberapa dari kami terluka parah, bahkan ada yang sampai meninggal ditempat...!!!"
"setelah puas menyerang kami, mahluk itu lalu pergi kedalam hutan, dan melolong terus sampai pagi. besoknya, ketika kami mencarinya kedalam hutan, mahluk itu sudah menghilang, dan tidak pernah ditemukan sampai hari ini...!"
setelah mengakhiri ceritanya, Wira lalu menghisap rokoknya kuat-kuat, dan menghembuskannya keatas.
matanya menatap kosong kelangit jauh,
kesedihan tersirat jelas diwajahnya.
"ma... maafkan aku karena membuatmu teringat masa lalumu yang menyedihkan...!" ucap Via menyesal.
Wira bergeming.
Via yang merasa tidak enak kembali berkata, "sungguh aku minta maaf jika kamu merasa sedih...! andaikata ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu..."
Tiba-tiba Wira melirik kearah Via,
"aku rasa ada..."
"apa...?"
"BERCINTALAH DENGANKU, SEKARANG...! hehehe..." Wira kembali menyeringai cabul.
__ADS_1
"DASAR MESUM...!!!"