PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
45. PERGI KE PERTEMUAN


__ADS_3

"jangan lama-lama...! pakai pakaian yang biasa saja...!"


"ya, aku tau...!!!"


seperti biasa, setelah mandi Via langsung mengenakan kaos oblong dan celana jins yang diambilnya tanpa dipilih lagi. sehabis berias seadanya, Via lalu menunggu Wira diruang tengah.


cukup lama Via menunggu, hingga akhirnya Wira keluar dari kamarnya.


"DEG...!!!"


alangkah terkejutnya Via melihat penampilan Wira.


nampak Wira mengenakan kemeja biru muda dilapis jas biru dongker dengan kancing terbuka seluruhnya, dipadu celana kasual dan sepatu kain berwarna sama dengan jasnya.


rambutnya yang biasa berantakan kali ini disisir rapi ke belakang, sungguh, penampilan Wira yang sangat elegan sore itu membuat jantung Via tidak berhenti berdetak.


"tidak kusangka, ternyata Dia tampan juga...! pantas saja banyak gadis tergila-gila padanya...!" batin Via mengagumi penampilan Wira.


"hei kenapa bengong...! apa kamu terpesona padaku...? hehehe..."


pertanyaan Wira sontak membuyarkan lamunan Via.


"eh... tidak... itu..."


belum sempat Via menjawab, kembali Wira berkata,


"apa-apaan penampilanmu ini...! bukankah sudah kubilang kita akan pergi ke pesta...! kenapa kamu malah berpakaian seperti ini...?! kamu ingin mempermalukanku ya...?!"


"lho, bukannya kamu sendiri yang tadi bilang pakai pakaian yang biasa saja...?" balas Via tidak mau disalahkan.


"kamu bodoh, ya...! kita ini ke pesta... KEPESTA...!!! apa ini pakaian yang pantas dikenakan saat ke pesta...?!"


"ta... tapi, kan..."


"sudah, jangan banyak bicara lagi...! sekarang cepat kamu ganti bajumu sebelum aku yang menggantikannya...!"


dengan kesal Via kembali kekamarnya.


didepan lemari pakaian, Via nampak bingung memilih pakaian yang akan dikenakannya.


"ishhh... yang mana ya...? segini banyaknya pakaian, aku harus pakai yang mana...? ah, sebaiknya aku minta saran mbak Amel...!"


tidak berapa lama Amel sudah berada dikamar Via dan membantunya memilih pakaian.


"saya rasa gaun ini akan sangat sesuai dengan warna kulit dan bentuk tubuh non Via..."


secepatnya Via mengenakan gaun pemberian Amel.


"wah, mbak Amel memang yang terbaik...! selain indah, gaun ini juga sangat nyaman dan pas saya pakai...! eh, tapi...?"


"tapi apa, non...? apa ada yang salah...?"


"entahlah, saya hanya merasa ada yang aneh...! tapi saya juga tidak mengerti...! ah, sudahlah...! mungkin hanya perasaan saya saja...! apa sekarang mbak Amel bisa membantu saya berias...?"


"tentu saja...!"


...


sehabis berias, Via kembali menemui Wira.


"bagaimana...? apa sekarang penampilanku sudah sesuai...?" tanya Via.

__ADS_1


"ah, ternyata sama saja...!" Wira terlihat kecewa.


"apa maksudmu sama saja...?" tanya Via kesal.


"kupikir setelah berganti pakaian kamu akan telihat sedikit lebih cantik, tapi ternyata sama saja...! yah, mudah-mudahan nanti tidak yang menertawakanku karena datang bersamamu...!"


"maksudmu kamu tidak suka datang denganku...?! ya sudah, kamu pergi saja sendiri...! aku mau tidur...!!!"


Via yang kesal lalu berbalik hendak kembali ke kamarnya.


baru saja Via melangkah, tiba-tiba Wira meraih sebelah tangannya,


"ah, ternyata aku salah...! sore ini kamu terlihat cantik sekali...!" kata Wira sambil tersenyum.


"jangan mempermainkanku...! barusan kamu bilang aku jelek, sekarang kamu bilang aku cantik...! maumu apa, hah...?!"


"aku tidak mempermainkanmu, kamu memang terlihat sangat cantik..., sewaktu marah...! hehehe..."


"ka... kamu...!!!"


"sudahlah sayang, jangan marah lagi...! nanti kamu tambah cantik dan membuatku benar-benar jatuh cinta padamu...! sebaiknya sekarang kita cepat berangkat sebelum terlambat...!"


tanpa memberikan kesempatan Via membalas, Wira langsung menarik tangannya menuju garasi.


sampai di garasi, nampak om Juna sedang berdiri di depan mobil Wira.


"sudah siap, tuan muda...?" tanyanya melihat Wira dan Via datang.


"sudah, om...!" balas Wira sambil membuka pintu belakang mobil.


"silahkan naik, sayang...!" Wira menuntun Via masuk dengan sangat sopan, seolah Via benar-benar kekasihnya.


sehabis menutup pintu, Wira lalu memutar dan masuk dari pintu sebelahnya.


"siap, tuan muda...!" balas om Juna yang langsung menjalankan mobil.


"kita kemana dulu, tuan muda...?"


"ke kantor dulu om, nanti kita ke rumah utama bersama dengan yang lain...!"


"siap, tuan muda...!"


...


tidak berapa lama, sampailah mereka di kantor Wira.


nampak sekitar seratus orang berpakaian rapi sudah menunggu kedatangan mereka.


"eh, mereka semua anak buahmu...?" tanya Via tidak percaya.


"tentu saja, mereka semua adalah pegawai tetap diperusahaanku...!" jawab Wira sambil menurunkan kaca mobilnya.


melihat Wira menurunkan kaca mobil, anak buahnya yang dipanggil gondrong langsung mendekat.


"tuan muda, kami semua sudah siap...!"


"bagus, kalau begitu kita tidak perlu berlama-lama lagi disini...! segera berangkat ke rumah utama sebelum tuan besar ngoceh ga karu-karuan...!"


"siap, tuan muda...!"


kembali om Juna menjalankan mobil, diikuti sekitar dua puluhan mobil dari berbagai jenis dibelakangnya.

__ADS_1


...


satu setengah jam perjalanan, sampailah mereka di depan sebuah gerbang besar berwarna putih, dengan lambang Kapak bermata dua bergagang Naga ditengahnya.


gerbang itu diapit tembok tinggi kokoh yang membentang panjang hingga tidak terlihat ujungnya.


jauh dibelakang gerbang itu, nampak sebuah bangunan mewah besar menyerupai istana.


melihat mobil Wira dan iring-iringan kendaraan dibelakangnya datang, para penjaga gerbang yang berjumlah sekitar dua puluh orang langsung membungkukkan badan.


"selamat datang tuan muda Wira...! selamat datang anggota cabang tiga...! salam Kapak Naga...!!!" sahut mereka bersamaan.


setelah mengucapkan salam, separuh dari para penjaga itu langsung melakukan pengecekan.


"semua aman...!" kata salah seorang dari penjaga itu, lalu temannya yang lain segera membuka gerbang.


kembali om Juna menjalankan mobil melintasi padang rumput yang sangat luas dan rapi.


mendekati bangunan mewah didepannya, mobil-mobil yang mengikuti mereka mulai berbelok ke berbagai arah, hanya mobil Wira yang terus berjalan lurus hingga sampai di depan pintu utama.


didepan pintu utama, nampak puluhan orang berjaket hitam berlambang kapak bermata kembar bergagang naga langsung membungkukkan badan takala melihat mobil Wira datang.


baru saja om Juna berhenti, dua orang pria besar langsung menghampiri mereka dan membukakan pintu.


"selamat datang tuan muda Wira..., salam Kapak Naga...!" kata salah satu dari mereka setengah membungkuk.


"salam Kapak Naga...!" balas Wira yang langsung turun dari mobil.


"selamat datang nona muda..., salam Kapak Naga...!" kata satunya lagi juga setengah membungkuk.


lain Wira, lain Via. saat itu Via hanya duduk dimobil tanpa membalas sapaan pria yang membukakan pintunya. wajahnya sangat tegang, nampak keringat dingin menetes dari keningnya.


melihat keadaan Via yang aneh, buru-buru Wira memutar dan menghampirinya.


"ada apa...? kenapa kamu terlihat tegang...?"


"a... aku... sepertinya aku belum siap...!" jawab Via tergagap.


"belum siap apa...?" tanya Wira heran.


"kenapa kamu tidak bilang kalau orangnya sebanyak ini...? dan kenapa kamu tidak bilang kalau kamu begitu dihormati...? jujur, aku sangat grogi...! aku belum pernah mengalami hal seperti ini...!"


Wira yang paham maksud Via dengan lembut berkata, "aku mengerti kamu grogi dan takut...! tapi kamu tenang saja, itu hal biasa dan hanya berlangsung sebentar, nanti juga kamu akan terbiasa...!"


"ta... tapi..." Via masih terlihat ragu.


"ayolah Via sayang..., kenapa kamu jadi penakut seperti ini...? mana Via yang tadi galak dan mau memukulku pakai helm...? hehehe..." canda Wira.


Via tidak membalas, wajahnya masih terlihat tegang.


"ya sudah, gini saja...! kalau kamu masih grogi, aku akan terus menemanimu sampai kamu merasa nyaman dan terbiasa...!"


"kamu janji...?"


"iya, aku janji...!" balas Wira sambil mencium punggung tangan Via.


Via yang akhirnya merasa sedikit tenang lalu keluar dari mobil.


baru saja Via keluar, kembali pria besar tadi berkata, "selamat datang nona muda, salam Kapak Naga...!"


"Vi, biasakan membalas sapaan mereka dengan salam yang sama...!" bisik Wira ke Via.

__ADS_1


Via mengangguk.


"salam Kapak Naga...!" balas Via tersenyum ke pria tadi.


__ADS_2