PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
16. LATIHAN


__ADS_3

"tuan putri Sephia..., jika kamu benar-benar mencintaiku dan ingin menikah denganku, maka malam ini kamu harus bisa membangun seribu candi sebelum ayam berkokok, apa kamu sanggup...?"


"sanggup Tuanku Adiyasa...! demi cinta hamba pada tuan, hamba akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing dan ayam berkokok...!"


"bagus...! sekarang mulailah membangunnya...!"


...


"wahai para Jin pengikutku, bangunlah seribu candi malam ini, dan harus selesai sebelum fajar menyingsing, sebelum ayam berkokok dan sebelum ibu-ibu rumpi dipasar...n!"


"laksanakan tuan putri Via...!!!"


"dok dok dok...!"


"tang teng tong, tang teng tong...!"


"dok dok dok...!"


"tang teng tong, tang teng tong...!"


"dok dok dok...!"


"tuan putri Via...! tuan putri Via...! bangun...! kita dalam masalah...!!!"


"dok dok dok...!"


"tuan putri Via bangun...!"


"dok dok dok...!"


"Via bangun...!!!"


"dok dok dok...!"


"VIA... BANGUN...!!!"


"Hah...!!!"


sebuah teriakan keras dan ketokan dipintu membuat Via terbangun dari mimpinya.


"dok dok dok...!"


"Vi, bangun Vi...! sudah pagi...! katanya mau latihan...!"


"latihan...?! latihan apa ya...?" batin Via setengah sadar.


dengan malas Via turun dari ranjangnya dan membuka pintu.


"Huahem..., latihan apa ya, Pa...?"


"apa kamu lupa...? mulai hari ini kamu harus latihan fisik dan mental...!"


"huahem..., bukannya latihannya mulai nanti siang...?"


"ngga sayang, latihannya mulai sekarang...!"


sejenak Via menyipitkan matanya, berusaha memperhatikan jam dindingnya.


"tapi Pa..., inikan belum jam empat, apa ga kepagian...?! Via masih ngantuk Pa, ntaran aja ya...? huahemmm..., setengah jam lagi ya...? eh, lima belas menit lagi deh...! lima belas menit lagi ya, Pa...? huahemmm..."


"oke, lima belas menit lagi ya? papa tunggu dibawah...!"


papanya lalu pergi meninggalkan Via yang langsung menutup pintu dan kembali tidur.


...


"dok dok dok...!"


"tang teng tong, tang teng tong...!"


"dok dok dok...!"


"tuan putri...! tuan putri...! kita kena masalah...!!!"


"masalah apa...?!"


"banjir tuan putri...! banjir...!!! candi kita hancur semua terendam banjir...!!!"


"banjir...?! dimana ada banjir...?!"


"itu tuan putri...! banjirnya datang...!!!"


"whua...!!!"


"byur...!!!"


"tolongggg...!!! ada banjir...!!! aku tenggelam..! whua...!!! tolong...!!! aku teng... ge.. lam... hah...!!!"


seketika Via terjaga dari tidurnya, dan mendapati tubuhnya basah semua.


"eh, oh..., kok basah...? kenapa ada air..? apa benaran ada banjir...?!" Via mengejapkan matanya, berusaha menyadari apa yang terjadi.


samar-samar, Via melihat bayangan seseorang dihadapannya.

__ADS_1


"Papa...!!!" teriaknya ketika melihat sosok itu dengan jelas.


nampak papanya berdiri sambil menenteng sebuah ember. wajahnya menyeringai, memperlihatkan senyum penuh kepuasan.


"Papa...! kenapa Via disiram...?!" protes Via.


"hahahaha... ini adalah pelajaran pertama...! inilah kira-kira yang akan dilakukan Nenekmu nanti kalau kamu bangun kesiangan...! hahahaha... hahahaha..." papanya tertawa terbahak -bahak.


"tapi kan ga perlu sampe begini, Pa...! Papakan bisa ngasi peringatan dulu, jangan langsung main siram...!!!"


"ingat baik-baik sayang...! tidak ada pelajaran yang lebih efektif daripada praktek langsung...! hahahaha..."


"tapikan semua jadi bas..."


"sudah, jangan banyak protes...! cepat ganti bajumu, lima menit lagi kita mulai latihannya...!!!"


dengan cuek papanya meninggalkan Via yang masih merasa kesal.


"papa jahat...! seenaknya aja...!!! eh, apa iya nenek juga kejam seperti ini...?! ish..., kok rasanya nenek makin seram ya...!!!" kembali Via membayangkan neneknya seperti dibuku cerita bergambar.


***


"nah, sebagai pemanasan, kamu akan berlari mengelilingi desa satu kali, setelah itu kita langsung ke hutan utara."


"aku...? memangnya papa ga ikut?"


"tentu saja papa ikut, tapi ga lari, papa naik sepeda...!"


"lho kok gitu...? papa curang...!"


"curang bagaimana...?! papakan cuma pengawas...! ngapain harus capek-capek ikut lari...! yang perlu latihan kan kamu...! hehehe..."


"iya deh, terserah papa aja...!"


...


pagi itu, ditemani papanya, Via memulai latihan dengan berlari kecil mengelilingi desa.


bagi Via itu tidak terlalu sulit, karena memang selama ini Via rajin lari pagi demi menjaga kesehatannya, ah, lebih tepatnya demi bertemu Adi.


hampir satu jam Via berlari, hingga kini akhirnya mereka sampai di hutan utara.


"untuk selanjutnya, kamu naik turun pohon dua puluh kali...! untuk awal, kamu cukup memanjat pohon kedongdong, biar lebih mudah...!"


tanpa bertanya lagi, Via langsung menuruti perintah papanya.


dalam sepuluh panjatan pertama, Via tidak merasa terlalu capek, tetapi memasuki panjatan kesebelas, Via mulai kelelahan. tapi dengan penuh perjuangan dan usaha keras, akhirnya Via berhasil menyelesaikannya.


"selanjutnya, kamu berenang bolak-balik dua puluh kali...!"


"itu masih sedikit sayang...! besok-besok kamu harus berenang lima puluh kali...!!!"


"lima puluh kali...! papa mau bunuh Via ya...?!"


"yah, kalau memang demi kebaikanmu..., kenapa tidak...!, hehehe..." balas papanya santai.


walaupun Via sudah merasa lelah, tetapi tetap saja Dia menuruti perintah papanya.


satu putaran...


dua...


lima...


sepuluh...


pada putaran ke tiga belas, Via yang sudah kehabisan tenaga mulai tenggelam.


"pa...! tolong...!!! blup... Via...! Blup... tolong...!!! banjir...!!! blup... blup... blup..."


melihat putrinya mulai tenggelam, dengan sigap papanya langsung terjun ke kali dan menolong Via.


"Vi...! Vi...! kamu gapapa...?!" papanya menekan-nekan perut Via yang terbaring di tanah.


"Wuekkkk..."


Via menyemburkan berliter-liter air dari mulutnya.


"Vi...! Vi...! kamu ga papa...?!" kembali papanya mengulangi pertanyaannya.


"Via..., Via gapapa, pa...!" balas Via lemah.


"bagus...!, itu baru putri papa...!, hehehe..."


samar-samar Via melihat papanya tersenyum, lalu perlahan pandangannya mulai kabur...


semakin kabur...


dan...


***


"dasar pembohong...!!! katanya mau bangun seribu candi, mana buktinya...?!bukannya kerja...! eh, malah enak-enakan tidur...! aku tidak sudi punya istri pemalas seperti kamu...!!!"

__ADS_1


"ma..., maafkan hamba tuan Adiyasa, barusan ada banjir...! sehingga candinya tenggelam semua...!"


"jangan banyak alasan...!!! mana ada banjir...?! tidak hanya pemalas...! ternyata kamu juga pembohong...!!! aku muak melihatmu...!!!"


"jangan pergi tuan Adiyasa...! aku mencintaimu...! sungguh, aku mencintaimu...!!!"


"Di..., jangan pergi...! kumohon, jangan tinggalin aku... hiks... hiks... hiks..."


"Di..., Hah...!!!"


kembali Via terjaga dari mimpi buruknya.


"kenapa sayang? mimpiin Adi, ya...? issshhh..., baru ditinggal dua hari aja sudah sampai sebegininya, hehehe..."


Via merasakan tangan mamanya yang lembut membelai rambutnya.


"ma..., Via dimana, ma...?" suara Via terdengar sangat lemah.


"kamu dikamarmu, sayang..., barusan kamu pingsan, dan papamu yang membawamu pulang."


"ow... papa dimana?"


"biasa, lagi ditoko.., ngecek penjualan..."


"emmm..., jam berapa sekarang ma...?"


"jam enam sore..."


"hah...! jam enam sore...!" Via yang terkejut langsung membuka matanya lebar-lebar dan memperhatikan jam dindingnya.


"iya sayang..., ini sudah jam enam sore...! kamu pingsannya cukup lama, sekitar sembilan jam-an...!".


"lama juga ya, ma...?"


"iya sayang, sepertinya papamu terlalu keras melatihmu...!"


sejenak Via mengingat-ingat kejadian tadi pagi.


"iya ma..., masa Via disuru naik turun pohon dua puluh kali...! habis itu disuruh berenang dua puluh kali...! mana kuat Via, ma...!!!" Via mengadu.


"yang sabar ya, Sayang...! maksud papamu baik, mungkin kamu belum terbiasa saja. nanti kalau sudah sering dilatih, itu ga berat-berat amat kok...!"


Via menggangguk, seolah mengerti maksud mamanya.


"kriuk..." tiba-tiba sebuah suara berbunyi dari perut Via.


"ma..., Via lapar...!"


"mama tau, tuh mama sudah siapkan teh hangat dan daging sapi panggang kesukaanmu...!" mamanya menunjuk ke arah meja.


Via yang sudah merasa sangat kelaparan langsung menggerakkan badannya untuk duduk.


tapi baru saja bergerak, Via merasa seluruh badannya remuk, seakan baru habis diseruduk banteng gila.


"ma..., badan Via kok sakit semua, ya...?"


"itu wajar sayang, ototmu kaget dipaksa kerja keras...! nanti mama buatin air panas dicampur garam untuk kamu berendam, supaya mengurangi rasa pegalnya."


"i... iya ma..."


***


setelah makan dan berendam, kembali Via terlelap.


"tuan putri Sephia... karena kamu sudah membuktikan besar cintamu padaku, maka aku akan menerimamu menjadi istriku...!"


"apa anda bersungguh - sungguh tuan Adiyasa...?!"


"tentu saja...! pantang bagi seorang pangeran untuk berbohong...! apalagi kepada tuan putri secantik dan seanggun dirimu...!"


"ah, hamba sungguh sangat bahagia bisa menjadi pendamping tuanku Adiyasa..."


"kemarilah...! mendekatlah...! supaya aku dapat memilikimu sepenuhnya...!"


"hamba ingin tuan..., tetapi saat ini hamba tidak sanggup bergerak, tubuh hamba sakit semua...! mungkin akibat kelelahan karena membangun seribu candi untuk tuanku...!"


"aku mengerti tuan putri Sephia...! dan aku sangat berterima kasih atas seribu candi yang kamu hadiahkan untukku...! lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu...?"


"kalau tuan tidak keberatan..., hamba hanya ingin dipeluk...! setidaknya itu bisa mengurangi rasa sakit hamba...!"


"baiklah, jika itu memang bisa membuatmu bahagia, aku tidak keberatan sama sekali...!"


"terima kasih, tuan..."


***


malam itu, Via yang kelelahan tertidur dengan sangat lelap. mimpinya yang dari semalam sangat buruk, malam ini berubah sangat indah.


siapa yang tidak bahagia dipeluk orang yang dicintainya...?


siapa yang tidak bahagia disayang orang yang dicintainya...?


semua pasti senang...

__ADS_1


semua pasti bahagia...


walupun hanya sekedar dalam mimpi...


__ADS_2