PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
37. HARI KEDUA BERSAMA WIRA


__ADS_3

pagi itu...


Via berlari kecil mengelilingi lapangan yang berada tidak jauh dari rumah Wira.


kali ini Via tidak berolah raga sendirian, nampak Arum ikut berlari disampingnya.


"bagaimana acara jalan-jalannya semalam, non...? apakah menyenangkan...?"


"iya, mbak...! ternyata Wira punya teman-teman yang menarik, mirip sama teman-teman saya di desa...!"


"oya...? jadi semalam tuan muda mengajak non Via bertemu teman-temannya...?"


"iya..., kami bertemu Angling, Darma, Rara, Anggini dan yang lagi satu saya lupa, soalnya orangnya tidak terlalu banyak bicara, bahkan menurut saya terlalu pendiam...!"


"oh, yang itu namanya Jaka...! orangnya memang seperti itu, non...! kalau ada cewek, Dia lebih banyak diam dan jarang bicara...! tapi kalau ga ada cewek, Dia normal seperti cowok pada umumnya...!"


"berarti kayak Hengki, dong...!"


"Hengki...! Hengki siapa, non...?"


"Hengki teman saya didesa, mbak...! sifatnya mirip sama si Jaka...! sama-sama pemalu kalau berhadapan dengan cewek...!


eh, Ngomong -ngomong, mbak Arum kenal sama teman-teman Wira...?"


"iya, non...! mereka berlima teman baik tuan muda dari lama, dan tidak jarang tuan muda mengajak mereka kesini untuk berpesta...!"


"oh, begitu...! pantas saja mereka semua terlihat sangat akrab...! mmmm... boleh saya menanyakan sesuatu mengenai seseorang...?"


"siapa, non...?"


"Anggini, mbak...! apa Dia pernah punya hubungan khusus dengan Wira...? maksud saya, apa mereka pernah pacaran sebelumnya...?"


"kenapa non menanyakan itu...? apa non cemburu...?"


"bukan mbak, BUKAN...! untuk apa saya cemburu...! saya tidak ada perasaan apa-apa ke tuan mesum itu...!"


"non Via yakin...? hehehe..."


"yakin, mbak...! saya menanyakan itu bukan karena saya suka Wira, tapi karena semalam saya merasa Anggini masih ada perasaan ke Wira...!"


"darimana non tau...?"


"dari cara Dia berbicara, cara Dia memandang Wira, dan caranya memandang saya...! ah, saya rasa mbak Arum mengerti apa yang saya maksud...!"


"saya mengerti, non...! baiklah, saya akan beritahu apa yang saya ketahui...!setahu saya, non Anggini dan tuan muda memang pernah pacaran, tapi tidak terlalu lama...! saya juga tidak terlalu tau apa yang terjadi diantara mereka, yang jelas, sebelum mereka berpisah, tuan muda dan non Anggini sempat bertengkar hebat...!"


"mengenai apa...?"


"waduh...! kalau itu saya tidak tau...! saya tidak berani ikut campur urusan tuan muda...! lebih baik..."


"saya tanya sendiri ke Wira...!"


"i...iya non...! ternyata non Via cepat belajar...! hehehe..."


...


sehabis berolahraga pagi, Via kembali kerumah Wira, dan langsung menuju ruang makan.


sama seperti kemarin, nampak Wira sedang asik membaca surat kabar sambil mengunyah sepotong roti.


melihat Via datang, Wira langsung meliriknya,


"darimana saja kamu...? kok pergi ga bilang-bilang...!"


"memang kamu bapakku...! yang setiap pergi aku mesti laporan...!" jawab Via cuek, lalu duduk di hadapan Wira.

__ADS_1


"aku memang bukan bapakmu...! tapi aku calon bapak anak-anakmu...! karena itu biasakanlah laporan sebelum pergi kemana-mana...! hehehe..." balas Wira kembali asik membaca surat kabarnya.


tidak berapa lama, om Juna datang membawa nampan berisi beberapa makanan dan minuman.


"sarapan hari ini, roti bakar daging Kuda kigunung, dan air susu kuda binal...! semoga non Via menyukainya...!" katanya sambil menata hidangan didepan Via.


"terima kasih om Juna...! wow...! sepertinya makanan ini lezat...! tapi ini benar-benar daging kuda, kan...?" tiba-tiba Via menoleh keluar, matanya mencari-cari sesuatu.


"tentu saja ini daging kuda, non...! memang non Via kira ini daging apa...?" om Juna terlihat bingung.


"oh, tidak...! saya hanya takut ini bukan daging kuda, melainkan daging... ah, sudahlah...! saya minta maaf om...! sepertinya otak saya sedikit curiga gara-gara seseorang yang mengatakan aneh-aneh...!"


"aneh - aneh...!"


"tidak usah dipikirkan om, terima kasih untuk hidangannya...!"


"sama-sama, non...! kalau begitu saya permisi dulu, ada yang mau saya kerjakan di belakang...!" balas om Juna yang langsung pergi dengan wajah bingung.


selepas om Juna pergi, Via langsung menikmati sarapannya.


"jam berapa kita mencari motorku...?" kata Via sambil memasukan sepotong daging ke mulutnya.


Wira tidak membalas, pandangannya serius menatap surat kabar didepannya, seolah tidak mendengar pertanyaan Via.


"woi...! jam berapa kita mau mencari motorku...?!" tanya Via lagi, kali ini lebih keras.


Wira bergeming.


"kamu tuli ya...?! ditanya kok cuma diam saja...! jam berapa kita mau mencari motorku...?!"


Wira tetap bergeming.


Via yang kehabisan kesabaran akhirnya berkata, "ya Tuhan...! semoga orang tidak tahu sopan santun ini benar-benar tuli...!!!"


kali ini Wira menghentikan membaca surat kabarnya.


"mudah-mudahan kamu tuli...!!!"


"bukan yang itu...! satunya lagi...!"


"kamu orang tidak tau sopan san..." tiba-tiba Via menghentikan kalimatnya.


"kenapa tidak dilanjutkan...?" tanya Wira.


"eh... i... itu... itu..." Via yang menyadari sesuatu terlihat panik, wajahnya nampak memerah.


"kenapa tidak dilanjutkan...? siapa yang tidak tahu sopan santun...?"


dengan tertunduk malu Via menjawab,


"ma... maafkan saya tuan muda Wira... saya yang tidak tahu sopan santun...! makan tidak mengucapkan terima kasih dan salam...!"


mendengar kata-kata Via, meledaklah tawa Wira,


"hahahaha... bagus...! bagus...! ternyata anak kecil ini tau diri juga...! hahahaha... hahahaha..."


"siapa yang kamu bilang anak kecil? hah...!!!" Via nampak kesal.


"bukankah cuma anak kecil yang galau gara-gara kehilangan buku dongengnya...? hahahaha... hahahaha..."


tawa Wira semakin keras.


"ka... kamu...! dasar bodoh...!!!"


...

__ADS_1


"jadi, nanti jam berapa kita mau mencari motorku...?"


"nanti siang sekitar jam satu, aku mau membereskan beberapa urusan dulu...!"


"apa itu tidak kelamaan...? apa tidak bisa dipercepat lagi...?"


"jangan banyak protes...! urusanku banyak...! memangnya kamu pikir kerjaanku cuma ngurusin kamu...!"


"aku tau...! tapi aku kan bosan disini nungguin kamu...! boleh ga aku ikut kamu...? yah, setidaknya biar aku ga gelisah mikirin motorku yang hilang...!"


"motor atau buku dongeng...? hehehe..."


"terserah...!!!"


sejenak Wira terlihat berfikir, kemudian berkata, "baiklah, kamu boleh ikut, tapi dengan tiga syarat...! yang pertama, jangan pernah ikut campur urusanku...!"


Via mengangguk.


"yang kedua, turuti semua perintahku...!"


"baik, asal bukan perintah yang aneh-aneh...!" balas Via.


"setuju...! dan yang ketiga..., cepat mandi dan ganti baju...! kutunggu kamu disini sepuluh menit...! lewat dari itu kamu kutinggal...!"


"sepuluh menit...! hei, aku belum selesai makan...! mana cukup sepuluh menit untuk makan, mandi, ganti baju dan berias...!" protes Via.


"sembilan menit lima puluh lima detik...!" kata Wira sambil melihat jam tangannya.


"ayolah...! dua puluh menit ya...? eh, lima belas menit aja, deh...!"


"sembilan menit lima puluh detik...!"


"dasar brekele...!!!" umpat Via yang buru-buru bangkit dari duduknya dan berlari kekamarnya, tidak lupa dicomotnya beberapa potong roti dan daging semuat tangannya.


melihat tingkah Via, sontak Wira, Arum dan Rena tertawa geli.


...


selesai mandi kilat apa capung, Via meraih asal sebuah kaos polos dan jelana jins selutut dari lemari pakaian, dan bergegas memakainya.


"pas...!" gumamnya, kemudian mengambil lagi sepasang sepatu kain dan kaos kaki dari lemari sepatu.


"pas...!" gumamnya lagi.


"eh, tapi kok rasanya ada yang aneh...? apa ya...?"


merasa ada yang tidak benar, Via memperhatikan penampilannya di depan cermin.


"sepertinya ga ada yang salah...! ah, mungkin cuma perasaanku saja...!"


kembali Via mengabaikan perasaan aneh yang menyelimutinya.


setelah berias seadanya, buru-buru Via berjalan ke ruang makan untuk menemui Wira.


"mbak Arum, Wira mana...?" tanyanya tidak mendapati Wira disana.


"oh, tuan muda sudah menunggu di garasi, non..."


Via yang tidak mau ditinggal, langsung berlari kegarasi.


nampak Wira sudah berada diatas motor sambil memperhatikan jam tangannya.


"dua puluh detik...!" sahut Wira.


tanpa banyak bicara, Via langsung memakai helm dan duduk dibelakang Wira.

__ADS_1


"sudah siap...?" tanya Wira.


Via mengangguk, dan tanpa menunggu perintah, Via langsung memeluk Wira erat.


__ADS_2