
"Tim, boleh aku minta nomer telpon genggammu...?"
"untuk apa, Wir...?"
"siapa tau saja nanti malam aku tidak bisa tidur dan pingin ngobrol denganmu...!"
"oh, iya... nomerku..."
belum sempat Timi menyebutkan nomernya, tiba-tiba Via masuk sambil membawa bungkusan besar ditangannya.
"nih, pesanannya...!" kata Via sambil menaruh bungkusan itu diatas meja.
"makasi..." balas Wira sembari mengambil sebotol tuak, dan menyerahkannya ke Timi.
"Tim..., kasi ini kekakekmu, bilang padanya, kalau ingin lebih, temui aku disini...!"
"lho, kok tuak, Wir...? katanya obat...?" Timi terlihat ragu.
"percayalah padaku, itu obat yang mujarab untuk kakekmu...! hehehe..."
"i... iya, Wir..." secepatnya Timi meraih botol pemberian Wira dan berjalan menuju kamar kakeknya.
baru saja Timi masuk, Via langsung berkata, "Tim..., Wir...! sepertinya kalian sudah akrab...?"
"yah, begitulah...! kenapa...? kamu cemburu...?"
"aku bukannya cemburu, cuma heran saja, bagaimana mungkin kalian bisa akrab secepat itu...!"
"kamu tidak perlu heran...! sudah keahlianku untuk mengakrabkan diri dengan gadis secantik dan seseksi Dia, hehehe..." balas Wira terkekeh.
"terserah, deh...!" balas Via malas sembari menghempaskan dirinya disamping Wira.
"lalu, menurutmu, apa kakek tua itu akan keluar menemuimu...?" katanya lagi.
"aku rasa begitu...! kita tunggu saja...!"
persis seperti perkiraan Wira, tidak berapa lama, kakek tua bernama Mues Kien datang menghampiri mereka.
"siapa gerangan orang yang berbaik hati membawakanku obat yang sangat nikmat ini...?" katanya tersenyum gembira.
"itu oleh-oleh dari saya tuan Kien...!" sahut Wira yang langsung berdiri menyambut si kakek.
"nama saya Wira, ketua biro peminjaman Kapak Naga cabang Tiga...!" lanjut Wira.
"oh, kamu bos si gendut itu...?"
Wira mengangguk.
"ada perlu apa kamu kesini...? kalau menagih hutang, saya tidak punya...! usaha saya bangkrut, dan saat ini saya tidak punya penghasilan apa-apa...!" kata kakel Kien kurang senang.
"saya tau tuan Kien, saya sudah membaca laporannya...! karena itu saya ingin membantu mencarikan solusinya...!"
"solusi...! solusi apa...? apa kamu tidak dengar barusan saya bilang tidak punya uang...! jadi saya rasa, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi...!"
__ADS_1
"tentu saja ada...! semua masalah pasti ada solusinya, karena itu bisa disebut masalah...! kalau tidak ada solusinya, maka itu tidak bisa disebut masalah, bukan begitu, tuan...?"
"hahahaha... ternyata kamu cukup pintar juga...! lalu, solusi apa yang kamu ingin tawarkan...?"
"saya rasa tidak pantas kita bicara sambil berdiri...! bagaimana kalau kita duduk dulu baru membicarakannya...? sambil menikmati beberapa botol obat yang nikmat ini lagi...?"
"saya rasa itu ide yang sangat bagus...! apa kamu membawa rokok...?"
"tentu saja...! ini rokok untuk tuan Kien..."
Wira lalu menyerahkan sebungkus rokok yang dibeli Via.
"hmmmm..., darimana kamu tau saya suka rokok ini...?" tanya kakek Kien penasaran.
"dari puntung rokok yang berserakan dihalaman...!" balas Wira yakin.
"hahahaha... ternyata tidak hanya pintar...! matamu jeli juga...! sepertinya saya mulai menyukaimu, anak muda...!"
"terima kasih, tuan Kien...!"
...
"jadi menurutmu, apa yang bisa saya lakukan untuk menyelesaikan hutang saya...?" tanya kakek Kien sambil meneguk sebotol tuak.
"sebelum saya mengatakannya, bolehkah saya mendengar langsung dari tuan mengenai keadaan tuan saat ini...?" balas Wira ikut meneguk sebotol tuak.
"seperti yang saya bilang tadi, usaha ternak kambing saya bangkrut, dan saat ini saya tidak punya apa-apa...!
bahkan untuk makan saja, saya hanya mengandalkan gaji cucu saya ini...!" jelas kakek Kien menunjuk ke Timi.
"oh, itu..., mereka semua tinggal dikampung, termasuk kedua orang tua Antimis...! tapi mereka semua sangat miskin, sehingga orang tuanya menitipkan Dia disini untuk kuliah dan menimba ilmu, dengan harapan bisa merubah nasib keluarga mereka...! tapi sayang, baru beberapa bulan Dia di disini, saya jatuh miskin...! karena kekurangan biaya, dengan terpaksa saya menghentikan kuliahnya, dan menyuruhnya bekerja untuk bisa bertahan hidup...!"
"hmmm... jadi untuk saat ini, cucu tuan yang cantik ini yang menjadi tulang punggung disini...? lalu, kakek sendiri kegiatannya apa sekarang...?"
"semenjak saya bangkrut, saya jatuh sakit, dan hanya beristirahat saja dirumah...!"
"sakit apa...?"
"saya juga tidak tau...! yang jelas setiap hari kepala saya terasa pusing, dada terasa nyeri, dan jantung saya berdebar kencang...!"
"apa tuan pernah memeriksakannya ke dokter...?"
"tidak...! selain tidak punya uang, saya juga takut...!"
'takut apa...?"
"takut kalau mengetahui ternyata penyakit saya parah, dan umur saya tidak panjang lagi...!"
"tapi tuan tidak terlihat seperti orang yang sakit parah, apalagi mau mati...! tuan terlihat baik-baik saja, bahkan sangat baik-baik saja...!"
"ah, itu hanya pendapatmu saja...! kadang kala tidak semua seperti yang kamu lihat...!"
"oya...? kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan...?"
__ADS_1
"buktikan apanya...?"
"sakit tuan...!"
"caranya...?"
"teman saya ini seorang ahli pengobatan, hanya dengan memeriksa denyut nadi seseorang, Dia bisa mengetahui penyakitnya." kali Wira menunjuk Via.
"hmmm... tapi Dia tidak terlihat seperti seorang dokter...!" kata kakek Kien tidak percaya.
"saya tidak mengatakan Dia seorang dokter, saya bilang Dia seorang ahli pengobatan...!!! yah, mungkin dari penampilannya Dia terlihat sedikit bodoh, tapi percayalah, Dia orang yang sangat ahli di bidangnya...!"
"hei..., siapa yang kamu bilang bodoh...?!" protes Via tiba-tiba.
bukannya menjawab pertanyaan Via, dengan cuek Wira kembali berkata,
"bagaimana tuan Kien...? apa tuan bersedia diperiksa...?"
sejenak kakek Kien terlihat menimbang-nimbang, lalu berkata, "baiklah, silahkan kamu periksa saya, nona muda...! tapi jangan terkejut mengetahui hasilnya...!"
kali ini Via yang terlihat bingung.
"hei bodoh, apa yang sekarang harus kulakukan...?" batinnya menatap Wira kesal.
seolah mengerti arti tatapan Via, dengan santai Wira berkata, "silahkan nona Via memeriksa kakek Kien, dan beritahu kami hasilnya...!"
walaupun masih bingung dan kesal, Via tetap menuruti kata-kata Wira.
cukup lama Via memeriksa denyut nadi si kakek, hingga akhirnya berkata, "ah, saya rasa kakek benar, kakek terkena penyakit parah...!"
mendengar kata-kata Via, sontak semua yang ada disana terkejut, terutama kakek Kien, yang langsung berkata,
"pe... penyakit parah...! apa nona yakin...?"
"sangat yakin, kek...!"
"sa... saya sakit apa...?"
"penyakit yang kakek derita bernama, Alkoholik Nikotinlik Judilik...!!!"
"heh...! penyakit apa itu...? kok namanya aneh...?" kakek Kien terlihat bingung.
"oh, itu bahasa medis, Kek...! penyakit itu adalah penyakit kecanduan alkohol, kecanduan rokok, dan kecanduan judi dalam stadium parah...! bila dalam waktu yang cukup lama kakek tidak mendapatkan alkohol, rokok atapun bermain judi, maka kakek akan menjadi stress dan meninggal...! gejala awalnya adalah kakek merasa gelisah dan frustasi...!" jelas Via asal.
sejenak kakek Kien hanya diam memikirkan kata-kata Via, hingga tiba-tiba,
"hahahaha... ternyata nona ini memang ahli pengobatan yang sangat hebat...! hanya dalam sekejap saja, Dia bisa tau apa yang saya rasakan...! hahahaha... hahahaha..."
"tentu saja, tuan Kien...! seperti yang tadi saya bilang, Dia yang terbaik dibidangnya, hahahaha... hahahaha..." sahut Wira ikut tertawa.
"bagaimana kalau sekarang kita tambah lagi tuaknya untuk menjaga kesehatan tuan Kien...?" lanjut Wira bersemangat.
"tentu saja...! kenapa tidak...!" balas kakek Kien juga penuh semangat.
__ADS_1
"terserah kalian saja, deh...! masa bodo...!!!"