PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
27. PESTA ULANG TAHUN


__ADS_3

sore itu, dikamarnya, Via yang baru selesai mandi mengeluarkan sebuah kotak berwarna ungu dari lemari pakaiannya.


sembari menatap cermin, Via menempelkan gaun berwarna ungu didepan tubuhnya yang masih berselimut handuk.


"Di, makasi ya hadiahnya...! malam ini aku pasti akan terlihat sangat cantik...! hehehe..." batinnya tersenyum sendiri.


dengan hati-hati Via menaruh gaun itu diranjangnya, lalu melepas handuknya dan melemparnya sembarangan.


tangannya kemudian meraih dua buah benda kecil dari dalam kotak tadi.


"hmmm..., apa bra sama ****** ***** ini aku pakai juga ya?" batinnya lagi.


setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Via memutuskan mencoba bra dan ****** ***** berwana ungu pemberian Adi.


"pas banget...! ternyata sibodoh itu memang ahlinya soal ukuran pakaian dalam...! pasti sudah banyak cewek yang dikencani sampai Dia bisa tau sedetail ini...!"


Via kembali menatap cermin, dan memperhatikan tubuhnya yang hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja,


"ah, andaikata sekarang Dia ada disini, dan melihat aku seperti ini..., apa ya Kira-kira yang akan Dia lakukannya...? apa Dia akan tergoda dan langsung mencium dan merabaku seperti malam itu? hehehe..."


wajah Via memerah, membayangkan malam indahnya yang tidak sempurna bersama Adi, hingga tanpa sadar, pikirannya menjadi mesum dan jemarinya mulai meraba tubuhnya sendiri.


"ah... sungguh aku rindu belaianmu, Di... aku ingin..."


"Tok... tok... tok..."


"sayang...! kamu didalam..."


suara mamanya dari balik pintu seketika membuyarkan lamunan Via.


"i... iya, Ma...! Via lagi pakai baju...!" Via buru-buru meraih gaunnya.


"cklek, krittt..."


"buruan sayang...! teman-temanmu sudah menunggu dibawah...!"


"i... iya, Ma..., ini juga tinggal berias...!"


mamanya yang saat itu melihat Via mengenakan gaun ungu pemberian Adi langsung tersenyum,


"pantesan lama... pasti makainya sambil mikirin yang ngasi ya...? hehehe..."


"ah, mama! bisa aja...!" wajah Via kembali memerah.


mamanya lalu mendekati Via dan membantunya merapikan gaunnya.


"ayo ngaku...! benarkan barusan kamu mikirin Adi...?" goda mamanya lagi.


"nggak, Ma...! ngapain juga Via mikirin Adi...!" elak Via.


"sudah, jangan malu-malu...! mama juga pernah muda kok...! dulu, waktu papamu pertama kali ngasi baju ke mama, hampir dua jam mama senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi papamu melihat mama yang cantik dan seksi...!, hehehe..."


"oya...?"


"iya sayang..., apalagi waktu papamu menghadiahkan mama pakaian dalam, mama langsung membayangkan papamu akan langsung tergoda dan mengajak mama bercinta...! hehehe..."


"ah, mama...! jangan ngomong aneh-aneh deh...!" wajah Via terlihat semakin memerah.


melihat wajah Via yang kian memerah, bukannya berhenti, mamanya semakin semangat untuk menggoda,


"mama yakin, jika Adi melihatmu yang sekarang, Dia pasti akan tergila-gila padamu...! lalu Dia akan merayumu, dan berusaha mengajakmu bercinta seperti yang kalian lakukan waktu itu...! hehehe..."


"waktu itu...! waktu itu kapan...?! jangan ngaco deh, Ma...!!! Via kan sudah bilang, Via ga pernah melakuan itu sama Adi...!!!" wajah Via semakin memerah, bahkan nyaris gosong.


"mana mama tau...! yang tau kan cuma kamu, Dia dan Mailakat...! hehehe..." balas mamanya cuek.


"sudah ah...! kalau mama terus godain Via, kapan selesainya Via siap-siap...!"


"iya sayang, iya..., mama cuma bercanda, hehehe... ya sudah, kalau gitu mama turun dulu, mau ngeliat rendangnya sudah matang apa belum...! nanti habis berias, kamu cepat turun, kasian teman-temanmu bosan nunguin kamu dari tadi...!"


"iya ma..., iya...n"


selepas mamanya pergi, Via langsung menyelesaikan riasannya dan bergegas


turun ke bawah.


...


di ruang tengah, semua keluarga dan teman-teman dekatnya sedang berkumpul menanti kedatanganya.


"drittt... drittt..."


bunyi berderit membuat semua mata langsung menoleh ke arah datangnya suara.


nampak Via dengan perlahan menuruni anak tangga.


penampilan Via yang berbeda dari biasanya membuat semua tercengang, terutama Ayu, yang langsung berlari menghampirinya,


"Vi...! kamu cantik banget..! kayak bidadari turun dari tangga...!!!"


"ah, kamu Yu...! bisa aja...!" Via tersenyum manis, sehingga membuat kecantikannya semakin bertambah.


"Lemon bener Vi...! penampilanmu hari ini sangat mempesona, apalagi gaunmu, serasi banget...! kapan kamu membelinya? kok kamu ga pernah ngasi tau kami...?" kali ini Siska yang bertanya dengan nada sedikit protes.


"eh, maaf Sis..., ini... aku..."

__ADS_1


"Dia ga beli...! gaun itu dari mantan pacarnya...!" sahut mamanya tiba-tiba, memotong kata-kata Via.


"oya...? mantannya siapa, tante...? Rocky...? atau Andre...?" Ayuk bertanya penasaran.


"bukan mereka Yu..., tapi mantannya yang sekarang sedang pergi mengembara...! hehehe..." balas mamanya terkekeh.


sejenak Ayu berfikir, kemudian berkata,


"oh, maksud tante Adi...? siKampret itu...!"


mamanya mengangguk.


"wah, ternyata Kampret itu cuma gayanya aja pura-pura cuek sama kamu...! tetapi sebenarnya Dia perhatian juga, hehehe..." sahut Ayu terkekeh.


"yah, begitulah Mon...! namanya juga orang ga jelas...! di depan pura-pura ga perduli, tetapi didalam hatinya, siapa tau...! hehehe...!" Siska ikut terkekeh.


"Ayu...! Siska...! apa-apain sih kalian...! jangan ngomong aneh-aneh deh...!!!" wajah Via nampak merah padam.


"lho, bukannya yang kami bilang benar...? buktinya gaun yang kamu pakai sekarang sangat serasi denganmu...! kalau orang ga perhatian, mana mungkin bisa ngasi hadiah yang cocok denganmu...! hehehe..." balas Ayu kembali terkekeh.


"Jangan-jangan, sebenarnya Dia juga ada perasaan khusus ke Via, Mon...! cuma malu saja nunjukinnya...! hehehe..." Siska menimpali.


"bisa jadi Sis...! namanya juga si Kampret...! orang ga jelas dan ga bisa di..."


"sudah-sudah...! nanti saja kalian lanjutkan ngobrolnya...!" tiba-tiba papanya menyahut, memotong kata-kata Ayu.


"sebaiknya sekarang kita mulai acaranya, biar ga keburu malam...!" lanjut papanya.


"setuju om...! sebaiknya kita mulai sekarang acaranya, saya sudah haus...! haus akan kenikmatan tuak...! hehehe..." kali ini Bladuk menyahut penuh semangat, lalu mulai menyalakan lilin yang berada diatas kue tart berwarna pink.


bersamaan dengan Bladuk menyalakan lilin, Bram mulai bernyanyi,


"🎼Lilin kecil menyala disini, Kuredupkan kembali lagi...


Kupanjatkan do′a tulus dan suci,


Ku ingat hari ini ultahmu..."


Siska lalu mengambil kue, dan berjalan mendekati Via,


" 🎼Usiamu semakin dewasa,


Dimasa remaja yang ceria... Bunga-bunga ditaman hatiku,


Yang tumbuh indah wangi kasih,


Hanya ku persembahkan untukmu..."


semua lalu ikut bernyanyi,


Selamat ulang tahun untuk Via...


Panjang umur didalam hidupmu...


Terimalah kadoku buat kamu, Yang kupersembahkan lewat lagu ku ini..."


"nah, seperti biasa, sebelum meniup lilin, pejamkan matamu, dan sampaikan harapanmu...!"


Via lalu memejamkan mata dan berdoa,


"Tuhan, engkau pasti tahu..., dari kecil sampai sekarang, setiap aku berulang tahun, permintaanku hanya satu... AKU INGIN BERSAMA DIA..."


Via kemudian membuka mata, dan meniup lilin dihadapannya.


"semoga harapanmu terkabul...!!!"


sorak semua yang ada disana disertai tepuk tangan yang meriah.


"ya..., mudah-mudahan Tuhan mengabulkan harapanku...!"


...


malam itu, pesta ulang tahun Via berlangsung sangat sederhana. selain keluarga dekatnya, hanya Siska, Ayu dan empat bersaudara yang diundang.


walaupun sangat sederhana, tapi tuak yang disediakan sangat banyak, hingga membuat hampir semua undangan mabuk dan tertidur.


kini, hanya Via dan Bladuk saja yang masih terjaga.


saat itu Bladuk asik memainkan gitar dan bernyanyi pelan, sedangkan Via hanya diam merenung, matanya menatap jauh ke langit, dimana bintang-bintang bersinar dengan indahnya.


"Di..., besok aku berangkat ketempat nenek, mudah-mudahan aku bisa segera bertemu dengannya dan mempelajari ilmu pengobatan. kamu sendiri sekarang sedang apa...? aku harap kamu baik-baik saja dan bisa segera menyelesaikan masalahmu...!"


"ah, andaikan bisa, aku ingin membantumu menghadapi masalahmu, atau setidaknya, aku bisa menjadi teman berbagimu...!"


"Vi, giliranmu...!"


kata-kata Bladuk membuyarkan lamunan Via.


"eh, aku lagi...?" tanya Via terkejut.


"ya iyalah...! memang siapa lagi...? tinggal kita berdua yang masih sadar...!" balas Bladuk sembari menyodorkan gelas berisi tuak.


secepatnya Via meraih gelas pemberian Bladuk dan meneguk isinya sampai habis.


"ngapain dari tadi kamu bengong mandangi langit...? mikirin Adi ya...?"

__ADS_1


"iya Duk..., aku khawatir akan keadaannya...!" balas Via pelan.


"sudah, kamu ga usah khawatir...! Dia pasti baik-baik saja, kok...!"


"darimana mana kamu tau...?"


"aku ga tau, tapi aku yakin...! aku sudah mengenalnya dari kecil, dan tau betul bagaimana Dia...! mungkin saat ini Dia sedang terlibat masalah berat, tapi aku percaya, dengan kepintarannya dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, Dia pasti dapat melalui semuanya...!"


"aku tau itu..., tapi tetap saja aku merasa khawatir...!"


"aku mengerti kamu khawatir...! tapi kamu harus percaya Dia dan menunggunya dengan sabar, bukankah Dia sudah berjanji padamu...!"


"janji...! janji apa...?!" Via terlihat bingung.


"dasar bodoh...! masa sampai sekarang kamu belum sadar...?"


Via menggeleng,


"aku ga ngerti...! seingatku Dia ga pernah janji apa-apa, selain tidak pernah melupakanku...!"


"Dia memang tidak berjanji secara langsung, tapi melalui pesan yang dibuatnya secara aneh...!"


"secara aneh...! aku makin ga ngerti...!"


Via terlihat semakin bingung.


Bladuk mengisi gelas kosong dengan tuak, lalu meneguknya sampai habis. setelah itu menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.


"kamu ingat ga apa pesan terakhirnya ke Hengki waktu itu...?"


sejenak Via kembali mengingat-ingat kata-kata Adi ke Hengki,


"hmmmm... kalau ga salah, waktu itu Dia bilang, sampaikan salamku ke Via, ingatlah kembang api...!"


"ya itu...! sekarang coba kamu ingat pesan yang dibuatnya melalui kembang api, saat Dia kabur dari rumah Siska...!"


kembali Via mengingat-ingat.


"emmm..., kalau ga salah, dia menulis, sampai jumpa, tunggu aku...!"


"nah, itu Dia...! bukannya Dia sudah menyuruhmu untuk menunggu...! itu artinya Dia pasti kembali untuk menemuimu lagi, apapun caranya...!"


"lho, bukannya pesan itu ditunjukkan untuk kita semua...?"


"bukan! pesan itu bukan untuk kita, tapi khusus untukmu...! apa kamu ga sadar, pesannya bukan tunggu aku, tapi TUNGGU AKUNGU...!!!"


"aku tau..., tapi aku rasa itu cuma kesalahan pada penulisannya, mungkin saja yang meracik bubuk kembang apinya melakukan kesalahan...!"


"Vi, Vi...! otakmu bener-bener lambat, ya...! sebodoh-bodohnya aku, masih bisa sadar hal sesederhana ini...! sedangkan kamu, payah banget...! pantes saja papa mamamu ga ngasi ijin kamu sekolah kedokteran...! hehehe..."


Bladuk tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak percaya Via sebodoh itu.


"udah deh Duk, jangan mengolok-ngolok aku...! aku masih ga paham maksudmu...! jangan buat aku tambah pusing...!!!"


"ya sudah, biar aku jelasin supaya kamu ngerti...! awalnya, aku juga berfikir sama sepertimu, pesan itu salah tulis...! tetapi tadi, sewaktu mamamu mengatakan bahwa gaun ini pemberiannya, maka aku yakin itu bukan suatu kesalahan, tetapi Dia memang sengaja menulis seperti itu, supaya hanya kamu yang menyadari pesan itu...!"


"eh, maksudmu pesan itu dan gaun ini ada hubungannya...?"


"tentu saja...! entah karena Dia merasa di ujung kalimat tunggu aku warna yang nyambung dengan huruf U adalah ungu..., atau karena Dia merasa kamu cocok mengenakan warna ungu makanya Dia membuat kalimat seperti itu, entahlah...! hanya Dia dan Malaikat yang tau...! tapi yang pasti, Dia ingin menyampaikan pesannya kepadamu melalui dua hal itu...!"


sejenak Via terdiam, coba memahami kata-kata Bladuk barusan.


"tunggu akungu... tunggu aku ungu... ungu... gaun ungu... apa iya seperti itu maksudnya...?"


setelah beberapa saat, kembali Via berkata,


"Duk, andaikata semua yang kamu bilang tadi benar, apa kamu tau kenapa Dia menyuruhku menunggu...? maksudku, apa Dia pernah bilang alasannya kekamu...?"


Bladuk menggeleng,


"kalau alasannya sih aku ga tau, Dia ga pernah bilang...! bisa saja karena Dia juga suka kamu, atau Dia punya janji padamu yang belum ditepati...! entahlah...! kamu pikir saja sendiri, itu urusan kalian...!"


kembali Via terdiam, memikirkan kata-kata Bladuk, kemudian bertanya lagi.


"apa selama ini Dia ga pernah cerita mengenai aku...? atau mungkin perasaanya ke aku...?"


"kalau perasaannya sih ga pernah, tapi kadang-kadang Dia cerita mengenaimu...!"


"Dia cerita apa saja...?"


"kebodohanmu...! kelambatan otakmu...! keleletanmu...! kecengenganmu...! dan sering kali Dia mengeluh kalau habis jalan denganmu, katanya malu karena penampilanmu norak...! hehehe..."


"issshhh..., perasaan yang jelek-jelek semua...! apa Dia ga pernah cerita yang baik mengenaiku...?"


"ga pernah...!" jawab Bladuk cepat.


"memangnya menurutmu, apa ada hal baik yang bisa diceritakan darimu...? sudah jelek, kerempeng, hitam, berbulu, bodoh, lambat, ga punya kemampuan apa-apa, cengeng, hidup lagi...!!! hahahaha... hahahaha..." kali ini Bladuk tertawa terpingkal-pingkal.


"sialan kamu...!!! mentang-mentang ada kesempatan, langsung deh menghinaku...!" maki Via.


"hmmm..., tapi kalau dipikir - pikir, benar juga yang kamu bilang...! ga ada hal baik dariku yang bisa dibanggakan...! hahahaha... hahahaha..." Via ikut menertawakan dirinya sendiri.


"tuh, akhirnya kamu sadar diri, hahahaha... hahahaha..." Bladuk tertawa semakin keras.


"ya, ya, ya... puas-puasin aja kamu ngejek aku sekarang, mumpung aku masih kayak gini...! hahahaha... nanti kalau aku udah jadi tabib hebat, coba saja berani ngejek lagi, biar kusihir kamu jadi kodok...! hahahaha... hahahaha..."

__ADS_1


malam itu, bersama Bladuk Via tertawa lepas. perasaannya sangat bahagia, selain karena kekhawatirannya ke Adi berkurang, juga karena mengetahui bahwa ternyata Adi tidak pernah melupakannya.


__ADS_2