PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
48. PERTEMUAN DIBUKA


__ADS_3

kita kembali ke ruang pertemuan,


"hei, apa maksud kakakmu bahan percobaan...? aku masih mengerti kalau kamu memanfaatkanku...! tapi bahan percobaan...? percobaan apa...?" tanya Via ke Wira.


"ah, jangan kamu pikirkan, itu hanya omongan usil nya saja...!" balas Wira.


"aku rasa kakakmu tidak hanya asal bicara, Dia tidak terlihat seperti orang yang suka bercanda...! kamu pasti menyembunyikan sesuatu...!"


"untuk apa aku menyembunyikan sesuatu...?"


"mana aku tau...! otakmu kan susah ditebak...!"


baru saja Via selesai berkata, tiba-tiba pintu depan kanan terbuka, nampak seorang pria dan seorang wanita paruh baya berpakaian abu-abu memasuki ruang pertemuan. di belakang mereka, mengikuti 4 orang pria dan 2 wanita berpakaian coklat tua.


"mohon perhatian semuanya...! tuan besar dan nyonya besar memasuki ruangan, harap semua memberi salam...!"


semua yang ada disana langsung membungkukkan badan,


"selamat datang tuan besar dan nyonya besar, sehat selalu dan panjang umur...! salam Kapak Naga...!"


"salam Kapak Naga...!!!" balas tuan dan nyonya besar beserta ke 6 orang dibelakangnya.


"apa para ketua cabang sudah hadir semua...?" tanya si tuan besar.


"kami sudah hadir, tuan besar...!" sahut kelima ketua cabang bersamaan.


"bagus, kalau begitu tidak perlu berlama-lama, segera kita mulai pertemuan sore ini...!" balas si tuan besar yang langsung naik ke atas panggung, diikuti nyonya besar dan ke 6 orang berpakaian coklat tadi.


tidak berapa lama, satu persatu para ketua cabang mulai menyusul naik ke atas panggung, ditemani seorang anak buahnya yang berjas hijau tua. hanya tinggal Wira saja yang saat itu masih berada ditempatnya.


dilihat dari raut wajahnya, Wira seperti sedang memikirkan sesuatu.


"hei, ketua cabang tiga, sedang apa kamu disana...?! cepat naik, supaya bisa kita mulai rapatnya...!" teriak tuan besar dari atas panggung.


"ba... baik, tuan besar...!" balas Wira yang langsung berjalan menemui ke empat anak buahnya yang berjas hijau tua.


sejenak mereka terlihat membahas sesuatu yang serius, hingga tiba-tiba mereka berlima menoleh ke arah Via, dan tersenyum penuh arti.


belum hilang keterkejutan Via dipandangi seperti itu, tiba-tiba Wira mendekatinya dan menarik tangannya.

__ADS_1


"ikut aku...!" sahut Wira.


"ke... kemana...?" tanya Via tergagap.


"ikut rapat...!"


"ikut rapat...! kamu sinting, ya...?! kenapa aku harus ikut rapat...? akukan bukan anggota perusahaanmu...!"


"memang sekarang bukan, tapi sebentar lagi iya...!"


"jangan ngawur kamu...! kata siapa aku mau bekerja diperusahaanmu...!"


"aku tidak bilang kamu bekerja, aku bilang kamu anggota...!"


"maksudmu...?" Via terlihat bingung.


"sudahlah, jangan banyak tanya, nanti kamu tau sendiri setelah rapat dimulai...! sebaiknya sekarang kita segera naik, sebelum tuan besar menegurku lagi...!"


"kalau aku tidak mau...?" tanya Via berusaha melepaskan genggaman tangan Wira.


"aku akan terus berdiri disini dan menggenggam tanganmu...! biar saja semua orang memandangi kita...!" ancam Wira.


mau tidak mau, akhirnya Via mengikuti Wira naik keatas panggung.


melihat Wira naik bersama Via membuat semua orang terkejut, begitu juga dengan Tuan besar yang langsung bertanya,


"Wira, siapa Dia...?"


"oh, Dia Pacar saya, tuan Besar...! sekaligus wakil saya di pertemuan kali ini...!"


"wakilmu...! apa kamu serius...?"


"iya, tuan besar..., saya sangat serius...!" balas Wira mantap.


"hmmmm..., apa itu berarti kali ini kamu tidak mengajukan calon ketua baru...?" tanya tuan besar lagi.


"iya, tuan besar...! saya sudah berbicara dengan wakil saya, dan sepertinya dari mereka berempat belum ada yang tertarik memegang jabatan penting itu...!"


"pembohong...!!!" sahut Saras tiba-tiba, membuat semua yang ada diatas panggung menoleh kearahnya.

__ADS_1


"kak, mengapa kakak mengatakan aku pembohong...?" tanya Wira terlihat bingung.


"Wir, kamu jangan pura-pura bodoh, deh...! kamu tau sendiri kita semua punya kepentingan yang sama untuk menempatkan calon ketua baru disini, tapi kamu sengaja tidak mengajukan calon ketua dan menggantikannya dengannya, supaya kamu bisa mempunyai dua suara bebas, yang itu berarti, siapapun yang kamu dan Dia pilih akan menjadi ketua cabang baru...!"


"ah, itu hanya dugaan kakak saja...! belum tentu yang kupilih akan menang, bukankah masih ada suara tuan besar, nyonya besar, dan penasehat langit...?!"


"jangan pura-pura tidak tau, deh...! suara penasehat hanya dipakai saat keadaan suara seimbang...! sedangkan dari awal kita semua tau, papa dan mama mempunyai pilihan yang berbeda...?"


"jadi maksud kakak...?" tanya Wira lagi.


"ya..., kamu ingin menjadi penentu pemilihan kali ini, supaya siapapun yang menjadi ketua baru nanti, akan merasa berhutang padamu...?"


mendengar jawaban Saras, tiba-tiba Wira tertawa, "hahahaha..., tidak percuma kakak menjadi ketua cabang, otak kakak ternyata pintar juga, hahahaha... hahahaha..."


"memang benar aku sengaja tidak mengajukan calon ketua demi itu...! karena itu berbaik-baiklah kakak padaku dalam rapat nanti, siapa tau saja aku akan memilih Sinar, anak buah kakak yang cantik ini sebagai ketua di cabang kita yang baru, hahahaha... hahahaha..."


"ka... kamu...! dasar manusia licik...!!!" umpat Saras Kesal.


"sudah, sudah...! nanti saja dilanjutkan lagi bicaranya...! sebaiknya sekarang papa buka pertemuan hari ini, supaya tidak kemalaman...!" kali ini nyonya besar yang berbicara sambil menoleh ke arah tuan besar.


tuan besar lalu mengangguk dan berkata dengan suara lantang,


"semuanya...! sepertinya yang sudah direncanakan, hari ini kita akan memilih ketua untuk cabang baru kita yang keenam...! oleh karena itu, sambil menunggu hasil rapat yang akan kami adakan sekarang, silahkan kalian semua


menikmati minuman dan makanan yang sudah disediakan...!"


"terima kasih, tuan besar...!" balas seluruh anggota yang saat itu sudah berjumlah lebih dari delapan ratus orang serentak.


"dengan ini, pertemuan biro kapak Naga, dibuka...!!!" lanjut tuan besar, diiringi tepuk tangan seluruh anggota.


seusai tuan besar berkata, bergegas beberapa pria berjaket hitam menaiki panggung dengan membawa sebuah meja bundar dan beberapa kursi.


mereka lalu menyusun dua belas kursi melingkari meja bundar, dan enam kursi berjajar dibelakang kursi yang paling mewah.


setelah meja dan kursi tersusun rapi, beberapa pelayan lalu menghidangkan makanan dan minuman yang terlihat lezat dan mewah.


"silahkan duduk, kita mulai pembicaraan kita sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan...!"


"Terima kasih, nyonya besar...!"

__ADS_1


__ADS_2