PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
51. ANGGOTA ISTIMEWA DAN KETUA BARU


__ADS_3

"si mesum itu..., seenaknya saja Dia mau menjadikanku anggota istimewa diperusahaannya tanpa meminta pendapatku dulu...! apa itu anggota istimewa...? dan apa barang berharga yang kupunya...? ah, jangan - jangan yang Dia maksud kalungku ini...! atau mungkin buku dongeng ku...! hmmmm..., tapi sepertinya itu semua tidak ada hubungannya dengan perusahaan mereka...!"


"lalu apa maksud kakaknya tadi Dia menjadikanku bahan percobaannya...? dan apa perbuatan konyol yang dulu pernah dilakukannya, sehingga membuat kakaknya curiga...? ah, semua ini membuatku benar-benar pusing...!"


saat Via sedang sibuk berfikir, tiba-tiba tuan besar, nyonya besar, Wira dan para penasehat Langit muncul kembali, dan langsung duduk ditempatnya semula, hanya tuan besar yang tetap berdiri dan berjalan mendekati Via.


"semuanya, dengarkan...!" kata tuan besar dengan suara lantang.


"kami sudah mendiskusikan mengenai keinginan Wira untuk menjadikan nona Via sebagai anggota istimewa, dan hasilnya..., selamat nona Via..., mulai sekarang nona adalah anggota istimewa organisasi Kapak Naga...!!!"


mendengar kata-kata tuan besar sontak membuat Via terkejut,


"tu... tunggu dulu tuan besar...!"


"ada apa, nona Via...? apa ada yang salah...?" tanya tuan besar.


"bukan begitu, hanya saja saya belum mengerti, apa itu anggota istimewa...?"


"lho, apa Wira belum menjelaskannya pada nona...?" tanya tuan besar heran.


"be... belum, tuan besar...! Dia tidak pernah menjelaskan apa-apa mengenai anggota istimewa...! dan juga, Dia tidak pernah mengatakan apa barang berharga yang saya miliki...!"


jawab Via polos.


mendengar jawaban Via, tuan besar lalu menoleh kearah Wira,


"Wir..., apa benar yang dikatakan nona ini...?"


"benar, Pa...! aku memang belum sempat memberitahukannya, karena aku baru kepikiran menjadikannya anggota istimewa saat akan naik panggung...!" balas Wira.


"dan seperti yang kubilang tadi, Dia sendiri belum menyadari kalau Dia memiliki Itu...! mungkin nanti aku akan memberi tahunya di ranjang...! eh, salah, maksudku di rumah...! hehehe..." lanjut Wira terkekeh.


sejenak tuan besar berfikir, lalu berkata lagi, "baiklah, saya mengerti...!"


"kalau begitu, biar saya yang jelaskan apa itu anggota istimewa...!" tuan besar kembali menoleh ke Via.


"anggota istimewa adalah anggota yang tidak terikat langsung dengan organisasi, tetapi lebih sebagai pendukung organisasi secara diam-diam...!"


"tidak terikat...?! mohon maaf, saya tidak mengerti maksud tuan besar...!"


"maksud saya, nona tidak perlu ikut bekerja ataupun menghadiri pertemuan-pertemuan seperti anggota biasa lainnya...! nona bebas pergi kemanapun dan melakukan apapun yang nona suka tanpa perlu memberikan laporan apa-apa...!"


"lalu, apa tugas saya sebagai pendukung organisasi...?" tanya Via lagi.


"sebenarnya tidak ada tugas khusus yang perlu nona kerjakan, hanya saja, jika suatu waktu kami membutuhkan bantuan nona, maka kami harap nona berjanji untuk membantu kami sebisanya...?"


"bantuan dalam hal apa...?"


"itu tergantung apa yang nona miliki...! bisa itu uang, benda penting, pengaruh jabatan, kemampuan khusus seperti dokter, pengacara, dan lain sebagainya...!"


"hmmmm..., sepertinya saya mengerti mengapa hanya orang tertentu yang boleh menjadi anggota istimewa...! tapi, tuan besar, saya tidak memiliki satupun dari hal itu yang bisa membantu perusahaan ini...!"


"tentu saja ada, nona...! menurut Wira nona memiliki itu, hanya nona belum menyadari bahwa itu berharga...! biar nanti Wira yang memberitahukannya di ranjang, eh, salah..., maksud saya dirumah...! tapi yang pasti, apa yang nona miliki itu sesuatu yang sangat penting untuk organisasi kami dimasa depan...!"


"baiklah, saya akan tanyakan nanti pada Wira apa itu...! lalu tuan besar, pertanyaan terakhir saya, apa keuntungan yang saya dapat sebagai anggota istimewa...?"


"sebagai anggota istimewa, nona Via akan memiliki wewenang setingkat ketua cabang, yang itu artinya kapanpun nona merasa perlu, nona dapat langsung memberi perintah ke anak buah kami tanpa perlu melaporkannya terlebih dahulu kesiapa-siapa...!"


"oya...? apa setinggi itu wewenang anggota istimewa...?"

__ADS_1


"begitulah, nona...! hanya saja saya mau ingatkan, berhati-hatilah dalam memberi perintah secara langsung...! jika keadaan tidak sangat mendesak, sebaiknya nona meminta ijin dahulu ke ketua cabang yang anak buahnya akan nona beri perintah, demi menghindari benturan kepentingan antara nona dan ketua cabang itu...!"


"baik, akan saya ingat pesan tuan besar...!"


"apa masih ada lagi yang ingin nona tanyakan mengenai anggota istimewa...?"


"tidak ada, tuan besar...! saya rasa semuanya sudah cukup jelas...! kalau belakangan ada sesuatu yang saya kurang mengerti, nanti akan saya tanyakan ke Wira...!"


"baiklah, kalau begitu apa nona Via sudah bersedia menjadi anggota Istimewa Organisasi Kapak Naga...?"


"tentu saja, tuan besar...! sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi bagian dari perusahaan sebesar Kapak Naga...!"


"Terima kasih, nona Via...!"


"sama-sama, tuan besar...!"


...


sesuai tuan besar dan Via bersalaman, merekapun mulai melakukan pemilihan ketua baru.


"seperti yang sudah saya jelaskan tadi, bahwa calon ketua untuk cabang baru kita ada empat, yaitu tuan Putra, nona Sinar, tuan Awang dan nona Sri...! dan untuk mempersingkat waktu, silahkan tuan besar, nyonya besar, tuan muda Wira dan nona muda Via menentukan pilihannya...!" kata salah seorang penasehat Langit.


"seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya, saya memilih Putra dari cabang satu...!" sahut tuan besar.


"saya memilih Sinar dari cabang dua...!" nyonya besar ikut menyahut.


kini semua pandangan tertuju ke Wira dan Via.


"hei, mesum...! aku harus memilih siapa...?" bisik Via ke Wira.


"kamu ikuti saja pilihanku...! dengan begitu, calon yang kita pilih sudah pasti menjadi ketua baru dicabang enam, dan Dia akan merasa berhutang budi padaku, hehehe..." balas Wira ikut berbisik.


Via mengangguk pelan.


"saya dan nona Via memutuskan memilih nona Sri dari cabang lima...!"


baru saja Wira selesai berkata, Saras langsung menyahut, "sudah kuduga kamu akan memilih Sri...! bukankah Dia adalah anak buah Asih, dan Asih adalah mantan pacar sekaligus anak buahmu dulu...! dengan banyaknya ketua cabang yang berasal dari cabangmu, maka kamu akan semakin dekat sebagai calon pengganti Papa...!"


"ah, tuduhan kakak sungguh tidak beralasan...! aku memilih Sri karena Dia memang memiliki potensi sebagai ketua cabang...!" kilah Wira.


"dasar pembohong...!!!" sahut Saras kesal.


"dasar kakaknya si pembohong...!!!" balas Wira tidak mau kalah.


"sudah, sudah...!!! kalian ini ribut saja terus...! apa tidak bosan setiap bertemu selalu berkelahi...?!" potong tuan besar kesal.


"penasehat Langit, silahkan lanjutkan pemilihannya...!" lanjut tuan besar.


"baik, tuan besar...!" balas salah seorang penasehat Langit.


"nah, sesuai hasil pilihan tadi, maka tuan Putra dan nona Sinar masing-masing mendapat satu suara, tuan Awang nol, dan nona Sri dua suara..., oleh karena itu, maka yang berhak menjadi ketua cabang enam adalah..."


"tunggu dulu...!" tiba-tiba Via berseru, menghentikan kata-kata penasehat Langit.


"ada apa, nona Via...?" tanya penasehat Langit.


"mohon maaf, penasehat...! saya belum menentukan pilihan saya...!" balas Via, membuat semua yang ada disana terkejut.


"mohon maaf, nona Via...! tapi bukankah tadi tuan muda Wira mengatakan pilihan tuan muda dan nona muda sama...?!" balas penasehat Langit heran.

__ADS_1


"sekali lagi saya mohon maaf, penasehat...! itu keinginannya, bukan keinginan saya...! sepertinya saya memiliki pilihan yang berbeda, apa itu diperbolehkan...?"


"tentu saja, nona Via...! nona berhak memutuskan sendiri siapa yang nona pilih...!"


baru saja penasehat Langit selesai berkata, Wira langsung menegur Via,


"Vi, apa-apaan kamu...! bukankah tadi kamu sudah setuju untuk mengikuti pilihanku...?!"


"kata siapa aku setuju...?! tadi aku hanya mengangguk, yang artinya aku paham maksudmu...! tapi bukan berarti aku setuju pilihanmu, aku punya pilihan sendiri...!" balas Via cuek.


"tapi kamu kan tidak mengerti apa-apa mengenai pemilihan ini...! kamu tidak tau apa efek kebelakangnya dari pemilihan ini...! dan kamu tidak tau betapa pentingnya hasil pemilihan ini untukku...! bahkan kamu tidak mengenal sama sakali semua calon ketua baru ini...!" balas Wira kesal.


"aku tau itu...! aku memang tidak mengerti apa-apa, karena itu aku harus bersikap ADIL...!"


"adil...?! maksudmu...?"


Via tidak langsung menjawab pertanyaan Wira, melainkan menoleh satu-persatu semua yang ada disana, kemudian berkata,


"seperti yang dikatakan Wira, saya tidak mengetahui apa-apa mengenai pemilihan ini, juga para calon ketuanya, sedangkan pilihan saya akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi ketua, tentu itu akan menjadi pilihan yang sangat berat untuk saya...! oleh karena itu, keputusan siapa yang akan menjadi ketua saya serahkan kepada yang lebih tau dan mengerti kepentingan perusahaan ini...!"


"siapa...?" kali ini Saras yang bertanya tidak sabaran.


"penasehat Langit...!!!"


"penasehat Langit...?!" semua yang ada disana kembali terkejut, begitu juga dengan penasehat Langit yang langsung berkata,


"apa itu berarti nona Via..."


"iya, penasehat Langit...!" potong Via.


"saya memilih tuan Awang sebagai ketua baru cabang enam...!!!"


sejenak semua yang ada disana terdiam, hingga tiba-tiba,


"hahahaha... hahahaha... gadis yang menarik...! hahahaha... hahahaha..." nampak tuan besar tertawa terbahak-bahak.


"awalnya kupikir pemilihan ini akan berjalan membosankan karena anak mesum itu yang memegang kendali...! tapi ternyata..., hahahaha... hahahaha..." kembali tuan besar tertawa terbahak-bahak.


"saya pun berfikiran sama dengan tuan besar...! tapi siapa sangka nona muda ini berani membuat keputusan yang bijaksana...! sungguh, saya menaruh beribu hormat kepada nona...!" sambung tuan Godam memuji Via.


"terima kasih, tuan Godam...!" balas Via sopan.


"nah, penasehat Langit...! kalian dengar sendiri pilihan nona ini, jadi semua calon sekarang mendapat suara yang sama...! karena itu, sekarang cepatlah kalian berdiskusi untuk memutuskan siapa yang akan menjadi ketua cabang enam...!" perintah tuan besar ke para penasehat Langit.


"baik, tuan besar...!" balas ke enam penasehat Langit serentak.


secepatnya para penasehat Langit pergi ke ruang khusus untuk berdiskusi.


tidak sampai sepuluh menit, mereka kembali lagi, lalu salah satunya berkata,


"kami sudah memutuskan siapa yang akan menjadi ketua cabang enam...!"


"Dia adalah..., tuan Awang...!!! apa ada yang keberatan dengan keputusan kami...?"


"tidak ada...! kami menerimanya...!" balas semua yang ada disana kecuali Saras yang hanya diam mematung, seakan tidak percaya keputusan penasehat Langit.


"Ras..., kenapa kamu diam saja...? apa kamu keberatan dengan keputusan penasehat Langit...?" tanya tuan besar membuyarkan lamunan Saras.


"eh, ti... tidak, Pa...! sama sekali tidak...!" balas Saras tergagap.

__ADS_1


"jujur, aku sedikit kecewa dengan keputusan ini..., tapi aku rasa itu lebih baik daripada si Sri yang menjadi ketuanya...!"


"baik, jika sudah tidak ada yang merasa keberatan tuan Awang menjadi ketua cabang enam, maka pertemuan kali ini DITUTUP...!"


__ADS_2