
"yang pertama, jangan sampai ada yang tahu kemampuanmu...! "
yang kedua, jangan pernah menunjukkan kalungmu sembarangan...!
dan yang terakhir, jangan pernah menyebutkan nama nenekmu, atau julukannya kepada siapapun...!
ketiga larangan itu harus selalu kamu ingat, dan hanya kepada orang yang benar-benar kamu percaya saja kamu boleh memberitahunya...!"
"lalu, bagaimana cara Via menemukan nenek kalau tidak boleh menyebutkan nama atau julukannya...?"
"nanti sampai didesa itu, kamu pergilah ke kaki gunung, cari kedai milik pak Gabeng, dan katakan kamu sedang menunggu kawan lama. jika orang bertanya siapa namanya, kamu cukup jawab Putri Cening Ayu. tunggulah disana sampai seseorang berkata Dia telah meninggal, dan mengajakmu mengunjungi makamnya. ikutilah orang itu, karena Dia akan menuntunmu ketempat nenekmu berada...!"
...
siang itu, setelah berpamitan dengan sepupu Arum, Via memutuskan menemui kakek Cupet untuk berpamitan sebelum melanjutkan perjalanannya ke selatan, tetapi alangkah terkejutnya Via ketika mendapati toko buku tua milik sang Kakek sudah hangus terbakar.
"bu..., apa ibu tau kapan toko buku itu terbakar...?" tanya Via ke pelayan toko diseberang.
"kemaren sore, Dik...!" jawab si pelayan.
"kalau tidak salah, sekitar jam setengah lima tiba-tiba api besar membakar toko itu dengan sangat cepat...! saking cepatnya, hingga sebelum pemadam datang toko itu sudah hangus tak bersisa...!" lanjut si pelayan menjelaskan.
"setengah lima...?! bukankah aku meninggalkan toko itu sekitar jam empat lewat sedikit...? berarti setelah aku pergi toko itu langsung terbakar...! ah, sungguh suatu kebetulan...!" batin Via.
"lalu, bagaimana dengan kakek pemilik toko itu, bu...? apa beliau selamat...?" tanya Via lagi.
"kakek...? kakek siapa, Dik...?" si pelayan nampak bingung.
"selama lima bulan saya bekerja disini, saya tidak pernah melihat ada orang yang tinggal disana...! jangankan tinggal, orang saja tidak pernah kelihatan disana...!"
jawaban pelayan itu sontak membuat Via terkejut,
"ta... tapi bu..., kemarin sekitar jam tiga saya dan teman saya datang kesana dan bertemu kakek itu...! apa ibu tidak melihat saya masuk kesana...?"
sejenak pelayan wanita paruh baya itu terlihat berfikir, kemudian menjawab, "tidak, non...! kemarin saya seharian berdiri disini, tapi saya tidak melihat siapapun datang ke toko itu...! apa non tidak salah tempat...?"
kali ini Via yang terlihat berfikir sambil memperhatikan keadaan disekitarnya, hingga kemudian Via menggeleng, "tidak bu, saya yakin saya tidak salah tempat...! saya memang datang ke toko itu, saya ingat betul toko-toko di sekitarnya, termasuk toko ibu ini...!"
sambil menatap Via heran, si pelayan membalas, "ta... tapi itu tidak mungkin, Dik...!"
"kenapa tidak mungkin, bu...?"
"karena toko itu sudah nyaris roboh...! jangankan orang, anjing saja jika memasuki toko itu pasti akan langsung roboh...! jadi saya rasa non pasti salah tempat...!" jawab si pelayan bersikeras.
kembali Via berfikir,
"aku tidak mengerti...? aku yakin aku tidak salah tempat, tetapi aku juga merasa ibu ini tidak berbohong...! ah, mungkin sebaiknya nanti aku tanya Wira saja...! mungkin Dia tau apa yang terjadi...!"
"bu..., sepertinya ibu benar, saya yang salah tempat...! karena itu saya permisi dulu, mohon maaf mengganggu waktunya...!"
"iya, Dik..., tidak apa-apa...!"
walaupun masih merasa penasaran, Via akhirnya meninggalkan toko itu dan melanjutkan perjalanannya ke selatan.
...
setelah menempuh dua puluh jam perjalan yang melelahkan, akhirnya Via tiba ditujuannya, yaitu desa Aturaja Tiga.
saat itu waktu menunjukkan pukul enam pagi, dan Via yang merasa sangat mengantuk karena tidak tidur semalaman memutuskan untuk beristirahat di salah satu penginapan disana, tentunya setelah memastikan penginapan itu tidak ada tanda hati kembar berwarna pink.
"pagi, nona..., ada yang bisa saya bantu...?" sapa seorang lelaki gempal berkumis tebal.
"pagi, om...! saya ingin menyewa kamar disini, apa ada yang kosong...?"
"ada, non...! maaf sebelumnya, dengan siapa saya berbicara...?" jawab pria itu yang adalah si pemilik penginapan.
"saya Sephia, om..., panggil saja Via...!"
"baik, non Via mau yang dilantai bawah apa diatas...?"
"saya rasa yang diatas, om...! saya terbiasa tidur dilantai dua...!"
"baik, kalau begitu silahkan non Via ikuti saya untuk melihat kamar yang cocok...!"
pemilik penginapan lalu mengajak Via melihat-lihat beberapa kamar kosong dilantai dua.
"jadi bagaimana...? apa ada kamar yang sesuai keinginan nona...?"
"saya rasa yang itu saja, om...!" jawab Via menunjuk kamar yang menghadap ke jalan.
"baik, kalau begitu silahkan non, ini kuncinya...!" balas si pemilik penginapan sambil menyerahkan sebuah kunci ke Via.
__ADS_1
sejenak Via nampak ragu menerima kunci itu.
melihat Via ragu, kembali pemilik penginapan berkata, "ada apa, non...? apa ada yang salah...?"
"ma... maaf om, apa kamarnya tidak dirapikan dulu...? sepertinya kamarnya sedikit berantakan...!"
"oh, itu memang seperti itu, non...!" jawab pemilik penginapan tersenyum.
"kamarnya memang sengaja dibiarkan seperti itu supaya non bisa mengaturnya sendiri...!"
"ma... maksud, om...?" tanya Via heran.
"ya, itu tradisi disini, sama seperti nama desa ini, Aturaja...!!! jadi non silahkan atur saja sendiri kamar non seperti yang non suka...!" jelas pemilik penginapan.
"tradisi yang aneh...!"
...
setelah cukup beristirahat, Via lalu Berlatih seperti biasanya.
sehabis bersiram, Via kembali menemui pemilik penginapan.
"sore, om..."
"sore, non...! ada yang bisa saya bantu...?"
"saya mau nanya, apa om tau dimana kedai pak Gabung...?"
"oh, maksud non kedai pak Gabeng...?"
"iya, om kedai pak Gubeng...!"
"Gabeng, non...! bukan Gubeng...!"
"iya, om... kedai pak Gebeng...!"
"terserah, deh...! kedainya di selatan desa, non...! nanti non keluar, lalu belok kiri, setelah ketemu perempatan, belok kanan, dan terus ikuti jalan itu sampai mentok. diujung jalan itu, ada tanah kosong, dan ditengah tanah kosong itu, ada sebuah bangunan dari bambu, di sanalah kedai pak Gabeng...!"
"baik, om..., terima kasih infonya...!"
"ngomong-ngomong, ada urusan apa non mau kesana...?"
"sepertinya tidak...? tapi apa non serius mau bertemu teman non disana...?"
"iya, om..., memangnya kenapa...?"
"oh, tidak apa-apa, hanya saja non harus sedikit berhati-hati...! kadang disana ada anak-anak muda yang suka bikin onar saat mabuk...! kalau ada apa-apa, sebaiknya non segera kembali kesini...!"
"baik, om..., akan saya ingat nasehat om...!"
...
mengikuti arahan pemilik penginapan, sampailah Via di kedai pak Gabeng.
sejenak Via memerhatikan sekeliling, walaupun namanya kedai, tetapi tempat itu lebih menyerupai rumah minum*, dimana sebagian besar pengunjungnya memesan tuak dan arak.
( rumah minum \= tempat dimana orang mabuk dan bersenang - senang, tetapi dengan suasana yang sederhana ala pedesaan )
setelah memesan sebotol arak pink dan seporsi sate udang bakar, Via lalu duduk disalah satu meja yang terletak di pojok belakang.
cukup lama Via menikmati kesendiriannya sambil mengamati orang-orang yang ada disana, hingga tiba-tiba seorang pria kurus setengah baya menghampirinya.
"selamat malam, nona...! sepertinya saya baru pertama kali melihat nona disini...! kenalkan, saya Heri, kepala desa disini...!" sapa pria itu ramah.
"oh, selamat malam juga pak Heri, saya Via, saya memang baru hari ini tiba disini...!" balas Via juga ramah.
"kalau boleh tau, ada keperluan apa nona datang ke desa ini...?"
"saya ada janji bertemu teman lama saya disini, pak...!"
"apa teman nona itu penduduk desa ini...?"
"saya juga kurang tau, Dia hanya menyuruh saya menunggu disini...!"
"kalau boleh tau, siapa nama teman nona itu...?"
"Putri Cening Ayu, pak...! apa bapak mengenalnya...?"
sejenak pak Henri nampak berfikir, kemudian berkata,
"setau saya tidak ada penduduk didesa ini bernama itu...! apa mungkin Dia berasal dari desa sebelah...?"
__ADS_1
"saya juga kurang tau, pak...! Dia hanya menyuruh saya menunggu disini...!" Via mengulang jawabannya yang tadi.
"oh, begitu...! ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu, silahkan nona melanjutkan menikmati araknya, tapi kalau boleh saya memberi saran, jangan terlalu banyak minum, tidak baik untuk kesehatan...!"
"baik, pak...!"
selepas kepala desa pergi, kembali Via menikmati arak dan sate udangnya.
tidak berapa lama, datang lagi seorang pria berbadan kekar menghampirinya.
"selamat malam, nona...! sepertinya saya baru pertama kali melihat nona disini...! kenalkan, saya Kopar, ketua keamanan desa ini...!"
setelah berbasi - basi sebentar, pria yang mengaku ketua keamanan itu lalu pergi meninggalkan Via.
setelah itu, silih berganti orang-orang menghampirinya, dari sekertaris desa, bendahara desa, kepala kesehatan desa, ketua ibu-ibu desa, ketua remaja, ketua sepakbola, kepala dagang desa, bahkan, sampai ketua tidak jelas desa menghampirinya dan menanyakan pertanyaan yang sama, tapi sayang, dari semua yang menghampirinya, tidak ada seorangpun yang mengenal Putri Cening Ayu.
hingga Via yang sudah merasa mulai mabuk memutuskan untuk kembali ke penginapan.
...
sampai dikamarnya, Via yang teringat kejadian aneh tadi siang langsung menghubungi Wira.
"hei, sayang..., kamu dimana...? kenapa semalam kamu pergi begitu saja...?"
"jangan berpura-pura bodoh, kamu pasti sudah tau sebabnya...!"
"sungguh, aku tidak tau...! maukah kamu menjelaskannya padaku...?"
"tidak, aku malas...! kamu tanya saja pada Arum...!"
"Arum...?! kenapa harus tanya Arum...? kenapa tidak kamu saja yang menjelaskannya...?"
"sudah kubilang aku malas...! tujuanku menelponmu bukan untuk membahas itu, melainkan aku ingin menanyakan sesuatu...?"
"apa...?"
"apa kamu tau toko kakek Cupet terbakar...?"
"kakek Cupet...?! kakek Cupet itu siapa...?"
"masa kamu lupa...? itu kakek Cupet, pemilik toko buku tua yang sempat sindir menyindir denganmu...!"
"toko buku tua...?! sindir menyindir denganku...?! aku kok tidak ingat ya...!"
"Wir..., aku sedang tidak ingin bercanda...!"
"Vi..., aku tidak bercanda, aku benar-benar tidak ingat...! coba kamu jelaskan lebih detail, siapa tau aku bisa mengingatnya...!"
sejenak Via terdiam, kemudian menceritakan kembali semua Kejadian yang mereka alami saat bertemu kakek Cupet.
"jadi, apa sekarang kamu sudah mengingatnya...?" tanya Via diakhir ceritanya.
kali ini Wira yang terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Vi..., apa kamu sekarang sedang minum tuak...?"
"tidak...! kenapa...?"
"apa sekarang kamu sedang minum arak...?"
"tidak...! kenapa...?"
"apa barusan kamu ada minum tuak atau arak...?"
"ada...! barusan aku minum arak, tapi tidak banyak...! memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu...?"
"karena omonganmu dari tadi sangat aneh dan tidak jelas...!!! apa kamu sudah mabuk...?"
"aku tidak mabuk...! ceritaku dari tadi benar...! mungkin kamu yang mabuk sampai lupa kejadian itu...!"
"bagaimana mungkin aku mabuk...! saat ini aku sedang tidak minum...!"
"oya...? tumben malam-malam begini kamu tidak bersenang-senang...?"
"soalnya sekarang aku lagi sibuk...!"
"sibuk apa...?"
"bercinta dengan Timi...! hehehe..."
"ka...kamu...! dasar mesum...!!!"
"tutttt...."
__ADS_1