PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
60. HASRAT DAN GAIRAH


__ADS_3

"aku mengerti posisimu, jika aku menjadi kamu, aku pasti akan melakukan hal yang sama...!" kata Via pelan.


"terima kasih atas pengertianmu, sayang...!" balas Wira tersenyum.


sesaat kedua insan berlainan jenis itu hanya diam, asik dengan lamunannya masing-masing, hingga tiba-tiba Via berkata,


"Wir, sepertinya sekarang sudah larut malam, bagaimana kalau kita beristirahat...? besok aku harus menempuh perjalanan jauh...!"


"ya, sepertinya aku juga sudah mulai pusing...!" balas Wira yang langsung berdiri, disusul Via.


baru saja mereka hendak melangkah, Wira yang menyadari sesuatu langsung berkata,


"hei, tunggu...! sepertinya ada yang belum beres...?"


"apa...?"


"bukannya kamu belum menjawab pertanyaanku tadi...?"


"pertanyaan yang mana...?"


"apa kamu benar-benar tidak menyukaiku...?"


"DEG...!!!"


tiba-tiba jantung Via berdetak keras.


"kan tadi aku sudah menjawabnya, aku tidak suka kamu...!" balas Via kembali berbohong.


"aku tidak percaya...! matamu tidak mengatakan itu...!" Wira menatap Via dalam.


"DEG...!!!"


tatapan Wira kembali membuat jantung Via berdetak keras.


"ah, itu hanya perasaanmu saja...! sudahlah, aku sudah mengantuk, aku mau istirahat...!" Via berusaha mengalihkan pembicaraan.


"itu bukan sekedar perasaanku, itu kenyataan kalau kamu berbohong...!"


"apa buktinya kalau aku berbohong...?"


"barusan kamu mengalihkan pembicaraan...! mengalihkan pembicaraan bukti seseorang sedang menyembunyikan sesuatu...!"


"jangan sok tau...!"


"aku bukan sok tau...! tapi aku memang tau...!" balas Wira tidak mau kalah.


"trus, sekarang kamu mau apa...?" Via terlihat mulai kesal.


"buktikan...! buktikan kalau kamu benar-benar tidak suka aku...!"


"caranya...?"


baru selesai Via berkata, tangan Wira dengan cepat meraih pinggangnya, menariknya, dan memeluknya, sehingga kini badan Via menempel erat dibadan Wira.


"lepaskan aku, kamu mau apa...? sakit tau...!" Via meronta, berusaha melepaskan pelukan Wira.


"jangan melawan...! kalau kamu melawan, aku akan semakin erat memelukmu, sampai kamu tidak bisa bernafas...!" ancam Wira.


Via yang menyadari kekuatan Wira jauh diatasnya akhirnya pasrah dan berkata, "iya, iya..., aku tidak akan melawan...! tapi kamu mau apa...?"


"sudah kubilang, buktikan kamu tidak suka aku...!"


"caranya...?"

__ADS_1


"peluk leherku...!"


sesaat Via nampak ragu,


"peluk leherku...!" perintah Wira lagi, kali ini dengan nada lebih tinggi.


perlahan Via mengalungkan lengannya dileher Wira.


"tatap mataku...!" perintah Wira lagi.


dengan malas Via menuruti kemauan Wira.


"DEG...!!!"


baru saja menatap mata Wira yang hanya berjarak dua jengkal dari matanya, kembali jantung Via berdetak keras.


"sumpah demi dewi Venus, kenapa Dia terlihat sangat tampan malam ini...!"


Via yang tidak ingin perasaannya ketahuan, buru-buru berkata, "apalagi...?"


"sekarang katakan kamu tidak menyukaiku...!"


"aku tidak menyukaimu...! puas...!" sahut Via cepat.


"belum...! tetap tatap mataku dan katakan kamu tidak menyukaiku...!"


"aku tidak menyukaimu...!" kali ini Via mengatakannya dengan sedikit lebih keras.


"sekali lagi, katakan kamu tidak menyukaiku...!"


"aku tidak menyukaimu...!!!"


sahut Via semakin keras.


"AKU TIDAK ME..."


baru saja Via hendak berteriak, tiba-tiba Wira mencium bibirnya.


"DEG...!!!"


Via yang tidak menyangka Wira tiba-tiba menciumnya terlihat panik,


"sial..., apa yang dilakukannya...! kenapa Dia menciumku seenaknya...!"


baru saja Via berusaha melepaskan bibirnya, Wira sudah ********** makin dalam, dalam dan dalam, hingga membuat Via hanya bisa pasrah, dan membiarkan Wira semakin dalam menciumnya.


awalnya Via merasa sangat tidak nyaman akan ciuman Wira, tapi lama-kelamaan, Wira yang terus menciumnya dengan liar dan penuh hasrat mulai menggoda gairah kewanitaanya, hingga akhirnya, Via secara tidak sadar mulai membalas ciuman Wira.


menyadari Via membalas ciumannya, tangan Wira mulai meraba lembut tubuh Via.


Wira yang sudah terbiasa memanjakan wanita diranjang tentu tau titik-titik sensitif Via, sehingga dengan mudahnya membuat Via semakin bergairah, dan kini, Via terlihat sangat menikmati setiap sentuhan Wira, dan mulai membalasnya.


cukup lama mereka saling mencumbu dan meraba satu sama lain, hingga tiba-tiba Via yang tersadar melepaskan diri.


"apa yang kulakukan...?! apa aku sudah mabuk...? bagaimana mungkin aku melakukan ini dengannya...! ayolah Via, sadar, hentikan ini...! ingat janjimu...! jangan terpengaruh olehnya...! jika kamu teruskan, mungkin kamu tidak akan bisa menahannya lagi...!"


"ada apa, sayang...? apa ada yang mengganggu pikiranmu...?" kembali Wira memeluk Via.


"maaf, Wir..., sepertinya aku tidak bisa melanjutkan ini...!" balas Via pelan.


"kenapa...? apa kamu benar-benar tidak suka aku...?" Wira terlihat kecewa.


"bukan begitu, hanya saja aku merasa ini terlalu cepat untuk kita...!"

__ADS_1


"sayang..., tidak ada kata terlalu cepat untuk Cinta...! jangan bimbang, ikuti saja kata hatimu, dan lakukan apa yang kamu inginkan...!"


"ta... tapi...?"


"tidak memberi kesempatan Via melanjutkan kalimatnya, kembali Wira mencium dan merabanya, tetapi kali ini dengan lembut dan penuh perasaan.


sesaat Via nampak masih ragu, tetapi efek tuak membuatnya sulit mengontrol tubuhnya yang meronta-ronta mendambakan sentuhan.


tidak lama, kembali Via dan Wira saling mencumbu, bahkan kali ini lebih panas dan bergairah dari tadi.


perlahan, Wira membaringkan Via diatas rumput taman.


"Vi..., aku sayang kamu...!" bisik Wira, sembari terus menciumi Via, dari bibir, dagu hingga kelehernya.


"emmm.... ah..." Via tidak membalas, hanya mendesah, menikmati setiap kecupan lembut Wira.


efek tuak semakin membuat mereka lupa diri, sehingga tanpa sadar, mereka mulai melucuti pakaian lawannya masing - masing.


kini, nampak Wira yang berada diatas sudah tidak mengenakan sehelai benang pun, sedangkan Via hanya tinggal menyisakan ****** ***** menutupi kewanitaanya.


"Vi, sadar Vi, sadar...! jangan lanjutkan...! ingat janjimu...!"


batin Via kembali mencoba menahan hasratnya yang semakin bergelora, tapi sayang, tubuhnya tidak bisa menolak keinginannya yang sudah tidak terbendung lagi.


Via hanya pasrah, seakan tidak peduli apa yang akan dilakukan Wira padanya.


tepat ketika Wira hendak melepas pertahanan terakhir Via, tiba-tiba,


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


dari kantong celana Via terdengar suara telpon genggamnya berbunyi, sehingga menghentikan kesenangan mereka.


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


kembali telpon genggamnya berbunyi.


"sayang..., TGmu bunyi, tuh...! coba kamu angkat, siapa tau telpon penting dari mama atau teman-temanmu...!" kata Wira sembari menggeser tubuhnya dari atas Via.


"ah, rasanya tidak mungkin...! tadi aku sudah menelpon mereka, dan mengatakan jangan hubungi aku lagi malam ini karena ingin aku ingin beristirahat...!" balas Via lalu secepatnya meraih telpon genggamnya.


sesaat Via hanya diam menatap layar TGnya.


"siapa, Vi...?" tanya Wira.


"entahlah, dari tadi siang nomer ini terus menghubungiku, tapi nomernya tidak tercatat di TGku...!" jawab Via malas, lalu menaruh TGnya kembali.


"ya sudah, kamu abaikan saja...! mungkin salah sambung...!" balas Wira kembali menciumi Via.


baru saja mereka hendak melanjutkan kesenangan yang tertunda,


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


kembali TG Via berbunyi.


"sayang, sebaiknya kamu jawab saja, daripada terus mengganggu kesenangan kita...!" kata Wira kesal.


"ya...!"


kembali Via meraih TGnya dan menekan tombol terima.


"hai cengeng, darimana saja kamu...? dari semalam aku menelponmu, tetapi tidak kamu angkat...! apa kabarmu...?"


"DEG...!!!"

__ADS_1


jantung Via kembali berdetak keras, takala mendengar sebuah suara yang sangat dirindukannya.


__ADS_2