
"apa semua ketua sudah datang...?" tanya Wira ke pria berjaket hitam disebelahnya.
"belum semua, tuan muda...! tuan muda Gundala, Tuan Godam dan Nona Asih sudah datang, yang belum tinggal Nyonya muda Saras...!" jawab pria itu, menjelaskan.
"ah, sudah kuduga..., pasti Dia yang paling terakhir...! dasar bekicot...!" gumam Wira.
baru selesai Wira bergumam, nampak empat orang anak buahnya yang berjas hijau tua datang mendekat, sedangkan sisanya yang berjaket hitam menunggu dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"hei lihat, siapa yang ada disini...! bukankah Dia rekan kerja si Bos...! hehehe..." sahut si Botak terkekeh.
"Tak, Tak...! kamu pikun, ya...?! sudah kubilang Dia bukan rekan kerja si Bos...! Dia Calon Nyonya Muda kita...!!!" sahut si Gondrong.
"eh, maaf Drong, aku lupa...! soalnya seingatku Dia rekan kerja si Bos di ranjang, hehehe...!" kembali si botak terkekeh.
mendengar kata-kata si Botak, Wira langsung menegurnya, "Hei, Botak, jaga ucapanmu...! kita ini sekarang sedang di rumah utama, bukan dikantor...!"
"eh, maaf Bos, saya lupa...! hehehe..." si Botak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"dengar, selama disini kalian semua harus memperlakukannya dengan sopan...! jangan asal bicara, apalagi sampai membuatnya malu, apa kalian mengerti...!" lanjut Wira tegas.
"kami mengerti, Bosss...!!!" sahut ke empat anak buahnya bersamaan.
"dan satu lagi, mulai sekarang panggil Dia dengan sebutan nona muda...!" kata Wira lagi.
"Wir..., aku rasa panggilan itu terlalu berlebihan...! biar mereka memanggilku nona Via saja...! itu lebih enak didengar...!"
"jangan...!" balas Wira cepat.
"panggilan nona dan nona muda memiliki makna yang berbeda...!" lanjutnya.
"apa bedanya...?" tanya Via kurang mengerti.
"biar saya saja yang menjelaskannya...!" kali ini si Krempeng yang menyahut.
"jika kami memanggil nona, itu berarti nona muda adalah teman, atau sekedar sahabat si Bos...! tapi jika kami memanggil nona muda, itu berarti nona muda adalah pacar, atau kekasih si Bos...!" jelas si Krempeng penuh semangat.
"Oh, baiklah..., kalau begitu saya tidak akan keberatan kalian memanggilku nona muda...!" balas Via, membuat keempat anak buah Wira tersenyum.
"apa itu berarti nona muda memang kekasih si Bos...?" tanya si Balon penasaran.
"tentu saja...! saya memang pacar Bos kalian...!"
...
"tuan muda..., apa tuan muda akan masuk sekarang...?" tanya pria berjaket hitam tadi.
"ya...!" jawab Wira singkat.
"baiklah, kalau begitu segera saya sampaikan tuan muda sudah datang...!"
"terima kasih...!"
tidak berapa lama, dua pria berjaket hitam membuka pintu utama.
dengan langkah pasti, Wira dan Via memasuki ruang utama, dikawal ke empat anak buah kepercayaannya dikiri dan kanan, sedangkan keseratus anak buahnya yang lain mengikuti dari belakang.
di dalam ruang utama yang sangat luas, terlihat lebih dari lima ratus orang sedang berbincang dan bersenda gurau.
tepat ketika Wira memasuki ruang utama, tiba-tiba pengeras suara berbunyi,
"mohon perhatian semuanya...! tuan muda Wira dari cabang tiga memasuki ruangan, harap semua memberi salam...!"
seketika semua yang ada disana menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Wira.
"selamat datang tuan muda Wira...! salam Kapak Naga...!" sahut mereka sambil membungkukkan badan.
"salam Kapak Naga...!" balas Wira dan semua anak buahnya.
selesai mengucap salam, seorang pelayan langsung menghampiri Wira sambil membawa nampan berisi beberapa gelas penuh dengan minuman.
"silahkan, tuan dan nona..."
secepatnya Wira mengambil dua gelas, dan menyerahkan salah satunya ke Via.
"minumlah...! lumayan untuk mengurangi grogimu...!"
tidak berlama-lama, Via langsung meraih gelas pemberian Wira.
"hmmm... tuak Kapten Oleng...! tuak yang bagus...!" gumam Via, mengagumi aroma segar yang keluar dari minuman yang dipegangnya.
"wow..., hebat juga kamu bisa tau ini tuak dari mana hanya dengan mencium aromanya...! apa kamu penggemar tuak...?" Wira nampak terkesan.
__ADS_1
"ah, tidak juga...! aku tidak terlalu suka tuak, aku lebih suka arak...! tapi aroma tuak ini sangat kukenal, karena temanku sangat menyukai tuak ini...!" balas Via yang langsung meneguk tuak ditangannya.
"temanmu yang itu...?"
"iya...!"
"berarti selera temanmu tinggi juga...! ah, aku jadi ingin bertemu dengannya dan menikmati sebotol dua botol tuak...!" balas Wira ikut meneguk gelas di tangannya.
sehabis meneguk tuaknya, Wira lalu mengajak Via menemui seorang Pria paruh baya yang mengenakan jas dengan warna yang sama dengannya.
"Vi, kenalkan ini tuan Godam, ketua cabang empat...! Tuan Godam, kenalkan ini Via, kekasih saya...!"
"salam kenal, nona muda Via...!"
"salam kenal juga, tuan Godam...!"
setelah berbasi-basi sebentar, Wira lalu mengajak Via menemui seorang pemuda tampan berusia sekitar 26 tahunan. sama dengan tuan Godam, pemuda itu juga mengenakan jas berwarna sama dengan Wira.
"Vi, kenalin ini tuan muda Gundala, ketua cabang satu...! Kak, kenalin ini Via, pacar baruku...!"
"salam kenal, tuan muda Gundala...!"
"salam kenal juga, nona Via yang cantik...!" balas Gundala sambil mencium punggung tangan Via.
"ngomong-ngomong, sudah berapa lama nona pacaran dengannya...?"
"belum berapa lama, tuan muda..., baru-baru ini saja...!"
"oh, kalau begitu nona mesti berhati-hati...!"
"berhati-hati kenapa, tuan muda...?"
"karena isi otaknya cuma dada dan ************...! hahahaha... hahahaha..." balas Gundala tertawa lebar.
"baik, tuan muda...! saya pasti berhati-hati...!" balas Via tersenyum.
kembali Wira mengajak Via menemui seseorang, kali ini seorang gadis cantik bermata biru, berambut panjang hitam kemerahan.
nampak gadis itu mengenakan gaun yang sangat seksi, berwarna sama dengan jas Wira.
"Sih, kenalin, ini Via pacar baruku...! Vi, kenalin, ini Asih ketua cabang lima...!"
"saya Via...!"
"sudah berapa lama kalian pacaran...?" tanya Asih.
"tidak terlalu lama..., baru-baru ini kami menjalin hubungan...!" jawab Wira.
"ow..., kenal dimana kalian...?"
"Dijalan...! Dia menolong saya sewaktu saya diganggu orang mabuk...!" kali ini Via yang menjawab.
"kamu orang mana...?"
"saya orang Darmatemaja, Provinsi Tanadewa...!"
"Tanadewa...! jauh sekali...! disini kamu tinggal dimana...?"
"sementara ini saya tinggal dirumah Wira...!"
"eh, kamu tinggal disini...?" Asih nampak terkejut.
"disini...?!" Via terlihat bingung.
"bukan, bukan disini....! Dia tinggal dirumah kecilku...!" sahut Wira tiba-tiba.
"oh, di villamu...! apa kalian tinggal sekamar...?" tanya Asih lagi penuh selidik.
"untuk apa kamu menanyakan itu...?! apa kamu cemburu...?" Wira balik bertanya.
"tentu saja aku cemburu...! bukankah kamu tau sendiri dari dulu aku mencintaimu...!" balas Asih terus terang, seolah tidak perduli Via adalah pacar Wira.
"tapi aku tidak mencintaimu...!" balas Wira.
"aku tidak perduli kamu cinta aku atau tidak...! yang jelas aku cinta kamu...! dan sekarang aku merasa cemburu...! karena itu cepat jawab, apa kalian tinggal sekamar...?!" tanya Asih lagi, kali ini dengan intonasi tinggi, penuh penekanan.
"tidak..., kami tidak sekamar...! kamarku dan kamarnya berbeda...!" kali ini Via yang menjawab.
"oh begitu...! apa kalian sudah pernah bercinta...?!" kembali Asih bertanya penuh penekanan, seolah-olah Dia adalah seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
"ti... tidak..., kami belum pernah melakukan itu.. !" jawab Via lagi.
__ADS_1
"bagus, kalau begitu kamu harus berfikir baik-baik sebelum bercinta dengannya...! Dia bukan tipe pria yang setia...! setelah puas bermain-main denganmu, maka Dia akan mencampakkanmu begitu saja...!" Asih terlihat menasehati Via.
"baik, nona Asih...! saya akan mengingat nasehat nona...!"
"jangan panggil aku nona, panggil aku Asih saja...!"
"ah, mana bisa begitu...! bukankah nona Asih orang penting disini...? sungguh tidak sopan jika saya hanya memanggil nama saja tanpa gelar didepannya...?" Via terlihat sungkan.
"oh, itu tidak perlu...! panggilan dengan gelar hanya berlaku untuk orang yang jauh lebih tua, atau yang berpangkat lebih tinggi...! umurmu dan umurku tidak jauh beda, dan posisimu disini adalah pacar Wira, yang itu berarti sejajar dengan posisiku...! karena itu sebaiknya kamu panggil nama saja...!" jelas Asih.
"hmmm..., tapi..." Via nampak ragu.
melihat Via ragu, Wira langsung berkata,
"Vi, Asih benar...! kamu harus memanggilnya dengan nama saja tanpa gelar, supaya orang tidak mengangap kamu lebih rendah dariku atau darinya...! begitu juga dengan Gundala, kamu jangan memanggilnya tuan muda, tapi panggil saja kakak Gundala...! hanya tuan Godam, Tuan besar dan Nyonya besar yang harus kamu panggil dengan gelar didepannya...!"
"i... iya, Wir..." akhirnya Via tidak membantah lagi.
selesai Via berkata, tiba-tiba pintu kembali terbuka.
nampak seorang wanita cantik bergaun panjang, berwarna sama dengan jas Wira memasuki ruangan. disampingnya berjejer delapan gadis cantik mengenakan gaun panjang berwarna hijau tua. dibelakangnya mengikuti ratusan gadis dan wanita berjaket hitam.
"mohon perhatian semuanya...! nyonya muda Saras dari cabang dua memasuki ruangan, harap semua memberi salam...!"
kembali semua yang ada disana membungkukkan badan memberi salam.
selesai membalas salam, wanita yang dipanggil nyonya muda Saras langsung berjalan ke arah tuan Godam. setelah berbasa-basi sebentar, kemudian berjalan lagi ke arah Gundala, lalu kemudian mendekati Wira, Via dan Asih.
"akhirnya..., nyonya Bekicot datang juga...! darimana saja, kak...? kok lama sekali...?" tanya Wira ke Saras.
"jangan banyak tanya...! itu urusanku, bukan urusanmu...!" balas Saras ketus.
"jangan marah-marah, kak...! nanti cepat tua...! hehehe..." goda Wira.
"biarin...! aku ga perduli...!" sahut Saras tetap ketus.
"Sih, apa kabarmu...? apa cabangmu lancar...?!" Saras mengalihkan padangannya ke Asih.
"lancar, kak Saras...! semua aman terkendali...!" balas Asih, tersenyum.
"bagus...! hmmm..., kamu siapa...? rasanya aku belum pernah melihatmu...?" kali ini Saras bertanya ke Via.
"saya Via, Kak..., pacar Wira...!" jawab Via sopan.
"pacar Wira...! kamu darimana...? keluarga mana...? siapa bapakmu...?"
"hmmm... saya dari..."
baru sepatah kata Via menjawab, kembali Saras berkata, "sudahlah, tidak perlu kamu jawab...! itu tidak penting...!!! yang lebih penting, apa tujuanmu memacarinya...? apa kamu menginginkan kekayaannya...?! apa kamu ingin menjadi nyonya muda keluarga kami...? atau jangan-jangan kamu hanya sekedar ingin mencari nama dan menaikkan derajatmu...?!" tuduh Saras.
"maaf, kak...! saya sama sekali tidak ada keinginan seperti yang kakak katakan tadi...! saya pacaran dengannya karena saya jatuh cinta padanya....!" balas Via tetap sopan.
"jatuh cinta...! huh, jangan bohong...! tidak mungkin kamu mau berpacaran dengannya hanya karena jatuh cinta...! pasti kamu memiliki niatan lain...!" kembali Saras menuduh Via
"sungguh, kak, saya tidak bohong...! saya hanya..."
"sudahlah, Vi...! percuma juga kamu jelaskan, Dia tidak akan percaya...!" sahut Wira memotong kata-kata Via.
"Dia memang seperti itu, pikirannya selalu negatif...!" lanjut Wira.
"aku tidak negatif...! aku hanya mencoba melindungi keluarga kita dari orang-orang yang ingin mencuri kekayaan keluarga kita...!" balas Saras sengit.
"tapi bukan seperti itu caranya, kak...! apa kakak tidak puas dari dulu menuduh dan menghina pacar-pacarku sehingga mereka semua pergi meninggalkanku...?!" balas Wira mulai kesal.
"itu bukan salahku kalau mereka meninggalkanmu, mereka saja yang terlalu manja...! bukankah sudah seharusnya calon nyonya muda dikeluarga ini memiliki mental yang kuat...?!" balas Saras lagi.
"terserah kakak saja...! malas aku bicara dengan kakak...!"
"siapa suruh kamu bicara denganku...! bukannya dari tadi aku bicara dengannya...? kamu saja yang ikut campur seenaknya...!" balas Saras tidak mau disalahkan.
"nah, kamu...! kamu belum jawab pertanyaanku tadi...! ada maksud apa kamu mendekati Dia...?" kembali Saras menoleh Via, kali ini dengan tatapan tajam.
"kak, sudah saya bilang dari tadi, saya tidak ada maksud apa-apa...! saya benar-benar jatuh cinta pada Wira...!"
sejenak Saras terlihat menyipitkan matanya, lalu berkata,
"baiklah, walapun saya masih tidak percaya padamu, saya tidak akan menanyakannya lagi...! tapi ingat, kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya, kamu harus siap untuk menerima kemungkinan terpahit...!"
"kemungkinan terpahit...?! maksud kakak...!" Via terlihat mengerutkan dahinya.
"mungkin saja orang yang kamu cintai ini tidak pernah mencintaimu...! Dia menjadikanmu pacarnya dan mengajakmu kesini hanya untuk memanfaatkanmu, dan menjadikanmu BAHAN PERCOBAANNYA...!!!"
__ADS_1