PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
50. PERDEBATAN WIRA DAN SARAS


__ADS_3

"sesuai peraturan organisasi, bahwa ketua cabang baru akan direkomendasikan oleh ketua cabang yang sudah ada, dan hanya wakil ketua yang boleh menjadi ketua cabang yang baru, maka hari ini kita memiliki empat calon ketua untuk memimpin cabang baru..., tuan Putra wakil cabang satu, nona Sinar dari cabang dua, tuan Awang dari cabang empat, dan nona Sri dari cabang lima...!" jelas salah seorang penasehat langit.


"nah, jika semua ketua dan wakilnya yang ikut dalam pencalonan wajib memilih calonnya masing-masing, maka akan empat suara yang tersisa, yaitu tuan besar, nyonya besar, ketua cabang tiga dan wakilnya...! empat suara inilah yang akan memutuskan siapa calon ketua baru yang akan memimpin cabang enam...!" lanjut penasehat tadi, yang dibalas anggukan semua yang ada diatas panggung.


"tetapi..., sebelum kita memulai pemungutan suara, saya ingin menanyakan ke tuan muda Wira, apakah nona..." sejenak penasehat tadi menghentikan kata-katanya dan memandang Via penuh tanda tanya.


Via yang mengerti arti tatapan si penasehat langsung berkata, "saya Sephia, biasa dipanggil Via...!"


"baiklah, sekali lagi saya ulang pertanyaan saya ke tuan muda Wira, apakah nona Via sudah menjadi anggota kita...?"


"belum, Dia belum menjadi anggota kita...!" balas Wira cepat.


"kalau begitu, sebaiknya nona Via segera diangkat menjadi anggota kita, supaya memilki hak memilih...! karena sesuai peraturan, hanya anggota yang mempunyai hak untuk memilih...!"


"maaf, saya tidak bisa...!" sahut Via tiba-tiba, mengagetkan semua yang ada disana.


"dengan segala hormat, bukan saya tidak bersedia menjadi anggota perusahaan ini, tapi saya sudah jelaskan ke Wira, bahwa saya masih ada urusan di tempat lain, jadi saya tidak bisa bekerja di perusahaan ini...!" lanjut Via.


sejenak si penasehat berfikir, kemudian berkata, "baik, saya mengerti...! kalau begitu, tuan muda Wira mohon segera mengganti nona Via sebagai wakilnya, supaya kita bisa segera lanjutkan pemilihan ini...!"


"itu tidak perlu...!" sahut Wira.


"Dia akan tetap menjadi wakilku di pertemuan ini...! Dia akan menjadi anggota kita...!" lanjut Wira.


"Wir..., bukankah sudah kubilang daritadi aku tidak mau bekerja diperusahanmu...! kenapa kamu terus memaksaku...?!" sahut Via kesal.


"apa kamu tidak ingat kataku tadi, kamu tidak perlu bekerja, kamu cukup menjadi anggota saja...!" balas Wira.


mendengar kata-kata Wira, nyonya besar langsung berkata, "Wir, apa kamu bermaksud menjadikan Dia..."


"iya, Ma..." potong Wira cepat.


"aku memang ingin menjadikannya, ANGGOTA ISTIMEWA...!!!"


"anggota istimewa...?!" kembali semua yang ada disana nampak terkejut.


"Wir, kamu jangan bercanda terus...!!!" kali ini Saras yang menyahut.


"untuk menjadi anggota istimewa Dia harus mempunyai kemampuan khusus, atau setidaknya Dia harus berasal dari keluarga terkenal...! memangnya Dia siapa...? kemampuan apa yang dimilikinya, sehingga kamu berani mengajukan nya menjadi anggota istimewa...!" lanjut Saras tidak senang.


"kak..., Dia tidak memiliki kemampuan khusus, dan aku juga tidak tau siapa keluarganya...!" balas Wira tetap santai.


"lalu kenapa kamu masih tetap ingin menjadikannya anggota istimewa...?!" tanya Saras mulai kesal.


"karena Dia memiliki, ITU...!"


"itu...?! itu apa...?" tanya Saras penasaran.


"maaf, kak..., aku tidak bisa mengatakannya disini...!"


"kenapa...?" tanya Saras semakin penasaran.


"KARENA ITU BISA MENGANCAM NYAWANYA...!!!"


kembali semua yang ada disana terkejut .


"ah, Jangan-jangan kamu cuma berbohong supaya Dia bisa memiliki hak memilih...?!" tuduh Saras.


"aku tidak berbohong, kak...! untuk apa aku berbohong...? kalau hanya hak memilih, aku bisa saja menyuruh salah satu anak buahku untuk menggantikannya...!"


"lalu, kenapa kamu tetap menyuruhnya menjadi wakilmu...?"

__ADS_1


"karena aku ingin menjadikannya anggota istimewa...!"


"apa dasarnya...?!"


"karena Dia memiliki Itu.. !"


"itu, itu...! itu, itu apa...?" Saras mulai emosi.


"bukankah sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya di depan kalian semua...!"


"kalau begitu aku menolaknya...!" balas Saras.


"aku tidak bisa menerima seseorang yang tidak jelas asal usulnya, dan juga tidak memiliki kemampuan apa-apa menjadi anggota istimewa kita...!" lanjut Saras.


"Saras benar Wir, Aku juga terpaksa menolak usulmu itu...!" sahut Gundala.


"saya juga...!" tuan Godam ikut menimpali, hanya Asih yang tidak berkata apa-apa.


sejenak Wira nampak berfikir, kemudian berkata,


"baiklah, saya mengerti alasan kalian menolaknya, karena itu saya akan mengatakan apa yang dimilikinya sehingga Dia layak menjadi anggota istimewa...!"


"apa...?" Saras terlihat bersemangat.


"itu RAHASIA...! hehehe..." balas Wira tersenyum jahil.


"ka... kamu...!!! dasar brengsek...! apa kamu coba mempermainkan kami...!" bentak Saras kesal.


"kakakmu benar, Wir...! kenapa dari tadi omonganmu berputar-putar terus...? jika kamu memang ingin menjadikannya anggota istimewa, cepat katakan apa yang Dia miliki...! jika tidak, cepat pilih penggantinya, jangan membuat orang marah...!" tuan besar ikut menegur Wira.


"iya, Pa..., iya...! akan kukatakan sekarang, tapi tidak disini...!" jawab Wira yang langsung bangkit berdiri.


"hei, kamu mau kemana, manusia ga jelas...?!" tanya Saras.


"mau apa kamu ke ruang khusus...?"


"seperti yang kubilang tadi, itu akan sangat berbahaya untuknya jika sampai banyak orang tau, karena itu aku akan memberitahukannya hanya kepada ketua besar, nyonya besar, dan penasehat langit...! biar mereka yang memutuskan apa Dia layak menjadi anggota istimewa atau tidak...!" jawab Wira, menjelaskan.


"huh...! apa kamu mencurigai kami...?" Saras terlihat tidak senang.


"bukan curiga, kak...! hanya mengantisipasi masalah...! bukankah lebih baik mencegah dari pada menyelesaikan...!"


"alasan...!" sahut Saras lagi.


"bukan alasan, kak...! tapi kenyataan...! kakak dengar sendiri barusan Dia bilang ada urusan ditempat lain, jadi siapa yang bisa bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padanya disana, gara-gara informasi yang akan ku sampaikan ini bocor...?! kakak...? hehehe..., jangan nya menyelesaikan masalah seberat ini, ngurus satu orang bertangan buntung saja kakak tidak bisa, hehehe..."


sindiran Wira sontak membuat Saras berdiri.


"bangsat...!!! jaga mulutmu yang kurang ajar itu...?!" makinya.


"memang kenapa...?! bukannya mulut kakak lebih kurang ajar dari mulutku...?!" balas Wira tidak mau kalah.


"sialan...! berani - beraninya kamu membalas kata-kataku...! dasar keparat tidak tahu diri...!" maki Saras lagi.


"dasar kakaknya si keparat tidak tahu diri...!" balas Wira lagi.


"ka... kamu...!!!"


tuan besar yang melihat Wira dan Saras mulai bertengkar langsung bangkit berdiri,


"berhenti kalian berdua...!!!" katanya setengah berteriak.

__ADS_1


"kenapa dari dulu kalian selalu bertengkar...?! bagaimana kita bisa maju jika kalian terus seperti ini...!!!"


"ta... tapi, Pa... Dia yang memulai duluan...!" seru Saras menunjuk Wira.


"lho, kok aku...?! bukannya kakak yang memulai duluan...?!" balas Wira.


"kamu duluan...!"


"kakak duluan...!"


"kubilang Berhenti, ya berhenti...!!!" bentak tuan besar penuh emosi.


"Saras...! sudah sebesar ini kamu masih saja cepat marah...! kamu harus mulai belajar mengendalikan emosimu yang selalu meledak-ledak tidak karuan itu...!" lanjut tuan besar menatap Saras.


"i... iya, Pa..." jawab Saras pelan.


"dan kamu juga, Wira...! sudah tau kakakmu pemarah, masih saja kamu terus memprovokasinya...!!!" kali ini tuan besar menatap Wira.


"ma... maaf, Pa... aku hanya bercanda...!" balas Wira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"sudah cukup bercandamu...! kamu seharusnya tau kapan waktunya bercanda, kapan waktunya serius...!!!"


"i... iya, Pa... maaf..." balas Wira pelan.


"ya sudah, kalau begitu sekarang kamu ikut kami ke ruang khusus, kita akan bicarakan kemungkinan nona Via menjadi anggota istimewa...!" lanjut tuan besar.


"baik, Pa..."


"selain saya, nyonya, Wira dan para penasehat Langit


, yang lain tunggu disini sambil melanjutkan makan malam kalian...!"


"siap tuan besar...!"


baru saja mereka memasuki ruang khusus, Saras sudah kembali duduk langsung menatap tajam Via,


"hei, kamu...! sebenarnya apa yang kamu miliki sampai Wira ingin menjadikanmu anggota istimewa...?!"


"maaf, kak..., saya juga tidak tahu...! saya sendiri dari tadi kurang paham apa yang kalian bicarakan...!" jawab Via polos.


"jangan bohong...! kamu pasti memiliki sesuatu yang sangat berharga, tapi kamu ingin menyembunyikannya dari kami...!!!" tuduh Saras.


"sumpah, kak...! saya tidak memiliki barang berharga apa-apa...! kemaren saja motor dan semua perlengkapan saya dicuri dan dibakar orang...! yang tersisa hanya tas ransel berisi beberapa pakaian dan alat rias...!" jelas Via berusaha meyakinkan Saras.


"aku tidak percaya...! kamu pasti..."


belum sempat Saras melanjutkan Kalimatnya, Gundala langsung menegurnya,


"cukup Saras...! apa kamu tidak dengar barusan Dia bilang tidak tahu...!!!"


"aku dengar, kak Gun..., tapi..."


"tapi apa...?!" potong Gundala lagi.


"apa kamu tidak bisa percaya sedikit saja sama orang lain...?!"


"bu... bukan begitu, kak...! hanya saja aku merasa Dia tidak pantas menjadi anggota istimewa kita...! Wira pasti sedang merencanakan sesuatu yang konyol seperti dulu...!" balas Saras penuh curiga.


"Ras, aku mengerti kekhawatiranmu...! tapi serahkan saja keputusan itu ke Papa, Mama dan para penasehat Langit...! percayalah, mereka pasti akan membuat keputusan yang bijaksana...!"


"i... iya, Kak..." Saras akhirnya tidak membalas lagi.

__ADS_1


"bagus kalau kamu akhirnya mengerti...! kalau begitu, mulai sekarang perlakukanlah Dia dengan baik, karena Dia adalah tamu kita...! jangan buat malu nama besar kelompok Kapak Naga dengan tidak menghormati tamu yang datang...!"


"ba... baik, Kak..."


__ADS_2