PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
40. SOLUSI


__ADS_3

"jadi, solusi apa yang kamu mau tawarkan untuk menyelesaikan hutang saya ke kalian, Bos...?"


"jangan panggil saya Bos, tuan Kien...! panggil saja saya Wira...!"


"baiklah Bos Wira, apa solusimu...?"


"saya mempunyai beberapa solusi, jadi terserah tuan Kien saja yang memutuskan mau pilih yang mana...!" balas Wira.


"menurut data yang saya terima, hutang tuan berjumlah dua ratus ribu pis*, jumlah yang bisa dibilang tidak terlalu banyak, tapi sulit untuk dicari...!"


(dua ratus ribu pis setara dengan dua ratus juta dijaman sekarang)


"nah, solusi saya yang pertama, bagaimana kalau tuan bekerja pada kami...? dari gaji yang tuan dapat, akan dipotong setengahnya untuk membayar hutang tuan...!"


"sebagai apa...? tukang tagih...! Wir, Wir...! apa kamu tidak lihat saya sudah tua dan berpenyakitan...? mana sanggup saya melakukan hal seperti itu...!"


"baiklah, kalau begitu solusi yang kedua, bagaimana kalau rumah ini kita jual...? saya rasa rumah ini masih bisa laku sekitar tiga ratus ribu pis...!"


"yang benar saja kamu, Wir...! apa kamu tega membiarkan kakek tua bangka ini tinggal dijalanan...?!"


"kenapa harus tinggal dijalanan...? bukankah dengan sisa penjualan rumah ini tuan bisa pulang kampung dan tinggal bersama keluarga tuan yang lain...?"


"hahahaha... sisa uang segitu mana cukup untuk biaya hidup saya...! uang sesedikit itu paling-paling hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun...! lalu, setelah itu bagaimana...? jangan bilang kamu suruh saya minta bantuan keluarga saya...! bukankah sudah saya bilang keluarga saya sangat miskin...! jangankan mengurus saya, mengurus anaknya saja mereka tidak mampu...! huh...! bisa-bisa nanti saya malah disuruh jadi pengemis dan minta-minta dijalan...!!!" sungut kakek Kien.


"baiklah, saya mengerti...! kalau begitu solusi yang ketiga, bagaimana kalau cucu tuan ini yang mencicil hutang tuan...? bukankah Timi sekarang sudah bekerja...! mungkin setengah gajinya bisa dipakai untuk membayar hutang tuan...!"


"ma... maaf tuan Wira..., bukannya saya tidak mau membayar hutang kakek, tapi kamu tau sendiri, saya cuma karyawan harian, gaji saya tidak seberapa, jangankan untuk membayar hutang, untuk makan saja kami sudah pas-pasan...!" kali ini Timi yang menyahut dengan raut wajah sedih.


sejenak Wira nampak berfikir, kemudian berkata lagi,


"baiklah, kalau semua solusi tadi tidak ada yang memungkinkan, saya punya solusi terakhir...!"


"apa...?"


"bagaimana kalau CUCU TUAN YANG CANTIK INI MENEMANI SAYA BERSENANG-SENANG...? setiap Dia menemani saya, hutang tuan akan dikurangi sesuai apa yang Dia bisa lakukan...!"


mendengar kata-kata Wira, sontak semua yang ada disana terkejut, terutama kakek Kien,


"menemanimu bersenang-senang...?! maksudmu apa...?!" hardiknya penuh emosi.


"ayolah tuan Kien, jangan pura-pura tidak mengerti...! tuan pasti tau apa yang saya maksud...! hehehe..." balas Wira santai.


mendengar jawaban Wira, memuncaklah emosi kakek Kien,


"bangsat...!!! biarpun saya punya hutang, jangan kira kamu bisa seenaknya bicara...! walaupun harus mati, saya tidak akan menjual cucu saya, terutama ke manusia keparat macam kamu...!"


"kata siapa tuan menjualnya...? saya cuma bilang bersenang-senang, yang itu artinya saya dan cucu tuan sama-sama senang...!"


"jangan bersilat lidah...! ternyata dari awal niatmu busuk...! lebih baik sekarang kamu cepat pergi, sebelum kemarahan saya bertambah...!" ancam kakek Kien.


"kenapa tuan harus marah...? bukankah saya hanya menawarkan solusi...? kalau tuan bersedia, ya silahkan, kalau tidak juga tidak apa-apa...!" balas Wira tetap santai.


"solusi apanya...! yang kamu tawarkan dari tadi semuanya tidak masuk diakal...! semuanya tidak ada yang beres dan hanya menguntungkan kalian saja...! dasar manusia tidak punya otak...! goblok...! tolol...!" maki kakek Kien mulai mabuk.


"hei..., jaga ucapanmu, tuan...! sepertinya mulutmu sudah mulai keterlaluan...!" balas Wira mulai kesal.

__ADS_1


"memangnya kenapa...?! kamu tidak terima...?! kalau tidak terima, sekarang lawan aku...! biar kupatahkan lehermu yang sombong itu...! dasar manusia kurang ajar...!!!" ucap kakek Kien semakin ngawur.


menyadari kakek Kien yang sudah mabuk, Wira hanya menggeleng,


"Tim..., sepertinya kakekmu sudah mabuk...! sebaiknya sekarang aku pulang, nanti kita bicarakan lagi masalah ini...!"


"i... iya, Wir..., maafkan kakek yang..."


"kata siapa aku mabuk...!!! minuman sesedikit ini mana bisa membuatku mabuk...! hahahaha... dasar cecunguk bangsat...! kalau mau pergi, pergi saja sana...! ga usah pakai alasan yang aneh-aneh..!"


Wira yang kembali terpancing emosi dengan kesal menjawab, "baiklah tuan, sekarang saya pergi...! tapi tuan mesti ingat, yang punya hutang disini adalah tuan...! saya datang kesini untuk menyelesaikannya baik-baik, tetapi tuan dengan berbagai alasan menolak semua solusi saya...! karena itu, jangan salahkan saya jika setelah ini anak buah saya bertindak kasar...!"


"kamu mengancam saya...? hah...!!! memang kenapa kalau si gendut itu bertindak kasar...? apa Dia akan memasukkan saya kekarung dan menenggelamkan saya kelaut...?! biar kuberitahu kamu anak muda, saya tidak takut mati...!!! hahahaha... hahahaha..."


"saya tau tuan tidak takut mati, tapi apa tuan bisa bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada cucu tuan nanti...?!"


kata-kata Wira seketika menghentikan tawa kakek Kien,


"cucu saya...! apa maksudmu, hah...?! apa yang mau kalian lakukan pada cucuku...?"


"saya juga tidak tau..., itu urusan anak buah saya...! bisa saja si gendut itu menculik cucu tuan dan menjualnya kerumah bordil untuk membayar hutang tuan...!" ancam Wira.


"dasar manusia-manusia bangsat...! ini urusan antara saya dengan kalian, jangan libatkan cucu saya...! mati saja kamu...!!!"


sambil berteriak marah, kakek Kien meraih botol di sampingnya dan mengarahkannya ke kepala Wira.


Wira yang sudah terbiasa menghadapi keadaan seperti ini dengan mudah menangkap lengan kakek Kien,


"jangan libatkan cucu saya...! enak sekali kamu bicara, dasar kakek pemabuk...! memang kamu pikir kami orang baik-baik...?! apa kamu kira si gendut itu malaikat...?! biar kuberitahu kamu kakek tidak tau diri, si gendut itu mantan residivis, sudah berkali-kali Dia masuk penjara karena kasus penculikan, pembunuhan dan pemerkosaan...!!! jadi sekarang pikir lagi baik-baik solusi yang saya tawarkan, sebelum masalah ini saya serahkan lagi ke Dia...!"


"Ayo, Vi... kita pergi...! kita sudah tidak ada urusan lagi disini...!"


"i... iya..." secepatnya Via menyusul Wira.


baru saja sampai didepan pintu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara berkata,


"aku mau...!"


sontak semua menoleh kearah datangnya suara, yang ternyata berasal dari Timi.


"a... aku... mau..." ulangnya pelan.


"kamu mau apa, Tim...?" tanya kakek Kien cepat.


"a... aku mau, kek... MENEMANINYA BERSENANG-SENANG...!"


"Timi...! apa kamu sudah gila...?! masih ada ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini...! kamu tidak perlu sampai mengorbankan diri menjadi pemuas nafsu bajingan satu ini...!!!" bentak kakek Kien marah.


"ta... tapi kek, semua solusi yang ada tidak memungkinkan...! tidak mungkin kakek bekerja diusia setua ini...! tidak mungkin juga kita menjual rumah ini...! dan kalau gaji Timi dipotong, lalu kita mau makan apa...?" sahut Timi.


"kakek tau, Tim..., kakek tau...! tapi kita bisa pikirkan cara lain selain itu...!" balas kakek Kien.


"cara apa lagi, kek...?"


"kakek juga belum tau, tapi nanti kita pikirkan lagi...!" ulang kakek Kien.

__ADS_1


"nanti kapan...?! apa selama kakek tidak menemukan cara Timi harus terus bersembunyi...?"


"bersembunyi...?! bersembunyi dari apa...?" kakek Kien terlihat bingung.


"bersembunyi dari anak buah tuan Wira, kek...! apa kakek mau Timi diculik dan dijual ke rumah pelacuran...!!! lebih baik Timi mati kalau itu sampai terjadi...! hiks... hiks... hiks..."


melihat cucunya mulai menangis, kakek Kien tidak membalas lagi. sejenak Dia hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya,


"Timi sayang, apa kamu yakin dengan itu...?" tanya kakek Kien pelan.


Timi mengangguk, sambil mengusap air matanya.


"i... iya, kek...!"


"apa kamu tidak takut...?"


Timi menggeleng,


"tidak, kek...! Timi yakin tuan Wira tidak akan menyakiti Timi...!"


"bagaimana kamu bisa yakin...? kamu kan tidak mengenalnya...!"


"Timi juga tidak tau, kek...! tapi entah mengapa, Timi merasa Dia orang yang baik...!"


"baik darimana...?! orang yang memanfaatkan kesusahan orang lain untuk kesenangannya masa kamu sebut baik...! yang ada Dia itu cuma bajingan cabul berotak jorok...!!!"


"hei, kakek tua keparat...! lihat-lihat kalau mau menjelekkan orang...! orangnya ada disini, lho...!" tiba-tiba Wira menyahut, membuat kakek Kien terkejut dan menepuk jidatnya sendiri.


"apa kalian sudah selesai berdiskusi...? jadi, bagaimana keputusannya...?" lanjut Wira.


kakek Kien dan Timi hanya diam dan saling memandang, mereka berdua terlihat sama-sama ragu.


merasa tidak mendapatkan jawaban, kembali Wira berkata, "ya sudah, kalau begitu kalian pikir-pikir saja dulu...! nanti kalau sudah ada keputusan, baru kabari saya lagi...! tapi ingat, jangan lama-lama...! nanti keburu si gendut itu bertindak kasar...!"


mendengar kata-kata gendut bertindak kasar, Timi yang ketakutan langsung menyahut, "ti... tidak perlu, saya sudah yakin...!"


"jadi, apa kamu bersedia menemaniku bersenang-senang...?"


Timi mengangguk,


"i... iya..."


"hahahaha... bagus...! kalau begitu, nanti malam kamu siap-siap...! pulang kerja, aku jemput kamu di tempat kerjamu...! malam ini kita akan bersenang-senang...! hahahaha... hahahaha..."


"ma... malam ini...?" Timi nampak terkejut.


"ya, malam ini...! kenapa...? kamu belum siap...? kalau belum siap, sebaiknya kita batalkan saja perjanjian ini...! aku tidak mau dikatakan memaksa...!"


"ti... tidak... tidak apa-apa...! nanti malam aku akan menunggumu di tempat kerjaku...!" balas Timi.


"baiklah, kalau begitu semua sudah beres...! tuan Kien..., saya permisi dulu, masih ada urusan yang harus saya kerjakan...! hehehe..." kata Wira sembari tersenyum lebar.


"silahkan...! saya juga sudah bosan melihatmu...!!!" balas kakek Kien sinis.


"dan nona Antimis..., jaga diri baik-baik, sampai bertemu lagi nanti malam..." kali ini Wira berkata ke Timi sambil mencium sebelah punggung tangannya.

__ADS_1


"i... iya, tuan Wira..." balas Timi tersipu malu, seulas senyum terpancar dari sudut bibirnya.


__ADS_2