
"nah, sebelum kita memilih ketua baru, bagaimana perkembangan cabang kalian masing-masing...? apakah ada masalah atau kendala yang memerlukan bantuan dari pusat...?" tanya tuan besar memulai pembicaraan sambil melahap beberapa potong daging panggang.
"ditempat saya aman terkendali, tidak ada tagihan yang menunggak lebih dari tiga bulan...!" jawab tuan Godam ikut melahap sepotong paha ayam bakar.
"sama, ditempat saya juga aman terkendali...! semua membayar tepat waktu...!" kali ini Gundala yang menyahut sambil memasukkan ikan goreng.
"bagus...! lalu, kalian bagaimana...?" tanya tuan besar menatap Wira, Asih dan Saras bergilir.
"sepertinya aku perlu bantuan Papa...!" sahut Saras cepat.
"bantuan apa...? apa ada pelanggan yang menolak membayar dan kamu tidak sanggup mengatasinya...?"
"bukan tidak sanggup, Pa...! hanya saja karena kesal, aku memotong tangan salah satu pelangganku...! yang jadi masalah, ternyata ponakannya adalah anggota Armada...! karena itu aku perlu bantuan Papa untuk menyelesaikan masalah ini...!"
"dasar bodoh...! kenapa kamu bisa sampai seceroboh itu...?! apa sebelum kamu memotong tangannya kamu tidak mencari tahu dulu informasinya keluarganya...?" tuan besar nampak marah.
"ma... maaf, Pa...! waktu itu aku salah membaca datanya...!"
"salah membaca data...?! kesalahan konyol macam itu...! sebagai ketua cabang, seharusnya kamu lebih teliti...! apa kamu tahu akibatnya kalau sampai Armada mengecek semua kegiatan kita selama ini...?!" balas tuan besar semakin marah.
"a... aku tau, Pa..., karena itu aku menyesal dan minta maaf...!"
"maaf, maaf...! sudah berulang kali kamu melakukan tindakan bodoh yang membahayakan organisasi kita...! ah, andaikata kamu bukan Putriku, sudah kuganti kamu dari dulu...!"
kali ini Saras tidak berani membalas, hanya menunduk ketakutan.
"sudahlah, Pa..., jangan marah-marah terus, bukankah Dia sudah minta maaf...?! sebaiknya papa memaafkan Dia dan mencari solusi untuk menangani masalah ini...!" kata nyonya besar berusaha menenangkan suaminya.
"Mama jangan terus membelanya...! ini akibatnya kalau Mama terus memanjakannya...! Dia jadi semakin bodoh dan bertindak sembarangan...!" balas tuan besar masih kesal.
"iya, Pa..., Mama tau...! Mama juga bersalah karena selama ini gagal mengawasinya...! karena itu Papa boleh menghukum Mama sebagai ganti kesalahannya...!"
"ah, Mama...! bagaimana mungkin Papa bisa menghukum orang yang paling Papa cintai...?!" balas tuan besar lagi.
"ya sudah, kalau memang Papa tidak bisa menghukum Mama, biar Mama saja nanti yang menghukum Papa..., didalam kamar...! hehehe..." bisik nyonya besar, menggoda suaminya.
__ADS_1
mendengar kata-kata istrinya, seketika amarah tuan besar mereda,
"ah, Mama bisa saja...! benar ya nanti Mama menghukum Papa dikamar...?" balas tuan besar ikut berbisik.
nyonya besar tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum menggoda.
"ya sudah, demi Mama, kali ini papa maafkan kesalahanmu...!" kembali tuan besar menatap Saras.
"tapi ingat, Ras...! sekali lagi kamu melakukan tindakan bodoh yang membahayakan organisasi, Papa tidak akan ragu lagi menggantimu...!"
"i... iya, Pa..., Saras janji tidak akan membuat kesalahan lagi...!"
"bagus, kalau begitu, sehabis pertemuan nanti segera kamu serahkan data pelanggan itu, biar para penasehat Langit yang menyelesaikannya...!"
"i... iya, Pa..., makasi, Pa..." balas Saras tersenyum gembira.
"lalu, kalian berdua bagaimana...?" kembali tuan besar bertanya ke Wira dan Asih.
"kalau ditempat saya perkembangannya sangat lancar, jumlah peminjam semakin banyak, bahkan belakangan kami mulai kewalahan karena kekurangan tenaga...!" jawab Asih, tersenyum bangga.
"berapa banyak...?" tanya tuan besar.
"mungkin sekitar dua puluh sampai tiga puluhan...!"
"hmmmm..., saya rasa itu terlalu banyak...! sebaiknya kamu menambah sepuluh dulu, jika masih kewalahan, bulan depannya baru kamu tambah lagi...!"
"siap, tuan besar...!"
"dan jangan lupa, Sih...! untuk sementara, setiap perekrutan anggota baru kamu harus ditemani Wira sebagai penasehatmu...! bukan saya tidak percaya kamu, tapi sebagai ketua cabang yang baru, kamu masih harus banyak belajar dari MANTAN KETUAMU...!"
"baik, tuan besar..., saya mengerti...!" balas Asih mengangguk.
"bagus...! dan kamu Wira, bagaimana perkembangan cabang ketiga...?"
"sekarang ditempatku sudah tidak ada masalah lagi...!" jawab Wira santai.
__ADS_1
"sekarang...?! memang sebelumnya ada masalah...?" tuan besar terlihat mengerutkan dahinya.
"yah, begitulah...! beberapa peminjam sempat menolak untuk membayar, tapi semua sudah berhasil kuselesaikan dengan caraku sendiri...!" jawab Wira tetap santai.
"caramu sendiri...?!, hei, kamu tidak melakukan hal bodoh seperti kakakmu barusan, kan...?" tanya tuan besar curiga.
"tentu saja tidak, Pa...! aku tidak sebodoh kakak...! aku menyelesaikannya dengan lebih berhati-hati...! beberapa pelanggan yang menolak membayar kumasukkan kekarung dan kubuang kelaut supaya tidak ada bukti...! beberapa lagi anak gadisnya kuculik dan kujual ke rumah pelacuran sebagai bayarannya, hehehe..." kali ini Wira menjawab sambil tersenyum.
"Wira, apa kamu serius...?!!!" tanya tuan besar dengan nada meninggi.
Wira tidak menjawab, hanya mengangguk santai.
"kenapa kamu tidak pernah melaporkan hal itu sebelumnya...?! apa kamu tidak tau akibatnya kalau sampai ketahuan Armada...?!" tuan besar kembali terlihat marah.
"tentu saja aku tau, Pa...!" balas Wira tetap santai.
"lalu, kenapa kamu tidak pernah melaporkannya....?!"
"karena aku tidak pernah benar-benar melakukannya...! aku hanya bercanda, Pa...! hahahaha... hahahaha..." balas Wira tertawa terbahak-bahak.
"mana mungkin aku berani melakukan hal itu tanpa persetujuan Papa dulu...! hahahaha... hahahaha..." lanjut Wira masih tetap tertawa.
"ka... kamu...! dasar anak sialan...!" maki tuan besar kesal.
"apa kamu tidak tahu kapan waktunya bicara serius, dan kapan waktunya bercanda...?!" omel tuan besar.
"maaf, Pa..., maaf...! aku hanya mencoba mencairkan suasana yang dari tadi tegang, hehehe..." balas Wira terkekeh.
sesaat tuan besar terlihat menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata lagi,
"apa itu berarti di cabangmu tidak ada masalah...?"
"i... iya, Pa...!" jawab Wira menahan tawanya.
"ya sudah, kalau begitu berarti semua sudah beres...! sebaiknya sekarang kita langsung ke tujuan pertemuan ini...!"
__ADS_1
"siap, tuan muda...!" balas semuanya serentak.