PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
36. HILANG


__ADS_3

baru saja Wira menghentikan motornya, Via langsung meloncat turun.


bagaikan induk ayam kehilangan anaknya, Via berputar - putar mengelilingi parkiran penginapan.


merasa tidak menemukan yang dicarinya, Via langsung masuk ke dalam penginapan, diikuti Wira di belakangnya.


tanpa memperdulikan beberapa mesum yang sedang mengantre, Via langsung berjalan ke depan meja penerima tamu,


"mbak..., mbak...!" panggil Via, mengagetkan si penerima tamu.


"mohon ditunggu ya, kak...! saya sedang melayani tamu lain...! mohon ikuti antrean...!" balas si penerima tamu sopan.


"maaf mbak, saya bukan mau pesan kamar...! saya mau nanya, MOTOR SAYA MANA...? semalam saya parkir disana, kok sekarang ga ada...?!" Via terlihat panik.


sejenak si penerima tamu terlihat berfikir, kemudian menjawab,


"maaf kak, saya kurang tau...! coba nanti saya tanyakan bagian kebersihan, siapa tau mereka ada yang lihat...! silahkan kakak tunggu dulu disofa...!"


"saya tunggu diluar saja, mbak...!" balas Via yang langsung kembali parkiran, diikuti Wira dari belakang.


"memang motormu kamu parkir dimana...?" tanya Wira.


"semalam ku parkir dipojok situ, supaya tidak ada yang melihat Simba tidur didalamnya...!" jawab Via sambil menunjuk ke pojok kiri parkiran.


"oh, memang motormu motor apa...?" tanya Wira lagi.


"motor gandeng samping berwana pink...!"


"motor gandeng samping...! hmmm... aku rasa motormu tidak dicuri...! untuk apa orang mencuri motor aneh begitu...! selain terlalu mencolok, motor begitu juga susah dijual...! kalaupun ada yang mau membelinya, harganya pasti sangat murah...! jadi aku rasa motormu tidak dicuri...! mungkin ada yang sengaja memindahkannya...!"


"yah, mudah-mudahan kamu benar...! soalnya semua perlengkapanku ada disana...!" balas Via pelan.


tidak berapa lama, dua orang pria paruh baya datang menghampiri Via.


"malam Dik, ada yang bisa kami bantu...?" tanya pria yang lebih tinggi.


"malam Pak, saya mau tanya, apa bapak ada melihat motor saya...? motor saya motor gandeng samping berwarna pink, semalam saya parkir disana...!" kembali Via menunjuk ke pojok kiri parkiran.


terlihat kedua pria tadi mengingat - ingat, lalu yang lebih pendek berkata,


"oh, motor itu...! semalam sudah dibawa pergi, Dik....!" jawab pria itu.


"dibawa pergi...! sama siapa, pak...?!"


"waduh...! saya juga kurang tau, Dik..! sekitar jam dua subuh, saya melihat mereka mengutak-atik motor itu, karena penasaran, sayapun mendekat. sewaktu saya tanya, mereka bilang motor itu punya pacarnya yang memang sengaja ditinggal karena kuncinya hilang. karena saya perhatikan motor itu bukan motor bagus, ya saya percaya saja...! siapa sih yang mau mencuri motor seperti itu...!kemudian saya masuk, dan setelah itu, saya tidak melihat motor itu lagi, saya pikir mereka sudah menemukan kuncinya dan membawanya pergi...!" jelas pria tadi.


sejenak Via dan Wira saling memandang, kemudian Wira berkata,


"pak..., apa bapak masih ingat ciri-ciri mereka...?"


"hmmm... kalau tidak salah, mereka semua memakai rompi hitam. dua diantaranya berambut gimbal, dan satu berambut keriting...! yang lagi dua saya tidak ingat, soalnya saya tidak terlalu memperhatikan...!"


"apa yang berambut keriting memakai anting-anting di hidungnya...?" kali ini Via yang bertanya.


"i... iya...! apa mereka kenalan kalian...?" pria itu balik bertanya.


"yah, sepertinya begitu, pak...!"


"syukurlah...! saya kira mereka pencuri...! berarti kita tidak perlu melaporkan masalah ini ke Armada...?" pria itu terlihat lega.


"oh, tidak perlu, pak...! biar kami sendiri yang mencari kenalan Baru kami itu...!" sahut Via buru-buru.


"baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, mau melanjutkan pekerjaan kami di dalam..."


"silahkan, pak...! terima kasih informasinya...!"


"sama-sama, Dik...!"


...


selepas kedua petugas bersih-bersih tadi pergi, Wira langsung berkata, "ini pasti ulah mereka...! sepertinya mereka ingin membalas dendam dengan melarikan motormu...!"


"aku yakin begitu...! apa kamu tau kemana kira-kira mereka membawa motorku...?"

__ADS_1


Wira menggeleng,


"aku tidak tau...! tapi yang jelas, mereka tidak mungkin membawanya jauh dari sini...! untuk apa repot-repot membawa motor itu jauh-jauh, kalau hanya untuk dihancurkan...!"


"aku mengerti maksudmu..., lalu sekarang, darimana sebaiknya kita mulai mencarinya...?"


"aku rasa jangan sekarang...! selain ini sudah larut malam, kondisi kita juga sudah mabuk...! aku rasa sebaiknya besok siang baru kita mulai mencarinya...!"


"ta... tapi Wir...! bukankah lebih cepat kita mencarinya lebih baik...! semakin lama waktu kita mencarinya, peluang menemukannya akan jauh lebih besar...!" balas Via merasa keberatan dengan ide Wira.


"aku rasa tidak juga, hehehe...!" balas Wira tertawa ringan.


"kanapa kamu malah tertawa...? memangnya ada yang lucu dengan motorku yang hilang...!" tegur Via kesal.


"hahahaha... jangan marah sayang...! aku bukan menertawakan motormu yang hilang, aku hanya merasa kamu telalu polos...! coba kamu pikir, kota ini begitu luas, darimana kamu akan mulai mencarinya...?!" Wira bertanya balik.


"mana aku tau...! mungkin kita ke utara dulu...! atau mungkin ke selatan dulu...! yang mana saja boleh, yang penting kita mulai mencarinya sebelum mereka merusak motorku...!"


"kalau kita mencarinya sekarang, apa kamu kira motormu masih bisa ditemukan dalam keadaan sama...?ingat...! mereka membawanya semalam dalam keadaan mabuk...! dan pastinya mereka melapiaskan kekesalannya padamu dengan menghancurkannya...! jadi aku rasa kamu harus berfikir lebih rasional...!"


"a... aku tau itu... ta.. tapi..."


"tidak ada tapi-tapian...!!!" potong Wira dengan nada tinggi, wajahnya terlihat marah.


"ikuti saja kata-kataku...! sekarang kita pulang dulu...! besok baru kita susun rencana dan mencarinya...!" lanjutnya tegas.


melihat Wira marah, Via tidak berani membalas lagi.


merekapun kembali kerumah Wira.


...


sampai diruang tengah, Via langsung merebahkan diri disofa, sedangkan Wira pergi kedapur.


tidak berapa lama, Wira kembali membawa dua botol tuak yang sudah terbuka.


"nih, minum...! biar pikiranmu lebih tenang...!" katanya sambil menyerahkan sebotol ke Via.


"nih...!" kali ini Wira menyerahkan sebatang rokok yang sudah menyala.


kembali Via mengambil pemberian Wira dan menghisapnya dalam-dalam.


cukup lama mereka terdiam, asik dengan pikirannya masing-masing, hingga tiba-tiba Wira berkata,


"Vi..., kenapa kamu terlihat begitu khawatir...? apa sebegitu pentingnya motor itu bagimu...? atau ada sesuatu dimotor itu yang sangat berharga...?"


"kalau motornya sih aku tidak terlalu pusing, aku tinggal menelpon orang tuaku dan meminta uang untuk beli yang baru...! tapi..."


"tapi apa...?"


"ada sesuatu yang aku simpan dimotor itu yang sangat penting...!"


"apa...?"


"buku dongeng...!!!"


"buku dongeng...! hahahaha... hahahaha..." seketika meledaklah tawa Wira.


"aku kira apa...! ternyata buku dongeng...! hahahaha... Vi..., Vi...! tertanya kamu masih anak-anak...! hahahaha... hahahaha..."


melihat Wira menertawakannya, Via yang kesal langsung beranjak dari duduknya, dan hendak pergi.


melihat Via ngambek, secepatnya Wira menarik sebelah lengan Via.


Via yang tidak menduga Wira akan menariknya seketika kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak Wira.


kini, Via menindih tubuh Wira, dan jarak wajah mereka berdua sangat dekat, bahkan nyaris menempel.


"DEG...!"


merasakan hangatnya tubuh Wira dan hembusan nafasnya yang begitu dekat membuat jantung Via berdetak keras.


belum sempat Via menguasai keadaan, tiba-tiba tangan Wira membelai punggungnya lembut, dan mulai merapatkan bibirnya ke bibir Via.

__ADS_1


Via yang menyadari adanya bahaya langsung berkata, "Hei...! mau apa kamu...! jangan coba-coba cari kesempatan...!"


"aku bukan mau cari kesempatan, aku cuma mau menagih janji...! bukankah tadi siang ada yang berjanji mau memberikan segalanya sampai aku tidak akan pernah bisa melupakannya...?! hehehe..."


"oya...? siapa...?"


"jangan pura-pura lupa...! apa kamu bermaksud ingkar janji...?!"


"tidak...! aku tidak bermaksud ingkar janji...! aku tadi hanya lupa, gara-gara kebanyakan minum...!" kilah Via.


"apa itu berati sekarang kamu sudah ingat dan akan menepatinya...?"


"tentu saja...! sekarang tutup matamu...! supaya kamu bisa menikmati sesuatu yang akan kamu ingat seumur hidupmu...!"


Wira lalu menutup matanya.


perlahan Via mulai menempelkan bibirnya ke bibir Wira, dan...


"Aduh...!!!"


mendadak Wira menjerit kesakitan, disertai tangannya mendorong tubuh Via menjauh.


"kurang ajar...!!! apa yang kamu lakukan...?!" makinya sambil mendudukkan diri dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.


"hahahaha... aku hanya menepati janji...! hahahaha... hahahaha..." kali ini Via yang tertawa terbahak-bahak.


"bukankah sudah kubilang aku akan membuatmu tidak akan pernah melupakannya...! hahahaha... hahahaha..." lanjut Via masih tertawa terbahak-bahak.


"dasar cewek galak...! ah, tidak hanya galak...! tapi juga sinting...!!! hahahaha... hahahaha..." kali ini Wira ikut tertawa.


setelah puas tertawa, Wira kembali berkata, "apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik...?"


"sedikit...! tapi aku belum tenang...! bagaimana aku bisa tenang kalau belum mengetahui dimana motor dan bukuku...!" balas Via kembali murung.


"kamu tenang saja...! aku yakin besok pasti motormu akan ketemu...?"


"bagaimana kamu bisa yakin...? kamu sendiri tadi bilang tidak tau kemana mereka membawanya...!!!"


"aku memang tidak tau...! tapi besok aku pasti bisa menemukannya...! karena aku sudah tau caranya...!"


"oya? bagaimana...?"


"sekarang kamu tidak perlu tau...! besok saja kamu lihat kehebatanku menemukannya...! sebaiknya sekarang kamu habiskan minumanmu dan segera beristirahat...!"


Via mengangguk, lalu secepatnya meraih botol tuaknya, dan meneguknya.


setelah menghabiskan tuaknya, Via lalu berjalan sempoyongan menuju kamarnya.


baru saja Via membuka pintu, tiba-tiba Wira sudah berada di sampingnya,


"sayang..., apa mau kutemani...? hehehe..." tanyanya terkekeh.


"ga perlu...! dasar mesum...!!!"


secepatnya Via masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.


melihat Via yang sudah masuk, Wira lalu berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya.


sambil berjalan, nampak Wira bergumam sendiri,


"mirip, tapi tidak mirip...!


tidak mirip, tapi mirip...!


seperti Dia, tapi bukan Dia...!


bukan Dia, tapi seperti Dia...!


ah...! entahlah...!


yang pasti, Dia cukup menarik...!


MENARIK UNTUK DIJADIKAN BAHAN UJI COBA SELANJUTNYA...!!!"

__ADS_1


__ADS_2