PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
59. SALAH PAHAM


__ADS_3

malam itu,


seorang pria tampan sedang menatap dalam mata lawan bicara di depannya, seakan mencari kejujuran didalamnya,


"apa kamu benar-benar tidak menyukaiku...?" tanya Wira lagi.


"te... tentu saja...!" jawab Via tergagap.


"kurasa kamu tidak jujur...!" balas Wira tidak percaya.


"kenapa kamu bisa mengira seperti itu...?" Via mengalihkan pandangannya dari tatapan Wira.


"karena kamu terlihat panik dan ragu saat menjawabnya...!"


"aku tidak panik dan ragu...! aku hanya terkejut mendapat pertanyaan tidak biasa seperti itu...!" elak Via.


"baiklah, jika kamu merasa tidak berbohong, beritahu alasanmu tidak menyukaiku...?"


"lho, bukannya itu terbalik...?! seharusnya kamu yang mengatakan alasan aku menyukaimu...?"


"tentu saja semua wanita menyukaiku...! selain karena aku tampan, kaya, juga baik hati...! tidak ada alasan bagi seorang wanita tidak menyukaiku...!" balas Wira percaya diri.


"tapi aku tidak menyukaimu...!"


"alasannya...?"


"apa tidak menyukai seseorang itu perlu alasan...?"


"tentu saja...! bukankah kamu tadi yang memaksaku mengatakan alasan aku menyukaimu...?! jadi supaya adil, sekarang katakan alasanmu tidak menyukaiku...?"


sejenak Via nampak berfikir, lalu dengan cepat tangannya meraih botol tuak dan meneguknya.


Via yang sudah mulai mabuk lalu menghidupkan sebatang rokok, dan berulangkali menghisapnya.


dengan sabar Wira memperhatikan apa yang dilakukan Via, hingga akhirnya Via berkata,


"itu karena kamu mempesona...!"


"aku mempesona...?! hei, bukankah itu sebuah pujian...? apa itu artinya kamu menyukaiku...?" balas Wira tersenyum.


"aku tidak menyukaimu...! aku hanya bilang kamu mempesona..! karena kamu mempesona, aku jadi tidak menyukaimu...!"


"omonganmu tidak jelas...! kamu mabuk ya...?"


"aku tidak mabuk...! aku bilang kamu mempesona, yang itu artinya banyak gadis menyukaimu...! karna itu aku tidak menyukaimu...!"


"apa kamu cemburu dengan mereka...?" balas Wira sembari meneguk segelas tuak.


"untuk apa cemburu...! aku tidak menyukaimu...! jadi terserah kamu saja mau apa dengan mereka...!"


"aku mau apa dengan mereka...?! maksudmu apa...? aku semakin tidak mengerti omonganmu...!"


"jangan pura-pura bodoh...! dengan pesona dan kekayaanmu, kamu selalu memanfaatkan gadis-gadis untuk melakuan apapun yang kamu suka...!" balas Via setengah berteriak, efek tuak yang dari tadi di minumnya mulai bekerja.


"memanfaatkan...?! huh! jangan menuduh seenaknya, aku tidak seperti itu...!" protes Wira yang juga mulai mabuk.


"tidak seperti itu bagaimana...?! aku sendiri melihat dengan jelas, bagaimana kamu memanfaatkan pesona dan kekuasaanmu untuk menggoda Timi...!"


"oh, jadi ini semua mengenai Timi...! hmmm..., sepertinya kamu salah paham...! itu tidak seperti yang kamu pikirkan...!" sanggah Wira.


"kalau begitu coba kamu jelaskan, apa alasanmu mengajaknya bercinta kalau bukan untuk membayar hutang kakeknya...?!"


"aku tidak pernah mengajaknya bercinta, Dia yang memintaku...!" protes Wira lagi.


"ah, sama saja...! toh intinya kamu bercinta dengannya untuk membayar hutang kakeknya...!"


"bukankah aku sudah bilang padamu, aku ini seorang pebisnis, jadi pantang bagiku menukar hutang dengan kesenangan...!"


"lalu yang kemarin itu apa...?"


"itu..."

__ADS_1


sejenak Wira terlihat ragu, lalu kemudian berkata lagi,


"ah, sebenarnya aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskannya padamu, tetapi supaya kamu tidak menuduh aku seenaknya, akan kuberitahu apa yang sebenarnya terjadi...!"


kembali Wira meneguk segelas tuak, lalu menghidupkan sebatang rokok.


"kemarin siang, ketika aku tau Dia bekerja di salah satu Resto milik perusahaan kami, aku langsung memikirkan sebuah rencana untuk melunasi hutang kakeknya, yaitu mengangkatnya sebagai seorang juru masak. tapi tentu saja aku tidak mau seenaknya menaikkan jabatannya tanpa mengetahui kemampuan kerjanya, karena itu aku sengaja menjemputnya di tempat kerja, supaya aku bisa melihatnya bekerja secara langsung."


sejenak Wira menghentikan kalimatnya dan menghisap rokoknya.


"dari tempat kerjanya, aku lalu mengajaknya makan malam dan pergi kekaraoke, bukan tanpa sebab, tapi aku ingin mengenal sifat dan kepribadiannya lebih jauh, tentu aku tidak mau terkena masalah dengan mengangkat orang yang tidak jelas kepribadiannya...!"


"apa iya begitu...?" tanya Via seakan tidak percaya penjelasan Wira.


"ya terserah kamu saja kalau tidak percaya...!"


sejenak Via terlihat berfikir, kemudian berkata,


"yah, anggap saja ceritamu tadi benar, tapi kenapa setelah itu kamu mengajaknya kesini...? aku rasa jika hanya untuk sekedar mengenalnya kamu bisa pelan-pelan melakukannya, tidak perlu terburu-buru sampai harus mengajaknya kesini dan membuatnya mabuk...?"


"itu karena aku merasa Dia dalam bahaya...!"


"bahaya...?!" Via nampak terkejut.


"ya, bahaya...!"


"bahaya apa...?! siapa yang ingin mencelakainya...?" tanya Via penasaran.


"kakeknya...!!!"


"hah...!, kakeknya...?!" kembali Via terkejut.


"omonganmu sungguh tidak beralasan, untuk apa kakeknya mencelakainya...?" tanyanya lagi.


"kakeknya tidak ingin mencelakainya, tetapi karena kakeknya Dia akan celaka...!"


"aku tidak mengerti maksudmu, kata-katamu membuatku pusing...! bisakah kamu jelaskan dengan lebih sederhana...?"


"eh, apa kamu serius...?" tanya Via seakan tidak percaya apa yang barusan didengarnya.


"tentu saja...! aku sudah mengenal bisnis ini semenjak berumur delapan tahun, jadi aku tau persis apa yang akan terjadi...!"


"jadi maksudmu kamu membawa Timi kesini supaya tidak diculik...? lalu kenapa kamu mengantarnya pulang...? bukankah itu sama saja percuma...? bisa saja tadi siang atau malam ini Dia diculik...!" Via terlihat bingung.


"tidak, itu tidak mungkin...!"


"kenapa tidak mungkin...?"


"karena sebelum mereka menculiknya, mereka akan mendatangi kakek tua itu beberapa kali dan memberikan ancaman...! jika kakek tua itu tidak mengindahkannya, baru mereka kan melakuan hal itu...!"


"lalu apa hubungannya kamu mengajaknya semalam kesini dengan mereka tidak jadi menculiknya...?" Via semakin terlihat bingung.


"karena mereka tidak berani...!" jawab Wira sembari meneguk tuaknya kembali.


"jika kamu menjadi kakeknya, kira-kira apa yang akan kamu katakan pada orang-orang yang mengancam akan menculik cucumu...?" Wira balik bertanya.


sejenak Via nampak berfikir, lalu kemudian menggeleng,


"aku tidak tau...! menurutmu apa yang akan dikatakannya...?"


mendengar jawaban Via, tiba-tiba Wira tertawa,


"hahahaha... pantas saja kamu tidak bisa menjadi dokter, otakmu benar-benar lambat...! hahahaha... hahahaha..."


"ya ya ya..., aku tau itu, jadi jangan mengejekku lagi...!" balas Via kesal, lalu ikut meneguk tuaknya.


"apa yang akan dikatakan kakek itu...?"


"untuk menyelamatkan cucunya, maka Dia akan mengatakan bahwa Timi adalah milikku...! maka dengan begitu, orang-orang itu akan berfikir seribu kali untuk menculiknya, karena jika benar apa yang dikatakan kakek itu, maka artinya mereka cari masalah denganku dan juga Kapak Naga...!!!"


kembali Via terlihat berfikir, lalu berkata,

__ADS_1


"ah, sepertinya aku mengerti maksudmu...! jadi kamu sengaja membuat kesan bahwa kamu menginginkan Timi, sehingga kakek itu akan menggunakan alasan itu untuk melindunginya...!"


"akhirnya otakmu ada gunanya juga...! hehehe..." balas Wira tersenyum.


sindiran Wira bukannya membuat Via marah, malah dengan pelan berkata


"kalau begitu aku minta maaf...!"


"untuk apa...?"


"karena dari kemarin aku salah paham...! kukira kamu sengaja mengajaknya kesini karena ingin menikmati tubuhnya, ternyata aku salah, kamu tidak sejahat itu...! sekali lagi aku minta maaf karena telah berfikiran buruk tentangmu...!"


"apa itu berarti sekarang kamu sudah merubah pandanganmu keaku...?" tida Wira.


"sedikit...!"


"lho, kok sedikit...?" Wira terlihat kecewa.


"karena aku masih menggapmu mesum...!" balas Via kembali menaikkan nadanya.


"kenapa begitu...?"


"karena semalam kamu ikut masuk ke kamarnya dan bercinta dengannya...!"


"darimana kamu tau kami bercinta...? apa kamu menguping...?" Wira memandang Via dengan sebelah mata yang menyipit.


"aku tidak menguping, aku hanya menebak...! memang apa lagi yang dilakukan dua orang berlainan jenis didalam satu kamar, selain bercinta...?!"


"aku tidak menyangkalnya...!"


"DEG...!!!"


"be... berarti benar kamu bercinta dengannya semalam...?" tanya Via lagi.


"yah, begitulah...! hehehe..." balas Wira terkekeh.


"DEG...!!!"


jawaban Wira membuat Via terdiam, dadanya terasa sesak, sebuah perasaan tidak nyaman menyelimutinya.


"hei, ada apa denganku...? kenapa aku merasa kesal...? apa aku cemburu...?" batinnya.


melihat perubahan diwajah Via membuat Wira tersenyum,


"sayang, ada apa...? kenapa kamu telihat marah...? apa kamu cemburu...? hehehe..." katanya dengan nada menggoda.


"aku tidak cemburu...! aku hanya merasa kesal...!" balas Via berbohong.


"kesal kenapa...?" tanya Wira lagi berpura-pura bodoh.


"karena tadi aku sempat berfikir kamu cowok baik-baik, tapi ternyata aku salah...! kamu cuma orang mesum yang suka meniduri semua wanita...!" jawab Via kesal.


"hei, sepertinya kata-katamu barusan terlalu kasar...!" protes Wira.


"bukankah sudah kubilang aku tidak pernah mengajaknya bercinta, Dia yang memintaku...!" lanjut Wira.


"ah, sama saja...! kalau kamu tidak merayunya, mana mungkin Dia sampai meminta hal seperti itu...!"


"biar kujelaskan ke kamu, selama didalam kamar aku tidak pernah sekalipun merayunya...! saat itu aku hanya duduk disampingnya, dan mendengar Dia bercerita tentang kehidupannya yang malang...! bagaimana keluarganya bangkrut sampai harus pulang kampung, bagaimana pacarnya meninggalkan Dia karena wanita lain, bagaimana Dia dipecat dari pekerjaannya gara-gara tidak mau menjadi simpanan bosnya...!" jelas Wira.


"aku tidak percaya...! kalau hanya begitu, bagaimana mungkin kalian sampai bercinta...?"


"kejadiannya begitu cepat, selesai bercerita, tiba-tiba Dia meneguk sebotol tuak sampai habis, lalu mematikan lampu...! setelah itu Dia berdiri tepat didepanku, dan mulai melepas seluruh pakaian ditubuhnya, kemudian Dia memintaku untuk menyentuhnya...! tentu saja aku yang saat itu menyangka Dia mabuk berusaha menghentikannya dan menolaknya secara halus, bukan karena aku tidak tertarik, tapi aku tidak suka melakukan itu dengan orang yang tidak aku cintai...!"


"lalu...?" tanya Via tidak sabaran.


"akhirnya aku menyerah ketika Dia berkata, kumohon, aku membutuhkannya...! aku tau aku tidak secantik dan seseksi cewek-cewek yang pernah kamu kencani, tapi sedikitnya hargailah aku, bahkan walaupun saat ini kamu tidak memikirkan aku, dan menganggap aku orang lain...!"


"DEG...!!!"


kata-kata Wira mengingatkan Via akan kejadian tiga bulan lalu.

__ADS_1


__ADS_2