PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
47. DI TEMPAT LAIN


__ADS_3

saat itu, di kebun belakang rumah Siska, nampak Siska dan Ayu sedang berbincang sambil menikmati sebotol arak.


"huahemmm... ah, rasanya kurang seru kalau hanya bedua...! andaikan ada Via disini...!" kata Ayu setengah menguap.


"sudahlah, Mon..., jangan itu pikirin...! Dia sudah menemukan tujuannya, harusnya kamu bisa merelakannya...!"


"aku tau, Sis..., aku tau...! aku hanya kangen saja sama Dia...!"


"kalau kamu kangen, kenapa kamu tidak menelponnya...?"


"sudah...! daritadi aku sudah mencoba menghubunginya, tapi belum diangkat...! sepertinya Dia lagi sibuk mencari perlengkapannya...!"


"yah, bisa jadi...! kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi Dia akan menelponmu balik...!"


"ya..."


sesaat Siska dan Ayu hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing, hingga tiba-tiba Siska berkata,


"Yuk, ngomong-ngomong kamu jadi mau pinjam uang untuk kuliah...?"


"jadi, Sis...! tapi aku belum tau kapan bisa balikinnya...! mungkin nanti setelah aku tamat dan dapat kerjaan...!"


"sudahlah, Mon..., jangan itu dipikirin...! kamu itu sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri...! tidak kamu balikin juga tidak masalah...!"


"mana bisa begitu...! pinjam ya pinjam...! suatu saat pasti aku kembalikan...!"


"yah, terserah kamu saja...! emmm..., ngomong-ngomong, kapan kamu berangkat ke Ibukota...?"


"sekitar dua bulan lagi...! kuliahku dimulai lagi tiga bulan, jadi aku ingin lebih cepat kesana untuk beradaptasi, sekalian mencari kerja sampingan..., yah, siapa tau saja ada yang cocok...!"


***


saat itu, didepan rumah Bladuk, nampak Bladuk, Hengki, Bram dan Tommi sedang duduk-duduk gembira sambil menikmati beberapa botol tuak.


"jadi kamu dan Melinda sudah memutuskan akan menikah akhir bulan depan...?" tanya Tommi ke Bladuk.


"ya, begitulah...! kami pikir lebih cepat lebih baik, supaya aku bisa konsentrasi penuh mempersiapkan diri untuk wajib militer...!" balas Bladuk.


"ah, itu cuma alasanmu saja...! memang apa yang harus dipersiapkan untuk wajib militer...? bilang saja kamu sudah tidak tahan untuk mencumbunya di ranjang...! hehehe..." sahut Bram terkekeh.


"yah, terserah kamu saja mau ngomong apa...? yang jelas nanti aku minta kamu sebagai sebagai pemandu acaranya...! kamu bisa kan, bro...?" Bladuk balik bertanya.


"maaf, bro... sepertinya aku tidak bisa...!" balas Bram.


"kenapa...? memang kamu ada acara...?" tanya Bladuk lagi.


"bukan begitu, tapi sepertinya bulan depan aku harus berangkat ke ibukota untuk mengikuti audisi Bintang Bali...!"


"lho, bukannya Bintang Bali dimulai enam bulan lagi...? mau ngapain kamu ke sana bulan depan...?" kali ini Tommi yang bertanya heran.


"barusan panitianya menelponku, mereka bilang selama ini para pesertanya hanya tampil bagus saat audisi, sedangkan saat putaran final, semua tampil kurang memuaskan...! karena itu mereka ingin mengkarantina semua peserta yang lulus seleksi, supaya tampil maksimal saat putran final...!" jelas Bram.


"oh, begitu...! jadi itu artinya bulan depan kamu sudah tidak disini lagi...!" tanya Bladuk lagi.

__ADS_1


"yah, begitulah...! doakan aku sukses, ya...!"


"tentu saja...! kami berharap kamu bisa meraih mimpimu, menjadi bintang terkenal...!!!"


***


saat itu, di kota Tanadewa, dihalaman sebuah rumah yang cukup mewah, nampak seorang pria berjas merah berjalan tergesa-gesa.


"tuan muda..., tuan muda...! barusan saya mendapat kabar dari mata-mata kita di desa Darmatemaja...!"


"kabar apa...?" tanya tuan muda yang tidak lain adalah Brandon.


"mereka bilang, musuh tuan sudah tiga hari ini tidak kelihatan...! sepertinya gadis itu sudah pergi dari rumahnya...!"


"oya, apa mereka tau kemana Dia pergi...?"


"mereka tidak tau, tuan muda...! tapi kata mereka, terakhir gadis itu terlihat pergi ke selatan menggunakan sepeda motor gandeng berwarna pink...! setelah itu gadis itu tidak pernah kembali lagi...!"


"hmmm..., sepertinya gadis sialan itu sedang ada urusan diluar sana...! ya sudah, kalau begitu tarik semua mata-mata kita dari sana, cukup tinggalkan seorang saja untuk mengawasi rumahnya...! aku yakin, kemanapun Dia pergi, suatu saat Dia pasti akan kembali pulang...!"


"baik, tuan muda...!" sahut pria berjas merah itu lalu pergi meninggalkan Brandon.


selepas anak buahnya pergi, Brandon langsung meraih telpon genggamnya dari atas meja dan menghubungi seseorang.


"selamat malam, tuan muda..., apa ada yang bisa saya bantu...?" jawab pria di seberang sana.


"bagaimana tugas yang saya berikan kemarin, apa sudah ada hasil...?"


"lalu, apa kata orang itu...?"


"Dia bilang Dia siap membantu kita...! segera Dia akan mencari-cari kesalahan bapaknya, dan memecatnya...!"


"apa uang yang kita berikan cukup...?"


"cukup tuan muda, bahkan lebih dari cukup...!"


"bagus...! lalu bagaimana dengan ibunya...?"


"sesuai yang tuan muda inginkan, ibunya sudah menandatangani pembelian barang-barang mewah yang kita jual setengah harga dengan pembayaran mundur...!"


"bagus...! kalau begitu terus lanjutkan rencana, pastikan mereka segera bangkrut sampai tidak bisa membayar hutang-hutangnya...!"


"siap, tuan muda...!"


"tutttt..."


sehabis menelpon, Brandon langsung tertawa lebar,


"hahahaha... hahahaha..., lihatlah SONIA...! tidak lama lagi keluargamu akan jatuh miskin dan memohon bantuanku...! saat itu kamu tidak akan bisa menolakku lagi, dan mau tidak mau kamu akan menerimaku menjadi suamimu...! hahahaha... hahahaha..."


***


saat itu, disebuah rumah yang sederhana, nampak seorang wanita paruh baya sedang berbicara di telpon.

__ADS_1


"selamat malam..."


"malam tante, ini Adi...!"


"eh, Adi...! apa kabar...?"


"baik, tante...! tante sendiri apa kabar...?"


"baik juga, kamu dimana...? apa sudah sampai di Benua Baru...?"


"sudah, tante..., baru seminggu lalu...!"


"oh, lama juga ya perjalannya...?"


"lumayan tante, ada sedikit masalah dilaut, tapi untunglah semua baik-baik saja...!"


"oh, syukurlah kalau begitu...! hmmm..., ngomong-ngomong, ada apa kamu menelpon kesini...?"


"saya mau bicara dengan Via..., Via nya ada...?"


"oh, Via...! Dia sudah pergi dua hari lalu...!"


"pergi kemana...?"


"pulang kampung, mau ketemu neneknya...!"


"neneknya...?! memang Via punya nenek...!"


"ya punyalah...! memang kamu pikir tante lahir dari batu...?!"


"hehehe... maaf, tante, maaf..., maksud saya, apa nenek Via masih hidup...? bukannya neneknya sudah mati...?"


"hush...! jangan membunuh seorang seenaknya...! memang sejak kapan neneknya mati...?"


"maaf, tante..., saya kira neneknya sudah mati, soalnya Via tidak pernah cerita neneknya masih hidup...!"


"tidak pernah cerita kan bukan berarti sudah mati...!"


"hehehe... sekali lagi maaf, Tante...! ngomong-ngomong, berapa lama Via pergi kerumah neneknya...?"


"mungkin sekitar tiga sampai lima tahun...!"


"tiga sampai lima tahun...! kok lama sekali...? ada urusan apa Via dirumah neneknya sampai selama itu...?"


"Dia sedang mempelajari ilmu pengobatan tradisional...!"


"pengobatan tradisional...! maksud Tante Via mau jadi dukun...?"


"bukan dukun, tapi Tabib...!"


"oh, iya..., itu dah....! emmmm..., apa saya boleh minta nomer TGnya Via...? TG saya hilang, jadi saya kehilangan semua kontak...!"


"oh, pantas saja kamu menelpon kesini bukan ke TG nya, ya sudah, kamu catat ya, nomernya bla... bla... bla..."

__ADS_1


__ADS_2