PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
41. GONG... GONG...!


__ADS_3

"nah, pekerjaanku hari ini sudah selesai, sekarang saatnya kita mencari motormu...!"


dengan cepat Wira memacu motornya meninggalkan rumah kakek Kien.


"lho, katamu kita mau mencari motorku, kenapa sekarang malah pulang...?" tanya Via saat mereka tiba dirumah Wira.


"karena sekarang kita akan memakai mobil...!" jawab Wira sambil melepas helmnya.


"kenapa harus pakai mobil...? bukankah lebih mudah mencarinya dengan menggunakan motor...?" tanya Via lagi.


"karena kita memerlukan bantuannya...?"


"bantuannya...? siapa...?"


"anjingmu...!"


"Simba...? untuk apa...?"


"dasar bodoh...! ya, untuk melacak baunya...! merekakan tidak bisa menghidupkan motormu, jadi mereka pasti mendorongnya ke suatu tempat disekitaran sana sebelum merusaknya...! jadi lebih mudah menyuruh anjingmu melacaknya daripada kita mutar-mutar ga karuan...!" jelas Wira.


...


tidak berapa lama, sampailah mereka di penginapan.


secepatnya Via menyuruh Simba melacak keberadaan motornya.


setelah melewati beberapa gang, sampailah mereka disebidang tanah kosong.


dipojok kiri tanah kosong itu, nampak motor Via dalam kondisi yang mengenaskan.


"motorku...!!!" pekik Via yang langsung berlari menghampiri motornya yang sudah tidak berbentuk motor lagi.


"dasar bajingan sialan...! beraninya mereka merusak motorku sampai seperti ini...! awas saja kalau sampai aku menemukan mereka, aku..." saking kesalnya, Via sampai tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"aku turut menyesal dengan motormu..."


tiba-tiba dari belakang Wira menepuk lembut pundak Via, berusaha menenangkannya.


"lalu, bagaimana dengan buku dongengmu...? apa kamu sudah menemukannya...?" lanjut Wira lagi.


Via yang langsung teringat akan bukunya dengan cepat memeriksa motornya.


"bukuku tidak ada...! eh, bukan hanya bukuku, perlengkapanku yang lain juga tidak ada...!" Via terlihat panik.


sejenak Via dan Wira memperhatikan tanah kosong itu, hingga tiba-tiba,


"Vi, coba lihat disana...!" tunjuk Wira ke pojok kanan tanah kosong.


secepatnya Via dan Wira melangkahkan kaki mereka kearah yang dimaksud.


nampak setumpuk benda hitam gosong seperti habis terbakar.


"sepertinya itu milikmu...!" kata Wira lagi.


Via tidak membalas, dengan cepat tangannya mengorek-ngorek tumpukan benda hitam itu, hingga akhirnya Via berhenti takala menemukan selembar kertas bergambar yang setengah terbakar.


"bukuku..." gumam Via pelan, wajahnya terlihat sangat sedih.


cukup lama Via meratapi kertas yang hangus itu, hingga tiba-tiba Wira berkata, "sudahlah, yang hilang tidak akan kembali, yang terbakar tidak akan utuh lagi...! percuma saja kamu terus meratapinya, bukumu tidak akan kembali utuh...!"


"aku tau, hanya saja buku ini sangat penting...!" balas Via pelan.


"apa buku itu pemberian teman baikmu itu...?" tebak Wira.


"bukan... ini bukan darinya, ini pemberian orang tuaku...!"

__ADS_1


"oh begitu, lalu kenapa buku itu menjadi begitu penting...? bukankah kemarin kamu bilang itu hanya sebuah buku dongeng...?"


"buku itu bukan sekedar buku dongeng biasa...! buku itu menyimpan sebuah rahasia yang berhubungan dengan kemampuan khususku...!"


"kemampuan khususmu...?! memang kemampuan khusus apa yang kamu miliki...?" tanya Wira penasaran.


"aku bisa melihat..." Via yang teringat pesan ayahnya seketika menghentikan kalimatnya.


"melihat apa...? kamu bisa melihat apa...?" tanya Wira lagi semakin penasaran.


"aku bisa melihat HANTU...!" jawab Via asal.


"melihat hantu...! hahahaha... ternyata kamu tidak hanya bodoh, tetapi juga tukang hayal...! mana ada orang yang bisa melihat hantu...! hahahaha... hahahaha..."


"terserah...!!!" balas Via kesal, lalu pergi meninggalkan Wira yang masih tertawa terbahak-bahak.


"hei... kamu mau kemana...?" tanya Wira menyadari Via menjauh.


"aku mau membeli motor baru dan juga peralatanku...!" balas Via trus berjalan.


"memang kamu punya uang untuk membeli semua itu...?" tanya Wira sambil berlari mengejar Via.


"aku rasa uang bekal ku cukup untuk membeli semua itu...!"


"baguslah kalau begitu, tapi..., apa kamu tau di mana tempat membelinya...?"


"aku tidak tau, karena itu kamu tunjukkan tempatnya...!"


"maksudmu, kamu mau minta ku anterin...?"


"yah, begitulah...!"


"aku sih tidak keberatan mengantarkanmu, tapi apa begitu caranya orang minta tolong...? hehehe..."


mendengar kata-kata Wira, seketika Via menghentikan langkahnya dan menatap Wira tajam.


"Via sayang..., aku tau kamu sedang marah...! aku tau kamu sedang kesal gara-gara motormu dan bukumu...! karena itu aku tidak mau mengantarmu belanja dalam kondisi seperti ini...! bukankah kemarahan akan membuat semuanya semakin buruk...?"


"trus, apa maumu...?" kali ini Via yang bertanya.


"aku mau mengantarmu asal kamu tersenyum...! jujur saja, kalau kamu tersenyum, kamu keliatan manis sekali...! hehehe..."


"jangan menggodaku...!" sahut Via, lalu berjalan lagi meninggalkan Wira.


"aku tidak bohong, senyummu memang manis, lebih manis dari gula...! kalau kamu tidak percaya, tanya saja Simba...!" balas Wira.


"memang Simba ngerti yang begituan...?" balas Via.


"tentu saja...! Dia kan anjing pintar...!" balas Wira lagi, yang langsung berjalan mendekati Simba, dan berjongkok di depannya.


"Simba, apa senyum tuanmu manis...?" tanya Wira sambil menepuk kepala Simba.


"Gong...! gong...!"


"tuh kan, apa kubilang...! Simba bilang senyummu manis, semanis susu kental manis cap gadis...!"


"sok tau...! memang kamu bisa mengerti bahasa anjing...?" tanya Via lagi.


"jangankan bahasa anjing, bahasa semutpun aku bisa...!"


"pembohong...!"


"aku tidak bohong, mau bukti...?"


kembali Wira menepuk kepala Simba,

__ADS_1


"Simba, gong... gong.... gong gong gong...!"


"gong...! gong...! gong...! gong...!" balas Simba.


"gong... gong.... gong gong gong...!" balas Wira lagi, seolah-olah sedang berbincang dengan Simba.


"gong...! gong...! gong...! gong...!" balas Simba lagi.


"gong... gong.... gong gong gong...!"


"gong...! gong...! gong...! gong...!"


melihat tingkah Wira dan Simba, Via hanya menggeleng,


"dasar orang sinting...!" gumamnya, lalu berjalan lagi, nampak seulas senyum terpancar dari sudut bibirnya.


...


sore itu, ditemani Wira dan Simba, Via berkeliling kota mencari perlengkapannya.


"apa sudah semua...?" tanya Wira seusai Via membayar sebuah tas kepompong.


"aku rasa sudah, tinggal mencari motornya...!" jawab Via.


"kalau motor sebaiknya kita mencarinya besok, soalnya malam begini semua toko kendaraan sudah tutup...!"


Via mengangguk,


"lalu kita kemana sekarang...?" tanya Via.


"sebaiknya sekarang kita pulang, sebentar lagi aku ada janji mau bertemu dengan seseorang ...!"


"oh, cucu kakek tua itu...?"


"iya..." jawab Wira tersenyum lebar.


"kamu serius mau melakukan itu dengannya...?" tanya Via penasaran.


"tentu saja...! kenapa tidak...!!! kenapa...? kamu cemburu...?" Wira balik bertanya.


"aku tidak cemburu, hanya kasihan padanya...! Dia terpaksa menemanimu bersenang-senang gara-gara hutang kakeknya...!"


"hei, jangan berkata seperti itu...! kata-kata terpaksa seolah-olah kamu mengatakan aku orang yang jahat...!"


"memang kamu jahat...! buktinya kamu memaksanya menemanimu demi membayar hutang kakeknya, padahal hutang itu bukan kesalahannya...!"


"kapan aku memaksanya...? kamu dengar sendiri tadi Dia yang menawarkan diri...!" protes Wira.


"kamu memang tidak memaksanya secara langsung, tapi dengan terus menekan dan mengancamnya, tentu saja Dia jadi tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti kemuanmu...!"


"tidak punya pilihan lain...? hahahaha... sepertinya kamu terlalu lugu...! kamu tidak mengerti apa-apa...!"


"tidak mengerti apa? hah...! semuanya sudah jelas...! kamu sengaja memaksanya untuk menemanimu bersenang-senang...!"


"bagaimana kalau aku bilang Dia tidak terpaksa, tapi Dia menginginkannya...!"


"menginginkannya...! maksudmu...?"


"anggap saja Dia suka aku dan tertarik padaku, jadi solusiku tadi sengaja diterimanya untuk mendekatiku...! bukankah wajar seorang gadis suka pada pria setampan dan sekaya aku...?"


"ah, itu cuma alasanmu saja untuk mencari pembenaran...!"


"aku tidak mencari pembenaran, itu kenyataan...! kalau kamu tidak percaya, nanti aku buktikan...!"


"caranya...?"

__ADS_1


"saat ini aku tidak bisa menjelaskannya, tapi nanti malam kamu akan tau sendiri...! yang jelas, aku berjanji padamu, kalau Dia merasa terpaksa atau tidak menginginkannya, maka aku tidak akan melakukan apa-apa padanya, kecuali Dia yang meminta...!"


"setuju...!"


__ADS_2