PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
19. BERITA DARI SEBERANG


__ADS_3

"dua minggu...! jadi maksudmu dalam waktu dua minggu aku sudah bisa mengalahkan Brandon...?" Via terlihat sangat bersemangat.


"ya...!" jawab Hengki dingin, wajahnya tetap kaku, tanpa ekspresi.


"apa kamu yakin, Heng...?! Brandon itu cowok lho, sedangkan Via cewek...! lagian, Via kan selama ini tidak pernah belajar beladiri, dan juga tidak pernah berkelahi...! apa itu ga terlalu cepat...?!" kali ini Bladuk yang bertanya, seolah meragukan kata-kata Hengki.


"tidak...! aku rasa itu cukup...! dengan kemampuan fisik dan kekuatan ototnya yang sekarang, sangat mudah untuk mengajarinya beberapa jurus dasar untuk mengalahkan pengecut satu itu...!" jawab Hengki yakin.


"yah, kalau memang kamu sudah yakin sih, kami percaya saja...!" balas Bladuk.


"lalu Tom, bagaimana caranya kita mempertemukan Via dan Brandon agar mereka berduel...? kalau kita langsung datangi rumahnya, aku rasa Brandon pasti akan menolak, mana mungkin Dia mau berduel dengan Via yang seorang wanita...!" kali ini Siska bertanya ke Tommi.


"ngapain kita datangi Dia...! biar saja Dia yang datang kesini...!" Tommi tersenyum penuh misteri.


"maksudmu...! aku tidak mengerti...!!!" Siska terlihat bingung.


"ya, kami juga tidak mengerti...! coba kamu jelaskan rencanamu, supaya kami tidak gagal paham...!" Bladuk ikut menimpali.


"jadi begini..., Brandon sudah tau Via setiap hari kehutan utara, jadi kita biarkan hal itu berlangsung selama sepuluh hari. setiap hari Via tetap kehutan utara, tetapi sampai disana, salah seorang menjemputnya dengan memutar dari barat. biar saja mereka sibuk menjelajahi hutan mencari keberadaan Via...!"


"cisss..."


Tommi lalu menghidupkan sebatang dan menghisapnya.


"pada hari kesebelas..., Via jangan pergi lagi kehutan utara, melainkan pergi ke rumah Siska untuk melatih beladiri nya dengan Hengki secara insentif. aku yakin, walaupun mereka tahu Via di rumah Siska, tapi mereka tidak akan berani melakukan apa-apa, karena mereka pasti tahu siapa papa Siska...!"


"nah, pada hari kelima belas, atau saat kita yakin Via sudah bisa mengalahkan Brandon, Via kembali berlatih di hutan utara, sambil berlatih, sambil menunggu Brandon datang dan menantangnya duel...!"


"sepertinya aku mengerti rencanamu...! tapi apa kamu lupa? Brandon pasti membawa banyak anak buahnya...! dan tidak mungkin Via menghadapi mereka semua...!" kembali Siska bertanya.


"aku tau itu...! karena itu kita akan MENJEBAK mereka...! selama empat hari Via berlatih dirumah Siska, secara diam-diam kita akan memasang perangkap di hutan utara...! perangkapnya akan kita pasang jauh ditengah hutan, sehingga saat mereka sadar, sudah terlambat bagi mereka untuk kembali...! hehehe..." kali Tommi tersenyum licik.


"bagaimana kalau saat mereka masuk perangkap, Brandon kabur dan melarikan diri...?! bukankah semua itu menjadi sia-sia...?! tujuan kitakan mempertemukan Brandon dengan Via...!" Bladuk bertanya lagi.


"itulah tugas kita untuk memastikan Dia tidak kabur...! saat mereka memasuki hutan, diam-diam kita akan mengikutinya dari belakang...! saat Dia sadar telah masuk dalam perangkap dan mencoba kabur, saat itu kita mengepungnya dari belakang dan menyudutkannya ke tempat Via...!"


"tapi apa itu mungkin...?! hutan itukan luas...! dan jumlah kita kan tidak banyak...! rasanya mustahil mengepung Dia dan memaksanya bertemu Via...!" Bladuk terlihat tidak yakin.


"kata siapa cuma kita yang mengepung mereka...! bukannya kita punya tim sepak bola...! bukannya kita punya pemuda blok...! kalau perlu, kita minta bantuan anak-anak blok sebelah...!" balas Tommi.


"lho, kalau begitu nanti jadi keributan besar dong...! bukannya kita ga mau orangtua Via sampai tau masalah ini...?" kali ini Ayu yang menyahut.


"aku rasa setelah Via mengalahkan Brandon, tidak jadi masalah lagi jika orangtuanya tau...! toh Brandon sudah berjanji tidak akan menggangu Via lagi....!" balas Tommi.


"bagaimana kalau Brandon melanggar janjinya dan tetap menggangu Via...? aku rasa Dia bukan orang yang mau begitu saja menepati janjinya...!" kali ini Siska yang bertanya.


"kamu tenang saja...! saat mereka Duel nanti, kita ajak om Martin untuk ikut menyaksikannya...! dengan adanya anggota Armada sebagai saksi, aku rasa tidak mungkin Dia berani melanggar janjinya, kecuali Dia mau berurusan dengan Armada...! nah, urusan mengajak om Martin kita serahkan saja sama Bladuk, bukankah om Martin itu bosnya...! hehehe..., kamu bisa kan bro...?" kali ini Tommi yang bertanya ke Bladuk.


"itu masalah gampang..! serahkan saja padaku...!" Bladuk terlihat percaya diri.


"bagus...! kalau begitu artinya semua sudah paham dengan rencana tadi...! nanti untuk jebakannya, biar aku, Bladuk, Beben dan John yang memikirkannya...! apa ada pertanyaan lagi?"


"aku rasa sementara cukup...! kita jalani saja dulu sesuai yang kamu bilang. kalau nanti ada perubahan rencana, baru kita bicarakan lagi." sahut Siska.


semua yang ada disana mengangguk setuju.


"baiklah, karena sudah tidak ada lagi yang mau dibahas, bagaimana kalau sekarang kita bernyanyi lagi...? kepalaku pusing dari tadi berfikir, perlu teriak - teriak biar normal lagi, hehehe..."


tidak menunggu jawaban yang lain, Bladuk langsung mengambil gitar dan memetiknya.


"jreng..."


"🎼kambing sembilan, istri tiga, anak lima...


padang yang luas, habis semua sebagai gantinya..."


...


duduk melingkar, gelas berputar...


gitar dipetik, suara memekik...


kembali mereka melanjutkan acara duduk-duduk gembira malam itu.


semua nampak gembira, terutama Via, yang merasa sangat senang karena sudah mendapat solusi akan masalahnya dengan Brandon.


bergelas - gelas arak di teguknya, hingga tanpa terasa, kepalanya mulai pusing.


dalam kondisi setengah mabuk, tiba-tiba Via teringat Adi,


"Di... kamu dimana...?!" teriakannya membuat semua yang ada disana terkejut dan sontak menoleh kearahnya.


"oe, oe... kamu kenapa Vi...?! sudah mabuk ya...?! hahahaha..." Balduk tertawa melihat tingkah Via.


bukannya menjawab, Via kembali berteriak,


"Adi Bodoh...!!! kamu tau ga aku lagi kena masalah gara-gara kamu...!!!"


"whahahahaha....."


kali ini semua yang ada disana ikut menertawakan Via.


"sepertinya Dia kangen berat sama Adi, hahahaha..." Bram tertawa lebar.


"tentu saja Dia kangen...! sudah lebih dari sebulan Kampret itu ga ada ngabari apa-apa...!" Ayu menimpali.


"Jangan-jangan Dia sudah dimakan Hiu...? hahahaha..." kali ini Bladuk yang tertawa lebar.


"hampir...!" Hengki menyahut pelan.


"ya, hampir...!!! hahahaha... hampir saja Dia di makan Hiu...! Hahahaha... hahahaha..." kembali Bladuk tertawa, kali ini lebih keras.

__ADS_1


"mungkin Hiu nya ga jadi makan Dia gara-gara dikasi teori cara makan yang baik dulu.. ! hahahaha..." Siska ikut tertawa.


"atau mungkin Hiu nya keburu mabuk diajak minum tuak sama Dia...! hahahaha..." sambung Ayu, membuat semuanya kembali tertawa, termasuk juga Via,


"hahahaha... Yu..., yu...! ada-ada saja kamu...! masa Hiu diajak minum tuak...! hahahaha... hahahaha...!"


"eh, tapi kok sepertinya ada yang aneh ya...?!" tiba-tiba Via menghentikan tawanya, mencoba mengingat sesuatu yang salah.


"apanya yang aneh...?! kamu yang aneh...! tiba-tiba teriak marah-marah, kayak orang kesurupan...!!! hahahaha... hahahaha..." kembali Siska tertawa lebar.


Via tidak menghiraukan kata-kata Siska, matanya kini tajam menatap Hengki.


"Heng, barusan kamu bilang HAMPIR...! darimana kamu tau Dia hampir dimakan Hiu...?!" kali ini wajah Via terlihat serius.


"dari mimpi...! hahahaha...hahahaha..." celetuk Bram sebelum Hengki sempat menjawab, sehingga membuat semua kembali tertawa.


"diam Bram...! aku serius...!!!" hardik Via, membuat semuanya langsung menoleh kearahnya.


tanpa memperdulikan pandangan teman-temannya yang menatapnya heran, kembali Via menoleh ke Hengki.


"Heng...! darimana kamu tau Dia hampir dimakan Hiu...?!"


"emmm... itu..." Hengki telihat kikuk.


"jawab Heng...! darimana???" Via mulai tidak sabaran.


Hengki semakin terlihat kikuk.


"sabar Vi, sabar...! bagaimana Dia bisa jawab pertanyaanmu kalau kamu menekannya seperti itu...!" Tommi berusaha menenangkan Via.


"kamu tau sendiri Dia susah ngomong sama cewek...! sudah...! biar aku saja yang tanya...!" Tommi lalu menoleh ke Hengki.


"Heng, darimana kamu tau Adi hampir dimakan Hiu...?!"


"DIA KEMARIN MENGHUBUNGIKU...!!!"


"DEG...!!!"


mendengar jawaban Hengki, seketika semua yang ada disana nampak terkejut dan menghentikan tawanya, begitu juga dengan Via, jantungnya langsung Berdetak keras.


"a... apa kamu serius...?"


"ya..."


"DEG...!!!"


kembali jantung Via berdetak keras.


"Di... kenapa kamu menghubungi Hengki tetapi tidak menghubungiku...?! apa kamu lupa sama aku...?" batin Via sedih dan marah.


"selama ini aku selalu menunggu kabar darimu, tapi..., jangankan menelpon, mengirim pesan pun kamu ga pernah...! trus sekarang kamu menghubungi Hengki, tapi tidak mengabariku apa-apa...! apa kamu benar-benar melupakanku...?!"


"trus Dia bilang apa...? bagaimana kabarnya...? dimana Dia...? apa saja yang Dia bilang...? apa yang kalian bicarakan...?!" kali ini Ayu yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Mon, satu-satu nanyanya...! nanti Dia tambah bingung...!" tegur Siska.


"Heng, coba kamu ceritakan apa yang kalian bicarakan kemarin...!" lanjut Siska.


sejenak Hengki terlihat berfikir, kemudian meneguk arak dan menghidupkan sebatang rokok.


"kemarin malam, saat aku mau tidur, tiba-tiba Dia menelpon ke rumah..."



"***Heng, ini kamu***...?"



"***ya, ini siapa***...?"



"***ini aku, Adi***...!"



"***sialan...! tak kirain siapa...!!! kamu dimana...? kenapa selama ini tidak pernah ngasi kabar***...?!"



"***maaf Heng, bukannya aku ga mau, tapi aku ga bisa...! dua minggu setelah aku berangkat, kapal yang kutumpangi diserang bajak laut. ketika hampir tenggelam, tiba-tiba datang kapal penolong yang menyelamatkanku. saat berada diatas kapal penolong itu, aku sempat berbincang dengan kaptennya beberapa kali, dan entah kenapa, sepertinya Dia tertarik denganku, dan mengajak aku bertemu dengan ketuanya. aku yang juga tertarik dengan tawarannya lalu mengiyakannya, dan kami berangkat menuju kemarkas mereka. tapi belum sampai kami ditempat tujuan, kapal kami diserang Armada laut, sehingga kami harus berlabuh darurat***..."



"***tu... tunggu Di... ceritamu terlalu cepat, bisa kamu ulang pelan-pelan***...?"



"***aku ga punya banyak waktu, Heng..! saat ini aku lagi ditelpon umum, dan mungkin sebentar lagi mereka akan menangkapku***...!"



"***menangkapmu...! siapa...?! kenapa***...?!"



"***Armada negara ini...! mereka mengira aku bagian dari orang-orang yang berada di kapal itu...! mereka mengira aku bagian dari organisasi itu***...!"



"***organisasi apa...?! yang jelas dong...! jangan buat aku semakin bingung***...!!!"

__ADS_1



"***organisasi yang selama ini kita bicarakan, Heng...! ORPEKEDIA***...!!!"



"***ORPEKEDIA...!!! jadi kamu bertemu mereka***...?"



"***ya, kapal yang menolongku adalah kapal mereka...! dan saat ini aku diburu pemerintah negara ini karena dianggap bagian dari mereka***...!"



"***ah...! sungguh sial nasibmu***...! ***lalu, sekarang kamu ada dimana***?"



"***aku di Musti***..."



"***Brak***...!!!"



"***ah, sial...! sepertinya mereka sudah menemukanku***...!!!"



"***Brak***...!!!"



"***hei, kamu baik-baik saja***...???"



"***sepertinya tidak...! jumlah mereka terlalu banyak***...!"



"***Brak***...!!!"



"***Prang***...!!!"



"***Heng, sepertinya kali ini aku tidak akan lolos... ! tolong sampaikan ke saudara sama teman - teman kita yang lain, aku minta maaf selama ini banyak merepotkan kalian...! terima kasih untuk semuanya***...!"



"***jangan ngomong aneh-aneh***...!!!"



"***Brak***...!!!"



"***Prang***...!!!"



"***satu lagi***..."



"***Bag***...!!!"



"***Bug***...!!!"



"***sam... sampaikan salamku ke Via...! ingatlah... ingatlah kembang api...! aku... aku... Sayang... argghhh***..."



"***tuttt... tuttt... tutttttttt***..."



suasana yang sebelumnya riuh kini berubah senyap.


semua terdiam, mengira-ngira apa yang terjadi pada Adi.


setelah hampir lima belas menit berlalu, tiba-tiba Bladuk meneguk arak langsung dari botolnya.


"dasar sialan...! sekalinya nelpon, bukannya ngasi berita bagus, malah ngabari yang aneh-aneh...! mabukku jadi hilang....!!!" omel nya.


"sabar bro...! setidaknya Dia sudah ngasi kabar, jadi kita tau alasannya selama ini tidak menghubungi kita...!" Tommi berusaha menenangkan Bladuk.


"lalu, apa yang sekarang kita mesti lakukan?" kali ini Siska yang bertanya.


"aku rasa tidak ada...! selain kita tidak tau dimana Dia berada, kalian dengar sendiri Dia sedang berurusan dengan siapa! dengan kemampuan kita yang sekarang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, selain menunggu kabar darinya...!" jawab Tommi pelan.


"ya... kita hanya bisa menunggu, dan mendoakan yang terbaik baginya...!"

__ADS_1


__ADS_2