
"kenalkan, ini Via, pacar baruku...!"
"aku Via.."
"aku Jaka..."
"aku Anggini..."
"aku Rara..."
"aku Angling..."
"aku Darma..."
"sudah berapa lama kalian pacaran...?" tanya gadis yang bernama Anggini.
"baru tadi pagi...!" jawab Wira cepat.
"ow..., sudah berapa lama kalian kenal...?" tanya Anggini lagi.
"baru tadi pagi...!" jawab Wira lagi.
"eh...! jadi kalian baru kenalan langsung pacaran...?!"
semua yang ada disana terlihat heran.
"tentu saja...! kenapa tidak...! untuk apa lama-lama kenalan baru pacaran...! kalau memang sudah sama-sama suka, kenapa harus buang-buang waktu untuk pendekatan segala...! bukan begitu, sayang...?"
tanpa diduga, Wira memeluk pundak Via dari samping, sehingga membuat Via gelagapan.
"eh... i... iya..." jawab Via pasrah.
"dasar kalian sinting...!!!" ujar temannya yang bernama Angling.
"biarin...! hehehe..." balas Wira terkekeh.
"trus, kamu tinggal dimana...?" kali ini gadis bernama Rara yang bertanya.
"aku tinggal di desa Darmatemaja...!"
"Darmatemaja...! dimana itu...? sepertinya aku belum pernah dengar...!" tanya Rara lagi.
"itu di paling ujung utara Bali, tepatnya di Provinsi Tana Dewa...!" jelas Via.
"Tana Dewa...! wow...! jauh banget...!!! trus, disini kamu tinggal dimana...?"
"i...itu..." Via terlihat ragu untuk menjawab.
saat Via ragu, tiba-tiba Wira menepuk pundaknya dan berkata,
"sudah, jangan malu-malu...! bilang saja ke mereka kalau kamu tinggal dirumahku...!"
"eh...! kalian tinggal bersama...?!"
semua temannya kembali dibuat heran.
"ya, begitulah...! hehehe..., kenapa...? apa ada yang salah...?" kali ini Wira yang bertanya.
"tentu saja...! masa baru kenal, langsung pacaran..., trus tinggal bersama...! sungguh tidak masuk diakal...!" kembali Anggini berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"apanya yang tidak masuk diakal...?!" sahut Wira.
"bukankah yang namanya jatuh cinta itu bisa membuat semua yang tidak masuk diakal menjadi masuk diakal...! yang gila menjadi waras...! yang waras menjadi gila...! seperti kami yang menjadi gila karena sedang jatuh cinta...! bukan begitu, sayang...?" lanjut Wira, kali ini sambil merapatkan bibirnya hendak mencium pipi Via.
Via yang merasa bahaya mengancam langsung mengangkat sebelah tangannya, dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Wira,
"sabar sayang..., sabar...!
jangan sekarang, nanti saja dirumah...! malu sama teman-temanmu...!" kata Via pura-pura manja.
"janji...?"
"iya, aku janji...! nanti kamu boleh menciumku sepuasnya...! dan akan kuberikan segalanya untukmu...! sampai kamu tidak akan pernah bisa melupakannya...!!! hehehe..." Via menyeringai penuh arti.
...
setelah berkenalan dan berbasa-basi sebentar, mereka kemudian masuk kedalam sebuah pusat permainan yang cukup megah.
sampai didalam, mereka lalu membeli sejumlah koin dan mulai bermain.
hampir semua wahana yang ada disana mereka mainkan, mulai dari ding-dong, basket mini, tikus mondok, mobil hancur, kaki lincah, hingga kuda binal.
__ADS_1
setelah puas bermain, mereka kemudian memutuskan untuk makan malam di salah resto yang masih berada disana.
"tidak kusangka, ternyata kamu mampu mengimbangi permainan kami...! andaikan tadi aku tidak serius, pasti aku kalah banyak darimu...!" puji Darma ke Via.
"ah, kamu terlalu memujiku...!"
"tidak, aku tidak melebih-lebihkan...! tadinya kupikir karena kamu dari desa, kamu akan menjadi bulan - bulanan kami, tapi tertanya...!" kembali Darma memuji Via, kali ini sambil menaikkan kedua jempolnya.
"yah, walaupun aku berasal dari desa, tapi aku sering ke kota, dan memainkan permainan tadi bersama teman-temanku...!"
"terutama dengan si bodoh itu...! yang kalau diajak jalan, pasti selalu menyempatkan diri untuk bermain...!" batin Via teringat akan Adi.
"ngomong-ngomong soal teman, apa kamu datang kesini sendirian...?" pertanyaan Anggini membuyarkan lamunan Via.
belum sempat Via menjawab, Wira sudah menyahut,
"Dia tidak sendirian...! Dia bersama seorang teman...! ah, bukan seorang, lebih tepatnya seekor...!"
"seekor...!"
semua temannya kembali heran.
"ya, seekor anjing yang sangat berisik...! saking berisiknya, nyaris saja kupotong dan kujadikan sarapan pagi...! hehehe..." balas Wira terkekeh.
mendengar kata-kata Wira, sontak Via menatapnya kesal.
melihat Via kesal, dengan lembut Wira mengusap kepalanya.
"jangan marah, sayang..., akukan cuma bercanda...! mana mungkin aku menggoreng anjing kesayangan kita...! hehehe..."
belaian lembut Wira membuat Via seperti tersihir, rasa kesalnya tiba-tiba hilang, berganti sebuah perasaan nyaman dan tenang.
ya, dari kecil Via memang punya kelemahan jika kepalanya dibelai. semua perasaan marah, kesal, jengkel akan langsung lenyap begitu saja, berganti menjadi perasaan nyaman, tenang, damai dan bahagia.
melihat Via yang sudah tidak kesal lagi, kembali Wira berkata, "bagaimana kalau kita cepat selesaikan makan malam kita...? aku sudah haus...!"
seolah mengerti maksud Wira, semua temannya menggangguk setuju.
...
tidak berapa lama, kini mereka sudah berada disebuah tempat hiburan malam yang cukup mewah.
Angling memulai pesta kecil-kecilan malam itu dengan mengangkat sebuah gelas berisi tuak penuh, yang diikuti oleh semua yang ada disana.
"bersulang...!!!"
"tring...!!!"
"gluk... gluk... gluk..."
"whahahaha... hahahaha..."
"dan selanjutnya..., selamat untuk hari jadi Wira dan Via...! semoga kalian selalu mesra dan saling mencintai...!"
kembali mereka semua mengangkat gelas berisi tuak penuh.
"bersulang...!!!"
"tring...!!!"
"gluk... gluk... gluk..."
"whahahaha... hahahaha..."
"nah, selanjutnya..., silahkan kalian BERCIUMAN...! sebagai tanda cinta kalian...!!!"
kata-kata Angling sontak membuat Via terkejut.
"ber... berciuman...! a... apa itu perlu...?" tanyanya terbata.
"tentu saja...! sudah menjadi tradisi di sini kalau orang yang baru pacaran harus saling berciuman...! sebagai simbol cinta, hasrat dan gairah...!" jelas Angling penuh semangat.
"ta... tapi... aku..." Via nampak ragu.
"aku kenapa...?!" potong Angling.
"katanya kalian pacaran..! masa untuk sekedar berciuman saja takut...!!!" lanjut Angling, mencoba mendesak Via.
"sial...! apa yang harus kulakukan sekarang...? kalau aku menolak berciuman dengannya, nanti mereka akan menganggapku sombong karena tidak mau mengikuti tradisi mereka...! tapi aku sendiri tidak sudi menciumnya...!!! bodohnya aku...! kenapa tadi aku mau mengaku jadi pacarnya...!" batin Via menyesali kebodohannya.
"jadi bagaimana...? kalian jadi berciuman apa tidak...?" tanya Angling tidak sabaran.
__ADS_1
"kalau aku sih tidak ada masalah...! tapi tergantung Dia saja...!" sahut Wira sambil menoleh ke Via.
"bagaimana sayang..? apa kamu bersedia mengikuti TRADISI KAMI...?" kali ini Wira yang bertanya ke Via.
"dasar mesum sialan...!!! Dia pasti sengaja mengucapkan kata tradisi kami dengan keras...! sehingga aku akan merasa sangat bersalah jika tidak mengikutinya....!!!" umpat Via dalam hati.
"ayolah sayang..., jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama...!" desakan Wira membuat Via semakin bingung dan gelisah.
saat Via hampir pasrah dan menyetujui tradisi aneh Wira dan kawan-kawannya, tiba-tiba Anggini yang dari tadi diam berkata, "sudahlah...! kalian BERHENTILAH MENGGODANYA...!"
"eh...!" sontak Via menoleh ke arah Anggini.
"Vi..., kamu jangan percaya omongan mereka...! mana ada tradisi ngawur seperti itu...! itu hanya akal-akalan mereka saja untuk mengolok-olokmu...!" lanjut Anggini.
"hei, hei...! kenapa kamu menghentikan kesenangan kami...!" protes Angling ke Anggini.
"biar saja mereka berciuman, bukankah itu akan menjadi pemandangan yang menyenangkan...! hehehe..." lanjut Angling terkekeh.
"ah, jangan-jangan kamu cemburu ya...? apa kamu masih menyimpan rasa ke Wira...?"
"jangan ngaco kamu, Ling...! aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padanya selain teman...! aku hanya tidak tega melihat kalian mengolok-oloknya...!" kilah Anggini.
"Anggini benar...! sebaiknya kalian berhenti mengolok-oloknya, dan segera kita mulai acaranya...!" Rara ikut menimpali.
"ya, ya, ya...! terserah kalian saja, deh...! dasar cewek - cewek ga punya selera humor...!" balas Angling pasrah.
merekapun kembali melanjutkan pesta kecil-kecilan malam itu.
hampir dua jam mereka bernyanyi, menari dan berjoget gembira, hingga tiba-tiba Darma yang sudah mulai mabuk berkata, "bro... coba kalian lihat dipojok sana...!"
semua mata langsung menoleh kearah yang ditunjuk Darma.
nampak tiga orang gadis dengan pakaian seksi sedang asik bercanda sambil menikmati beberapa botol arak dan tuak.
"aku perhatikan dari tadi mereka hanya bertiga...! bagaimana kalau kita coba merayunya...? siapa tau mereka bisa kita ajak bersenang-senang...! hehehe..." lanjut Darma menyeringai mesum.
Wira dan Angling langsung mengangguk, sedangkan Jaka hanya diam dan tetap duduk tenang.
tidak berlama-lama, ketiga pemuda mesum itu langsung pergi menghampiri gadis-gadis seksi itu.
"Vi..., kenapa kamu ga marah Wira mendekati cewek-cewek itu...? bukannya kalian pacaran...?" Anggini bertanya dengan heran.
Via yang saat itu sudah setengah mabuk dengan polos menjawab, "sebenarnya kami tidak pacaran...! Dia saja yang seenaknya mengatakan itu...!"
"oya...? pantas saja dari tadi aku merasa aneh...! kenapa kalian tidak terlihat mesra sama sekali...! owww, ternyata begitu...!" sahut Anggini.
"ya, begitulah...!" balas Via pelan.
"trus, kalian bertemu dimana...?" kali ini Rara yang bertanya.
"jadi ceritanya, semalam aku baru tiba di kota ini, dan aku memutuskan untuk menginap disalah satu penginapan yang terbilang cukup murah. tapi sialnya, aku tidak tau ternyata penginapan itu khusus untuk pasangan mesum...!"
"saat aku sadar penginapan itu bukan tempat yang cocok untukku beristirahat, aku lalu memutuskan untuk pergi. tapi baru sampai diparkiran, beberapa pemuda mabuk yang mengira aku cewek murahan langsung menggodaku, dan mengajakku untuk berkencan satu malam, yang tentu saja aku tolak...!"
"mungkin karena merasa tersinggung, mereka mulai marah dan menyerangku, hingga akhirnya aku yang tidak berdaya jatuh pingsan. dan saat aku sadar, aku sudah berada dikamarnya...!" jelas Via.
"oh, jadi ceritanya semalam kamu pingsan diparkiran penginapan, dan Wira yang menolongmu...?" selidik Anggini.
"entahlah...! aku juga tidak tau pasti...! yang jelas..." Via yang tiba-tiba kepikiran sesuatu menghentikan kalimatnya.
"parkiran..., penginapan...! parkiran... penginapan...! sial...! kenapa aku bisa lupa...!!!"
Via yang akhinya menyadari sesuatu langsung bangkit dari duduknya dan buru-buru menghampiri Wira.
"Wir...!"
"eh, Via...! ada apa...?"
"kita pergi, yuk...?"
"mau kemana, sayang...?"
"penginapan...!"
"mau ngapain ke penginapan...?"
"melakukan apa yang harus dilakukan di penginapan...!"
"kamu serius...?! ini masih pagi, sayang...! ga sabaran amat...!"
"bagaimana aku bisa sabar, kalau terus MEMIKIRKAN HAL ITU...!!!"
__ADS_1