PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
61. AKU AKAN MATI


__ADS_3

"hei, orang nanya kok ga dijawab...? kamu masih tidur, ya...?"


"eh..., bu... bukan, itu... aku..." Via yang masih terkejut terlihat bingung mau menjawab apa.


"aku apa...? yang jelas dong...!" suara dieseberangnya terdengar kesal.


"tu... tunggu sebentar, jangan dimatikan...!"


Via yang medadak sadar segera mengenakan pakaiannya, dan berjalan meninggalkan Wira yang masih telanjang bulat.


"hei, kamu mau kemana...?" tanya Wira setengah berteriak.


"maaf, Wir... aku mau kekamar...! ada urusan penting...!" jawab Via tanpa menoleh.


"tunggu...! kita kan belum selesai...!"


tanpa menghiraukan kata-kata Wira, Via mempercepat langkahnya menuju kedalam rumah.


setelah mengunci pintu kamarnya, Via langsung merebahkan diri diranjang.


"Di, kamu masih disana...?"


"iya, apa kabarmu...?"


"baik, kamu sendiri...?"


"aku juga baik, kamu dimana sekarang...? kata mamamu kamu pergi ketempat nenekmu untuk belajar ilmu perdukunan...?"


"bukan perdukunan, tapi pengobatan tradisonal...!"


"yah, sama saja...! apa kamu sudah bertemu nenekmu...?"


"belum, aku belum sampai di tempat nenekku, aku sekarang masih di ibukota...!"


"di ibukota...? ada urusan apa kamu disana...?"


"ceritanya panjang...!"


Via lalu menceritkan semua kejadian yang dialaminya selama di ibukota, tentunya selain kejadian dengan Wira barusan.


"oh, jadi sekarang kamu tinggal dirumah cowok yang menolongmu...? apa Dia memperlakukanmu dengan baik...?"


"i... iya...! Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan spesial...!"


"oya, bagus dong kalau begitu...! artinya sekarang ada yang menggantikanku menjagamu disana...!"


"eh, kenapa kamu berkata seperti itu...? apa kamu cemburu...?"


"cemburu...?! hahahaha..., untuk apa aku cemburu...! akukan bukan pacarmu...!"


"aku tau itu..., aku hanya mengira kamu takut aku suka padanya...!"


"untuk apa aku takut...? itukan urusanmu...! terserah kamu mau suka siapa, aku tidak perduli...!"


"ya ya ya..., kamukan memang tidak pernah perduli padaku...!"


"duh, Via sayang..., jangan ngambek dong..., akukan cuma bercanda...! mana mungkin aku tidak perduli pada orang yang paling kusayang...!"


"kamu bohong...!"


"aku tidak bohong, aku benar-benar sayang dan perduli padamu...!"


"kalau kamu benar sayang dan perduli padaku, kenapa baru sekarang kamu menelponku...?!"


"karena aku tidak bisa...! apa Hengki dan Tommi tidak pernah cerita apa yang terjadi padaku...?"


"pernah...! mereka sudah cerita apa yang terjadi padamu, tapi itu malah membuatku kesal...!"


"kesal kenapa...?"


"karena kamu membuatku cemas...! hiks... hiks... hiks..."


tidak terasa, air mata mulai menetes membasahi pipinya.


"apa kamu tau, selama ini aku terus mengkhawatirkanmu...! hiks... hiks... hiks..., siang malam aku terus memikirkanmu, aku takut terjadi apa-apa padamu...! hiks... hiks... hiks..."


"ma... maafkan aku kalau membuatmu khawatir, tapi sungguh, aku tidak bermaksud begitu...! hanya saja selama ini memang aku tidak bisa menghubungimu...!"


"aku tau, hiks... hiks... hiks... aku tidak menyalahkanmu, mungkin aku saja yang berlebihan karena terlalu sayang kamu...! hiks..."


"hmmmm..., apa itu berarti kamu masih mencintaiku...? hehehe..."


"kamu pikir saja sendiri...!"


"tapi aku tidak mencintaimu...!"


"terserah, aku tidak perduli...! yang jelas aku tetap cinta kamu...!"


"ah, kalau begitu aku bisa merasa tenang...!"


"tenang...?! tenang kenapa...?"


"karena selama kamu masih mencintaiku, kamu tidak akan tergoda oleh siapapun, termasuk teman barumu yang bernama Wira itu...!"


"DEG...!!!"


"te... tentu saja...! mana mungkin aku tergoda oleh seseorang yang baru kukenal...!"


"baguslah kalau begitu... eh, ngomong-ngomong, kamu lagi apa sekarang...?"


"aku baru saja mau tidur...!"


"tidur...?! dasar pemalas...! siang-siang begini bukannya cari kegiatan, malah tidur-tiduran...!"


"siang...?! ini masih jam satu malam, kamu mabuk, ya...?"


"aku tidak mabuk...! aku baru saja selesai mandi dan sarapan...!"


"sarapan...? lho, kok aneh ya...?"

__ADS_1


sejenak mereka berdua sama-sama diam dalam kebingungan, hingga tiba-tiba Adi berkata,


"oh iya.. ! kitakan beda benua...!"


"ah, benar juga...! kamu kan sekarang di Benua Baru...! pantas saja disini malam disana pagi...! eh, ngomong-ngomong, kamu sendiri lagi dimana sekarang...?"


"aku sendiri tidak tahu...! yang jelas sekarang aku berada di sebuah bangunan tua yang menyerupai istana...!"


"istana...?! lho, bukannya kata Tommi kamu lagi di penjara...! apa mereka sudah membebaskanmu...?"


"mereka tidak membebaskanku, tapi aku melarikan diri...! beberapa hari lalu sekelompok orang menyerang penjara tempatku ditahan, lalu aku ikut kabur bersama mereka...!"


"oh, berarti kamu sekarang jadi buronan, dong...?"


"yah, begitulah...!"


"kalau begitu kamu harus hati-hati, jangan sampai tertangkap lagi...!"


"kamu tenang saja, mereka tidak akan bisa menangkapku lagi...!"


"kenapa begitu...?"


"karena aku akan MATI...!"


"DEG...!!!"


"mati...?! jangan bercanda...! itu tidak lucu sama sekali...!!!"


"aku tidak bercanda...! tidak lama lagi aku akan mati...! yah, setidaknya begitulah menurut dunia...!"


"menurut dunia...?! apa maksudmu, aku tidak mengerti...!"


"untuk saat ini kamu tidak perlu mengerti, kamu cukup membaca berita disurat kabar beberapa hari kedepan, nanti kamu pasti mengerti sendiri...! aku sengaja menelponmu hari ini supaya kamu tidak kaget...!"


"Di..., kata-katamu benar-benar membuatku pusing...! apa kamu tidak bisa mengatakannya dengan lebih jelas...!"


"aku tidak mau...!"


"kenapa tidak mau...?"


"karena aku suka membuatmu pusing...! kamu tau sendiri, dari kecil melihatmu bingung adalah kesenangan bagiku...! hehehe..."


"ka... kamu...! dasar bodoh...!"


"hahahaha... hahahaha..."


"ya sudah, kalau kamu tidak mau menjelaskannya, biar saja aku mati penasaran karena pusing...!"


"duh, ngambek lagi...!"


"biarin...!"


"hahahaha... jangan marah, sayang...! sudah kubilang, baca saja surat kabar berapa hari ini, maka kamu akan mengerti...! dan ingat, ini rahasia...! hanya kamu dan keluargaku yang tau...!"


"rahasia...?! rahasia apa...? ah, sudahlah, lebih baik nanti aku cari tau sendiri, percuma juga aku tanya sekarang, pasti kamu tidak akan menjawabnya...!"


"yah, begitulah, hehehe..."


"oya, Vi..., kalau ga salah barusan kamu bilang disana tengah malam...?"


"i... iya, kenapa...?"


"kamu lagi ngapain tengah malam begini dengan cowok itu...?"


"DEG...!!!"


"a... apa maksudmu...? aku tidak dengan siapa-siapa...! aku sekarang sedang sendirian dikamar...!"


"jangan bohong...! tadi aku dengar suaranya...!"


"oh, itu..., tadi kebetulan saja aku bertemu dengannya sewaktu kekamar mandi...!"


"tuh kan kamu bohong...! katamu Dia orang kaya, masa dikamarmu tidak ada kamar mandinya...?"


"eh..., maksudku tadi bukan kekamar mandi, tapi ke dapur...! ya, kedapur...!"


"oh begitu...! awas saja sampai kamu ketemuan dengannya malam-malam...!"


"memangnya kenapa...? apa kamu cemburu...?"


"tidak, aku tidak cemburu...! aku hanya takut Dia memperdayaimu untuk melakukan itu...!"


"itu apa...?"


"menurutmu apa yang dilakukan cewek dan cowok malam-malam begini...?"


"aku tidak tau...! mungkin minum tuak dan ngobrol...!"


"dasar bodoh...! bukan itu...!"


"lalu apa...? aku tidak mengerti maksudmu...!"


"itu....! mungkin saja Dia merayumu dan mengajakmu bercinta...!!!"


"DEG...!"


"ah, itu tidak mungkin...!"


"kenapa tidak mungkin...?"


"karena aku tidak menyukainya...! walaupun Dia merayuku, aku tidak akan mau melakukan itu dengannya...!"


"kenapa tidak...?"


"karena aku sudah berjanji akan melakukannya pertama kali dengan orang yang kucintai...!"


"siapa orang itu...!"


"ga tau...! kamu pikir saja sendiri...!!!"

__ADS_1


"hmmm..., apa itu aku...?"


"ga tau...! kamu pikir saja sendiri...!!!"


"ah, sepertinya itu benar aku...!"


"ga tau...! kamu pikir saja sendiri...!!!"


"kenapa dari tadi jawabanmu cuma ga tau...?"


"ga tau...! kamu pikir saja sendiri...!!!"


"ya sudah, kalau kamu tidak mau bicara lagi denganku, aku pergi dulu...! dah..."


"tu... tunggu...! aku cuma ber..."


"tutttt...."


sesaat Via hanya terdiam menyadari Adi sudah memutus sambungan telepon mereka.


"dasar bodoh...! kenapa kamu matikan telponnya...? akukan cuma bercanda...! masa segitu saja kamu marah...!"


secepatnya Via menelpon balik, tapi sayang, nomer yang ditelponnya tidak bisa dihubungi.


beberapa kali Via mencoba lagi, tapi sama, nomer itu tetap tidak bisa dihubungi, hingga akhirnya Via yang merasa frustasi melempar TGnya sembarangan diatas ranjang.


"Di..., katanya kamu sayang aku...? tapi masa cuma gara-gara aku bercanda kamu marah...! kamu tau sendiri aku tidak bisa marah padamu, aku tadi hanya pura-pura saja, akukan pingin kamu rayu seperti biasanya...!"


"Di..., kamu tau ga aku masih kangen kamu...?! setelah tiga bulan lebih kita berpisah dan tidak saling berkabar, aku sungguh-sungguh merindukanmu, dan aku bahagia kamu menghubungiku...! tapi kenapa kamu tega mengakhiri telponnya begitu saja...?! akukan masih..."


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


Via yang menyangka Adi menelponnya lagi buru-buru mengangkat TGnya,


"sayang..., apa kamu baik-baik saja...?" kata suara diseberang.


"eh, kamu...! ya, aku baik-baik saja, kenapa...?" balas Via datar, menyadari yang menelponya bukan Adi, melainkan Wira.


"ah, tidak...! aku hanya mengkhawatirkanmu, soalnya kamu tiba-tiba saja pergi tanpa alasan yang jelas...!"


"aku minta maaf, tapi barusan aku mendapat telpon penting...!"


"dari siapa....?"


"bukan urusanmu...!"


"yah, itu memang bukan urusanku, aku tidak akan memaksamu mengatakannya, tapi ada hal penting yang aku mau tanyakan padamu...!"


"apa...?"


"apa kamu tidak ingin melanjutkan yang tadi...? hehehe..."


"aku rasa tidak...!"


"kenapa...? bukankah tadi itu menyenangkan.. ?"


"tidak juga...! tadi aku hanya terbawa suasana karena mabuk...! sudah ya...,


aku mau tidur, dah...!"


"tutttt..."


tanpa menunggu Wira membalas kata-katanya, Via langsung mematikan teleponnya.


secepatnya Via kembali menghubungi Adi, tetapi nihil, Adi tetap tidak bisa dihubungi.


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


kembali TGnya berbunyi.


mengetahui Wira menelponnya lagi, Via dengan kesal menjawab,


"apalagi...?"


"apa malam ini kamu ingin ditemani...? hehehe..."


"tidak perlu...! terimakasih tawarannya...!"


"tutttt..."


"Vivivivi...! vivivivi......!!!"


"kamu ya...! apa kamu tidak bisa untuk tidak menggangguku lagi malam ini...!!!" bentak Via setengah berteriak.


"ma... maaf, sayang..., aku cuma mau bilang selamat malam, selamat beristirahat...!"


"oh, iya..., selamat beristirahat juga...!"


"apa kamu mau kutema..."


"tutttt...."


"dasar cowok keras kepala...! apa Dia tidak tau kapan harus menyerah...?!" umpat Via dalam hati.


kembali Via menelpon Adi, dan kali ini berdering.


setelah menunggu beberapa saat,


"halo, selamat siang...!" terdengar suara seorang wanita diseberang sana.


"eh..., selamat siang..., Adi nya ada...?"


"oh, teman nona tadi sudah pergi...!"


"sudah pergi...? pergi kemana...?"


"saya juga tidak tau...! tadi sehabis menelpon, teman nona meminta saya membiarkan gagang telponnya menggelantung selama lima menit, lalu memasangnya kembali dan menunggu telepon dari nona untuk menyampaikan sebuah pesan...!"


"pesan apa, mbak...?"

__ADS_1


"INGAT KEMBANG API...!!!"


__ADS_2