
dua minggu telah berlalu sejak malam itu.
walaupun terus menghawatirkan keadaan Adi, tetapi Via tetap menjalankan rencana yang sudah sisusun Tommi.
setiap pagi Dia melatih kebugarannya di bukit barat, dan setiap malam Dia berlatih beladiri bersama Hengki.
kini, waktu menunjukkan pukul empat dini hari.
"Vi, apa kamu sudah siap?"
"sudah Tom, aku siap...!"
"bagus, kalau begitu sekarang kita jalani rencana terakhir...! kamu sudah hafal-kan rute yang harus diambil...?"
"sudah...! kemarin Bladuk sudah menjelaskan semuanya...!"
"bagus...! kalau begitu segeralah berangkat...! kami akan mengawasimu dari jauh...! semoga beruntung...!"
"tuttttt..."
setelah pamitan ke orangtuanya, Via langsung berlari kecil memutari desa.
tidak seperti biasanya, kali ini Via berlari sedikit lambat, dengan tujuan supaya mata-mata Brandon melihatnya masuk hutan utara.
"Viii..."
baru beberapa ratus meter memasuki hutan, tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi, menandakan pesan diterima.
Tommi : "tunggu disana, anak buah Brandon belum bergerak. jangan sampai mereka kehilangan jejakmu dan kesasar."
Via : "ok"
sambil menunggu kabar dari Tommi, Via mencoba mempraktekkan beberapa jurus yang dipelajarinya dari Hengki.
"kalau di pukul dari sini, aku mesti begini..., kalau di pukul dari sini, aku mesti begini..., dan saat Dia lengah... Bam...! aku hajar Dia dari sini..."
"Viii..."
kembali TG nya berbunyi.
Tommi : "siap - siap, anak buahnya sudah datang."
Via : "ok"
selang lima menit.
"Viii..."
Tommi : "mereka sudah masuk ke hutan, sekarang kamu giring mereka keperangkap kita".
Via : "ok"
secepatnya Via menempelkan sebelah telinganya ditanah dan menajamkan indra pendengarannya.
"kresek... kresek..."
dari jauh terdengar suara daun terinjak.
"belum..., mereka masih jauh, belum saatnya bergerak..." batin Via.
"kresek... kresek..."
suara daun terinjak semakin keras.
"kresek..."
"Simba...! ayo jalan...!"
__ADS_1
setelah yakin jarak anak buah Brandon cukup dekat dan bisa mendengar suara langkah kakinya, Via kembali bergerak masuk ke dalam hutan.
"krak... kresek... krak... kresek..."
sepanjang langkah, Via sengaja menginjak beberapa ranting kering, supaya anak buah Brandon mendengarnya.
"hei...! sepertinya aku mendengar suara ranting patah dari sana...!"
"aku juga...!"
"mari kita periksa...!"
"sepertinya mereka sudah menyadari keberadaanku."
"krak... kresek... krak... kresek..."
"cepat kemari...! sepertinya aku melihat bayangan seseorang...!"
"hei..., itu Dia...! gadis dengan anjing putih yang selama ini kita cari...!!!"
"akhirnya...! tidak sia-sia selama ini pencarian kita...! cepat kejar...! jangan sampai lolos...!!!"
"drap... drap... drap..."
"lebih cepat, Simba...!!!"
tau dirinya sudah ketahuan, Via langsung mempercepat langkahnya.
"lebih cepat lagi...! jangan sampai kehilangan jejak...!"
"Jack...! kamu sudah kabari tuan muda...?!"
"sudah, sebentar lagi Dia kesini...!"
"kalau begitu segera berpencar, kita harus berhasil mengepungnya sebelum tuan muda datang...!"
"Viii..."
Tommi : "Brandon sudah masuk kehutan. untuk sementara kamu tahan dulu mereka dilokasi yang ditentukan, usahakan jangan menyerang dulu sebelum Dia tiba."
Via : "ok"
kembali Via mempercepat langkahnya, hingga beberapa saat kemudian, sampailah Dia di sebuah pohon besar.
Via lalu membungkukkan badan, sebelah tangannya bersandar pada pohon, sebelahnya lagi memegang dada. nafasnya dibuat tersengal-sengal, seakan-akan kelelahan.
"hah... hah... hah..."
mengira Via sudah tidak sanggup berlari lagi, pria-pria berjas merah yang berjumlah sekitar lima puluh orang itu lalu mengelilinginya.
"hahahaha..., sepertinya kamu sudah kelelahan...! sekarang menyerahlah...! kami sudah mengurungmu...! kamu tidak bisa kabur lagi...! hahahaha... hahahaha..." pimpinan para pria berjas merah itu terlihat tertawa terbahak-bahak.
"kalian siapa...? kenapa dari tadi mengejarku...?" Via berpura-pura bingung.
"jangan pura-pura bodoh, gadis cantik...! masa kamu lupa siapa kami...?! lihatlah jas ini...!"
"sungguh, aku tidak ingat kalian...! ada urusan apa kalian denganku...?" Via berbohong.
"bos, sepertinya malam itu Dia benar-benar mabuk...! makanya Dia tidak ingat kita...!" bisik salah seorang anak buahnya.
sejenak si pemimpin terdiam, lalu berkata, "baiklah...! kalau kamu lupa, biar kuingatkan...! kami adalah anak buah Brandon, pria yang kamu pukul pakai botol malam itu...!"
"Brandon...! pria yang kupukul pakai botol...!" Via berpura -pura terkejut.
"ya, kami adalah anak buahnya...! apa kamu sudah ingat sekarang? hah...!!!" bentak si pemimpin sinis.
"se... sepertinya aku ingat..." Via terlihat panik.
__ADS_1
"bagus kalau begitu...! biar kamu tahu saja, pria yang kamu pukul itu adalah tuan muda pewaris tunggal keluarga Mulia, yang sangat terkenal di provinsi ini...! hahahaha..." kembali si pemimpin tertawa lebar.
"a... aku... aku sungguh tidak sengaja malam itu, aku benar-benar mabuk berat...! tidak bisakah masalah itu dianggap tidak pernah terjadi...?" kali ini Via berpura-pura takut dan gemetaran.
"jangan seenaknya kamu bicara...!!! apa yang kamu lakukan malam itu telah melukai harga diri tuan muda kami...! dan juga, akibat perbuatanmu, kami dihajar habis-habisan oleh tuan besar, karena dianggap tidak mampu melindungi tuan muda...!!!"
"ka... kalau begitu... aku minta maaf... aku sungguh-sungguh tidak sengaja...!"
"maaf, maaf...! seenaknya saja kamu minta maaf...! tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan minta maaf...!!!" bentak sang pemimpin.
"la... lalu..., kalian mau apa...?"
"cium kaki kami satu persatu sambil minta maaf...! mungkin kami bisa mempertimbangkan untuk memaafkanmu, hahahaha..."
"hahahaha... hahahaha..." semua pria berjas merah yang ada disana ikut tertawa.
"aku sungguh-sungguh minta maaf dan menyesal..., tapi apa harus seperti itu...? kumohon..., apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya...?" Via memelas.
"ada...!!!" tiba-tiba sebuah suara menyahut dari belakang sang pemimpin.
bersamaan dengan suara itu, seorang pemuda dengan bekas luka di pelipisnya menampakkan diri. dibelakang pemuda itu, sekitar lima puluh orang berjas merah mengawalnya.
"Brandon...!!!" pekik Via, berpura-pura terkejut.
"ya, ini aku...! ternyata kamu masih ingat...!!!" sahut Brandon sinis.
"a... aku minta maaf malam itu..., ta... tapi sungguh, aku tidak sengaja..." Via terlihat semakin ketakutan.
"huh! tidak sengaja...! lihat apa yang kamu perbuat pada wajahku...!" Brandon menunjuk bekas luka berbentuk Z terbalik, membujur dari pelipis hingga pipinya.
"akibat perbuatanmu, kini wajahku tidak seganteng dan setampan dulu...! kini aku harus menanggung cacat ini seumur hidupku...!" lanjutnya.
"se... sekali lagi aku minta maaf..., tapi sungguh, malam aku tidak sengaja...!"
"mata ganti mata...! luka ganti luka..! kalau kamu ingin minta maaf, maka wajahmu harus kurusak supaya adil...!!!"
"aduh, jangan dong...! aku kan masih perawan...! kalau wajahku rusak, nanti ga ada yang mau sama aku...! masa aku harus jadi perawan seumur hidup...? hiks... hiks... hiks..." Via berpura-pura menangis.
"perawan...! dasar pembohong...!!! mana mungkin kamu masih perawan...! cewek pemabuk sepertimu pasti sering tidur dengan siapa saja...!!!"
"aku ga bohong...! aku masih perawan, sumpah...!"
sejenak Brandon terlihat berfikir. kemudian dengan senyum jahat berkata,
"baiklah, jika kamu tidak mau wajahmu kurusak, maka ada dua cara untuk menyelesaikan masalah ini...! hehehe..."
"apa...?" tanya Via cepat.
"yang pertama, kamu nari telanjang sekarang disini, diantara kami, hehehe..."
"yang benar saja...! itu ga masuk diakal...!!!" protes Via.
"lalu yang kedua apa...?" lanjut Via.
"yang kedua..., bercintalah denganku...!!! supaya aku bisa memastikan kamu masih perawan apa tidak, hehehe... siapa tau dengan menjadi pemuas nafsuku, aku bisa sedikit memaafkanmu...! hahahaha... hahahaha..."
"dasar bajingan...!!! tidak hanya mukamu yang hancur...! otakmu lebih hancur! bahkan busuk...!!!" maki Via.
"hei...! jaga ucapanmu nona kecil...!!! jangan menghina tuan muda kami...!!!" bentak salah seorang pengawalnya.
"kenapa...?! apa kata-kataku barusan ada yang salah...?! tuan muda kalian itu bukan hanya pengecut...! tapi juga cabul...! isi otaknya cuma selangkangkangan...!!!"
"cukup...!!! mulutmu sudah keterlaluan, nona...!"
"lalu, kalian mau apa...?!"
"sepertinya kami harus memberimu pelajaran...! supaya mulutmu tidak lancang...!!!"
__ADS_1
"coba saja kalau kalian bisa...! kita lihat saja, siapa yang tertawa paling akhir...! hehehe..."