
"kek, kenapa kakek tiba-tiba tertawa...? apa ada yang lucu...!" tanya Via heran.
"tidak, tidak ada yang lucu...! saya hanya merasa bahagia...! hahahaha... hahahaha..." balas kakek tua itu masih tertawa terbahak-bahak.
"hei, kakek tua...! apa yang membuatmu begitu bahagia sampai tertawa sekeras ini...?" kali ini Wira yang bertanya.
"itu bukan urusanmu anak muda...! ini urusanku dengan nona ini...!!!" jawab kakek tua itu seketika menghentikan tawanya.
"hei kakek tua...! apa kamu ingin membalas kata-kataku tadi...?" Wira terlihat kesal.
tidak menghiraukan Wira, kembali kakek tua itu berkata ke Via,
"nona kecil, boleh saya tau nama nona...?"
"saya Sephia Sheila, Kek..., biasa dipanggil Via...! kakek sendiri...?"
"panggil saja saya, kakek Cupet...!"
"baik, Kakek Cupet...!"
"nona Via berasal dari mana...?"
"saya dari desa Darmatemaja, kek...!"
"oh, dari Tanadewa...! ada gerangan apa nona kecil datang ke ibukota ini...?"
"sebenarnya tujuan saya bukan kekota ini, saya hanya mampir beberapa hari untuk beristirahat, tujuan saya masih jauh di selatan...!"
"untuk apa nona kecil pergi ke selatan...?"
"saya ingin menemui nenek saya untuk mempelajari sesuatu...!"
"mempelajari sesuatu...? apa itu pengobatan...?"
"ba... bagaimana kakek bisa tau...?"
"saya hanya menebaknya...! hampir semua pemilik kemampuan itu memiliki keinginan kuat untuk menjadi penyembuh...!"
"kakek benar, dari kecil saya memang memiliki keinginan untuk menyembuhkan berbagai penyakit...!"
"lalu, siapa nama nenek nona kecil...?"
"maaf, kek..., papa melarang saya untuk menyebutkan namanya...!"
"hmmmm... baiklah, saya mengerti...! tapi, apa nenek nona kecil mempunyai panggilan khusus...? atau mungkin julukan...?"
"kata papa, dulu nenek biasa dipanggil penyihir putih...!"
"penyihir putih...?! apa nona serius...?"
"i... iya kek...!"
"dasar Putih Gila...! bisa-bisanya selama ini Dia tidak memberitahuku kalau sudah punya cucu...! awas saja nanti kalau ketemu...!!!" umpat kakek Cupet menggumam sendiri.
"apa kakek mengenal nenek saya...?"
"tentu saja saya mengenalnya...! Dia salah satu teman baikku...!!!"
"wah, berarti kebetulan dong saya bertemu kakek disini...! apa kakek tau dimana nenek berada...?"
"saya tidak tau, sudah lima tahun saya tidak bertemu dengannya...! tapi saya rasa tujuan nona kecil sudah benar...! terus saja keselatan, pasti nona akan menemukannya disana...!"
"i... iya, kek...!"
"Ngomong-ngomong, kalau nona cucunya, berarti ibu nona anaknya...! apa ibu nona juga memiliki kemampuan khusus seperti nona...?"
"tidak, kek...! mama tidak memiliki kemampuan itu...!"
"darimana nona, tau...?"
"karena mama sendiri tidak yakin akan adanya kemampuan itu...! mama yang menyuruh saya menemui nenek untuk memastikan apa benar saya memiliki kemampuan itu...!"
"hmmmm..., itu aneh...!"
"aneh kenapa, kek...?"
"seharusnya kemampuan itu diturunkan dari orang tua ke anak, lalu diturunkan lagi ke cucu, dan seterusnya...! apa mungkin ibu nona sengaja menyembunyikan hal itu dari nona dengan tujuan tertentu...?"
"tujuan tertentu...?! tujuan apa, kek...?" Via nampak bingung.
"saya juga tidak tau, lebih baik nanti nona cari tau sendiri...! nah, sebaiknya sekarang nona kecil ikut saya kedalam, biar saya ceritakan dongeng itu...!"
tanpa bertanya lagi, Via dan Wira lalu mengikuti kakek Cupet berjalan ke sebuah pintu kayu berwarna coklat tua. dipinggiran pintu itu, terlihat beberapa simbol - simbol aneh diukir asal-asalan.
__ADS_1
sejenak Via nampak tertegun memperhatikan simbol-simbol itu.
"kek, ini simbol apa...? kenapa seperti sebuah kalimat...?" tanya Via penasaran.
"oh, itu memang sebuah kalimat yang ditulis dalam AKSARA BRAHMI...!!!"
"aksara Brahmi...?!"
"ya, itu aksara Brahmi...! aksara itu dulu digunakan sebelum kita mengenal abjad...!"
"oya...? lalu, apa kalimat yang tertulis di disini, kek...?" tanya Via lagi.
"kalimat itu dibaca, CANG SING NGELAH GAE...!!!"
"cang sing ngelah gae...?! bahasa apa itu, Kek...? artinya apa...?" tanya Via semakin penasaran.
"hahahaha... itu bukan sesuatu yang penting...! itu cuma ulah iseng seorang pemuda mabuk yang datang kesini waktu ini...!" balas kakek Cupet sambil membuka pintu.
"silahkan nona kecil masuk...!" kata kakek Cupet Mempersilahkan Via masuk.
"iya, kek...!"
Via lalu melangkahkan kakinya kedalam, disusul Wira dibelakangnya. tapi baru saja Wira hendak masuk, tiba-tiba kakek Cupet berkata lagi,
"hei anak muda, kamu mau kemana...?!"
"ya, saya mau masuklah...!"
"mau ngapain kamu masuk...?!"
"tentu saja saya mau menemani teman saya...!"
"untuk apa kamu menemaninya...?"
"ya karena Dia teman saya...!"
"saya tau Dia temanmu...! saya juga tau kamu menemaninya kesini...! tapi untuk apa kamu masuk kedalam...? apa kamu ada urusan didalam...?"
"saya tidak ada urusan didalam, saya hanya ingin menemaninya...!"
"kalau kamu tidak ada urusan didalam, sebaiknya kamu tunggu saja di sini...!"
"kakek aneh ya...! sudah tau saya kesini menemaninya, kenapa saya tidak boleh masuk...?" Wira terlihat kesal.
"kenapa tidak boleh...?" Wira balik bertanya.
"anak muda, kamu tuli, ya...!!! bukankah tadi saya sudah bilang, ini urusan saya dengannya, bukan urusanmu...!!! jadi sebaiknya kamu tunggu saja disini...!"
"dasar kakek sialan...! kamu memang sengaja ingin membalas kata-kata ku tadi ya...?!" umpat Wira kesal.
tanpa memperdulikan Wira yang kesal, kakek Cupet langsung menutup pintu.
...
"nah, sebelum saya bercerita, saya ingin nona kecil berjanji untuk tidak memberitahu apa yang akan nona tulis nanti ke siapapun, termasuk teman nona yang sombong tadi...!"
"i... iya, kek...!"
"dan satu lagi, mungkin cerita saya akan lebih panjang dari apa yang nona pernah baca di buku..., tapi percayalah...! yang saya ceritakan adalah kisah lengkapnya, sebelum di potong oleh pemerintah...!"
"kenapa pemerintah memotong cerita itu, kek...?"
"saya bisa saja mengatakan alasannya sekarang, tapi sebaiknya nanti nona cari tau sendiri...! karena bisa jadi apa yang saya ketahui sekarang, akan sangat berbeda dengan apa yang akan nona temui nanti...!"
"baik, kek..., saya mengerti...!"
...
hampir setengah jam berlalu, hingga akhirnya kakek Cupet mengakhiri ceritanya.
"hiks... hiks... hiks... ternyata ceritanya lebih sedih dari yang pernah saya baca...!"
"yah, begitulah...! saya harap nona kecil bisa belajar dari cerita ini dan tidak mengulangi kesalahan yang sama...!"
"i... iya, kek...!"
"baiklah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita kembali menemui teman nona yang sombong itu sebelum Dia mati bosan, hehehe..."
"i... iya, kek...!"
...
setelah berpamitan, Via dan Wira lalu pergi meninggalkan toko buku kakek Cupet.
__ADS_1
"apa kamu sudah senang sekarang...?"
"iya, aku sangat bahagia...! semua yang kucari sudah kudapatkan...! makasi ya, sudah mau menemaniku...!"
"untuk apa kata makasi, tidak ada gunanya...!"
"trus, kamu mau apa...?"
"balas budi...!"
"caranya...?"
"temani aku...!"
"temani apa...? di ranjang...? bercinta...? mau kupukul kepalamu pakai helm...?!"
"hahahaha... jangan galak begitu...! aku bukan mau itu...!"
"lalu...?"
"sekarang aku ada pertemuan seluruh biro, jadi aku minta kamu menemaniku...?"
"untuk apa...?"
"supaya tidak ada yang mendekatiku...!"
"mendekatimu...?! maksudmu...!"
"biar ku jelaskan, pertemuan seluruh biro itu bukan pertemuan resmi seperti rapat perusahaan -perusahaan besar, melainkan lebih menyerupai sebuah pesta besar yang penuh dengan makanan, minuman dan gadis-gadis cantik...!"
"lalu, apa hubungannya dengan ku...?"
"nah, dalam pesta itu, biasanya para gadis akan berusaha menarik perhatian ku...! yah, maklumlah, sebagai pemimpin biro cabang yang tampan, mereka semua pasti ingin menjadi pasanganku...!"
"lho, bukannya itu bagus...! siapa tau salah satu dari mereka ada yang bisa kamu ajak bersenang-senang, setidaknya untuk satu malam...!"
"aku sudah bosan dengan mereka semua...! mereka mendekatiku hanya untuk mencari muka...! diranjang yang mereka bicarakan hanya uang, kekayaan, posisi, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan...! tidak ada satupun dari mereka yang pernah kukencani benar-benar menyukaiku...! atau setidaknya tau cara bersenang-senang...!"
"hahahaha... rasain...! itu semua karmamu karena sering mempermainkan wanita...!"
"aku tidak perduli itu karma atau bukan, yang jelas, aku minta kamu menemaniku supaya tidak ada yang mendekatiku...!"
"jadi maksudmu aku berpura-pura jadi pacarmu...?"
"yah, kurang lebih seperti itu...!"
"kenapa kamu mengajakku, bukan mengajak Timi...? bukankah semalam kalian terlihat sangat mesra...? aku rasa Dia akan lebih baik dari dariku...!"
"aku tidak bisa mengajaknya...! selain karena Dia sekarang kerja, Dia masih polos dan lugu...! kurasa Dia tidak akan sanggup menghadapi sindiran dan tekanan yang akan dilakukan wanita-wanita iblis itu...!"
"jadi menurutmu aku mampu...?"
"tentu saja...! selain galak, kamu juga sedikit gila...!!! aku rasa mereka akan berfikir dua kali untuk mengganggumu...!"
"terima kasih atas pujiannya...! tapi sayang, aku harus menolaknya...!"
"kenapa...?"
"karena aku harus bersiap-siap untuk keberangkatanku besok...!"
"ah, kalau itu serahkan saja ke Amel, kujamin Dia pasti bisa mempersiapkan segalanya dengan baik...!"
"kamu yakin...?"
"sangat yakin...! Dia sudah berkerja padaku lebih dari sepuluh tahun...! kalau Dia sampai mengecewakanmu, besok langsung ku pecat Dia...!!!"
"hei, jangan terlalu keras padanya...! baiklah sebagai balas budiku karena sudah mau menemaniku berbelanja, aku setuju untuk menemanimu dan berpura-pura jadi pacarmu, tapi dengan syarat..."
"apa...?"
"jangan memanfaatkan keadaan dengan memeluk dan menciumku...!"
"ah, aku rasa itu mustahil...! mana ada yang percaya kamu pacarku jika kita tidak terlihat mesra...!"
"hm... baiklah, kamu boleh memelukku dan menciumku, tapi hanya sebatas pipi...! jangan di bibir...!"
"aku setuju...! aku berjanji tidak akan menciummu dibibir, kecuali..."
"kecualia apa...?"
"kecuali kamu yang memintanya...! hehehe..."
"tidak akan...!!!"
__ADS_1