
malam itu, iring-iringan lima mobil mewah memasuki halaman rumah pribadi Wira.
"selamat datang tuan muda, nona Via..." sapa Rena dan Arum melihat Wira dan Via turun dari mobil.
"Ren, apa semua sudah siap...?" Tanya Wira ke Rena.
"beres, tuan muda...! semuanya sudah siap di taman belakang...!" jawab Rena tersenyum.
"bagus...! lalu, apa mereka sudah datang...?"
"sudah, tuan muda...! mereka sekarang sedang menunggu tuan muda di taman belakang...!"
"baiklah, kalau begitu sekarang kamu bantu Juna siapakan cemilan peneman minum...!"
"baik, tuan muda...!"
seusai berkata, bergegas Rena melangkah menuju Dapur.
"dan kamu Rum...!" kali ini Wira menoleh Arum.
"iya, tuan muda...!"
"bagaimana persiapan Via besok...?"
"semua sudah saya siapkan sesuai catatan yang diberikan...! tapi mungkin sebaiknya non Via mengeceknya kembali, siapa tau saja ada yang kelupaan...!" balas Arum menoleh Via.
"ya, memang itu tujuan saya pulang cepat mbak Arum, saya ingin memastikan persiapan besok...!" kali ini Via yang membalas.
"kalau begitu, non Via mau mengecek darimana dulu...?"
"motor saya, mbak...!"
"baik, kalau begitu silahkan lewat sini...!"
baru saja Via melangkah, tiba-tiba Wira menarik sebelah tangannya,
"hei, jangan lama-lama mengeceknya...!" bisik Wira.
"kenapa...?" balas Via.
"karena aku bisa mati kangen menunggumu, hehehe...!" balas Wira menggoda.
"gombal...!!!" secepatnya Via melepas tangannya dari Wira dan melangkah mengikuti Arum.
selepas Via pergi, Wira memberi isyarat ke teman-teman dan anak buahnya untuk mengikutinya ke taman belakang.
...
"saya rasa semuanya sudah lengkap, mbak Arum memang yang terbaik...!" puji Via sambil memasukkan pakaian dan perlengkapan riasannya ke kedalam tas ransel.
"makasi, non..., tapi ngomong-ngomong, kenapa gaun non Via robek...? dan kenapa penampilan non Via sedikit acak-acakan...?" tanya Arum menyadari penampilan Via.
"oh ini..., tadi saya terlibat perkelahian di pesta...!" jawab Via malas.
"perkelahian...?! karena apa, non...?"
"karena si mesum itu menyuruh saya berpura-pura menjadi pacarnya...?"
"oh, maksud non Via ujian...?"
"ya, ujian...! eh, bagaimana mbak Arum bisa tau...?"
__ADS_1
"hehehe... semua orang yang sudah lama bekerja dikeluarga tuan muda pasti tau itu...! sudah menjadi tradisi di keluarga mereka untuk memastikan kelayakan calon anggota keluarga mereka...! lalu, bagaimana hasil ujian tadi, non...?"
"entahlah, saya juga kurang tau, mbak...! yang jelas tadi saya memenangi duel dengan seseorang yang bernama Sinar...!"
"Sinar wakil ketua cabang dua...?"
"ya, Sinar anak buah Kak Saras...!"
"wah, kalau begitu berarti non Via bisa dibilang sudah lulus ujian pertama...!"
"ujian pertama...?! memang ada berapa ujian mbak...?"
"tiga, non...! ada tiga ujian yang non harus lewati sebelum dianggap layak sebagai calon keluarga mereka...!"
"waduh...! kalau begitu besok saya harus benar-benar pergi dari sini sebelum mereka menguji saya lagi...!"
"hahahaha... tidak usah takut, non...! ujian yang kedua dan ketiga biasanya dilakukan beberapa bulan setelah ujian pertama...!"
"oh, begitu...! berarti besok saya bisa pergi dengan tenang tanpa perlu khawatir ada orang datang untuk menguji saya...!"
"yah begitulah...!"
setelah mengunci tas ransel nya, Via lalu berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian.
tidak lama, Via kemudian mengganti gaunnya dengan sebuah baju kaos dan celana kain pendek yang dipilh nya secara asal.
"pas...!" gumamnya pelan..
"eh...!" kembali sebuah perasan aneh menyelimuti Via takala mengucapkan kata pas.
"non, ada apa non...? apa ada yang salah...?" tanya Arum menyadari Via yang diam termenung menatap cermin.
"mbak Arum..., boleh saya bertanya satu hal...?"
"INI SEBENARNYA KAMAR SIAPA...?"
sesaat Arum nampak terkejut, lalu dengan cepat menjawab, "seperti yang saya bilang sebelumya, non..., ini kamar tamu khusus tuan muda...!"
"saya rasa bukan...! ini bukan kamar khsusus tamu, ini pasti kamar seseorang...!" balas Via menatap Arum tidak percaya.
"kenapa non Via bisa bilang begitu...?" tanya Arum heran.
"karena SEMUA PAKAIAN YANG DISINI PAS UNTUK SAYA...!"
"mak... maksud, non...?" tanya Arum tergagap.
"awalnya saya mengira ini kamar tamu khusus perempuan, tapi entah mengapa, semua pakaian bahkan sepatunya cocok dengan ukuran saya...! kalau memang ini kamar tamu, seharusnya ukuran pakaiannya banyak, tidak hanya satu...! jadi saya yakin, ini bukan kamar tamu, tapi kamar seseorang yang kebetulan memiliki ukuran yang sama dengan saya...!"
kali ini Arum tidak menjawab, hanya diam menatap Via.
merasa tebakannya benar, kembali Via berkata, "ayolah mbak, katakan pada saya, ini kamar siapa...?"
"ma..., maaf, non..., saya tidak berani mengatakannya...!"
"kenapa...? apa mbak takut si mesum itu marah...?"
"i... iya, non...!"
"mbak, tenang saja...! saya janji tidak akan menyinggungnya soal ini...!"
"ta... tapi, non...!"
__ADS_1
melihat Arum ragu, kembali Via berkata, "mbak, besok saya sudah harus pergi, dan malam ini saya akan berpesta dengannya...? daripada saya penasaran, apakah saya harus menanyakan hal ini langsung padanya...?"
"jangan, non... jangan...! tuan muda pasti tidak senang non menanyakan hal ini, dan itu bisa merusak kesenangannya...!" balas Arum cepat.
"kalau begitu, saya harus bertanya pada siapa...?"
sejenak Arum nampak berfikir keras, kemudian berkata, "baiklah, non..., akan saya katakan...!"
"seperti yang non kira, kamar ini dulu ditempati seseorang, yaitu MANTAN KEKASIH TUAN MUDA...!"
"sudah saya duga...!!!" gumam Via.
"lalu, dimana mantan kekasihnya itu sekarang...!"
"ma... maaf, non..., itu urusan tuan muda, saya tidak hak untuk menjawabnya...! tolong jangan memaksa saya...!"
sesaat Via terdiam, kemudian berkata, "baiklah mbak, saya tidak akan bertanya lagi, saya sudah cukup puas dengan tau ini kamar siapa...!"
"kalau begitu, sebaiknya saya segera ke taman belakang, sebelum si mesum itu mencari saya dan ngoceh ga karuan...!" lanjut Via yang kemudian berjalan ke pintu keluar.
diperjalanan menuju taman belakang, tiba-tiba Arum bertanya,
"non, apa non yakin besok mau pergi...?"
"iya, mbak..., kenapa...?"
"tidak apa-apa, saya hanya berharap non bisa tinggal lebih lama lagi disini...!"
"untuk apa...?"
"menemani tuan muda...! entah mengapa, semenjak non tinggal disini, saya merasa tuan muda sangat bahagia...!"
"oya...? bagaimana mbak tau...?"
"saya sudah tinggal lama dengan tuan muda, pastinya saya tau bagaimana tuan muda...! dan saya rasa, tuan muda menyukai non Via...!!!"
"hahahaha... bukankah si mesum itu memang menyukai semua wanita...?" balas Via tertawa ringan.
"bukan begitu, non...! memang benar tuan muda menyukai banyak wanita, tapi dari caranya menatap dan berbicara dengan non Via sangat berbeda...!"
"bedanya dimana...?"
"saya tidak bisa menjelaskannya secara detail, tapi saya yakin non Via pasti juga merasakan hal yang sama...!"
sejenak Via terdiam, kemudian berkata,
"yah, kadang saya juga merasa seperti itu...! selama saya bersamanya beberapa hari ini, kadang saya merasa Dia sangat baik dan perhatian pada saya, tapi kadang saya merasa Dia hanya sekedar menemani saya karena tidak ada kerjaan...! entahlah, saya juga tidak bisa menebak jalan pikirannya...!"
"tuan muda memang seperti itu, non...! Dia suka menyembunyikan perasaannya pada orang disukainya...!"
"saya tau, mbak...! saya tau sifat dan kelakuannya, karena saya kenal orang yang sama persis dengannya...!"
"kalau non sudah tau tuan muda menyukai non, kenapa non Via tetap bersikeras pergi...? kenapa non tidak memberikan kesempatan tuan muda untuk membuktikan perasaannya...?"
"karena dua hal, mbak...! yang pertama, saya harus segera pergi keselatan untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita saya...!"
"lalu yang kedua...?"
"saya takut JATUH CINTA PADANYA...!!! semakin lama saya disini, saya takut terbawa perasaan dan benar-benar jatuh hati pada si mesum itu...!"
"lho, bukannya itu bagus...?! kenapa non tidak biarkan perasaan itu berkembang...? apa salahnya jatuh cinta pada tuan muda...? apa non merasa tuan muda tidak cukup pantas untuk non Via...?"
__ADS_1
"bukan begitu, mbak...! tapi saya sudah terlanjur berjanji pada seseorang untuk mencintanya, dan menunggunya datang untuk menemui saya...!"