
"dasar gadis tolol...! apa kamu tidak sadar situasimu sekarang...?! kamu hanya sendiri, sedangkan kami berseratus lebih...! bahkan Dewa pun tidak akan bisa menyelamatkanmu...! hahahaha... hahahaha..."
"aku tidak perlu bantuan Dewa untuk menghadapi gerombolan pengecut macam kalian...! manusia-manusia banci yang beraninya main keroyok menghadapi seorang wanita...! bahkan anjingku pun lebih baik dari kalian...! hehehe...!"
"mulutmu makin lama makin tidak bisa dijaga...! kalian...! cepat tangkap dan bungkam mulut wanita sialan ini...!!! aku muak mendengar ocehannya...!"
"siap! tuan muda...!!!"
beberapa orang berjas merah itu langsung bergerak maju, hendak menangkap Via.
"Grrrrhhh..." merasa tuannya dalam bahaya, Simba langsung mengeram.
"tunggu Simba...! belum saatnya giliranmu...!!!" tahan Via.
"sekarang cepat pergi...! nanti kalau aku panggil baru datang lagi...!!!" lanjutnya.
"Gong...!!!"
melewati celah-celah para pengepung, Simba langsung meninggalkan tempat itu.
"tunggu apa lagi...?!! cepat tangkap Dia...!!!" kali ini si pemimpin yang berteriak.
"siap, bos...!!!"
baru saja mereka bergerak maju, Via dengan kecepatan yang luar biasa langsung memanjat pohon.
sampai disebatang dahan yang cukup besar, Via langsung duduk dan tertawa,
"hahahaha... coba tangkap aku kalau kalian bisa...! hahahaha... hahahaha..."
nadanya yang sarat ejekan membuat beberapa pria berjas merah itu naik pitam dan langsung memanjat.
baru setengah mereka memanjat, tiba-tiba Via mengeluarkan sebuah tas plastik dari ranselnya dan merobeknya, kemudian melemparkan isinya ke para pemanjat itu.
"aduh..!!!"
"bangsat...! sakit...! apa ini...?!"
"brag... brug... brag... brug...!!!"
satu persatu para pemanjat mulai berjatuhan.
sambil mengerang mereka berusaha melepaskan puluhan kalajengking yang menyengat mereka.
"dasar cewek brengsek...!!! sepertinya Dia punya senjata rahasia...!"
"kalian jangan panik, cepat ambil batu dan lempari Dia...! lempar Dia sampai jatuh...!!!" perintah sang pemimpin lagi.
beberapa pria berjas merah itu langsung melakukan perintah sang pemimpin. mereka melempari Via dengan membabi buta.
"sial...! kalau disini terus, lama-lama aku bisa kena..." batin Via, lalu dengan sigap kembali memanjat, lebih tinggi dan tinggi. sampai akhirnya Via merasa lemparan anak buah Brandon tidak bisa mengenainya lagi, kembali Via duduk di sebatang dahan.
"dasar monyet...!!! cepat sekali naiknya...!" maki sang pemimpin.
"lalu, sekarang kita mesti bagaimana, bos...?!" tanya salah seorang anak buahnya ke si pemimpin.
belum sempat si pemimpin berkata, tiba-tiba Brandon menyahut.
"tebang pohon itu...!!!"
"te... tebang...!!! ta... tapi tuan...! kalau kita tebang, cewek itu bisa mati...!"
"aku tidak perduli...!!! orang yang sudah menghinaku tidak pantas hidup didunia ini...!"
"ta... tapi tuan...!"
"Plak...!"
"jangan melawan perintah...! kalau Dia sampai mati, nanti kita buat saja seolah - olah kecelakaan...! toh tidak ada yang melihat...!"
"ba... baik Tuan..."
"kalian...! cepat ambil kapak dan tebang pohon itu...!!!" kembali si pemimpin memberi perintah anak buahnya.
beberapa orang mulai menebang pohon itu.
"gila...! apa mereka ingin membunuhku...? apa yang sekarang harus aku lakukan...?"
dalam kebingungan nya, Via lalu meraih telpon genggamnya dan menghubungi Tommi.
Via : "Tom, kamu dimana? aku terjebak diatas pohon, dan mereka mulai menebang pohonnya."
Tommi : "aku tau, maaf terlambat menghubungi , barusan kami sedang menyiapkan perangkap."
__ADS_1
Via : "sekarang aku mesti gimana?"
Tommi : "coba kamu lihat disekelilingmu, ada karung digantung ga?"
Via : "ada Tom, ada sekitar delapan."
Tommi : "bagus, sekarang potong tali pengikatnya, dan biarkan jatuh. sudah saatnya kita buat mereka merasakan kengerian hutan ini."
Via tidak membalas lagi, dengan cepat tangannya meraih pisau dipinggangnya.
"wut... wut... wut..."
"brug... brug... brug..."
karung - karung yang berjatuhan disekitar pohon membuat para pengepungnya terkejut.
belum hilang keterkejutan mereka, dari karung yang terbuka, keluar ratusan mahluk berbisa dan mulai mengeliat kesana - kemari.
"sisssss.... sisssss..."
"u...ular...!!!"
"kabur...! kabur...!!!"
"mama...! aku takut ular...!!!" suara Brandon terdengar paling keras.
belum hilang kepanikan mereka, dari jauh berterbangan benda bulat berwarna coklat.
"plok... plok... plok..."
"nginggg..."
tepat ketika benda coklat itu membentur tanah, munculah ratusan binatang penyengat yang terlihat marah karena sarangnya hancur.
"nginggg..."
"le... lebah...!!! ada lebah...! kabur...!!!"
"bangsat...! siapa yang melempar sarang lebah-lebah ini...!!!"
"mama...! aku takut lebah...!!!" kembali suara Brandon terdengar paling keras.
pria-pria berjas merah itu mulai lari tunggang langgang, mencoba menyelamatkan diri dari gigitan ular dan sengatan lebah.
yang mencoba melarikan diri kearah barat langsung berjatuhan.
"hei...! kenapa kalian terjatuh...?!"
"i... itu... kaki kami terjerat sesuatu...!"
"brengsek...! siapa yang mengikat akar sepanjang jalan ini...!!!"
"entahlah, aku juga ga tau...! seingatku tadi belum ada...!"
...
"jleb... bruk... jleb... bruk..."
yang berlari ke arah timur juga berjatuhan.
"kurang ajar...! kenapa banyak lubang di sekitar sini...?!"
"jleb... bruk... jleb... bruk..."
"arghhhh..."
"Hati-hati, beberapa lubang berisi bambu tajam...!!!"
...
"sruttt... krittt... sruttt... krittt..."
yang berlari kearah utara termakan jebakan jaring dan terikat diatas pohon.
"sial...! ini jebakan...! ini jebakan...!!! kita dijebak...!!!"
"cepat kita kembali...! hutan ini sudah dipasangi perangkap...!"
Brandon dan anak buahnya yang tersisa lalu berlari ke arah selatan.
baru saja berlari, tiba-tiba dari hadapan mereka muncul Tommi dengan sekitar 20 orang bersamanya.
"bangsat...! ini pasti ulah kalian...! serang...!!!"
__ADS_1
sang pemimpin langsung menerjang, diikuti semua anak buahnya.
"sesuai rencana kita tadi, yang bertarung hanya cowok...! semua cewek mundur...! tugas kalian mengawasi Dia, pastikan Dia tidak kabur...!!!" Tommi memberi intruksi, yang langsung dilaksanakan teman-temannya.
para gadis bergerak mundur, sedangkan para pria langsung menghadang para pengawal Brandon.
"hiat...!!!"
"hea...!!!"
"bag...! bug...! bag...! bug...!
bentrokanpun terjadi, 38 pria berjas merah melawan Tommi dan kawan-kawan yang berjumlah 14 orang.
...
saat itu, Via yang merasa kondisi mulai aman, perlahan menuruni pohon.
sampai di bawah, matanya langsung mencari-cari keberadaan Brandon.
"itu Dia...! saat ini aku hanya perlu mengawasinya agar tidak kabur...! biar Tommi dan kawan - kawan selesaikan dulu pertarungan mereka, baru aku menantangnya duel...!"
...
kembali ke pertarungan, saat itu, dari kubu Tommi tidak ada seorangpun yang cedera serius, semua tampak baik-baik saja. sedangkan dari kubu Brandon hanya tersisa 15 orang yang masih sanggup bertarung. dari 23 orang yang tumbang, separuh lebih dihajar Hengki dan Bladuk.
"ini yang kelima...! ayo! siapa lagi yang berani...! maju...!!!" teriak Bladuk dengan lantang.
"baru lima sudah sombong...! ini yang kedelapa Bro...!!!" sahut hengki dari samping. nampak Hengki tersenyum mengejek sambil menginjak salah seorang pria berjas merah hingga terkencing - kencing.
"huh...! tunggu saja, aku akan menghajar lima orang lagi, biar kamu kalah...!" Bladuk yang tidak mau kalah langsung menyerang anak buah Brandon.
"coba saja, hehehe..." Hengki ikut maju menyerang.
hanya dalam beberapa menit, Bladuk dan hengki sudah menumbangkan lima orang lagi anak buah Brandon.
melihat anak buahnya yang masih bertahan tinggal sedikit, Brandon mulai gelisah, dan melirik kesana-kemari, mencari celah untuk melarikan diri.
setiap ada kesempatan, Dia mencoba kabur, tapi semua geraknya sudah dibatasi tujuh orang gadis yang selalu setia mengikutinya. kemanapun Dia melangkah, para gadis selalu menutup jalannya, sehingga mau tidak mau Brandon kembali lagi.
hingga beberapa saat,
"brughhh..."
sesosok tubuh jatuh terhempas di depannya.
anak buahnya terakhirnya, yaitu si pemimpin tumbang dihajar Hengki.
"tu... tuan muda... ma... maafkan kami... kami... ga..."
"dasar Goblok...!!! masa menghadapi pemuda desa saja kalian kalah...! percuma aku bayar kalian mahal-mahal...!"
bukannya menolong sang pemimpin, Brandon malah memakinya.
melihat tingkah Brandon, Tommi dan kawan-kawan yang merasa kesal mulai mendekatinya, hingga jarak mereka kini tinggal lima langkah.
"ka... kalian...! kalian mau apa...?!" Brandon terlihat sangat ketakutan, celananya nampak basah.
"kami yang seharusnya bertanya, mau apa kamu masuk desa kami dengan membawa anak buah segitu banyaknya...?!" balas Tommi, matanya tajam memandang Brandon.
"a... aku mau balas dendam ke teman kalian yang telah melukai harga diriku ini...!" Brandon menunjuk luka di pipinya.
"apa Dia orangnya...?!" Tommi menunjuk ke belakang Brandon, sehingga membuat Brandon langsung berbalik badan.
alangkah terkejutnya Brandon melihat seorang gadis berdiri disana. ternyata, dari tadi Via sudah berada dibelakangnya.
"ya... aku memang mencarinya, dan ingin membuat perhitungan dengannya...!" mata Brandon kini menatap tajam kearah Via, penuh kebencian.
"aku juga sudah menunggumu...!" balas Via, ikut menatap tajam Brandon.
seketika suasana menjadi hening.
setelah beberapa saat, tiba-tiba Tommi berkata,
"bagaimana kalau kalian selesaikan masalah kalian sekarang...?!"
"caranya...?!" tanya Brandon.
"seperti yang biasa dilakukan, jika dua orang terlibat masalah dan tidak ada yang mau mengalah...!"
"maksudmu, Duel...?!" tanya Brandon lagi.
"ya, Duel...! AKU MENANTANGMU DUEL...!" kali ini Via yang menyahut.
__ADS_1