PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
30. PRIA MESUM


__ADS_3

"Di, kamu dimana? tolong aku..."


"berhenti...!!! jangan sentuh gadis itu...!!!"


"kamu siapa...?! jangan ikut campur urusan kami...! kami harus memberi pelajaran gadis kurang ajar ini...!"


"gadis itu adalah MILIKKU... jadi jangan ada yang coba-coba menyentuhnya lagi, kecuali kalian sudah bosan hidup...!"


"ma... maafkan kami tuan muda ADI..., kami tidak tau kalau gadis ini adalah milik tuan...! kalau kami tau, tentu kami tidak berani mengganggunya...!"


"sudah, jangan diteruskan lagi...! aku juga minta maaf kalau gadis ini membuat kalian marah, tapi kuharap kalian bisa memaafkannya...!"


"ten... tentu saja tuan... kami berjanji tidak akan mengganggunya lagi...!"


"Vi, kamu tidak apa-apa...?"


"aku baik-baik saja, Di..., hanya sedikit merasa lelah..., terima kasih sudah menolongku..."


"sama-sama..., aku sayang kamu, Vi..."


"aku juga sayang kamu, Di..."


"muah..."


"eh... mukamu kenapa, Di...?"


"lho..., mukamu kok berubah...?"


"kamu siapa...?! Adi mana...?!"


"hahahaha... Adi sudah pergi...! dan sekarang aku, si mesum yang akan menjagamu...! hahahaha... hahahaha..."


***


pagi itu, suara kicauan burung bernyanyi membangunkan Via dari tidurnya.


"Adi... si mesum... Adi... si mesum... ah, mimpi yang aneh...! gumam Via masih terbayang mimpinya tadi.


baru setengah kesadarannya kembali, Via yang tiba-tiba teringat kejadian semalam langsung terduduk,


"eh, aku sekarang dimana ya...? bukannya semalam aku pingsan di parkiran penginapan...!"


sesaat Via memperhatikan sekelilingnya.


nampak dirinya berada di sebuah kamar yang cukup besar dan mewah.


"kamar ini bukan kamar biasa, kalau bukan kamar hotel bintang empat keatas, pasti kamar ini milik orang kaya seperti Siska...! tapi siapa ya, yang membawaku kesini...? hmmmm..., kalau tidak salah, semalam pria mesum itu yang menolongku...! apa Dia yang membawaku kesini...? jangan-jangan ini rumahnya...?"


"krittt..."


belum habis berfikir, mendadak seseorang membuka pintu kamar, nampak seorang wanita paruh baya mengintip kedalam.


melihat Via yang sudah bangun, wanita itu membuka pintu lebih lebar dan masuk kedalam,


"selamat pagi nona, saya Arum, pelayanan di rumah ini...!" kata wanita itu memperkenalkan diri sambil membungkukkan setengah badannya.


"pa... pagi juga, nama saya Sephia, panggil saja Via..."


"baik non, Via..."


pelayanan bernama Arum itu kemudian menyikap gorden dan membuka jendela, sehingga hangatnya sinar mentari dan segarnya udara pagi memenuhi kamar itu.


sambil menikmati anugrah tak terhingga pagi itu, Via memperhatikan keluar jendela.


nampak taman kecil nan indah dihiasi berbagai jenis bonsai yang sangat cantik.


"kalau ga salah, bonsai-bonsai itu mirip dengan punya papanya Siska yang berharga ribuan pis perpohonnya... berarti benar dugaanku, pemilik rumah ini orang kaya...! tapi siapa...?"


"mbak Arum, boleh saya bertanya...?"


"oh, silahkan...! non Via mau nanya apa?" balas Arum sambil mengikat gorden kesamping.


"saya dimana ya...?"


"non Via saat ini berada di rumah TUAN MUDA WIRA...!"


"tuan muda Wira...! siapa Dia...? apa pria mesum itu yang bernama Wira...? hmmm... sebaiknya aku segera menemuinya dan memastikannya...!"


"mbak, Arum, tuan muda sekarang dimana...?"


"tuan muda saat ini sedang menunggu non Via di ruang baca. katanya setelah non Via selesai mandi, langsung disuru keruang makan untuk sarapan bersama...!" jawab Arum sambil melangkah menuju lemari pakaian.


setelah memilih sepasang pakaian dan handuk, Arum kembali mendekati Via.


"saya rasa pakaian ini akan cocok dengan non Via...! sekarang sebaiknya non segera mandi, jangan biarkan tuan muda menunggu terlalu lama...! tuan muda bukan tipe orang yang sabaran...!!!" katanya sambil menyerahkan pakaian yang dipilihnya tadi ke Via.


"oya...? apa tuan muda ini seorang pemarah...?" selidik Via.

__ADS_1


"bukan..., bukan seperti itu yang saya maksud...! tapi..., ah, saya tidak berani mengatakannya, takut non salah paham...! sebaiknya nanti non cari tau sendiri...!"


Via yang tidak ingin mendesak Arum akhirnya turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


baru saja hendak membuka bajunya, Via yang menyadari sesuatu langsung berteriak panik,


"mbak Arum...! ini bukan baju saya...! siapa yang semalam mengganti baju saya...? trus, kenapa saya tidak memakai bra dan ****** *****...?!"


"maaf non, kalau itu saya kurang tau...! baru pagi ini saya ditugaskan melayani non Via..., mungkin sebaiknya nanti non tanya ke tuan muda...!"


"i... iya, mbak...!"


secepatnya Via masuk ke kamar mandi dan bersiram.


"apa si mesum itu yang mengganti pakaianku...? kenapa aku tidak mengenakan dalaman...? apa yang dilakukannya semalam padaku...? apa dia melakukan itu padaku saat aku tidak sadar...? dasar pria kurang ajar...! awas saja kalau sampai benar Dia melakukan hal yang tidak senonoh padaku...! kuhajar Dia sampai tidak bisa berdiri lagi...!!!"


"hmmm..., tapi sepertinya Dia tidak melakukan itu...! ituku tidak terasa sakit...! bukankah kata orang kalau yang pertama akan terasa sakit berhari-hari...! ah, sudahlah...! lebih baik aku segera menyelesaikan mandiku dan meminta penjelasan darinya...!!!"


...


selesai mandi dan berganti pakaian, ditemani Arum Via berjalan menuju ruang makan.


"mbak Arum, pakaian ini sungguh nyaman dan pas kupakai..., bagaimana mbak bisa tau ukuranku?..."


"oh, itu memang sudah keahlian saya, non...! sebagian pelayan khusus tamu, sudah kewajiban saya untuk memilih pakaian yang cocok...!"


"oh begitu...! saya kira mbak Arum sempat meraba-raba saya untuk memastikannya...!"


"hahahaha... tidak perlu sampai seperti itu, non...! cukup melihat saja saya sudah bisa memperkirakannya...! kenapa non bertanya begitu...?"


"ah, tidak...! tidak apa-apa...! saya cuma teringat teman saya yang suka meraba-raba wanita, hanya supaya tau ukurannya...!"


"wah, berarti teman non itu mesum...!"


"yah, begitulah...! hehehe..."


...


tidak berselang lama, mereka sampai diruang makan.


nampak seorang pria muda sedang asik membaca surat kabar sambil menyantap sepotong roti ditangannya.


dibelakang pria itu


berdiri seorang wanita paruh baya berpakaian sama dengan yang dikenakan Arum.


"maaf menggangu tuan muda..., nona Via sudah datang untuk sarapan...!" Arum terlihat setengah membungkuk.


sesaat pria muda yang bernama Wira itu melirik Via,


"oh, sudah datang...! lama sekali...! ya sudah, kamu cepat siapkan sarapan untuknya...!"


"baik, tuan muda...!" balas Arum lalu bergegas menuju dapur.


Wira kembali membaca surat kabarnya, mengacuhkan Via yang hanya berdiri mematung.


"hei mesum...! kamu ga punya etika ya...! masa tamu kamu cuekin seperti ini...!!!" umpat Via dalam hati.


seolah bisa mendengar umpatan Via, tiba-tiba Wira berkata, "ngapain kamu berdiri terus...! duduk sana...! ngerusak pemandangan saja...!!!"


seusai berkata, Wira lalu memasukkan sepotong roti kemulutnya dan kembali sibuk membaca surat kabarnya.


Via yang saat itu malas bertengkar akhirnya mendudukan diri disalah satu kursi yang berada disana.


sesaat suasana terasa hening, hingga akhirnya Via yang merasa bosan berkata,


"katanya kamu mengajakku sarapan bersama, kenapa sekarang kamu malah makan duluan...?"


"jangan bawel...! salahmu sendiri datang kelamaan...! mana bisa otakku berfikir kalau lapar...!" balas Wira tanpa mengalihkan pandangannya ke surat kabar.


"oh, ternyata ini yang dimaksud mbak Arum tadi tidak sabaran...! ternyata orangnya suka seenaknya sendiri...! mirip si bodoh itu...!!!" batin Via teringat Adi.


kembali suasana hening, hingga tidak lama kemudian Arum datang kembali, diikuti seorang pelayanan membawa nampan besar di tangannya.


"roti bakar Sapi Derman dan jus delima enam tujuh...! silahkan dinikmati, Nona..."


"Via...! panggil saja saja Via...!"


"baik non Via, silahkan dinikmati hidangannya, semoga non Via menyukainya...!"


"Terima kasih, tuan..."


"Juna...! panggil saja saya om Juna, saya juru masak dirumah ini...!"


"baik, om Juna..., sekali lagi terima kasih hidangannya...!"


"sama-sama, Non... kalau begitu saya permisi dulu, masih ada yang harus saya kerjakan di belakang...!"

__ADS_1


juru masak itu lalu bergegas kembali ke dapur.


"roti bakar Sapi Derman...! nama yang aneh...! tapi sepertinya enak...!" batin Via sambil mengangkat sepotong roti dihadapannya.


belum sempat Via memasukkan roti ke mulutnya, tiba-tiba Wira berkata, "oh, ternyata namamu Via...! Via siapa?"


"namaku sebenarnya Sephia...! hanya orang-orang biasa memanggilku, Via...!" jawab Via sopan.


"Sephia... Phia... Via... hmmm... begitu...!" gumam Wira.


"kamu darimana...?"


pertanyaan Wira kembali membuat Via mengurungkan makannya.


"aku dari desa Darmatemaja..., sebuah desa di utara provinsi Tana dewa...!"


"provinsi tana dewa...! wah, berarti kamu dari jauh dong...! ada urusan apa kamu ke ibukota...?"


"sebenarnya aku hanya lewat saja...! tujuanku masih jauh diselatan...!"


"selatan mana...?"


"selatan ya selatan...! aku rasa aku tidak perlu memberitahukanmu...!" Via terlihat mulai kesal karena Wira tidak berhenti bertanya, sehingga perutnya yang sejak tadi keroncongan mulai mengamuk.


"mau ngapain kamu ke selatan...?" tanya Wira lagi.


"aku ada urusan sama nenekku...!"


"urusan apa...?"


"kamu tidak perlu tau...! itu urusanku...!"


"akukan cuma nanya, masa ga boleh...?"


"bukan ga boleh...! tapi aku tidak perlu menjawabnya...!"


"kenapa?"


"karena aku tidak kenal kamu...!" Via terlihat mulai emosi.


"ow..., kalau begitu perkenalkan, namaku Wira...!"


"aku sudah tau...!"


"tau darimana...?"


"dari NENEK MOYANGMU...!!!" akhirnya Via kehabisan kesabaran.


"lho, orang nanya baik-baik kok malah marah...! dasar ga punya sopan santun...!" sindir Wira.


"aku yang ga punya sopan santun apa kamu...!!!" balas Via sengit.


"aku...! memang aku kenapa...?" Wira menunjuk dirinya sendiri.


"dari tadi aku mau makan, tapi kamu terus saja bertanya...! apa itu yang dinamakan orang tau sopan santun...!!!" umpat Via kesal.


"oh, jadi kamu mau makan...! apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan etika ketika makan dirumah orang...? bilang terima kasih, kek...! atau setidaknya ucapkan selamat makan dulu dong...!!!"


"bagaimana aku bisa mengucapkan sesuatu...! kamu dari tadi asik baca koran...!!!"


"kata siapa aku baca koran...! aku dari tadi memperhatikanmu, kok...!"


"pembohong...!!!"


"aku tidak bohong...! kalau aku tidak memperhatikanmu, mana mungkin aku bisa tau namamu...!!!"


Via yang merasa kata-kata Wira ada benarnya tidak bisa membalas.


"kenapa diam...? sudah sadar kamu salah...?"


Via yang malas berdebat lagi akhirnya memilih mengalah,


"baiklah, kamu menang...! aku mengaku salah...! Terima kasih untuk makanannya, dan selamat makan...! apa sekarang aku boleh makan...?"


"terserah kamu saja...! makanan itu kan memang dibuatkan untukmu, jadi terserah kamu saja mau memakannya kapan...! kenapa mesti tanya aku...!"


"lho, bukannya tadi kamu bilang...!!!" saking kesalnya, Via sampai tidak bisa meneruskan kata-katanya.


melihat Via yang sangat kesal, Wira malah terkekeh.


"hehehe... cepat selesaikan makanmu, ada seuatu yang mau kubicarakan...!"


"apa...?!"


bukannya menjawab, Wira malah berdiri.


"kutunggu ditaman belakang...!" sahutnya sambil berjalan meninggalkan Via.

__ADS_1


"dasar cowok sialan...!!! bukan cuma seenaknya, cara bicaranya juga bikin orang jengkel dan kesal...! PERSIS SEPERTI SI BODOH ITU...!!!"


__ADS_2