PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
17. DATANGNYA ANCAMAN


__ADS_3

satu setengah bulan telah berlalu semenjak Via memulai latihannya.


"empat puluh delapan...


empat puluh sembilan...


lima puluh...!


yap, akhirnya selesai...!"


tidak seperti pertama kalinya, kini Via dengan ringan mengayunkan badannya memecah riak air dikali. lima puluh putaran bukan perkara berat lagi baginya, sudah seperti santapan hariannya.


sambil memeras baju dan celananya yang basah, Via menatap kelangit, mengukur teriknya mentari pagi itu.


"hmmm..., sepertinya hari ini pakaianku akan lebih cepat kering...!" gumamnya seraya menjemur pakaiannya diatas sebuah batu besar.


"kamu sudah lapar...?" tanyanya kepada seekor mahluk berbulu putih lebat yang semenjak tadi mengamatinya.


seolah mengerti maksud perkataan Via, mahluk itu langsung meloncat-loncat kegirangan.


"bagaimana kalau sekarang kita melihat hasil tangkapan kita hari ini...? " Via lalu menarik sebuah jaring yang semenjak tadi dipasangnya di pinggir kali.


"tiga ekor, lumayan..., cukup untuk kita berdua...!" gumannya.


Via kemudian mengambil beberapa peralatan dari ranselnya dan mulai menyalakan api.


tidak berapa lama, Via dan mahluk itu asik menyantap tiga ekor ikan yang dipanggang seadanya.


"enak, Sim...?" tanya Via sambil mengelus-elus kepala mahluk yang tidak lain adalah Simba, anjing kesayangan Adi.


Simba tidak menghiraukan Via, asik mengunyah makanan dimulutnya.


melihat Simba yang cuek, membuat Via termenung.


"isshhh..., ga anjingnya...! ga tuannya...! sama aja...! kalau sudah dapat makanan enak, ga perduli apapun...! biar ada orang sekarat di depannya, tetap saja cuek...!!! hemmm..., tapi sifatnya yang begitu malah membuatnya lebih menarik, hehehe..." Via senyum-senyum sendiri membayangkan Adi.


"gong...!!!"


tiba-tiba Simba berdiri dan menyalak, membuyarkan lamunan Via.


"kenapa Sim...? ada apa...?"


"gong...!!! rgggghhhh...!!!" kembali Simba menyalak, lalu membalikan badan dan menggeram, seakan-akan memeberitahu Via kalau ada musuh yang mendekat.


menyadari ada yang tidak beres, secepatnya Via merapikan bekas makan mereka dan bergegas mengenakan pakaiannya kembali.


"kresek... kresek..."


dari jauh, Via mendengar suara ranting terinjak.


"ada yang datang...! siapa ya...?" batinnya waspada.


"grrrhhhh...!!!" kembali Simba menggeram.


"sepertinya bukan orang desa ini, kalau orang sekitar sini, Simba tidak mungkin merasa terancam...! ah, sebaiknya aku sembunyi dulu sambil memperhatikan keadaan..."


"Sim..., kamu jangan berisik...! sembunyi saja dulu disana, kita lihat keadaan...!"


Simba yang pada dasarnya anjing cerdas langsung mengerti maksud tuan ke-duanya, dan bersembunyi ditengah semak-semak yang ditunjuk Via.


sedangkan Via langsung memanjat pohon yang paling rimbun dan ikut bersembunyi.


selang beberapa saat, dari balik pepohonan muncul orang-orang berjas merah.


"lho, bukannya mereka anak buah Brandon...! mau ngapain mereka kesini...?!" batin Via terkejut.


orang-orang berjas merah itu nampak memperhatikan sekelilingnya, seolah mencari sesuatu.


tidak berapa lama, muncul lagi beberapa orang berjas merah serta seorang pemuda dengan bekas luka membaret dari pelipis kanan, hingga ke pipi.


"apa Dia ada disini...?!" seru pemuda yang tidak lain adalah Brandon.


"ti... tidak ada tuan...! sepertinya Dia tidak ada disini...!" jawab salah satu pria berjas merah itu.


"kalau begitu, cari lagi ditempat lain...! menurutmu informan kita, Dia sudah sebulan tidak pernah ke kampus, dan setiap hari masuk ke hutan ini...! masa menemukan satu orang gadis saja kalian tidak bisa...!!! apa kalian semua mau ku pecat...!!!" Brandon terlihat sangat kesal.


"ti... tidak tuan...!!!" jawab semua pria berjas merah itu.


dengan panik, kembali orang-orang berjas merah itu mencari kesana-kemari, sampai akhirnya, ketika tidak menemukan apa yang dicari, mereka mulai berpindah tempat.


tidak lama setelah Brandon dan anak buahnya pergi, perlahan Via turun dari pohon tempatnya bersembunyi.


"sepertinya mereka mencariku, Dia pasti mau balas dendam masalah malam itu...! tidak kusangka Dia bisa tahu aku ada disini, sepertinya aku harus segera membicarakan ini dengan Siska dan Ayu...!"


"Simba, ayo kita pulang...!"


"gong...!!!"


secepatnya Via dan Simba meninggalkan hutan dan kembali kerumahnya.


***


"siang, Ma...!"


"eh, anak mama sudah pulang...! gimana latihannya...?"


"beres Ma...! walaupun tadi ada sedikit gangguan...! tapi semuanya aman terkendali...!"


"gangguan...! gangguan apa...?!" mamanya mengerutkan dahi.


"itu Ma..., tadi ada orang -orang aneh masuk kehutan, tapi ga tau mau ngapain...! mungkin kesasar...!"


"tapi mereka ga ngapa-ngapain kamu, kan...?"


"ngga Ma..., Via ga ketemu mereka, Via sembunyi diatas pohon...!"


"ow..." mamanya manggut-manggut.


"ngomong-ngomong, kamu sudah makan...?"


"sudah Ma, tadi nangkap ikan dikali...!"


"ya sudah, kalau gitu kamu mandi sana, habis itu istirahat, nanti sore kan kamu harus latihan lagi."

__ADS_1


"iya, Ma..."


...


selesai mandi, Via membaringkan diri diranjangnya.


baru saja hendak memejamkan mata, Via yang teringat sesuatu langsung meraih Telpon Genggamnya.


"ring.... ring..."


"halo Vi... ada apa? tumben nelpon siang-siang?"


"Sis, kamu lagi dimana?"


"lagi dikampus..."


"pulang jam berapa?"


"sekitar jam tiga, kenapa?"


"nanti pulang dari kampus kita ketempat Ayu, ya? ada hal penting yang mau aku bicarain dengan kalian."


"memang, mau bicarain apa?"


"mengenai Brandon...!"


"Brandon...! kenapa dengan Brandon...?"


"nanti saja disana aku kasi tau...!"


"oh, oke...! berarti nanti jam setengah empat kita ketemu di tempat Ayuk..."


"iya, aku tunggu ya, dah Siska..."


"dah Via..."


"tuttttt..."


sehabis menelpon Siska, Via langsung mengetik pesan.


Via : "Yu, kamu dimana?"


Ayu : "di kantor, kenapa Vi?"


Via : "nanti sore sekitar jam 3 aku sama Siska mau main ke tempatmu..."


Ayu : "boleh, jangan lupa bawa oleh-oleh ya, hehehe..."


Via : "beres..."


kembali Via membaringkan diri diranjangnya.


"gimana kabar Adi ya? apa Dia sehat? apa Dia masih hidup? kenapa sudah lebih sebulan ga ada kabar sama sekali?"


"Di... sebenarnya kamu dimana...? kamu tau ga aku khawatir? kamu tau ga aku kangen sama kamu? kamu tau ga aku lelah menunggu kabar darimu...? kamu tau ga aku capek... aku ngantuk... dan mau tidur... zzzzzz..."


***


"Hah...! Adi...!!!"


suara panggilan masuk di telpon genggamnya membangunkan Via.


dengan cepat tangannya meraih TG yang berada disamping kepalanya.


"Di..., apa kabar? kamu kemana saja? kok ga pernah ngasi kabar...?"


"......." si penelepon tidak menjawab.


"Di..., kok diem...?"


"Da Di Da Di...! ini Siska Vi, bukan Adi...!"


"eh... oh... Siska...!" Via memicingkan sebelah matanya, melihat layar TG.


"ma... maaf Sis... aku baru bangun, kukirain barusan Adi yang nelpon, hehehe..., mmmm.... ada apa, ya?"


"issshhh..., enak banget yang sudah berhenti kuliah...! bisa tidur siang kapan saja, hehehe..., kita jadi ke tempat Lemon ga...?"


"oh, iya..., jadi dong...!"


"kalau gitu cepetan siap-siap! aku sudah dijalan, sekarang aku jemput kamu kerumah...!"


"eh, tapi inikan baru jam 1 lebih, kok kamu sudah pulang...?"


"aku bolos...! malas aku dengerin teori-teori tuan Similikiti...! mendingan ngurusin masalahmu dengan Brandon, sepertinya lebih seru...! hehehe..."


"dasar...! ya sudah, kalau gitu tunggu aku dibawah, aku siap-siap sekarang..."


"oke..."


"tuttttt....."


***


sehabis mencuci muka dan mempersiapkan peralatannya, Via langsung turun menemui Siska.


"sudah siap, Vi...?"


Via mengangguk.


"Ma..., Via pergi dulu ya, ada urusan sama Siska dan Ayuk. nanti bilangin papa Via hari ini latihan sendiri."


"iya, sayang..., jangan lupa makan, kamukan belum makan siang...!


"


"iya, Ma..."


***


siang itu, dikantin perpustakaan desa tempat Ayu bekerja, Via, Siska dan Ayu asik berbincang sambil bersantap siang.


"nyam... nyam... tumben kamu ngajak kita ketemuan siang-siang? memang mau ngomongin apa? nyam... nyam..." Ayu membuka percakapan sambil melahap 10 kentang goreng sekaligus.

__ADS_1


"kamu masih ingat Brandon, pacarnya Sonia...?"


"nyam... nyam... oh, Brandon yang katamu kamu pukul pakai botol malam itu...?"


Via mengangguk,


"tadi pagi, sewaktu aku latihan dihutan, Dia datang bersama anak buahnya, sepertinya Dia mencariku."


"oya...?!"


Via mengangguk.


"iya, sepertinya Dia mau balas dendam kejadian malam itu...!"


"nyam...nyam... kok Dia bisa tau kamu ada dihutan ya?"


"dari percakapan mereka yang kudengar, katanya sih dari informannya...! ternyata selama ini Dia mengirim mata-mata untuk mencari dan mengawasiku, sehingga Dia bisa tau aku ga pernah kekampus lagi, dan setiap hari pergi ke hutan utara...!"


"hmmm.... sepertinya Dia benar-benar marah kekamu...! trus, apa tadi mereka menemukanmu...?" kali ini Siska yang bertanya.


Via menggeleng.


"untunglah sebelum mereka sampai Simba menggonggong, sehingga aku masih sempat bersembunyi diatas pohon, kalau tidak, mungkin aku sudah jadi bulan-bulanan mereka...!"


"yah, itu kalau mereka bisa mengejarmu, nyam... nyam... larimu kan sekarang sudah kayak kijang, aku rasa tidak semudah itu mereka bisa menangkapmu, nyam... nyam..." kali ini Ayu memasukkan 3 potong sosis bakar sekaligus ke mulutnya.


"lalu sekarang apa rencanamu...? waktu kepergianmu masih satu setengah bulan lagi, apa kamu akan akan tetap berlatih di hutan utara atau pindah tempat...?" tanya Siska lagi.


"aku juga belum tau, Sis...! makanya aku mau minta pendapat kalian sebaiknya bagaimana...! kalau aku tidak berlatih dihutan lagi, nanti kemampuanku bisa menurun, dan yang pasti, papa akan curiga dan menanyaiku macam-macam...! saat ini aku belum ingin mereka tau masalah ini, aku takut papa dan mama khawatir, sehingga bisa-bisa aku dipercepat pergi ke tempat nenek...!"


"lho, bukannya itu malah bagus...! jadi kamu bisa semakin cepat belajar ilmu perdukunan...! nyam... nyam..."


"pengobatan tradisional Yuk, bukan perdukunan...!' protes Via.


"ah, sama saja...! sama-sama ilmu ga jelas, hehehe..." sahut Ayu terkekeh.


"Lemon benar, Vi... bukannya seharusnya kamu senang karena bisa lebih cepat jadi dukun...??"


"jadi tabib Sis! TABIB...!!!" Via terlihat sewot.


"iya, iya, itu maksudku, hehehe...!" Siska ikut terkekeh.


"aku sih sebenarnya ingin secepatnya kesana, tapi kata mama, kalau belajar disana akan memakan waktu lama, mungkin sekitar tiga sampai lima tahun, tergantung kecepatanku mempelajari semuanya. dan kalau aku sudah mulai belajar, aku dilarang untuk meninggalkan Nenek sebelum lulus. kalau aku melanggar, maka Nenek tidak akan mau mengajariku lagi...!"


"oya...! masa sih sampe sebegitunya...?! ternyata nenekmu keras juga, ya...! nyam... nyam..."


"iya Yu..., selain keras dan tegas, Nenekku juga kejam dan sadis...! ishhh..., pokoknya seram deh...!" Via kembali membayangkan neneknya seperti di buku dongeng.


"kalau begitu, berarti kita ga akan ketemu kamu dalam waktu lama dong...?" Siska terlihat sedih.


"iya Sis, makanya aku ga mau cepat-cepat pergi...! aku maunya berangkat setelah ulang tahunku yang kedua puluh satu...! aku ingin merayakannya terakhir kali bersama kalian, siapa tau saja nanti dihutan aku dimakan binatang buas dan tidak kembali lagi...!!!"


"hush...! jangan ngomong aneh-aneh...!!! kamu kan masih perawan...! masa kamu mau mati sebelum pernah merasakan nikmatnya bercinta...! hehehe..." Siska kembali terkekeh.


"atau jangan-jangan..., kamu ingin bercinta dulu sebelum pergi...! hehehe..." Ayu ikut terkekeh.


"jangan ngawur, Yu...! memang sama siapa aku mau begitu...?! pacar saja aku ga punya...!!!" wajah Via nampak memerah.


"yah, siapa tau saja nanti kamu lupa diri dan..."


"dan apa...!" potong Via kesal.


"sudah deh, jangan ngomongin itu lagi...! yang jelas sekarang, apa kalian punya solusi buatku...?" lanjutnya.


"aku sih belum kepikiran apa-apa, nyam... nyam... kalau kamu Sis...? nyam... nyam..." Ayu menoleh ke Siska sambil memasukkan 3 tempe crispy ke mulutnya.


"sama..., aku juga belum punya saran apa-apa..." Siska menghela nafas panjang.


sejenak mereka terdiam, asik dengan pikirannya masing-masing.


selang lima menit, tiba-tiba Ayu berkata, "bagaimana kalau kita bicarakan masalah ini dengan MEREKA? aku rasa mereka pasti punya jalan keluarnya...!"


"aku setuju...! sebaiknya malam ini kita undang mereka untuk ngumpul sambil menikmati sebotol dua botol arak...! biasanya kalau sudah mabuk, mereka punya ide brilian...!" Siska menimpali.


"iya, terutama Adi...! kalau Dia sudah mabuk, otaknya tiba-tiba jadi jenius...! ah, tapi sayang, Dia sudah ga disini lagi...!" Via terlihat kecewa.


"cie cie..., yang keinget terus sama Adi...!" goda Ayu.


"apaan sih...!" kembali Via telihat sewot.


"tapi memang benar kan kamu terus mikirin Adi...? buktinya tadi siang, waktu aku nelpon kamu..., kamu langsung bilang, 'Di..., kamu dimana? kemana saja? kok baru nelpon aku...? aku kangen tau...! aku rindu...! aku cinta kamu...! muah....!" Siska ikut menggoda.


"Siska...! jangan ngaco deh...!!! mana ada aku ngomong kayak gitu...!!!" wajah Via semakin memerah, semerah lampu merah dimalam hari.


"udah deh Vi..., ga usah mengelak...! kamu benar kangen kan sama Dia...?! hehehe..." kembali Siska menggoda.


Via hanya diam, tidak menjawab.


"Di..., aku cinta kamu..." tiba-tiba Siska memegang tangan Ayu, dan bertingkah seolah adalah Via.


"aku juga cinta kamu Vi..." balas Ayu meniru Adi.


"aku sayang kamu, Di..." balas Siska lagi


"aku juga sayang kamu, Vi..." balas Ayu.


"cium aku dong..."


"muah..."


"muah..."


"hahahaha.... hahahaha..."


Via yang terus digoda akhirnya tidak tahan,


"kalian ya...! untung kalian sahabatku, kalau bukan, sudah ku jadiin sate kalian berdua karena berani menggodaku...!!!" ancam Via bercanda.


"uh..., takut...! mentang-mentang calon dukun, galaknya sekarang luar biasa...! hahahaha..." Ayu tertawa lebar.


"dukun apa Mon...?! dukun beranak...!!! hahahaha..." Siska ikut tertawa lebar.


"dasar kalian bodoh...!!! hahahaha... hahahaha..." Via ikut tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


__ADS_2