PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
25. KEMAMPUAN KHUSUS


__ADS_3

"sesuai perjanjian kita tadi, kami meminjamkanmu telepon untuk mengucapkan selamat atas pernikahan saudaramu, dan kamu akan memberitahu kami dimana letak markas kalian...! jadi sekarang, cepat katakan dimana markas kalian...!!!"


"baiklah...! itu di rumah Bladuk...!"


"Bladuk...!!! siapa Bladuk...!"


"sama seperti yang tadi kutelpon, temanku dirumah yang sudah kuanggap sebagai saudara...!"


"jangan bercanda...!!! kami tidak ada urusan dengan teman-temanmu dirumah...! yang kami tanya, dimana letak markas ORPEKEDIA...?!"


"kalau itu aku tidak tahu...! bukannya dari pertama kali kalian menangkapku, aku sudah bilang kalau aku tidak tahu...! aku bukan anggota mereka, aku hanya kebetulan..."


"Plak...!!!"


"Bangsat...!!! jadi kamu bermaksud membohongi kami...!!!"


"aku tidak berbohong...! kalian saja salah mengerti...! aku kan berjanji untuk memberitahu markas kami, dan kami yang kumaksud adalah persaudaraanku dengan teman-temanku dirumah...! jadi kalau kalian salah mengartikannya, itu bukan salahku...! kenapa tidak dari awal kalian perjelas markas yang kalian maksud itu markas ORPEKEDIA...! hehehe..."


"Plak...!!!"


"kurang ajar...! beraninya kamu mempermainkan kami...! kamu mau cari mati ya...!!! siksa Dia sampai mati...! lalu lempar mayatnya ke laut, biar dimakan hiu...!!!"


"tu.. tunggu...!!!"


"kenapa.. ?! apa kamu takut sekarang? bocah sialan...!!!"


"aku bukannya takut...! tapi coba kalian periksa, nomer telpon mana yang tadi kuhubungi...!"


"hei, kalian...! coba cek, kemana bocah keparat ini barusan menelpon...!"


"su... sudah komandan...! Dia barusan menelpon ke negara BALI...!"


"negara Bali...! apa kalian tidak salah...?"


"tidak komandan..., kami sudah memastikannya, Dia..."


"mereka tidak salah, aku memang berasal dari sana...! hehehe... jika temanku melaporkan bahwa aku hilang dan mereka mengetahui bahwa aku disini..., lalu ketika mereka mencariku dan menemukan bahwa aku dibunuh tanpa alasan yang jelas, Kira-kira apa yang akan dilakukan pemerintahku terhadap kalian...?! hahahaha...???"


"Bangsat...!!! jadi sekarang kamu mencoba mengancam kami...???"


"aku tidak mengancam...! aku hanya memperingatkan...! tentu kalian tidak ingin masalah ini menjadi masalah internasional, bukan begitu...? hehehe..."


"dasar bocah tengik...!!!"


"Plak...! Plak...!!!"


"lalu..., sekarang kita harus bagaimana, komandan...?"


"sementara ini kita jangan bertindak gegabah...! kita tunggu berita selanjutnya, apa benar pemerintahnya akan mencarinya atau tidak...! selama menunggu, kalian tetap Siska Dia, tapi jangan sampai menimbulkan bekas luka yang parah...! aku tidak mau kita semua digantung gara-gara menyebabkan perang antar negara...!!!"


"siap komandan...!!!"


"nginggggg... britz... britz... britz....."


"arrrgggghhhh...!!!"


"whuaaa... hah... hah... hah..."


pagi itu, Via terduduk diatas ranjangnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


"mimpi yang aneh...! pasti gara-gara efek mabuk semalam...!" gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengembalikan kesadarannya.


setelah merasa agak baikkan, Via lalu beranjak menuju kamar mandi.


baru saja membasuh wajahnya, Via yang merasa ada yang aneh lalu menatap cermin sambil mengelus kedua pipinya,


"DEG...!!!"


"eh..., lho kok...?!"


...


"drap... drap... drap..."


suara langkah Via menuruni anak tangga memecah keheningan pagi itu.


"Ma...! Pa...! kalian dimana...?!" teriaknya panik.


"kami disini, Sayang...!" sahut mamanya dari jauh.


secepatnya Via berjalan menuju arah suara Mamanya berasal.


sampai di ruang makan, nampak papa dan mamanya sedang duduk berbincang sambil menikmati sarapan pagi.


"ada apa Sayang...? kenapa kamu telihat panik...?" tanya mamanya melihat Via datang dengan nafas memburu.


"i... itu Ma...! hah... hah... itu... hah... hah..."


"tenang dulu, Sayang...! minum dulu baru bicara...!" kata mamanya lagi seraya menyodorkan segelas air lemon ke Via.


dengan cepat Via menyambar gelas pemberian mamanya dan meneguknya sampai habis.


"gluk... gluk... gluk... hah..."


setelah menarik nafas panjang, kembali Via berkata,


"Ma, barusan Via mimpi aneh lagi...!"

__ADS_1


"mimpi aneh...?!" kedua orang tuanya nampak terkejut.


"mimpi apa, Vi...?" kali ini papanya yang bertanya.


"barusan Via bermimpi sedang dikerumuni orang-orang berseragam militer, dan kami terlibat suatu perdebatan, tapi Via kurang paham apa yang kami ributkan, tapi..."


"tapi apa...?" papanya terlihat tidak sabaran.


"tapi ini Pa...!" Via menunjuk kedua pipinya yang bengkak.


"lho, kenapa pipimu bengkak, sayang...? kamu sakit gigi...? atau kebentur sesuatu semalam diacaranya Tommi...?" mamanya nampak heran.


"bukan Ma, bukan...! ini sama seperti yang pernah Via bilang sebelumnya...! dalam mimpi, orang-orang berseragam militer itu menampar pipi Via berkali-kali...!"


kali ini Papa dan Mamanya saling memandang satu sama lain.


"jadi maksudmu, pipimu bengkak akibat mimpimu...?!" Papanya bertanya penasaran.


"Via juga ga tau, Pa...! tapi yang jelas, semalam Via baik-baik saja, dan setelah bangun pagi..."


kembali Papa dan Mamanya saling memandang.


"Ma..., Papa rasa sudah saatnya kita memberitahu Dia...!"


mamanya mengangguk, "Papa benar, sudah waktunya Dia mengetahui segalanya...!!!"


"Vi..., bisa kamu ikut kami ke kamar...? ada yang mau kami tunjukkan kepadamu."


"i... iya, Pa..."


...


sampai didalam kamar, mamanya langsung duduk ditepi ranjang, sedangkan Papanya terlihat mencari-cari sesuatu didalam lemari.


"sayang..., duduk sini, disamping Mama..."


Via menuruti kata-kata mamanya.


"sudah saatnya kami menyampaikan sebuah rahasia mengenai dirimu..., tapi sebelumnya, bisakah kamu ceritakan lagi mimpi-mimpi anehmu...!" mamanya berkata pelan.


"mimpi yang mana, Ma...? mimpi saat Via ditengah hutan...? mimpi saat Via menari di pemakaman...? atau mimpi saat Via dan anak-anak kecil..."


"bukan yang itu, Vi...!" kali ini papanya yang berkata sambil membersihkan sebuah kotak tua yang sudah usang.


"coba kamu ceritakan lagi mimpi-mimpimu yang menyisakan tanda, atau bekas di tubuhmu seperti tadi...!" lanjutnya.


sejenak Via mengingat-ingat,


"mmmm.. yang pertama, waktu itu Via bermimpi sedang berbicara dengan Siska di belakang rumah Adi. setelah Siska menyerahkan sesuatu, Via langsung memeluk dan menciumnya, lalu tiba-tiba Siska memukul Via. dan ketika Via bangun, perut Via terasa nyeri, seolah-olah pukulan itu benar-benar nyata mengenai Via...!"


"lalu yang kedua..., waktu itu disebuah kamar yang Via tidak pernah lihat, Via dan Ayu berpelukan, berciuman, dan saling mencumbu satu sama lain...! dan ketika bangun, leher serta dada Via penuh dengan tanda merah, seakan bekas ciumannya menjadi nyata...!"


Via menggeleng,


"seingat Via, cuma itu saja...!"


"nah, coba kamu sekarang pikirkan, apa yang menghubungkan ketiga mimpimu tadi...?"


kembali Via mengingat-ingat.


"Siska dan Ayu sahabatku, tapi pria berseragam itu bukan...! aku dipukul Siska, aku ditampar orang-orang itu, tapi dengan Ayu, aku bersenang-senang...! jadi pasti bukan sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan...! kalau tempat, ah rasanya ga mungkin...! jadi apa, ya...?!"


"Via... ga tau, Pa...?"


"coba ingat pelan-pelan Sayang..., pasti ada sesuatu yang menghubungkan semua mimpimu itu...!" kali ini Mamanya yang berkata lembut.


kembali Via mencoba mencari hubungan ketiga mimpinya, tapi sampai lelah berfikir, Via tetap tidak bisa menemukannya jawabannya.


"Via ga tau, Ma... Via menyerah...!!! darimanapun Via coba menghubungkan, tetap tidak nyambung...!" katanya pasrah.


"hmmmm..., kalau begitu, apa semalam, sebelum kamu tidur, kamu sempat memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah atau tidak nyaman...?" tanya papanya lagi.


Via yang kembali teringat akan Adi dengan cepat menjawab, "a... ada, Pa...! semalam Via kepikiran dengan omongan Tommi, katanya Adi sempat menelponnya, dan mengatakan Dia dipenjara...!"


"DEG...!!!"


baru saja menyelesaikan kalimatnya, mendadak jantung Via berdetak keras, seakan menyadari sesuatu.


"eh...! lho...! kok sepertinya...?!"


"apa kamu menyadari sesuatu...?" tanya papanya lagi.


"sepertinya begitu...! tapi rasanya Via kurang yakin, Pa...!"


"kurang yakin...! mmmm..., baiklah, sebelum kita memastikannya lebih jauh, papa akan menceritakan sesuatu yang perlu kamu ketahui...!"


"dulu..., nenekmu sangat terkenal karena kemampuannya mengobati segala macam penyakit, dari yang paling parah, bahkan sampai yang paling aneh pun bisa Dia sembuhkan...! dan yang lebih hebatnya lagi, nenekmu bisa mengetahui penyakit jauh lebih cepat dari Tabib ataupun Dokter pada umumnya...!"


"awalnya kami mengira itu karena kemampuan dan pengalamannya dalam mengetahui gejala suatu penyakit, tetapi kami salah...! nenekmu bukan mengetahui gejala penyakitnya, tetapi MELIHAT PENYEBAB PENYAKITNYA...!"


"melihat penyebab penyakitnya...!" Via terlihat heran.


"ya, nenekmu bisa melihat penyebab suatu penyakit, karena Dia memiliki suatu kemampuan khusus, yaitu MENJELAJAH MASA LALU...!!!"


"menjelajah masa lalu...!" Via semakin heran.


"ke... kemampuan apa itu, pa...?"

__ADS_1


"menjelajah masa lalu adalah sebuah kemampuan khusus yang bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi pada seseorang di masa lalu, melalui mimpi...!" jelas Papanya.


"melalui mimpi...?!"


"ya, melalui mimpi...!!!"


"DEG...!!!"


kembali jantung Via berdetak keras, sebuah perasaan khawatir mulai menyelimutinya.


"pa..., ma..., a... apa itu berarti...?" suara Via tertahan.


"iya Vi..., sepertinya kemampuan nenekmu itu menurun padamu...!!!"


"ah, Papa bercanda, kan...?! mana mungkin ada kemampuan seperti itu...! lagian kan Via juga belum pasti seperti itu, bisa saja semua itu cuma kebetulan...!"


"yah, bisa saja itu cuma kebetulan...! tapi, bagaimana kamu menjelaskan tiga tanda dari tiga mimpimu yang berbeda itu...?!" balas papanya.


"i... itu..." Via tidak bisa menjawab, mulutnya seakan terkunci. kebingungan dan ketidakpercayaan menyelimutinya.


"sayang..., apa yang dikatakan papamu itu benar.. ! sepertinya kemampuan nenekmu menurun padamu...!" kali ini mamanya yang berkata lembut.


"ta... tapi Ma...! kalau itu benar, berarti mimpi Via adalah kenyataan yang terjadi pada seseorang...! tapi siapa.. ?!"


"Dia yang kamu pikirkan semalam...!!!"


"DEG...!!!"


"Ma... maksud Mama, Adi...?!"


"iya sayang..., rasa khawatirmu yang begitu dalam padanya telah memaksa kemampuanmu untuk bangkit, dan membimbing jiwamu untuk melihat apa yang kamu inginkan...!!! kalau kamu kurang yakin, coba kamu ingat lagi dua kejadian sebelumnya, apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dengan Dia sebelum kamu bermimpi...!!!"


kembali Via berfikir, mencoba mengingat kejadian sebelumnya.


"waktu aku bermimpi bercumbu dengan Ayu..., malam itu aku mabuk sama Siska, dan aku begitu bahagia karena menjadi pacar Adi...! mmmm... kalau tidak salah, malam itu Ayu bilang mau bertemu seseorang untuk membicarakan sesuatu yang penting...! eh, tunggu dulu...! bukannya Ayu dan Adi sama-sama bilang mereka tidak sengaja melakukan itu...! dan kalau tidak salah, Adi bilang awalnya mereka membahas..., sial...! jangan-jangan memang malam itu mereka melakukannya...?! dan itu berarti mimpiku...!"


"DEG...!!!"


kembali jantung Via berdetak keras, menyadari kenyataan yang Dia temukan.


"lalu mimpi dengan Siska... kalau tidak salah waktu itu acara kenaikan jabatannya Adi...! saat itu aku mabuk berat dan cemburu dengan Erna...! apa benar Adi sempat bertemu Siska dibelakang rumahnya...? aku harus segera memastikannya...!"


secepatnya Via berlari kekamarnya dan mengambil telpon genggamnya, lalu buru-buru kembali kekamar orang tuanya.


"hah... hah... Pa...! Ma...! jika benar yang kalian katakan..., maka sebaiknya kita pastikan sekarang...! hah... hah... hah..."


Via lalu menghubungi Siska.


Siska : "halo Vi...! tumben nelpon pagi-pagi, ada apa...?"


Via : "Sis..., kamu masih ingat ga acara pesta kenaikan jabatan Adi...?"


Siska : "mmmm..., masih...! kenapa...?"


Via : "tolong jawab dengan jujur...! waktu itu, apa kamu bertemu Adi dibelakang rumahnya?"


Siska : "memang kenapa? kok tiba-tiba kamu nanya seperti itu..?"


Via : "sudah, jawab aja...! ada sesuatu yang harus aku pastikan...!"


Siska : "mmmm.... i... iya..., waktu itu aku sempat berbincang sebentar dengannya...!"


Via : "apa yang kalian bicarakan...?"


Siska : "hehehe..., waktu itu Dia minta aku mengaku kalau aku yang membuat acara dirumahnya, dan menyuruhku membayar semua biayanya, hehehe..."


Via : "trus...?"


Siska : "yah, karena waktu itu Dia memohon sampai berlutut, akhirnya aku mengaku dan memberi Dia pinjaman...! memang kenapa sih...? kok kayaknya gawat banget...!"


Via : "sudah, nanti saja aku ceritain...! trus, habis kamu minjemin uang, apa yang Dia lakukan...?"


Siska : "ya Dia langsung pergi dan membayar semua tagihannya...!"


Via : "sebelum Dia pergi, apa Dia sempat melakukan sesuatu padamu...?"


Siska : "mak... maksudmu...?"


Via : "APA DIA SEMPAT MELAKUKAN SESUATU PADAMU...?!"


Siska : "mmmmm.. itu..."


Via : "ayolah Sis, jawab aja...! aku ga akan marah kok...! aku cuma perlu tau, soalnya ini penting banget...!"


Siska : "mmmmm... baiklah, asal kamu berjanji ga marah..."


Via : "aku janji...! aku janji...!!!"


Siska : "waktu itu, sehabis aku memberikan Dia uang, tiba-tiba Dia memeluk dan menciumku...!"


"DEG...!!!"


Siska : "ta... tapi Vi..., sumpah...! aku ga tau Dia akan melakukan itu...! kalau aku tau, pasti aku akan menghindar...! jangan marah, ya...?"


Via : "iya, Sis..., aku ga marah kok...! trus habis itu apa yang terjadi...?"


Via : "saat itu, karena kesal, aku langsung memukulnya...!"

__ADS_1


Via : "di... dimana kamu memukulnya?"


Siska : "DIPERUTNYA...!!!"


__ADS_2