
"kembang api...! Di, ternyata kamu masih ingat janjimu...! ya, aku pasti akan menunggumu...! walupun harus menunggu seribu tahun, aku akan tetap menunggumu...! zzzzz..."
belum beberapa saat terlelap, tiba-tiba Via di kejutkan suara ketokan dipintu kamarnya.
"tok... tok... tok..."
"brengsek...! jangan menggangguku...! aku mau tidur...!!!" teriak Via kesal, mengira Wira yang datang.
"ma... maaf mengganggu non, ini saya, Arum...! ada hal penting yang harus segera saya sampaikan ke non Via...!"
mengetahui Arum yang datang, Via buru-buru membuka pintu,
"ma... maaf mbak..., saya kira si mesum itu yang menggangu saya...! hmmm..., ada apa ya...? kok sepertinya mbak Arum terlihat panik...?"
"ga... gawat, non...! sepertinya non Via harus segera pergi dari sini...!" jawab Arum dengan wajah tegang.
"memang kenapa mbak...? ada apa...?" tanya Via ikut tegang.
"tuan muda mabuk berat, non...! dan sepertinya tuan muda ingin MEMPERKOSA non...!!!"
"ah, yang benar mbak...?!"
"iya, non..., saya tidak bohong...! barusan diruang tengah tuan muda merancau dan menyebut-nyebut nama non..! lalu sekarang tuan muda sedang di gudang senjata...!"
"gudang senjata...?! mau apa si mesum itu disana...?"
"sepertinya tuan muda sedang mencari panah bius...!"
"panah bius...! waduh...! sepertinya saya harus segera kabur dari sini sebelum si mesum itu benar-benar memperkosa saya...!"
"ya, saya rasa sebaiknya begitu, non...!"
"ta... tapi mbak, saya harus kabur kemana...? ini sudah lewat tengah malam, saya tidak mengenal daerah sini...!"
"non masih ingat jalan menuju lapangan kemarin...?"
"masih, mbak...!"
"pergilah ke lapangan itu, nanti ditimurnya non akan melihat sebuah rumah putih bernomor tiga lima, nah, nanti non temui saja pemiliknya, Dia sepupu saya, katakan saja nama saya, pasti Dia akan mempersilahkan non masuk, saya sudah menghubunginya barusan...!"
"terima kasih, mbak...! tapi apa si mesum itu tidak akan marah kalau sampai tau mbak membantu saya kabur...! saya takut mbak dipecat...!"
"tidak usah takut, non...! malam ini mungkin tuan muda akan mengamuk, tapi besok setelah sadar, tuan muda pasti akan menyesali ke bodohannya...!"
"oh, baiklah, kalau begitu saya akan segera bersiap-siap...! bisa saya minta tolong mbak Arum bawa Simba ke motor saya...?"
"iya, non...! nanti saya akan langsung membuka gerbang supaya non bisa segera pergi...!"
"iya, mbak...! sekali lagi terima kasih sudah membantu saya...!"
"sama-sama, non...!"
...
tidak berapa lama, dengan terburu-buru Via meninggalkan rumah pribadi Wira.
tanpa Via sadari, dari atas atap rumah Wira, nampak Wira, Asih, Juna dan Arum mengawasi kepergiannya.
"hei, kenapa kamu membuatnya pergi dengan cara seperti ini...? apa kamu takut mengucapkan selamat tinggal padanya...? ah, jangan-jangan kamu benar-benar menyukainya...?" kata Asih menggoda Wira.
"dasar bodoh...! tentu saja Dia menyukainya...! kalau tidak, mana mungkin Dia membiarkannya tidur dikamar itu...!" sahut Juna.
"ya, sudah dua tahun semenjak kepergiannya dan kamar itu tidak pernah ada yang menempati...! sepetinya kamu sudah menemukan kekasih hatimu yang baru...! hehehe..." kali ini Arum yang menggoda.
"bisa tidak jika kalian tidak berisik...!!! saat ini aku sedang memikirkan hal yang jauh lebih penting daripada ocehan tidak jelas kalian itu...!" balas Wira kesal.
"dari pada kalian terus membicarakan hal yang tidak perlu, lebih baik kalian bantu Rena membangunkan mereka supaya kita bisa segera memulai pertemuan ini....!" lanjut Wira.
"itu tidak perlu, mereka semua sudah disini...!!!" sahut Rena tiba-tiba dari bawah.
selesai Rena berkata, satu persatu mereka yang dimaksud mulai menampakan diri.
dimulai dari Rena, Angling, Darma, Rara, Anggini, Gondrong, dan Krempeng yang melompat ke atap dengan menggunakan tali, lalu disusul Jaka, Botak dan Balon yang memanjat menggunakan tangga.
"huahem..., kenapa kamu membangunkan kami...? apa ada hal yang lebih penting dari tidur yang mau kamu bicarakan, Bos...?" tanya Balon sambil menutup mulutnya menahan kantuk.
"tentu saja...! aku rasa sudah saatnya KITA MULAI BERGERAK...!!!"
kata-kata Wira sontak membuat semua yang ada disana terkejut.
__ADS_1
"hei, bukankah kita baru berlima belas...? apa kamu sudah memutuskan siapa dua orang lagi...?" tanya Angling cepat.
"ya..., aku sudah tau siapa yang akan mengisi posisi RAJA dan AS terakhir...!!!" jawab Wira sambil membuka sebotol tuak dan meneguknya.
"ah, sepertinya aku tau siapa salah satunya, pasti gadis itu...! iya, kan...? apa kamu ingin menjadikannya AS...?" kali ini Rara yang bertanya.
"ya, kamu benar...! selain karena memiliki anjing itu, Dia juga memiliki kemampuan khusus yang berhubungan dengan pengobatan, jadi dua hal itu akan sangat membantu kita suatu saat nanti...!" jawab Wira lagi, kali ini sambil menghidupkan sebatang rokok.
"kemampuan khusus apa...?" kembali Rara bertanya.
"entahlah, aku juga belum tau...! tapi yang jelas, saat ini Dia sedang menuju keselatan untuk mengembangkan kemampuannya itu...!"
"lalu, siapa calon Rajanya...? bukankah rencana awal kita menjadikan Sri ketua cabang enam, lalu menjadikannya Raja terakhir...? tapi sekarang rencana itu berantakan gara-gara kebodohanmu dan gadis itu...!" kata Asih sedikit kesal.
"tidak..., rencana tidak berantakan, hanya berubah orang...!" kembali kata-kata Wira membuat semua yang ada disana terkejut.
"eh, jangan-jangan maksudmu, Awang...!!!" Asih terlihat tidak percaya.
"ya, siapa lagi...!" jawab Wira kembali meneguk tuaknya.
"tapi, bos...! bukankah Awang mantan anak buah si Godam...? bagaimana kalau suatu saat Dia berkhianat...?! bisa kacau rencana kita MENJADIKANMU TUAN BESAR SELANJUTNYA...!!!" kali ini Gondrong yang bertanya cemas.
"kamu tenang saja, Drong, itu tidak akan terjadi...!" jawab Wira yakin.
"kenapa bos bisa begitu yakin...?" tanya Gondrong lagi.
"karena aku sudah mengetahui satu rahasia pentingnya...! hehehe...!" jawab Wira tersenyum licik.
"apa itu...?" tanya Asih penasaran
"saat ini kalian tidak perlu tau...! nanti setelah Dia bergabung dengan kita, lambat laun kalian akan menyadarinya sendiri...!" jawab Wira masih tersenyum licik.
"yah, terserah kamu saja...! lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan...?" tanya Juna.
"seperti yang kubilang tadi, kita akan mulai bergerak...! karena itu sekarang dengarkan baik-baik tugas yang akan kuberikan kekalian...!"
"siap, bos...!!!" jawab mereka serentak.
"yang pertama, Balon, Botak dan Krempeng..., tugas kalian menundukkan semua organisasi kecil didaerah sini, dan membuat mereka bersumpah menjadi pengikut kita...! jika ada yang melawan, lakukan apa yang harus kalian lakukan, mengerti...?"
"mengerti, Bos...!!!" jawab Balon, Botak dia Krempeng bersamaan.
"yang kedua, Gondrong..., mulai besok kamu belajar mengatur anak buah seperti yang biasa kulakukan...! karena sesuai rencana awal, kamu akan kita jadikan ketua cabang tujuh...!!!"
"selanjutnya Juna, Arum dan Rena..., kalian tidak ada perubahan, lakukan semuanya seperti biasa sampai aku memberikan tugas baru...!"
"siap, Bos...!!!" jawab Juna, Arum dan Rena bersamaan.
"oh, iya, Jun..., bagaimana kabar terbaru dari Ninji...? apa kalian masih sering berkomunikasi...?" tanya Wira ke Juna.
"tentu saja, dan Bos pasti akan senang mendengar kabar terbarunya...! saat ini Dia sudah menjadi wakil Kapten di organisasi itu...!" jawab Juna tersenyum.
"oya...?! berarti tidak sia-sia aku mempercayakan tugas itu padanya...!" balas Wira tersenyum puas.
"nah, selanjutnya Angling, tugasmu sedikit berat dan berbahaya...!"
"oh, tidak masalah...! bukankah semakin berbahaya semakin menyenangkan...?! hehehe..., jadi apa yang harus kulakukan...?" balas Angling tersenyum senang.
"segera kamu sebar seluruh pasukan bayangan kita diselatan kota untuk mengamankan kepergian Via...! aku yakin malam ini kak Saras sudah tau Dia memiliki anjing itu dari Mama, jadi kemungkinan besok pagi Dia sudah mengirim mata-mata untuk membuntutinya...! pastikan tidak ada seorangpun yang mengikutinya keluar dari kota ini...!"
"itu tidak mudah, tetapi akan kucoba...! bukannya semakin sulit akan semakin menyenangkan...!!! hahahaha... hahahaha..." balas Angling kali ini tertawa girang.
"lalu Darma dan Rara..., aku ingin kalian pergi ke utara, ke desa Darmatemaja...! cari tau semua informasi tentang Via, keluarga, dan juga teman-temannya, khususnya teman dekatnya yang cowok...!"
"untuk apa kita mencari tau temannya itu...? apa Dia penting...?" tanya Darma heran.
"sudahlah jangan banyak tanya...! lakukan saja apa yang kusuruh, belakangan aku jelaskan alasannya...!"
"baik, Bos...!"
"selanjutnya Anggini dan Jaka..., mulai sekarang terus ikuti Via...! tugas kalian menjaga dan memastikan keselamatannya sampai waktunya tiba...!"
"aku tidak mau...!!!" sahut Anggini tiba-tiba.
"aku tidak mau berpasangan dengan manusia es ini lagi, apa lagi dalam jangka waktu yang panjang, bisa mati bosan aku nanti...! kenapa kamu tidak suruh Darma dan Jaka saja yang mengawasinya...? biar aku dan Rara yang pergi ke utara...!" lanjutnya.
"itu tidak mungkin, sayang...! tidak mungkin hanya pria yang menjaganya, karena dalam keadaan tertentu, kita memerlukan seorang wanita untuk mengawasi dan membantunya...!" balas Wira.
"aku mengerti maksudmu, tetapi aku tetap tidak mau berpasangan dengannya...! bagaimana kalau aku dan Rara saja yang mengawasinya...?" balas Anggini lagi.
__ADS_1
"itu juga tidak mungkin...! aku tidak mau hal buruk menimpanya sebelum rencana kita dimulai, karena itu aku mau yang terbaik menjaganya...!"
"ah, sepertinya kamu benar-benar berlebihan melindunginya...! yah, tapi terserah kamu saja...! kalau begitu, siapa yang akan menggantikanku menjadi pasangannya...?" tunjuk Anggini ke Jaka yang daritadi hanya diam seribu bahasa.
sejenak Wira menoleh ke Asih.
"aku tidak mungkin...! aku ketua cabang, tidak mungkin aku menghilang begitu saja dalam waktu yang lama...!" sahut Asih.
"aku juga tidak mungkin...! aku Mata-mata mamamu...! tidak mungkin aku menghilang begitu saja dari sini...!" Rena ikut menyahut.
"kalau kamu, Ra...?" tanya Wira ke menoleh Rara.
"bukannya aku tidak mau..., tapi aku lebih memilih mati daripada menjalankan tugas bersamanya...! bisa gila aku bersama orang yang tidak bicara berbulan-bulan...!" balas Rara dengan raut wajah memelas.
"ya sudah, biar aku saja yang pergi dengannya...!" tiba-tiba Arum menyahut sehingga membuat semua menoleh kearahnya.
"apa kamu serius, Rum...?' tanya Wira cepat.
"tentu saja...! aku sudah lama tidak tugas luar, jadi kurasa ini kesempatan yang baik untuk melihat perubahan dunia...! yah, sekalian menguji seberapa keras gunung yang katanya tidak tergoyahkan itu...! hehehe..." balas Arum tersenyum penuh arti ke Jaka.
"baiklah, kalau begitu Arum dan Jaka mengikuti Via, sedangkan Anggini menggantikan Arum menjadi pelayanan dirumah ini...!" kata Wira yang dibalas anggukan mereka bertiga.
"dan yang terakhir, Asih..., tugasmu memastikan Awang bergabung dengan kita...!"
"lho, kenapa aku...? biasanya itukan tugasmu merekrut anggota baru...!" protes Asih.
"aku tidak bisa...! mulai besok aku harus melakukan tugas yang paling penting untuk rencana kita...!"
"apa itu...?"
"melobi ARMADA...!!! apa kamu mau menggantikan tugasku...?" Wira balik bertanya.
"oh, tidak, terima kasih banyak tawarannya...! lebih baik aku mengurus Awang daripada orang-orang ruwet itu...!" balas Asih.
"ya sudah, berarti kamu sanggup kan mengajaknya bergabung...?"
"ya..." balas Asih mengangguk.
"nah, berarti semua paham tugasnya masing-masing, apa ada pertanyaan lagi...?" tanya Wira sambil memandang satu-persatu rekannya.
semua yang ada disana hanya diam.
"baiklah, kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, pertemuan malam ini kita akhiri...! mari bersulang, semoga kita semua beruntung...!"
"ya, semoga kita semua beruntung...!!!"
"tring...!!!"
...
sesungguhnya, apa yang direncanakan Wira dan kawan-kawan saat ini akan menimbulkan suatu kejadian besar dimasa mendatang.
tapi cerita itu masih lama, dan tidak ada seorangpun yang tau.
...
malam telah berlalu, pagi semakin mendekat.
"prang...!!!"
Wira yang sudah mabuk tiba-tiba membanting botol ditangannya.
"oe... oe... ada apa...? kenapa kamu tiba-tiba marah...? apa gara-gara kamu gagal bercinta dengannya...? hahahaha... hahahaha..." tanya Angling tertawa terbahak-bahak.
alih-alih menjawab pertanyaan Angling, Wira malah berdiri dan bertanya ke Krempeng,
"Peng..., apa anak buahmu sudah menemukan kelima bocah keparat itu...?"
"sudah dari tadi Bos...! saat ini mereka sedang berada di markasnya di distrik lima belas...! apa perintah Bos selanjutnya...?" Krempeng balik bertanya.
"katakan pada anak buahmu untuk terus mengawasi mereka sampai aku datang...!" jawab Wira, lalu berjalan meninggalkan rekan-rekannya.
"hahahaha..., pasti kamu ingin menghajar mereka untuk melampiaskan kekesalanmu karena gagal bercinta dengannya, kan...? hahahaha... hahahaha..." sahut Angling kembali tertawa terbahak-bahak.
"Bos, apa kamu perlu bantuan...?" tanya Krempeng lagi.
"tidak perlu, aku bisa sendiri...! kamu cukup siapkan JERAMI BAKAR*...!!!" jawab Wira tanpa menoleh.
(jerami bakar \= jerami yang digulung dan diikat, biasanya dibakar lalu dilemparkan untuk membakar sesuatu)
__ADS_1
"hei, apa Bos serius mau membakar markas mereka...?"
"tentu saja...!!! aku harus memberi pelajaran bocah-bocah keparat itu karena berani mengganggu AS kita...!!!"