
selama beberapa hari berikutnya, setiap malam Via selalu datang ke kedai, dan selama itu juga selalu ada yang menghampirinya, tapi hingga saat ini, belum ada satupun yang mengenal yang ditunggunya.
hingga pada hari yang kelima, saat Via sedang asik menikmati araknya, beberapa pemuda desa itu menghampirinya,
"hai, cantik...! kami perhatikan kamu setiap malam datang kesini dan bersenang-senang sendiri...! apa boleh kami menemanimu...? hehehe..." tanya salah satu pemuda itu, bau alkohol tercium jelas dari mulutnya.
"maaf, saya tidak biasa minum dengan orang asing...!" jawab Via sopan.
"ah, jangan begitu...! bukannya kamu yang orang asing disini...!" balas pemuda itu lagi.
"ya, sepertinya kamu tidak berasal dari sekitaran sini, kamu dari mana...? ada keperluan apa kamu kesini...?" pemuda lainnya ikut menimpali.
"saya menunggu teman saya yang bernama Putri Cening Ayu, apa kalian mengenalnya...?" Via balik bertanya.
sejenak para pemuda itu saling memandang satu sama lain, lalu salah satunya berkata,
"setahu kami disini tidak ada yang bernama Putri entah siapa itu...! tapi kalau Putri Malu baru ada, yaitu kamu...! malu-malu tapi mau...! hehehe..."
"oh, maaf, kalau begitu saya tidak ada urusan dengan kalian...!" balas Via yang langsung berdiri dan hendak meninggalkan para pemuda itu.
tapi baru saja Via melangkah, salah satu pemuda itu menarik lengannya..
"hei, sayang..., kamu mau kemana...? bukankah kita mau bersenang-senang...?" kata pemuda itu.
"sudah saya bilang, saya tidak biasa minum dengan orang asing...!" balas Via kesal sembari menepis tangan pemuda itu, lalu dengan cepat Via kembali meneruskan langkahnya.
"cewek sialan...! awas saja kamu nanti...!" maki pemuda itu sambil meringis menahan sakit di tangannya.
tanpa menghiraukan ancaman pemuda itu, Via mempercepat langkahnya dan meninggalkan kedai.
"Sim...., ayo pulang...!" sahutnya ke Simba yang semenjak tadi menunggunya diluar.
baru sekitar dua ratus meter mereka meninggalkan kedai, tiba-tiba Simba berbalik badan dan menggeram.
"sial...! sepertinya ada yang mengikutiku...! itu pasti mereka...! memangnya siapa lagi...?!"
"ayo Simba, lebih cepat...! jangan sampai mereka menyusul kita...!"
menyadari para pemuda itu membuntutinya, Via semakin mempercepat langkahnya.
tetapi semakin cepat Via melangkah, suara langkah para pemuda itu juga semakin cepat dan semakin dekat.
Via yang benar-benar tidak ingin terlibat masalah mulai berlari kecil, hingga tidak lama, sampailah mereka dipenginapan.
sejenak Via memandang kebelakang, mencari keberadaan para pemuda itu.
"ah, sepertinya mereka tidak mengikutiku lagi...! apa mereka takut dengan om pemilik penginapan...? syukurlah kalau begitu, bisa repot kalau sampai terjadi keributan...! saat ini aku harus menghindari masalah sebisa mungkin...!" batinnya lega.
...
besok malamnya, Via kembali ke kedai pak Gabeng. tapi sebelum memesan arak, Via memperhatikan keadaan sekitar, mencari para pemuda yang semalam menggangunya.
"hmmm...., sepertinya mereka tidak ada, mudah-mudahan mereka tidak datang malam ini...!" batinnya berharap.
setelah memastikan para pemuda itu tidak ada, Via lalu memesan arak kesukaannya dan menunggu di pojok seperti biasa.
setelah menunggu berjam-jam, kembali malam itu berakhir tanpa hasil.
"ah, sepertinya malam ini belum juga..., mungkin besok...! tapi, yah... setidaknya pemuda-pemuda itu tidak datang dan menggangguku...!"
...
dua hari berlalu, Via masih belum bertemu si penghubung, yang ada Via malah melihat para pengganggunya datang lagi.
__ADS_1
"ah, mereka datang lagi...! mudah-mudahan mereka sudah melupakan kejadian tempo hari...!"
sejenak Via melirik kearah para pemuda itu.
"eh, kenapa mereka seperti itu...?"
Via sedikit terkejut melihat para pemuda itu di penuhi perban dan plester .
"hmmm..., sepertinya mereka terlibat perkelahian dan dihajar seseorang...!"
kembali Via melanjutkan menikmati araknya, sambil sesekali melirik kearah para pemuda itu, takut-takut mereka mulai mabuk dan mencari masalah dengannya.
tapi hingga Via kembali ke penginapan, tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan mengganggunya dan juga mengikutinya.
...
tiga hari kembali berlalu, masih dengan sabar Via menunggu dan menunggu.
saat itu, Via yang kebelet pipis buru-buru ke kamar kecil, dan tanpa sengaja menabrak seorang pemuda yang sedang duduk membelakanginya.
"ah, maaf... saya tidak sengaja...!" kata Via dengan wajah menyesal.
"eh..., bukankah kalian...!!!"
seketika wajah Via berubah tegang, menyadari yang ditabraknya adalah para pemuda yang waktu itu mengganggunya.
"sial...! kenapa aku harus berurusan dengan mereka lagi...! pasti mereka akan memanfaatkan kecerobohanku untuk mencari gara-gara...!" batinnya.
"mau apa kamu...!!!" hardik pemuda yang ditabraknya dengan wajah marah.
"ma... maaf... saya benar-benar tidak sengaja...! saya buru-buru ingin ke kamar kecil...!"
"ya sudah, kamu pergi cepat pergi sana, jangan mengganggu kami lagi, dasar cewek pembawa sial...!!!" bentak pemuda itu, lalu memalingkan wajahnya dari Via dan kembali berbincang dengan teman-temannya.
"hei, ada apa dengan mereka...?! apa mereka sudah melupakan kejadian waktu itu...?! ah, baguslah kalau begitu...! setidaknya sekarang aku bisa merasa lebih tenang...!" batin Via sambil berjalan meningalkan para pemuda itu.
baru saja Via pergi, salah satu pemuda itu berkata, "brengsek...! sepertinya cewek sialan itu mau mengejek kita...!"
"aku rasa begitu...! ingin rasanya aku menghajarnya dan membuatnya mengemis memohon ampun...!" sahut temannya kesal.
"sabar, bro..., jangan terbawa emosi...!" temannya yang lain berusaha menenangkan.
"apa kamu mau kita dihajar lagi oleh PENJAGANYA ITU...?!"
...
tidak seperti malam-malam sebelumnya, dimana saat merasa cukup mabuk, Via segera kembali ke penginapan.
malam itu, Via yang merasa frustasi karena yang ditunggunya tidak kunjung datang memutuskan untuk minum sedikit lebih banyak.
malam semakin larut, para pelanggan satu persatu meninggalkan kedai, hingga kini yang masih berada disana tinggal Via, para pemuda itu, kepala desa beserta teman-temannya, dan seorang gadis cantik berumur sekitar dua puluh lima tahun bersama seorang kakek tua bongkok.
beberapa pemuda yang mulai mabuk itu terlihat menghampiri meja si gadis cantik dan kakek bongkok.
"pasti mereka ingin menggangu gadis itu...! ah, sepertinya bakal terjadi keributan...!" batin Via.
persis seperti yang diduga Via, tidak berapa lama terlihat perdebatan antara si kakek bongkok dengan salah satu pemuda itu, hingga tiba-tiba, pemuda itu mendorong si kakek bongkok.
tidak terima si kakek bongkok didorong, gadis cantik yang bersamanya langsung menampar sipemuda dengan keras.
"plak...!!!"
"bangsat...!!! apa yang kamu lakukan...!" pemuda itu terlihat marah dan hendak membalas.
__ADS_1
tapi sebelum pria itu melayangkan tangannya, si gadis dengan sengaja menjatuhkan beberapa botol kosong ke lantai.
"prang...!!!"
suara pecahan botol sontak membuat kepala desa dan teman-temannya menoleh.
merasa ada yang tidak beres, kepala desa dan seorang temannya lalu mendatangi meja si gadis cantik.
"hei, apa ada...? apa kalian bertengkar...?" tanya kepala desa.
"ah, maaf pak Heri, kami tidak bertengkar...! kami barusan hanya berkenalan saja, dan nona ini tidak sengaja menjatuhkan beberapa botol...!"
"apa yang dikatakannya itu benar, nona...?" tanya kepala desa menoleh ke gadis itu.
"i... iya, tuan, yang dikatakannya benar...! kami tidak bertengkar, barusan saya yang tidak sengaja menjatuhkan botol - botol ltu...? ah, sepertinya saya sudah sedikit mabuk...!"
sejenak kepala desa nampak berfikir, lalu berkata, "kalau begitu nona dan kakek sebaiknya pulang sekarang, daripada nanti benar-benar mabuk dan tidak sadar diri...!"
"baiklah, tuan..., kalau begitu kami permisi dulu...!"
seusai berkata, gadis itu langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kedai.
belum semenit gadis dan kakek itu pergi, para pemuda itu langsung bangkit berdiri dan ikut keluar.
Via yang penasaran apa yang akan dilakukan pemuda itu, diam-diam ikut mengikuti dari belakang.
dari jauh Via melihat pemuda itu berhasil menyusul gadis dan kakek bongkok.
kembali mereka terlibat perdebatan, hingga akhirnya salah satu pemuda itu mendorong kakek bongkok hingga terjatuh.
gadis itu yang merasa marah, lalu mengayunkan tangannya hendak menampar pemuda itu, tetapi dengan cepat pemuda itu mengelak dan balik menampar si gadis.
"plak...!!!"
saking kerasnya tamparan pemuda itu, membuat si gadis terjatuh dan meringis kesakitan.
kakek bongkok yang marah melihat gadis cantik kesakitan langsung bangkit dan menyeruduk pemuda itu hingga jatuh terpental beberapa meter kebelakang.
melihat temannya jatuh, sontak membuat pemuda lainnya marah dan langsung menyerang kakek bongkok.
"bak...! buk...! bak...! buk...!!!"
beberapa pukulan dan tendangan menghujani kakek bongkok dengan telak, sehingga membuat kakek bongkok limbung dan terhuyung-huyung.
gadis cantik yang menyaksikan kakek bongkok menjadi bulan-bulanan para pemuda itu tidak tinggal diam.
diambilnya sebatang kayu dan mulai menyerang membabi buta untuk melindungi kakek bongkok, tapi sayang, serangannya hanya mengenai angin kosong, dengan mudah para pemuda itu menghindar, dan tiba-tiba,
"buk...!!!"
sebuah sepakan keras membuat gadis cantik terjatuh.
melihat gadis cantik jatuh, sipenyepak langsung duduk diatas perut si gadis dan menjambak rambutnya.
"jangan melawan lagi, sayang..., atau kamu ingin lebih sengsara dari ini...!!!" ancam si penyepak.
gadis cantik yang ketakutan hanya diam dan pasrah.
melihat gadis cantik sudah tidak berdaya, kembali pemuda- pemuda lainnya menghajar kakek bongkok.
"bak...! buk...! bak...! buk...!!!"
saat itu, sebenarnya Via hanya ingin melihat dan tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi, tetapi karena sudah tidak tahan melihat kekejaman para pemuda itu, Via langsung berteriak,
__ADS_1
"BERHENTI...!!!"