
hampir lima belas menit perjalanan, sampailah mereka di sebuah gedung perkantoran berlantai tiga.
setelah berbasa-basi sebentar dengan petugas keamanan dan beberapa karyawan disana, merekapun memasuki sebuah ruangan yang berada di lantai dua.
didalam ruangan tersebut, nampak beberapa pria sedang duduk membahas sesuatu.
dilihat dari pakaian yang dikenakannya, mereka tidak terlihat seperti pegawai kantoran pada umumnya, mereka lebih terlihat sebagai gerombolan preman.
melihat Wira datang, semua yang ada di ruangan itu langsung berdiri dan membungkuk,
"selamat pagi tuan muda...! salam KAPAK NAGA...!!!"
"selamat pagi semuanya...! salam Kapak Naga...!" balas Wira.
selepas mengucap salam, semua yang ada disana duduk kembali, begitu juga Wira yang langsung duduk di salah satu kursi kosong, diikuti Via di sampingnya.
"kanalkan, ini Via, rekan kerjaku...!" Wira memperkenalkan Via ke anak buahnya.
"rekan kerja...! rekan kerja apa, Bos...? rekan kerja diranjang...! hehehe..." seloroh anak buahnya yang berkepala botak, membuat semua yang ada disana tertawa geli.
"jangan mau dibohongi si Bos, Tak..! Dia bukan rekan kerjanya...! Dia calon Nyonya muda kita...! hehehe..." kali ini anak buahnya yang berambut gondrong yang menyahut.
"darimana kamu tau Dia calon nona muda kita, Drong...?" tanya si Botak.
"coba kamu perhatikan si Bos...! dari tadi wajahnya nampak cerah dan ceria...! ciri-ciri orang lagi kasmaran...! hehehe..." jawab si Gondrong, membuat semua yang ada disana kembali tertawa geli.
"wah..., berarti tidak lama lagi si
Bos akan menikah, dong...! itu artinya kita bakal pesta besar-besaran...! selamat ya bos, selamat...!"
"selamat gundulmu...!!!" balas Wira cepat.
"kalian jangan asal ngomong...! siapa yang kasmaran...?! siapa yang mau menikah...?! siapa yang calon nona muda...?! sudah kubilang Dia rekan kerjaku...! apa kalian tidak mengerti arti kata rekan kerja...?!" lanjut Wira.
"saya mengerti, Bos...! tapi saya juga tidak mengerti...!" jawab anak buahnya yang paling kurus.
"apa yang tidak kamu mengerti, Peng...?" tanya Wira.
"memang Bos dan nona ini bekerja sama dalam hal apa...?" tanya si Krempeng polos.
"oh, itu..., kami sedang bekerja sama dalam PEMBUATAN ANAK...!"
mendengar kata-kata Wira, kembali semua yang ada disana tertawa, kali ini mereka tertawa dengan keras hingga membuat suasana di ruangan itu menjadi gaduh.
"whahahaha... whahahaha... berarti benar apa kubilang tadi...! kerja sama Di ranjang...!!! whahahaha... whahahaha..."
melihat kelakuan Wira dan anak buahnya, Via yang dari tadi diam hanya geleng-geleng kepala.
"gak tuannya, gak anak buahnya...! mereka sama saja...! SAMA-SAMA SINTING...!!!"
...
"bagaimana hasil kerja kemarin...? apa ada masalah...?"
pertanyaan Wira seketika menghentikan tawa mereka.
"tidak ada, Bos...! semua beres...!" sahut anak buahnya yang berbadan gemuk bulat seperti balon.
"bagus...! itu artinya kalian sudah bisa menangani semuanya, termasuk si gendut kurang ajar itu...!" Wira terlihat puas.
"lalu, bagaimana untuk hari ini...? apa kira-kira ada masalah yang perlu kutangani...?" lanjut Wira.
"ada, Bos...!" sahut si Balon lagi.
"kakek tua di jalan Merpati itu masih membandel...! saya sudah berulang kali mendatanginya, tapi Dia selalu menolak membayar dengan berjuta alasan...! trus terang saya mulai kehabisan kesabaran menghadapinya...! andaikata Dia bukan kakek-kakek, sudah saya masukkan karung dan tenggelamkan ke laut kakek tua bangka satu itu...!" jelas si Balon dengan raut wajah kesal.
"sabar Lon, sabar...! kita ini Biro Peminjaman, bukan mafia...! jadi usahakan pakai cara halus dalam menyelesaikan masalah...! jangan sedikit-sedikit pakai kekerasan...! bisa repot kalau sampai ketahuan Armada...!" Wira berusaha menenangkan si Balon.
"ta... tapi..., Bos..."
"sudahlah...! biar kakek tua itu aku yang urus...! kamu selesaikan kerjaanmu yang lain saja...!"
"siap, Bos...!"
"nah, ada masalah lain lagi yang perlu kutangani...?"
"tidak ada, Bos...!" jawab semua anak buahnya bersamaan.
"baiklah, kalau begitu cepat siapkan berkas hutang kakek tua itu, sekarang juga aku akan pergi menemuinya...!"
segera setelah mendapatkan yang dimintanya, Wira dan Via meluncur kerumah kakek tua itu.
...
__ADS_1
"jadi kamu lintah darat, ya...? pantas saja kamu kaya...!" tanya Via diperjalanan.
"bukan lintah darat, sayang...! tapi biro peminjaman...!" kilah Wira.
"sama saja...! mau biro peminjaman, mau lintah darat, lintah laut, tengkulak, ataupun rentenir, semuanya sama...! namanya saja yang beda, tapi sama-sama meminjamkan uang dengan bunga mencekik leher...!" balas Via.
"bukan mencekik leher, sayang... tapi mencekik kantong...! hehehe..." balas Wira, terkekeh.
tidak sampai beberapa menit, kini mereka berada didepan sebuah rumah tua yang sudah reot.
setelah memarkir motornya, dengan perlahan mereka memasuki halaman rumah itu.
disekitar halaman rumah itu, nampak berserakan botol tuak yang sudah kosong, puntung rokok, kartu remi, dan juga sobekan kertas undian berhadiah.
"hmmm... sepertinya kakek tua bangka itu seorang penjudi dan pemabuk...!" kata Wira pelan.
"aku rasa begitu...!" balas Via.
perlahan Wira mengetuk pintu,
"tok tok tok... tok tok tok..."
tidak lama pintu terbuka, nampak seorang gadis cantik berambut hitam panjang, bermata sipit berdiri dihadapan mereka.
"se... selamat siang..., ada yang bisa saya bantu...?" tanya gadis itu sopan.
"saya ingin bertemu dengan kakek tua bang... eh, maksud saya, saya ingin bertemu dengan tuan Mies Kien..., apa beliau ada...?"
"oh, kakek..., mmmm... kalau boleh tau, tuan dan nona darimana...?"
"kami dari biro peminjaman Kapak Naga...!"
"eh, da... dari Kapak Naga...! mo... mohon maaf, kakek sedang sakit dan tidak bisa menemui siapapun...!" balas gadis itu tiba-tiba panik.
"kalau boleh tau, tuan Kien sakit apa ya...?" tanya Wira.
"kakek terkena Diare...! sudah dua hari kakek lemas gara-gara diare, Ya Diare...!"
"oh, kalau begitu kebetulan...! saat ini saya datang bersama Dokter...! nona yang disebelah saya ini seorang dokter...! jadi biarkan kami memeriksa kakek tua pembohong... eh, maksud saya kakek nona..." balas Wira bersemangat.
sejenak gadis itu terlihat ragu, kemudian berkata, "mmmm... kalau begitu, coba saya tanya kakek dulu, apa kakek mau diperiksa apa tidak...! silahkan tuan dan nona menunggu diluar...!"
"diluar...! apa nona bercanda...?!" Wira terlihat seakan tidak percaya.
"dengan segala hormat, saya yakin nona adalah orang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai sopan santun...! apa pantas menyuruh tamu menunggu diluar...?!" lanjut Wira.
sejenak Wira nampak berfikir, kemudian berkata,
"saya mengerti kekhawatiran kakek nona, tapi biar saya jelaskan, saya datang kesini bukan untuk menagih hutang...! saya datang kesini untuk menyelesaikan masalah...!"
"ta... tapi..."
melihat gadis itu masih ragu, secepatnya Wira meraih sebelah lengan gadis itu dan menciumnya,
"percayalah pada saya, nona...! saya tidak mungkin berbohong kepada seorang gadis secantik dan seanggun nona...! kalau saya membohongi nona, biarlah saya mati menderita di neraka tingkat tujuh...!!!"
mendengar kata-kata Wira, seketika wajah gadis itu memerah.
"ba... baiklah..., silahkan tuan dan nona menunggu didalam...!"
sebelum melangkah masuk, Wira berbisik ke Via,
"Vi..., tolong kamu pergi sebentar ke toko didekat sini, belikan beberapa botol tuak dan sebungkus rokok Mal Koro...!"
tanpa bertanya lagi, Via langsung menuruti kata-kata Wira.
...
saat itu, didalam ruang tamu, dengan sabar Wira menunggu si kakek tua keluar sambil membaca berkas hutangnya.
tidak berapa lama, si gadis cantik datang lagi, sendiri.
"tu... tuan, mohon maaf, kakek tidak bisa bangun, sepertinya sakitnya makin parah...!"
"oya...! apa boleh saya masuk dan menemuinya...?"
"mohon maaf, kakek bilang jangan ada yang masuk, takut ketularan...!"
"ketularan...! memang semenjak kapan diare menular...?" Wira telihat heran.
"sa... saya juga kurang tau, tuan...! saya hanya mengikuti perintah kakek...!"
"hmmmm..., saya mengerti...! kalau begitu, bisa nona tunggu sebentar disini...? teman saya tadi sedang mencari obat untuk kakek nona...!"
__ADS_1
"i... iya, tuan..."
Wira kembali membaca berkas di tangannya, sedangkan si gadis hanya berdiri mematung.
sesekali si gadis mencuri pandang ke Wira, dan entah mengapa, setiap kali melirik Wira, wajah gadis itu bersemu kemerahan.
menyadari si gadis masih berdiri, Wira langsung berkata, "nona, kenapa hanya berdiri...? kenapa tidak duduk...?"
"maaf tuan, saya rasa lebih baik saya berdiri saja..."
"ayolah, nona...! bukankankah tidak sopan berdiri didepan tamu dan memandanginya diam-diam...?"
kata-kata Wira sontak membuat gadis itu tersipu malu, wajahnya nampak memerah, semerah jambu monyet.
"bagaimana kalau sambil menunggu teman saya datang, kita berbincang - bincang sebentar...?" lanjut Wira.
"ta... tapi..."
melihat si gadis masih ragu, kembali Wira berkata, "nona tenang saja, saya tidak akan membahas hutang kakek nona...! saya hanya ingin mengenal nona lebih jauh...! yah, siapa tau saja nanti kita bisa saling memahami dan berbagi perasaan...! hehehe..."
mendengar kata-kata Wira, wajah gadis itu kian memerah. lalu dengan perlahan duduk di sebelah Wira.
"namamu siapa...?"
"nama saya Antimis, Tuan..., biasa dipanggil Timi...!"
"jangan panggil saya tuan, panggil saja saya Wira, biar lebih akrab...!"
"ba... baik, tuan..., eh, Wira..."
"umur kamu berapa...?"
"dua puluh satu..."
"kerja atau kuliah...?"
"kerja, tuan..., di Resto Naga Lapar...!"
"Resto Naga Lapar...?"
"iya, tuan..."
"jadi apa...?"
"jadi pelayan lepas harian, tuan..."
"kanapa cuma jadi pelayan lepas harian...? kenapa tidak jadi pelayan tetap atau juru masak...?"
"karena saya baru, tuan..., saya baru bekerja disana dua bulan...!"
"sebelumnya...?"
"saya kuliah, tuan..., di kampus Bali Dewata..."
"jurusan...?"
"tata boga...!"
"oh, jadi kamu ingin jadi juru masak...?"
"i... iya, tuan...!"
"lalu, kenapa berhenti kuliah...?"
"i... itu... karena..." Timi nampak ragu melanjutkan kalimatnya.
"ah, saya mengerti...! kamu pasti kekurangan biaya ya...?"
Timi tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. kesedihan tersirat jelas diwajahnya.
"ngomong-ngomong... kamu sudah punya pacar...?"
pertanyaan Wira sontak mengagetkan Timi.
"eh... i... itu... belum, tuan..."
"jangan bohong...! masa gadis secantik dan seseksi kamu belum punya pacar...?"
"saya tidak bohong tuan, saya memang belum punya pacar...! ka... kalau tuan sendiri...?"
"sudah saya bilang, jangan panggil saya Tuan...! panggil saya Wira, atau sebut kamu saja, biar kita lebih akrab...!"
"i... iya tuan, eh, Wira..."
__ADS_1
"saya juga sama sepertimu..., belum punya pasangan...!"
mendengar jawaban Wira, Timi hanya diam, seulas senyum terpancar dari sudut bibirnya.