
"BERHENTI...!!!"
teriakan Via membuat para pemuda itu berhenti memukuli si kakek bongkok dan menoleh kearahnya.
"kamu lagi, kamu lagi...! mau apa kamu kesini...? hah...!!! jangan ikut campur urusan kami...?" bentak salah satu pemuda itu kesal.
"aku bukannya mau mencampuri urusan kalian, tapi apa yang kalian lakukan sudah sangat keterlaluan...!" Via menatap para pemuda itu dengan penuh amarah.
"itu bukan salah kami...! kakek sialan ini yang duluan cari gara-gara...!" balas pemuda itu tidak mau disalahkan.
"jangan bersilat lidah...! aku melihat sendiri kalian yang duluan mengganggu mereka di kedai tadi...!" balas Via lagi.
"kami tidak mengganggu mereka, kami hanya ingin berkenalan dan mengajak mereka bersenang-senang...! tapi kakek keparat ini malah menghina kami...!" balas pemuda itu tetap tidak mau disalahkan.
"tidak hanya menghina kami, kakek besar mulut ini juga mengatakan ingin menghajar kami...!" sahut temannya menambahkan.
"dan kalaupun kami yang cari masalah duluan memangnya kenapa...? toh, tidak ada urusan nya denganmu...!!!" sahut pemuda sebelumnya.
"kata siapa ini bukan urusanku...! selama kalian masih mengganggu mereka, berarti itu masih menjadi urusanku...!" balas Via lagi.
"trus, maumu apa...?"
"tinggalkan mereka...! aku rasa sudah cukup kalian menyakiti mereka...!" balas Via tegas.
"jika kami tidak mau...!"
"jangan salahkan aku dan penjaga ku ini menghajar kalian...!!!" gertak Via.
seakan mengerti perkataan Via, Simba yang sejak tadi hanya diam langsung menggeram dan memperlihatkan taringnya yang tajam, sehingga membuat para pemuda itu mundur beberapa langkah.
sejenak para pemuda itu saling memandang satu sama lain, kecemasan terlihat jelas di wajah mereka.
setelah berdiskusi beberapa saat, tiba-tiba salah satu pemuda itu dengan cepat menendang kakek bongkok hingga jatuh tersungkur.
"kami rasa dengan ini urusan kami dengan mereka sudah selesai...! hahahaha... hahahaha..." tawa pemuda itu, lalu memberi kode kepada teman-temannya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
melihat para pemuda itu pergi begitu saja membuat Via heran,
"hei, ada apa dengan mereka...? rasanya tidak mungkin mereka kabur begitu saja gara-gara Simba...?" batinnya tidak percaya.
"ah, sudahlah...! mungkin mereka lagi malas berkelahi...! daripada memikirkan mereka, sebaiknya aku segera menolong kakek itu...!"
secepatnya Via menghampiri kakek bongkok yang saat itu sedang berusaha untuk duduk.
"kek..., kakek tidak apa-apa...?" tanya Via sembari membantu kakek bongkok untuk duduk.
bukannya berterima kasih karena Via membantunya, kakek bongkok malah menepis tangan Via,
"jangan sentuh aku, gadis bodoh...!!!" hardiknya marah.
"gara-gara kamu mereka pergi...! padahal baru saja aku ingin menghajar mereka...!" lanjut kakek bongkok.
mendengar kata-kata kakek bongkok, sontak membuat Via terkejut.
"ternyata benar kata pemuda tadi, kakek ini bermulut besar...!!!"
__ADS_1
belum hilang keterkejutan Via, tiba-tiba seseorang berkata dari sampingnya,
"sudahlah, kek..., itu bukan salahnya...! gadis ini hanya mencoba menolong kita...!"
secepatnya Via menoleh kearah datangnya suara.
nampak si gadis cantik berdiri sambil merapikan pakaiannya yang berantakan.
sejenak Via memperhatikan raut wajah si gadis cantik,
"hei, kenapa gadis itu tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa padanya barusan...!" batin Via heran.
"aku tau gadis bodoh ini bermaksud baik, tapi tetap saja aku merasa kesal karena tidak jadi menghajar mereka...!" kembali kakek bongkok menyahut, membuat Via kembali menoleh kearahnya.
baru saja Via menoleh, tiba-tiba dengan cekatan kakek bongkok meloncat dan berdiri, lalu merenggangkan seluruh badannya, seakan tidak merasakan sakit sama sekali.
kembali Via memperhatikan raut wajah kakek bongkok.
"hei, kenapa kakek ini juga tersenyum...? Dia tidak terlihat seperti orang yang habis dipukuli...? ada apa dengan kedua orang ini...?!" batin Via semakin heran.
tidak lama, gadis cantik berjalan mendekati Via.
"terima kasih karena sudah menolong kami, Dik...!" kata gadis cantik ramah.
"sama-sama, kak...!" balas Via juga ramah.
"perbuatanmu tadi sungguh berani, apa kamu tidak takut mereka menyerangmu...?" tanya gadis cantik.
"sebenarnya saya juga takut, kak...! tadi saya hanya menggertak, tapi untunglah mereka tidak mau meladeni omongan saya dan pergi...!" jelas Via.
"huh...! ternyata kamu cuma gadis besar mulut...!" celetuk kakek bongkok.
"bukannya kakek juga sama...! katanya bisa menghajar mereka, tapi dari tadi kuperhatikan kakek hanya diam saja dipukuli...! kalau bukan karena aku yang menolong, mungkin saat ini kakek sudah sekarat...!!!"
"tau apa kamu gadis bodoh...! dari tadi aku sengaja tidak melawan untuk membuat mereka capek, setelah itu baru aku menghajar mereka...!" balas kakek bongkok sengit.
"jangan membual...! mana mungkin orang tua bongkok sepertimu bisa menghajar mereka...! jangankan menghajar mereka, mengalahkanku saja kakek belum tentu bisa...!" balas Via tidak kalah sengit.
"dasar gadis kurang ajar...! apa kamu mau mencoba kehebatanku...!!!" tantang kakek bongkok sembari memasang kuda-kudanya.
"siapa takut...!!!" balas Via ikut memasang kuda-kudanya.
sejenak Via dan kakek bongkok saling menatap tajam, hingga tiba-tiba si gadis cantik berkata, "sudahlah...! kenapa malah kalian yang jadi bertengkar...!!!"
"Dik, maafkan kakek kalau menyinggungmu...! mulutnya memang seperti itu, sering kelewatan...! mohon Adik tidak memasukkannya ke hati...!" lanjut si gadis cantik berusaha menenangkan Via.
"sa... saya juga minta maaf, kak, karena barusan terbawa emosi...! maklum, saya sedikit mabuk karena kebanyakan minum...!" balas Via melepas kuda-kudanya dan kembali tenang.
"iya, Dik..., tidak apa-apa...! ngomong-ngomong Adik ini siapa...? dan darimana...? sepertinya saya baru pertama kali melihat Adik disini...!" tanya si gadis cantik.
"oh, nama saya Sephia, biasa dipanggil Via...! saya berasal dari desa Darmatemaja di Tanadewa....!" jawab Via memperkenalkan diri.
"Darmatemaja...?! Tanadewa...?! wah, jauh sekali...! ada gerangan apa sampai Adik tiba disini...?" tanya si gadis cantik lagi.
"sebenarnya saya ada janji bertemu dengan teman saya, tapi sudah beberapa hari ini Dia belum juga datang...!" jelas Via.
__ADS_1
"oh, kalau boleh tau, siapa nama teman nona itu...?" gadis cantik terlihat penasaran.
"namanya Putri Cening Ayu...!"
"hah...!!! Putri Cening Ayu...?!" si gadis cantik dan kakek bongkok nampak terkejut.
"ya, Putri Cening Ayu...! apa kakak dan kakek mengenalnya...?"
sejenak kakek dan gadis itu saling memandang. lalu tiba-tiba si kakek dengan marah berkata,
"gadis bodoh...! ada urusan apa kamu dengannya...!!!"
...
siapakah gadis cantik dan kakek bongkok misterius itu...?
apakah mereka yang selama ini ditunggu Via...?
***
saat itu, disuatu tempat yang berada tidak jauh dari sana, nampak para pemuda tadi sedang sedang duduk melingkar sambil menikmati berberapa botol tuak,
"brengsek...! ingin rasanya kuhajar gadis sialan itu supaya tidak campur urusan kita...!" kata salah satunya.
"aku juga...!" sahut pemuda lainnya.
"sumpah, aku belum puas menghajar kakek bermulut besar itu...! jika bukan karena gadis sialan itu, aku pasti sudah membuatnya mampus...!!!" lanjutnya.
"aku mengerti kekesalan kalian, tapi saat ini lebih baik kita tidak cari masalah dengannya...! apa kalian mau dihajar lagi oleh penjaganya...?" balas yang lain memperingatkan.
selama beberapa saat, para pemuda itu hanya diam, asik dengan pikirannya masing-masing, hingga tiba-tiba salah satunya kembali berkata,
"lalu, Don..., apa yang selanjutnya akan kita lakukan...? terus terang, aku masih penasaran ingin menikmati tubuh gadis cantik tadi...! hehehe..."
"aku juga...! hehehe..." sahut temannya yang lain.
sambil meneguk tuaknya, pemuda yang dipanggil Don dengan santai menjawab, "kalian tenang saja, aku sudah memikirkan hal itu...! karena itu, dengarkan rencanaku baik-baik...!"
secepatnya pemuda bernama Don itu menjelaskan rencana jahatnya.
"jadi kita akan menculiknya...?" tanya salah satu pemuda itu dengan wajah berseri.
"ya..., setelah kita menculiknya, silahkan kalian perlakukan gadis cantik itu sesuka hati kalian...! hehehe..." jawab Don terkekeh.
"lalu, bagaimana kalau sampai gadis sialan dan kedua penjaganya itu ikut campur...? ah, salah, maksudku tiga...! ditambah anjing itu, penjaganya jadi tiga...!" sahut pemuda lainnya khawatir.
"kamu tenang saja, soal itu aku juga sudah pikirkan...! aku sudah meminta bantuan kakak pertama, dan tidak lama lagi Dia dan pasukannya akan tiba didesa ini...!" balas Don lagi.
"wah, kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kita culik cewek sialan itu dan penjaganya yang manis itu...! hehehe..." sahut pemuda tadi senang.
"iya, Don...! dengan bantuan kakak pertama, aku yakin kita pasti bisa melakukannya...! hehehe..." pemuda yang lain menimpali.
"dasar kalian...! apa tidak cukup kalian bersenang-senang dengan satu gadis cantik itu saja...?" balas Don kembali meneguk tuaknya.
"bukannya tidak cukup, Don...! satu gadis memang menyenangkan, tapi kalau tiga gadis tentu akan jauh lebih menyenangkan, bukan begitu teman-teman...?" balas pemuda tadi, yang disambut seringai cabul teman-temannya.
__ADS_1
"ya, ya, ya..., aku rasa kamu benar...! kalau begitu nanti kita culik mereka bertiga, dan kita akan menikmatinya sampai puas, hahahaha... hahahaha..."
"hahahaha... hahahaha..."