
nan jauh di seberang samudra...
"siang bos, ini bocah yang saya ceritakan waktu itu...!"
"hmmm... jadi kamu orangnya...! siapa namamu anak muda...?"
"saya Adiyasa, tuan..., biasa dipanggil Adi...!"
"Adi...! nama yang kurang bagus, terkesan pasaran...!!! hmmm..., bagaimana kalau kamu kupanggil YASA saja...? Yasa berarti KEMULIAAN...!"
"terserah tuan saja, saya tidak keberatan...!"
"bagus...! kamu berasal dari mana...?"
"dari negara Bali, tuan...! tepatnya desa Darmatemaja, provinsi Tanadewa...!!!"
"Darmatemaja...! oh, kampungnya Ricah si Tinju Bintang Utara...?"
"iya tuan, apa tuan mengenal beliau...?"
"tentu saja...! dulu aku sering terlibat bentrok dengannya...! kamu sendiri kenal baik dengannya...?"
"iya, tuan...! beliau guru bela diri saya sewaktu kecil...! dulu saya sering berlatih dengan anaknya...!"
"oh, si Hengki...! anaknya yang terkenal jenius dalam bela diri itu...?"
"iya, tuan... apa tuan juga mengenal Hengki...?"
"aku tidak mengenalnya, tapi kami terus mengamatinya...!"
"mengamatinya...?!"
"ya, kami selalu mengamati dan memantau perkembangan orang-orang hebat di dunia ini...!"
"untuk apa...?"
"untuk mengajak mereka bergabung dengan Organisasi kami...!"
"apa itu berarti termasuk saya...?"
"kamu...! memang apa kehebatanmu yang membuatku tertarik mengajakmu bergabung...?"
"saya juga tidak tau, tuan...! tapi yang pasti, tidak mungkin tuan mau repot-repot menyuruh anak buah tuan menyerang penjara untuk membebaskan saya, kalau tidak ada sesuatu yang membuat tuan tertarik pada saya...!"
"hahahaha... ternyata kamu cerdas juga...! hahahaha... hahahaha... baiklah, biar kuberitahu, sesungguhnya aku tertarik padamu karena tujuanmu...!"
"tujuan saya...? saya tidak mengerti...!"
"tadi kamu bilang berasal dari Bali, untuk apa kamu pergi jauh sampai ke BENUA BARU...?"
"seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya ke Kapten Pio, saya ke benua baru untuk mencari kekayaan...!"
"seberapa banyak...?"
"sebanyak mungkin, sampai tidak bisa dihitung...!"
"untuk apa kekayaan sebanyak itu...?"
"UNTUK MERUBAH DUNIA...!!!"
...
kita kembali kerumah Wira...
malam itu, sehabis makan malam dan bersiram, Via langsung membaringkan diri diranjang.
setelah menelpon mama dan kedua sahabatnya, Via yang merasa sangat lelah langsung tertidur.
sedang enak-enaknya bermimpi, tiba-tiba Via dikagetkan oleh suara tawa yang begitu berisik.
dengan kesal Via keluar dari kamarnya hendak mencari tau darimana suara berisik itu berasal.
sampai di ruang tengah, nampak Wira dan Timi sedang tertawa dan bercanda mesra disofa sambil menikmati beberapa botol tuak.
"tidak kusangka, selain cantik, seksi, kamu juga pintar menyanyi...! daripada menjadi seorang pelayan, aku rasa kamu lebih cocok menjadi seorang artis...!" kata Wira sambil memainkan rambut depan Timi.
"ah, Wira..., kamu terlalu menyanjungku...!" balas Timi malu-malu.
"aku tidak bohong...! kalau mau, besok aku kenalkan kamu ke temanku yang seorang produser, Dia pasti akan sangat senang bertemu denganmu...!"
"tapi, Wira..., aku tidak ingin menjadi seorang artis...! aku cuma ingin menjadi seorang juru masak yang hebat...!"
"kalau begitu, bagaimana kalau kamu menjadi juru masak pribadiku saja...? siapa tau suatu saat kamu bisa menjadi juru masak pribadi anak-anak kita, hehehe..." kali ini Wira mengelus pipi Timi.
"eh, anak-anak kita...? apa maksudmu kamu... aku...?" Timi nampak memainkan kedua jari telunjuknya.
"iya..., kamu dan aku...! kenapa...? kamu tidak mau...?"
"bu... bukan begitu, hanya saja aku merasa ini terlalu cepat...! kita baru kenal tadi siang, aku..." Timi terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"kamu kenapa...? takut...?"
Timi mengangguk.
"jangan takut, sayang..., aku tidak akan mempermainkanmu...! aku benar-benar jatuh cinta saat pertama kali melihatmu...! kecantikanmu membuatku tergila-gila...! bahkan dewi Venus* pun kalah cantik denganmu...!"
(Dewi Venus adalah Dewi Cinta dan kecantikan di jaman itu.)
"ah, jangan menggodaku...!"
"aku tidak menggodamu, aku bersungguh - sungguh...! lihatlah mataku...! apa kamu menemukan adanya kebohongan disana...?"
sesaat, Timi dan Wira saling menatap dalam kebisuan, hingga perlahan, Wira mulai mendekatkan wajahnya ke Timi.
Timi yang saat itu sudah mabuk alkohol dan mabuk cinta langsung menutup matanya, seakan siap menerima apapun yang akan Wira lakukan padanya.
"ehem...!!!"
belum sampai bibir Wira menyentuh bibir Timi, tiba-tiba Via berdeham, sehingga membuat dua insan yang sedang dimabuk asmara itu terkejut,
"eh, Via...! belum tidur...?" tanya Wira menatap Via tersenyum.
"bagaimana aku bisa tidur kalau kalian ribut...!" jawab Via kesal.
"Wir..., nona dokter tinggal disini denganmu...?" Timi yang ikut terkejut bertanya ke Wira.
"iya, sayang..., Dia menumpang dirumahku karena tidak punya tempat tinggal...!" jawab Wira asal.
"maksudmu tidak punya tempat tinggal...?" tanya Timi lagi.
"jadi ceritanya, dua hari lalu aku menemukannya sedang tidur di parkiran...! karena kasihan, aku membawanya pulang dan mengijinkannya menginap disini untuk sementara waktu...!" jelas Wira.
"mmmm... jadi kamu juga baru mengenalnya....?"
"ya, begitulah...!"
"a... apa kamu juga menyukainya...?" kali ini Timi bertanya sambil melirik cemburu kearah Via.
"tentu saja tidak, sayang...! sudah kubilang, aku hanya kasihan padanya...! wanita yang kusukai hanya kamu...!"
Via yang kesal mendengar kata-kata Wira langsung menyahut,
"ya ya ya..., kamu memang kasihan padaku...! karena itu, tolong kasihani aku lagi...! aku ingin tidur...! tidak bisakah kalian untuk tidak berisik...!!!"
"tentu saja, bu dokter...!" sahut Wira tersenyum lebar.
"Tim, bagaimana kalau kita sudahi acara kita malam ini...? sebaiknya sekarang kamu beristirahat, besok pagi-pagi aku antar kamu pulang...!" lanjut Wira kembali menoleh ke Timi.
"iya, istirahat...! kenapa...? ada yang salah...?" tanya Wira ikut bingung.
"lho, bu... bukannya tadi kamu bilang kita mau bersenang - senang...?" balas Timi masih bingung.
"Timi sayang..., bukannya dari tadi kita sudah bersenang-senang...! kita makan malam, minum tuak, bernyanyi, menari..., bukankah semua itu menyenangkan...?"
"i... iya sih, cuma aku kira maksudmu bersenang-senang itu..."
"itu apa...? bercinta...?" tanya Wira seolah bisa menebak pikiran Timi.
Timi mengangguk malu, wajahnya nampak memerah.
melihat Timi mengangguk, seketika pecahlah tawa Wira,
"hahahaha... sepertinya kamu salah paham...! yang kumaksud bersenang-senang bukan itu...! melainkan seperti yang kita lakukan tadi, jalan-jalan, mabuk dan tertawa...! hahahaha... hahahaha..."
"ta... tapi kata kakek..." Timi masih terlihat bingung.
"yah, mungkin saja kakekmu menyangka aku seperti itu...! tapi biar kuberitahu, aku buka tipe orang kaya yang suka memaksakan kehendak ke orang lain, terutama dalam urusan Ranjang...! aku bukan orang mesum yang bisa tidur dan bercinta dengan siapa saja...! bagiku hal itu sangat sakral...! aku hanya akan melakukannya dengan orang yang benar-benar aku cintai dan sayangi...!"
penjelasan Wira membuat Timi terkesima. matanya memandang Wira dengan takjub, sekan-akan sedang memandang seorang pangeran tampan yang arif dan bijaksana.
tau Timi sedang memandanginya dengan kagum, kembali Wira berkata,
"hei...! jangan memandangiku terus seperti itu...! kamu membuat jantungku berdebar tidak karuan...! sebaiknya sekarang kamu cepat tidur, supaya besok pagi kamu segar...!"
"i.... iya, Wir..." balas Tini tersipu malu.
"kamu sendiri tidak istirahat...?" kali ini Tiwi yang bertanya sambil beranjak dari sofa.
"sebentar lagi, masih ada yang ingin kubicarakan dengan bu Dokter...!"
"mengenai apa...?" Timi melirik Via, cemburu.
"rencana kerja kami besok...!" jawab Wira asal.
"oh, ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, takut besok kamu kesiangan mengantarku pulang...!"
"iya, Timi sayang...!" balas Wira tersenyum.
...
__ADS_1
baru saja Timi masuk kamar, Wira langsung menoleh ke Via,
"ngapain kamu bangun...? pasti kamu sengaja ingin mengganggu kesenanganku, ya...?" tuduhnya.
"siapa yang mau ganggu kamu...! sudah kubilang aku terbangun gara-gara kalian terlalu berisik...!"
"oya...? bukannya karena kamu cemburu...? hehehe..."
"enak aja...!" balas Via langsung duduk disamping Wira, lalu dengan cepat tangannya menyambar sebotol tuak yang sudah terbuka.
"tidak kusangka kamu membiarkannya beristirahat...! kukira kamu akan menyuruhnya menemanimu bersenang-senang untuk membayar hutang kakeknya...!" kata Via sehabis meneguk tuaknya.
"hahahaha... sudah kubilang, aku bukan tipe orang yang suka memaksa...! bukankah tadi aku sudah berjanji padamu untuk tidak memaksanya...? apa sekarang kamu percaya...?"
Via mengangguk.
"lagian aku ini seorang pebisnis...! pebisnis sejati tidak akan mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan....! aku bukan orang bodoh yang mau menukar hutang dengan kesenangan sesaat...!" lanjut Wira yang ikut meneguk tuak ditangannya.
"aku mengerti itu, papaku juga sering mengatakan hal itu...! tapi aku tidak habis fikir, jika kamu punya prinsip seperti itu, lalu untuk apa kamu mengajaknya kesini...? dan mengapa kamu mengatakan hal itu kepada kakeknya...?" tanya Via heran.
"tantu saja untuk mengajaknya bersenang-senang...! hehehe..." balas Wira tersenyum lebar.
"bersenang - senang...?! jadi bagaimana dengan kakeknya...? apa kamu bermaksud membohongi kakeknya dengan mengajak cucunya bersenang-senang, tetapi kamu tidak mau mengurangi hutangnya...?! kalau iya, berarti kamu lebih jahat dari seorang pemerkosa...!"
"hahahaha... sepertinya kamu salah mengerti...!" balas Wira kembali tertawa.
"aku memang berjanji pada kakeknya kalau akan mengurangi hutangnya kalau Dia mau menemaniku bersenang -senang, dan aku juga berjanji padamu tidak akan memaksanya..., tapi, bagaimana kalau hal itu dibalik...? maksudku, bagaimana kalau bukan aku yang mengajaknya bersenang-senang, tetapi dia yang mengajakku...? bukankah itu berarti aku bebas dari kedua janjiku tadi...! hehehe..."
"maksudmu malam ini Dia akan mengajakmu bersenang-senang...? hahahaha... Wir, Wir..., sepertinya kamu sudah mabuk...! khayalanmu sungguh tidak masuk diakal...! bukankah kamu lihat sendiri Dia sudah masuk kamar dan tidur...!"
"apa kamu yakin Dia sudah tidur...? apa kamu barusan mendengar suara pintu kamarnya tertutup...?" Wira balik bertanya.
"entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan hal itu...!"
"biar kuberitahu, dari tadi Dia mengintip kita, sepertinya Dia cemburu padamu...!" kata Wira setengah berbisik.
"oya...? trus, apa yang mau kamu lakukan sekarang...? apa kamu akan mendatanginya dan menyuruhnya mengajakmu bersenang-senang...?"
"hahahaha... mana mungkin aku melakukan itu...! itu akan menjadi hal terkonyol yang pernah kulakukan...!"
"lalu...?"
"kamu perhatikan saja apa yang akan aku lakukan untuk membuatnya memaksaku masuk ke kamarnya...!"
sehabis bicara, Wira langsung mengambil dua botol tuak dan berjalan ke kamar Timi.
"tok... tok..."
"eh, Wira..., ada apa...?"
"oh tidak, aku hanya ingin memastikan kamu sudah tidur...! mmmm... kenapa kamu belum tidur...?"
"aku juga tidak tau, sepertinya aku tidak terbiasa tidur di tempat asing...!" balas Timi berbohong.
"hahahaha... kupikir juga begitu..., karena itu aku sengaja datang membawakanmu beberapa botol tuak supaya kamu bisa cepat tidur...!"
Wira lalu menyerahkan dua botol tuak ditangannya.
"makasi ya, Wir..."
"sama-sama, Timi sayang... baiklah, kalau begitu aku istirahat dulu, selamat malam, selamat beristirahat, semoga mimpimu indah...!"
"sama-sama..., Wira sayang..."
Wira lalu berbalik badan hendak meningalkan Timi.
baru saja hendak melangkah, Wira yang teringat sesuatu kembali berbalik badan,
"oya, Tim..., kalau kamu takut sendiri atau ingin kutemani..., KAMU BOLEH MENCARIKU DIKAMARKU...!" bisik Wira pelan.
selepas berbisik, Wira langsung pergi meninggalkan Timi dan menghampiri Via.
"percaya tidak percaya, sebentar lagi Dia akan mencariku dan mengajakku bersenang-senang...! hehehe..." bisik Wira penuh percaya diri.
"memang apa yang barusan kamu bisikkan ke Dia...?" tanya Via penasaran.
"sama seperti yang aku katakan padamu semalam...! hehehe..." balas Wira yang langsung masuk kamarnya.
melihat Wira masuk kamar, Via juga segera masuk kekamarnya sambil membawa sebotol tuak.
sambil menikmati tuak yang dibawanya, Via yang penasaran akan kata-kata Wira, diam-diam mengintip keluar dari sela-sela pintu yang memang sengaja tidak ditutup rapat.
tidak sampai setengah jam, telihat Timi keluar kamar, dan berjalan mengendap-endap ke kamar Wira.
di depan kamar Wira, Timi terlihat gelisah dan ragu, tapi kemudian, tangannya mulai mengetuk pintu kamar Wira pelan.
tidak berapa lama, Wira keluar sambil berpura-pura menguap.
sesaat, Wira dan Timi terlihat berbisik-bisik, hingga kemudian, Wira menutup pintu kamarnya dan berjalan mengikuti Timi masuk kekamarnya.
__ADS_1
tepat sebelum menutup pintu kamar Timi, Wira menoleh kearah Via.
seakan tau Via memperhatikannya, Wira mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum lebar, SENYUM PENUH KEMENANGAN.