PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
56. TERBAKAR CEMBURU


__ADS_3

di kebun belakang rumah Wira, Via melihat belasan orang sedang duduk melingkar. ada Wira dan keempat wakilnya, Awang dan sopir pribadinya, Asih dan ketiga wakilnya, juga kelima teman dekat Wira.


"Hei, Vi..., apa kabar...? darimana saja kamu, kok baru kelihatan...?" tanya Angling melihat Via datang.


"eh, kalian..., aku barusan habis beres-beres persiapanku untuk besok...! sejak kapan kalian disini...?" jawab Via menyalami Angling, Darma, Anggini, Rara dan Jaka.


"kami sudah disini sejak sejam lalu, memang persiapan apa...?" tanya Angling Lagi.


"besok aku mau berangkat ke selatan...!"


"keselatan...?!"


nampak semua mata memandang Via.


"mau ngapain kamu keselatan...?" kali ini Darma yang bertanya.


"ah, sepertinya aku belum memberitahu ke kalian..., sebenarnya aku datang dari utara bukan mau ke kota ini, melainkan ke sebuah desa di selatan...! tiga hari lalu ketika aku lewat sini, aku terlibat sedikit masalah dengan beberapa pemuda, dan kebetulan Dia yang menolongku. nah karena aku baru pertama kalinya ke kota ini, jadi aku memutuskan tinggal dirumahnya selama tiga hari untuk sekedar melihat-lihat." jelas Via.


"lho, jadi kalian baru kenal tiga hari...?" kali ini Asih yang bertanya.


"yah, kurang lebih begitu...!" jawab Via tersenyum


"bagaimana mungkin kalian bisa pacaran jika baru kenal tiga hari...?!" tanya Asih lagi heran.


"kami tidak pernah pacaran...!" jawab Via polos.


"tidak pernah pacaran...!" kembali semua yang ada disana memandang Via.


"lho, bukannya dua hari lalu kamu bilang..." Anggini terlihat bingung.


"aku tidak pernah mengatakan kami pacaran, Dia saja yang seenaknya mengatakan itu...! saat itu aku hanya mengikuti kebodohannya...!" sahut Via.


"berarti tadi juga sama...?" kali ini Asih yang bertanya.


"yah, begitulah...! hanya bedanya, dua hari lalu Dia tidak mengatakan apa-apa lebih dulu, sedangkan tadi Dia memang memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya...! katanya sih, supaya tidak ada gadis - gadis yang menggangunya...!" jelas Via.


"oh, begitu...! jadi, kamu dan Dia tidak memiliki hubungan khusus...?" tanya Asih lagi.


"tentu saja...! aku dan Dia hanya berteman biasa, mana mungkin aku pacaran dengan orang yang baru kukenal tiga hari...!"


"baguslah kalau begitu...! apa itu berarti malam ini aku bebas menggodanya...? hehehe..." Asih terlihat melirik nakal ke Wira.


"terserah kamu saja, Sih...! aku tidak keberatan...!" jawab Via santai.


baru saja Via menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Wira berkata,


"sudah-sudah, nanti saja kalian lanjutkan tanya jawabnya...! mumpung semua sudah lengkap, bagaimana kalau kita mulai pestanya...?"


semua mengangguk setuju.


Wira lalu memberi kode ke Botak, yang langsung bangkit berdiri sambil mengangkat sebuah gelas berisi tuak penuh.


"pertama..., mari kita bersulang untuk terpilihnya Awang menjadi ketua cabang enam...! semoga ketua baru bisa menjalani tugasnya dengan baik dan sukses selalu...!!!"


semua lalu mengikuti mengangkat gelas berisi tuak penuh.


"bersulang...!!!"


"tring...!!!"


"gluk... gluk... gluk..."


"whahahaha... hahahaha..."

__ADS_1


"yang kedua..., mari kita bersulang untuk bergabungnya Via sebagai anggota Kapak Naga...! semoga dengan bergabungnya Via, Kapak Naga akan semakin kuat dan Jaya...!!!"


kembali mereka semua mengangkat gelas berisi tuak penuh.


"bersulang...!!!"


"tring...!!!"


"gluk... gluk... gluk..."


"whahahaha... hahahaha..."


"dan yang ketiga..., mari kita bersulang untuk malam perpisahan dengan Via...! semoga selamat dijalan, mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi suatu saat...!"


bersulang...!!!"


"tring...!!!"


"gluk... gluk... gluk..."


"whahahaha... hahahaha..."


pestapun dimulai, walaupun terbilang dadakan, tetapi cukup seru dan meriah.


mereka bernyanyi, menari dan bersenang-senang, seolah tidak ada hari esok.


hingga tak terasa, malampun semakin larut.


"ah, sepertinya aku sudah terlalu banyak minum, sebaiknya aku pulang sekarang...!" Awang berkata sambil berusaha bangkit dari duduknya.


"yah, sepertinya kamu sudah mabuk...! sebaiknya kamu segera beristirahat, besok kamu harus rapat dengan penasehat Langit...!" balas Wira.


"ya..., terima kasih untuk jamuannya, tuan muda...!" balas Awang setengah menunduk.


seusai berkata, Awang kemudian mendekati Via.


"tentu saja, Wang..., kenapa tidak...!" balas Via yang langsung berdiri dan menyebutkan nomer teleponnya.


seusai mencatat nomer telpon Via, Awang kembali berkata,


"non, sekali lagi terima kasih untuk yang tadi, hati-hati besok dijalan, semoga selamat sampai di selatan...!"


"iya, Wang..., terima kasih, kamu juga semoga sukses sebagai ketua baru...!"


"terima kasih juga, non..."


baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Awang memeluk Via.


Via yang merasa tidak enak menolak pelukan Awang, balas memeluknya.


merasa Via tidak menolaknya, Awang dengan cepat mencium kedua pipi Via silih berganti.


"kalau begitu saya permisi dulu, sampai bertemu lagi, non Via yang cantik...!" kata Awang sembari melepas pelukannya dari Via.


"sampai bertemu lagi, Wang...!" Via yang merasa pelukan Awang dan ciumannya hanya sekedar simbol persahabatan, membalas dengan tersenyum.


Awang kemudian pergi meninggalkan Via.


saat itu, beberapa pasang mata nampak memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi antara Via dan Awang.


sepasang mata nampak melihat dengan marah dan terbakar cemburu, sedangkan yang lainnya nampak senang dan gembira.


"kami juga mohon ijin pulang duluan...!" tiba - tiba Sri dan dua temannya bangkit berdiri.

__ADS_1


"bos Asih mau menginap disini apa ikut kami pulang...?" tanya Sri ke Asih.


"aku disini saja...! aku masih ingin berbincang-bincang dengan mereka...!" balas Asih.


"baik, bos...! kalau begitu, tuan muda, non Via dan semuanya, kami permisi dulu...!"


"silahkan...!"


selepas ketiga wakil Asih pergi, mereka kembali melanjutkan pesta.


tidak lama, satu persatu dari mereka mabuk dan tertidur.


kini hanya tinggal Via dan Wira yang masih menikmati malam itu.


"kamu belum ngantuk...?" tanya Wira.


"belum, aku masih ingin menikmati suasana malam disini untuk terakhir kalinya...! kamu sendiri ga ngantuk...?"


"mana mungkin aku mengantuk kalau ada bidadari secantik dirimu di sampingku...!"


"gombal...!"


"aku tidak gombal, aku serius...!"


"jangan bohong...! darimananya kamu bisa bilang aku cantik...? selain hitam, jelek, berbulu, kurus, hidup lagi...! jika dibandingkan dengan Asih, Anggini, Sri, Rara dan gadis-gadis tadi, aku jauh dibawah mereka...!"


"yah, jika dilihat dari fisik memang seperti itu, kamu tidak cantik...! tapi terus terang aku bukan tipe orang yang menyukai seseorang hanya dari sekedar fisik...! aku menyukaimu karena ada sesuatu yang menarik didalam dirimu...!"


"apa itu...?"


"aku juga tidak tau...! tapi entah mengapa aku merasa kamu akan menjadi seseorang yang hebat suatu saat nanti...!"


"omonganmu semakin ga jelas...! tadi bilang bidadari cantik, sebentarnya bilang tidak cantik...!!! tadi bilang ada yang menarik, sebentarnya bilang tidak tau, sebentarnya bilang hebat...!!! kamu pasti sudah mabuk, ya...?"


"bisa jadi...! sepertinya aku mabuk cinta padamu, hehehe..."


"terserah...!"


sejenak Via dan Wira hanya diam menikmati rokok di tangannya masing-masing, hingga tiba-tiba Via yang teringat sesuatu berkata,


"oya Wir, dari tadi ada yang mau kutanyakan padamu...?"


"apa...?"


sesaat Via menoleh sekeliling, setelah memastikan tidak ada orang disekitarnya yang masih terbangun, Via lalu berbisik,


"ITU apa...?"


"hah...! itu apa...?! itu apa, apa maksudmu...?"


"stttt..., jangan keras-keras, nanti ada yang dengar...! itu lho yang kamu bilang punyaku yang berharga...!"


sesaat Wira terdiam, lalu berkata, "ah, aku mengerti, kamu ingin tau apa itu...! baiklah akan kuberitahu, tapi tidak disini...! itu akan yang sangat berbahaya untukmu dan Dia jika ada yang mendengarnya...!"


"lalu dimana...?"


"di kamarku, sambil kita bercinta...! hehehe..."


"ngomong lagi...! biar kupukul kepalamu pakai botol...!!!"


"hei, jangan galak begitu, aku kan cuma bercanda...!!!"


"bercandamu kadang ga jelas...! kadang memang bercanda, kadang maksudmu serius...!"

__ADS_1


"memangnya kalau aku serius kamu mau...?"


"tentu saja...! tapi setelah kupukul kepalamu pakai botol...!!!"


__ADS_2