PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
54. PINDAH TEMPAT


__ADS_3

setelah menghabiskan sebotol arak bersama Gondrong, Via lalu menemui Wira.


saat itu Wira terlihat sedang berbincang dengan Awang, Sri dan Asih.


melihat Via datang, Wira langsung tersenyum,


"sayang..., darimana saja kamu...? bagaimana urusanmu dengan penasehat Langit, apa sudah beres...?"


"sudah dari tadi, sayang...!" balas Via, berpura-pura mesra.


"lalu, darimana saja kamu...? kenapa tidak langsung menemuiku...?"


"barusan aku jalan-jalan sebentar ketaman untuk mencari udara segar...!"


"lho, kenapa penampilanmu kusut...?" tanya Wira tiba-tiba, menyadari penampilan Via yang sedikit berantakan.


"dan kenapa gaunmu robek...?" lanjutnya sambil memperhatikan Via dari atas sampai bawah dengan penuh tanya.


"oh, ini barusan aku tidak sengaja terjatuh...!" jawab Via asal.


"terjatuh...?! masa iya kamu jatuh sampai sebegitunya...?" kali ini Asih yang bertanya tidak percaya.


"Asih benar, rasanya tidak mungkin kamu sampai seperti ini cuma gara-gara terjatuh...?" Wira menimpali.


"lalu menurut kalian...!" Via balik bertanya.


"kamu lebih mirip orang yang habis berkelahi...!!!" jawab Asih cepat.


kali ini Via tidak membalas, hanya tersenyum ringan, seakan mengisyaratkan bahwa tebakan Asih benar.


menyadari tingkah Via, Wira langsung menoleh ke Gondrong dan bertanya,


"Drong, apakah yang dikatakan Asih benar...?"


"benar Bos...!" jawab Gondrong polos.


"dengan siapa Dia berkelahi...?"


"nona muda berkelahi dengan Sinar, Bos...!"


"Sinar...?! Sinar anak buah kak Saras...?!"


"iya, Bos...!"


kembali Wira menoleh ke Via,


"sayang, ada masalah apa kamu dengan Sinar sampai kalian berkelahi...?"

__ADS_1


"oh, tidak, tidak ada...! aku tidak ada masalah dengannya...!"


"lalu, kenapa kalian berkelahi...?!"


"aku lupa...!" jawab Via berbohong.


"lupa...?! yang benar saja kamu, Vi...! masa kamu bisa lupa alasan kalian berkelahi...? pasti ada yang mau kamu tutupi dari kami, ya...?" Asih menatap Via curiga.


"sungguh Sih, aku tidak bohong...! aku benar-benar lupa kenapa kami tadi berkelahi...! mungkin nanti kalian tanya Sinar saja, siapa tau Dia masih ingat...!"


sejenak Wira dan Asih saling memandang, kemudian Wira berkata,


"yah sudah, terserah kamu saja kalau tidak mau cerita, biar nanti kami cari tau sendiri...!"


baru selesai Wira berkata, Via yang menyadari Awang berdiri diantara Sri dan Wira langsung berkata,


"eh, sepertinya daritadi aku belum sempat mengucapkan selamat pada ketua baru kita...!"


"Wang, selamat ya atas diangkatnya kamu menjadi ketua cabang enam...!" Via mengulurkan tangan menyalami Awang.


"terima kasih, nona muda...! ini juga berkat nona muda...! jika tadi nona muda tidak memilih saya, tidak mungkin saya bisa menjadi ketua cabang...!" Awang menyambut uluran tangan Via sambil menundukkan badannya.


"ah, jangan terlalu dibesar-besarkan, aku hanya melakukan apa yang kurasa benar...! lebih baik ucapan terima kasih itu kamu sampaikan ke para penasehat Langit, karena mereka yang memutuskanmu menjadi ketua cabang...!" balas Via merendah.


"mungkin benar mereka yang memutuskan, tetapi tetap saja saya merasa berhutang budi pada nona muda...! jika suatu saat nona muda membutuhkan bantuan saya, maka jangan pernah sungkan untuk mengatakannya...! saya berjanji, sebisa mungkin saya pasti akan berusaha membantu nona muda...!" balas Awang bersikeras.


...


malam itu, kembali Via menikmati arak bersama Wira dan teman-teman barunya di Kapak Naga.


hampir dua jam berlalu, hingga tiba-tiba Via berbisik ke Wira, "Wir, kita pulang, yuk...?"


"kenapa buru-buru, Sayang...? bukankah ini baru jam sembilan...? masih terlalu pagi untuk mengakhiri pesta ini...! apa kamu sudah mabuk...? hehehe..." Wira balik bertanya.


"bukan begitu..., hanya saja aku kepikiran persiapan besok...!"


"sudah kubilang kamu tenang saja, biar Arum yang mengurusnya...! Dia pasti sudah mempersiapkan semuanya dengan baik...!"


"aku tau..., tapi tetap saja aku tidak bisa tenang sebelum memastikannya sendiri...! lagian TG ku ketinggalan dirumah, aku takut mama khawatir karena tidak bisa menghubungiku...!"


sejenak Wira berfikir, kemudian berkata, "ya sudah, kalau begitu sekarang kita pulang, aku tidak mau membuat calon mertuaku khawatir, hehehe..."


Wira lalu menoleh kearah Gondrong,


"Drong, tolong kamu beritahu Juna untuk menjemput kami didepan, sekarang...!"


kata-kata Wira membuat semua yang ada sana terkejut, terutama Asih,

__ADS_1


"hei, kamu mau kemana...?" tanyanya.


"iya, tuan muda mau kemana...? bukankah pestanya baru dimulai...?" Awang ikut bertanya.


"mohon maaf, sepertinya kami harus meninggalkan pesta lebih dulu, ada beberapa hal yang harus Via lakukan dirumah...!" balas Wira dengan raut wajah menyesal.


"kenapa harus sekarang...? tidak bisakah nanti saja itu diurus...? jarang-jarang kita bertemu dan bersenang-senang seperti ini, masa kalian harus pergi secepat itu...!" Asih terlihat kurang senang.


"maaf, Sih..., bukannya aku tidak menghormati kalian, tapi terus terang aku tidak bisa tenang sebelum memastikan itu beres...!" kali ini Via yang menjawab.


"ah, itukan hanya alasanmu saja...! bilang saja kalian sudah tidak tahan ingin bercinta...!!!" tuduh Asih kesal.


"kalau iya, kenapa...? apa kamu cemburu...? hehehe..." goda Wira.


"aku tidak cemburu, hanya saja aku tidak suka orang yang pergi seenaknya ketika pesta sedang berlangsung...!" kali ini Asih terlihat marah.


"aku tau aku salah, tapi sungguh aku minta maaf, aku harus segera pulang karena..."


"ya sudah, kamu pulang saja...!" sahut Asih memotong kata-kata Via.


"tapi biarkan Wira tetap disini untuk melanjutkan pesta bersama kami...!" lanjutnya lagi.


"akusih tidak masalah, tergantung Dianya saja...!" balas Via menoleh ke Wira.


"hei, mana bisa begitu...! kita datang bersama, pulang bersama...!" protes Wira.


"kenapa tidak bisa...? bukankah kamu sendiri yang bilang itu urusannya...! jadi untuk apa kamu ikut pulang...? biarkan saja Dia pulang sendiri dengan sopirmu, nanti kamu pulang sama aku...!" balas Asih lagi.


"nona Asih benar, tuan muda...! biarkan nona muda Via pulang duluan, nanti setelah pesta selesai, baru kami antar tuan muda pulang...!" Awang menimpali.


Wira terlihat bimbang, disatu sisi Dia ingin menghabiskan malam bersama Via sebelum Via pergi, tetapi disisi lain Dia tidak enak meninggalkan teman-temannya.


saat Wira bingung, tiba-tiba Gondrong berkata, "bagaimana kalau pestanya dilanjutkan dirumah si Bos saja...? dengan begitu nona muda bisa tenang, dan kita semua masih bisa melanjutkan bersenang-senang...!"


"aku rasa itu ide yang bagus...! bagaimana menurut kalian...?" sahut Wira cepat.


"aku sih tidak masalah, tapi aku harus lapor ke bos Godam dulu...!" jawab Awang.


"kamu gimana, Sih...?"


"sama, aku juga tidak masalah, tapi kamu harus siapkan minuman kesukaanku...!" jawab Asih.


"tenang saja, aku selalu menyimpan itu...!" balas Wira tersenyum.


"ya sudah kalau begitu jangan berlama-lama lagi, sebaiknya sekarang kita berangkat...!"


"ya...!"

__ADS_1


__ADS_2