
"DUEL...!!! kamu menantangku Duel...?!hahahaha... hahahaha... kamu mabuk ya...?! melawan mereka saja kamu tidak bisa, kok berani-beraninya menantang aku duel...!"
"aku bukannya tidak bisa, aku hanya kasihan saja pada mereka kalau sampai harus menjadi korban kehebatanku...!" balas Via kembali meneguk araknya.
"dasar mulut besar...! kamu tidak terlihat seperti orang yang memiliki kehebatan apa-apa...!"
"kalau tidak percaya, mengapa kamu tidak buktikan sendiri...!" tantang Via.
sejenak Sinar nampak berfikir.
melihat Sinar berfikir, kembali Via berkata,
"ada apa...? kenapa kamu tidak menjawab, apa kamu takut...?"
"bu..."
baru saja Sinar hendak menjawab, Via sudah memotongnya,
"percuma saja kamu mengaku yang terkuat, jika tidak bisa membuktikannya...!"
"bu..."
sekali lagi, belum sempat Sinar menjawab, Via sudah memotongnya,
"ah, ternyata bukan aku yang bermulut besar, tapi kamu...! ngaku-ngaku terkuat, tetapi nyatanya cuma seorang penakut...!"
"sebaiknya kamu pulang saja dan sembunyi dibawah ketiak ibumu...! hehehe..." ledek Via.
Sinar yang terpancing emosinya akhirnya menyahut kesal, "baik, aku terima tantanganmu...!"
"bagus...!" balas Via tersenyum senang.
tentu saja Via sangat senang, bukan tanpa sebab, tapi karena selama berlatih dengan Hengki, Via tidak pernah diajarkan berkelahi melawan banyak orang, yang diajarkan hanya pertarungan satu lawan satu, sehingga kondisi ini sangat menguntungkan Via.
"apa syaratmu...?" tanya Sinar.
"aku ikut saja, sama denganmu...!" balas Via sambil meneguk araknya lagi.
"baiklah, yang kalah berhutang satu budi kepada yang menang, bagaimana...?"
"setuju...!" balas Via sambil menyerahkan botol araknya ke Gondrong.
"kalau begitu, apa kita bisa mulai sekarang...?"
"tunggu sebentar...!" tahan Via, yang langsung merobek gaunnya dari kanan bawah sampai sebatas paha.
"nah, sekarang rasanya lebih leluasa..." gumam Via sambil merenggangkan otot-otot kakinya.
"aku siap, majulah...!"
duelpun dimulai.
Sinar dengan garang melancarkan pukulan dan tendangan ke arah Via, tetapi dengan gesit berhasil dihindari Via.
"ciat..."
"was... wus... was... wus..."
Sinar terus menyerang, sedangkan Via hanya menangkis dan bertahan, sambil menunggu kesempatan untuk membalas.
"kenapa dari tadi kamu hanya bertahan...?! kenapa kamu tidak menyerangku...? hah...!!!" hardik Sinar.
"karena kau kasihan padamu...! kalau aku menyerangmu, maka kamu pasti langsung pingsan, hehehe..." ejek Via.
"bangsat...! omong kosong apa lagi itu...!!!" maki Sinar semakin garang menyerang Via.
"belum..., belum saatnya...!" batin Via.
"was... wus... was... wus..."
__ADS_1
"huh, dasar mulut besar...! mana bukti kamu akan membuatku pingsan...? jangankan membuatku pingsan, menyerangku saja kamu tidak bisa, hehehe..." ejek Sinar.
"sudah kubilang aku kasihan padamu...! mana mungkin aku tega menyerang orang lemah yang lebih lambat dari anak buahnya...!" Via balas mengejek.
"apa maksudmu itu...?"
"tentu saja kamu lebih lemah dan lambat dari mereka...! mereka saja masih sempat mengenaiku, sedangkan kamu...? apa dari tadi ada seranganmu yang mengenaiku...? hehehe..." balas Via tersenyum mengejek.
"ka... kamu...! bangsat...!!! rasakan ini...!!!"
Sinar semakin ganas menyerang Via, semua jurus yang dipunyanya dikeluarkan, tetapi tetap tidak ada satupun yang mengenai Via, semua berhasil dihindari dan ditangkis Via dengan susah, hingga akhirnya Sinar yang mulai kelelahan mengendorkan serangan.
merasa serangan Sinar mulai melambat, Via kembali berkata,
"hei, ada apa...? apa hanya segini kemampuanmu...?"
"percuma saja kamu mengaku yang terkuat, ternyata kamu tidak lebih baik dari pelacur dijalanan...! hehehe..." kembali Via mengejek.
"bangsat...!!! omonganmu semakin kurang ajar...!!!"
Sinar yang merasa terhina kembali menyerang Via, kali dengan membabi buta.
"nah, ini dia...!!! kalau di pukul dari sini, aku mesti begini..., kalau di pukul dari sini..., aku mesti begini..., dan saat Dia lengah..."
"Bam...!!!"
"******....!"
dahi Via menghantam hidung Sinar hingga mengeluarkan darah segar.
baru saja Sinar memegangi hidungnya, Via langsung melancarkan tendangan ke perutnya.
"bug...!!!"
"uhuk...!"
tendangan telak Via membuat Sinar terhuyung mundur tiga langkah.
"arghh...!!!" jerit Sinar sambil memegangi hidung dan perutnya.
merasa Sinar sudah tidak berdaya, Via menghentikan serangannya dan berjalan mendekati Gondrong.
"Drong, mana arakku...?"
"ini, nona muda...!" balas Gondrong tersenyum.
setelah meraih araknya, kembali Via mendekati Sinar dan duduk disebelahnya.
sambil meneguk araknya, Via memperhatikan Sinar yang mulai tenang dan mencoba mengangkat tubuhnya.
tepat ketika Sinar sudah berhasil duduk, Via langsung bertanya, "apakah kamu sudah menyerah...?"
"belum...! aku be..."
"prang...!!!"
tanpa memberikan kesempatan menyelesaikan kalimatnya, Via langsung memukul kepala Sinar dengan botol hingga pecah.
seketika Sinar ambruk kembali dan tidak sadarkan diri.
"bangsat...!!! apa yang kau lakukan padanya...!" teman-teman Sinar yang marah langsung mendekati Via dan hendak mengeroyoknya.
tetapi baru saja mereka melangkah, Via langsung menaikkan sebelah tangannya yang menggenggam botol yang setengah pecah.
"jangan ada yang mendekat...! atau kutusuk lehernya sampai mati...!"
ancaman Via seketika menghentikan langkah pengepungnya.
"duel yang Adil ini sudah selesai, apa kalian ingin merusaknya dengan mengeroyokku...?" tanya Via marah.
__ADS_1
semua gadis itu hanya diam, tidak ada yang menjawab.
melihat semua diam, kembali Via berkata,
"aku tau kalian marah padaku karena menghajar teman kalian sampai pingsan, tapi ini adalah duel yang adil...!jika ada yang tidak terima dengan hasil duel ini, silahkan tantang aku...! kapanpun aku siap menerima tantangan kalian...! tapi jangan salahkan jika menghajar kalian lebih dari aku menghajarnya...!" ancam Via lagi sambil bangkit berdiri.
"bagaimana...? ada yang mau berduel lagi denganku...?!"
sejenak gadis-gadis berbaju hijau tua itu hanya diam dan saling menoleh satu sama lain, hingga akhirnya salah seorang berkata, "kami rasa cukup hari ini, NONA MUDA...!"
"baik, kalau begitu kalian cepat bantu dan obati Dia, sebelum darah yang keluar semakin banyak...!" perintah Via ke gadis-gadis itu.
"siap, nona muda...!" sahut para gadis itu, lalu dengan cepat menggotong Sinar pergi.
selepas Sinar dan teman-temannya pergi, Gondrong langsung bertepuk tangan,
"plok... plok... plok..."
"pertunjukkan yang luar biasa, tidak kusangka nona muda sangat hebat dalam bertarung...!" puji Gondrong.
"ah, tidak juga...! sebenarnya aku tidak sehebat itu, tadi hanya kebetulan saja...!" balas Via merendah.
"tidak mungkin itu hanya sebuah kebetulan...! semua yang mengerti beladiri pasti tau teknik yang nona muda tadi gunakan bukan teknik sembarangan, itu teknik bertarung tingkat tinggi...!" balas Gondrong tidak percaya.
"aku tidak bohong, Drong... aku memang tidak bisa bertarung, tadi itu hanya kebetulan...!" kembali Via merendah.
"biar kuberitahu kamu sebuah rahasia...! satu, dua bulan ini aku memang sempat belajar beladiri, tapi tidak banyak yang kupelajari, hanya teknik bertahan dan serangan balik seperti tadi...!"
"o,ya...?"
"iya, makanya dari tadi aku hanya bertahan dan tidak menyerangnya...! bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa...! karena itu aku terus memanas-manasinya supaya Dia emosi, dan untung saja Dia terpancing emosi, sehingga aku bisa memenangi duel tadi...! andaikata Dia tidak terpancing, kecil kemungkinanku memenangi duel tadi...!" jelas Via.
"ah, saya mengerti...! pantas saja nona muda membuatnya pingsan dalam satu serangan...! pasti tujuannya membuat teman-temannya menyangka nona muda sangat hebat dalam bertarung...?" tebak Gondrong.
"yah, kurang lebih begitu..., hehehe..." jawab Via tersenyum.
"dan nona muda sengaja memukulnya menggunakan botol, untuk memperlihatkan bahwa nona muda orang yang kejam...! sehingga waktu nona muda menantang yang lainnya berduel, mereka semua langsung ketakutan...! bukan begitu, nona muda...?" tebak Gondrong lagi.
"tepat sekali yang kamu bilang, aku terpaksa sedikit kasar ke Sinar supaya yang lain tidak berani macam-macam lagi...!
"hahahaha... sepertinya rencana nona muda berhasil...! mereka semua tadi terlihat sungkan dan memanggil nona muda dengan sebutan nona muda...! yang itu artinya mereka sudah mengakui nona muda sebagai kekasih si Bos...!"
"nah, bagaimana untuk merayakan kemenangan nona muda, saya ambilkan sebotol arak lagi...?" lanjut Gondrong.
"boleh..., tapi kali ini kamu harus ikut minum...!"
"siap, nona muda...!" sahut Gondrong tersenyum lebar.
***
saat itu, di salah satu meja pesta, nampak Nyonya besar, Saras dan Gundala sedang asik berbincang.
tidak berapa lama, dua orang gadis berbaju hijau tua datang mendekat.
setelah memberi salam, salah satunya berkata,
"nyonya besar, kami sudah menguji kemampuan nona muda Via...! seperti yang nyonya besar perintahkan, awalnya kami mengeroyoknya, tapi kemudian nona muda Via dengan berani menantang Sinar ber Duel...! Sinar yang tidak mau kehilangan muka, akhirnya menerima tantangannya...!"
"lalu, bagaimana hasilnya...?" tanya Nyonya besar.
"Sinar kalah, nyonya besar...!"
"kalah...?! apa gadis itu sehebat itu sampai bisa mengalahkan Sinar...?" kali ini Saras yang bertanya seakan tidak percaya kata-kata anak buahnya.
"benar, nyonya muda...! nona Via memang hebat, bahkan sangat hebat...! Dia bisa membuat Sinar pingsan hanya dengan satu serangan beruntun...!"
"hanya satu serangan beruntun...?! apa kamu serius...?!" kembali Saras tidak percaya kata-kata anak buahnya.
"iya, nyonya muda...! diawal pertarungan Sinar terus menyerang nona muda Via dengan gencar, sehingga membuat nona muda Via terdesak dan tidak bisa membalas...! saat kami mengira Sinar akan memenangi pertarungan, tiba-tiba nona Via hanya dengan satu serangan beruntun membuat Sinar jatuh tak berdaya...! lalu saat Sinar mencoba bangkit, nona muda Via langsung memukulnya dengan botol, sehingga membuat Sinar pingsan...!" jelas anak buahnya.
__ADS_1
sesaat nyonya besar, Saras dan Gundala hanya diam dan saling menatap, hingga akhirnya nyonya besar berkata,
"hmmm..., kalau begitu gadis itu sudah berhasil melewati ujian pertama...! TINGGAL DUA UJIAN LAGI SEBELUM DIA BISA MENJADI ANGGOTA KELUARGA KITA...!!!"