PENYIHIR UNGU

PENYIHIR UNGU
9. PERGI


__ADS_3

malam semakin larut,


waktu semakin berlalu...


ada yang bergembira,


ada juga yang bersedih...


ada yang tertawa,


ada juga yang menangis...


sama seperti malam itu,


disaat teman-teman lainnya bergembira, Via nampak gelisah.


pikirannya kacau, antara bingung, kesal, marah dan cemburu bercampur aduk menjadi satu.


apalagi saat ini ada Sonia di sampingnya, wanita yang ternyata selama ini masih dicintai Adi, teman baik sekaligus pujaan hatinya.


"kenapa Dia bisa tau Adi buat acara perpisahan...? dan kenapa Dia tau acaranya disini...? apa Adi yang memberitahu tau...?! ah, rasanya tidak mungkin...! kalau Adi benar-benar ingin mereka saling melupakan, untuk apa menyuruhnya datang kesini...!!! atau jangan-jangan Adi nekat mau melarikan Dia...?! ah, itu juga tidak mungkin...! Adi tidak sebodoh itu...!!! lalu siapa...?!"


saat sedang menerka-nerka, tiba-tiba Sonia berkata,


"Vi...!"


"eh, i... iya..., ada apa...?" jawab Via tergagap.


"kamu kan teman baiknya Adi dari kecil, jadi kamu pasti tau Dia orangnya seperti apa...?"


"maksudmu...?" Via mengerutkan dahinya.


"maksudku, apa Dia orang yang gampang melupakan orang yang disayanginya...?" jawab Sonia sambil menuang arak ke gelas, lalu meneguknya dan mengisinya kembali.


"ah, setauku Dia bukan tipe orang seperti itu...! kalau Dia sayang seseorang, tidak mudah baginya untuk melupakan orang itu...!"


"termasuk juga kamu...!" batin Via, lalu meneguk gelas yang sudah terisi arak tadi.


"lalu..., kamu tau ga apa yang membuat Dia jadi benci pada seseorang...?"


kembali Sonia menuang arak ke gelas.


"yah, mungkin saja kalau Dia merasa orang itu terlalu menyakiti perasaannya...!" balas Via.


Sonia nampak termenung, seolah mencoba meresapi arti kata-kata Via.


tidak berapa lama, kembali Sonia meneguk arak dan berkata,


"Vi..., apa Dia pernah berbicarakanku ke kamu...?"


"pernah...!"


"oya...? kapan...?"


"dulu..., saat kalian masih pacaran...! Dia selalu bilang bagaimana Dia sangat mencintamu, bagaimana Dia sangat menyayangimu, dan Dia selalu yakin bahwa kamulah orang yang akan mendapinginya seumur hidup...!"


kembali Sonia terdiam, meresapi kata-kata Via.


"trus, sewaktu kami berpisah, apa Dia marah...? atau mungkin Dia merasa kecewa padaku?"


"tentu saja Dia sangat marah dan kecewa...! hubungan kalian harus berakhir gara-gara Mamamu yang egois, dan mantan pacarmu yang brengsek itu...!!!" batin Via kesal. saking kesalnya, hampir saja Dia kelepasan mengucapkan kalimat tadi.


tapi dengan tenang Via menjawab, "tidak..., seingatku Dia tidak pernah marah ataupun terlihat frustasi...! Dia terlihat biasa-biasa saja selama ini..."


"o... begitu..." balas Sonia pelan.


"apa menurutmu Dia masih sayang aku...?"


"tentu saja...!!! bukan hanya sayang...! tapi Dia juga masih cinta kamu...!!!"


"entahlah, aku juga tidak tau...! kenapa kamu tidak tanya langsung ke Dia...?" jawab Via berbohong.


"aku sudah tanya bekali-kali, dan Dia selalu menjawab, kalau Dia sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padaku...! tapi aku merasa Dia tidak jujur...! Dia pasti berbohong mengenai perasaannya ke aku...!"


"tentu saja Dia harus berbohong...! semuanya demi kamu dan keluargamu...!" batin Via lagi.


"lalu, bagaimana dengan perasaanmu...? apa kamu masih mencintai Dia...?" kali ini Via yang bertanya.


Sonia kembali menuang arak, lalu meneguknya.


"jujur saja..., aku..., aku..., aku masih cinta dan sayang Dia...!!!" bibir Sonia bergetar, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"DEG...!!!"


melihat Sonia menitikan air mata, jantung Via kembali berdetak keras. perasaan kasihan, iba, bercampur marah dan kecewa menyelimutinya


"oh Tuhan..., apa yang selama ini aku pikirkan...!!! bagaimana mungkin aku memaksanya bercinta denganku, sedangkan Dia masih mencintai wanita ini...!!! dan kini, wanita ini sedang menangis dihadapkanku, karena cinta mereka dipaksa berpisah...! sungguh terkutuk diriku...!!!" maki Via pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


malam semakin larut,


waktu semakin berlalu...


pesta terus berlanjut,


suara canda, tawa, nyanyian semakin keras dan tidak beraturan...


semua bergembira, hanya Via dan Sonia yang duduk terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"lalu, aku harus bagaimana nanti...? jika Adi bertemu dengannya dan memutuskan untuk bersamanya malam ini, aku pasti akan sangat kecewa dan sakit hati...! tapi jika Adi tetap menepati janjinya, apa aku benar-benar bisa menggantikan posisinya...?!" kembali Via melirik Sonia.


"ah, aku rasa aku terlalu naif dengan mengatakan bisa menjadi penggantinya...! lihatlah Dia...! cantik, seksi dan anggun...! bahkan dalam keadaan berantakan seperti sekarangpun Dia tetap menawan...! tidak kalah dengan Dewi Venus...! sedangkan aku...! jangankan mendekatinya, setengahnya saja aku tidak ada...!"


saat Via sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman rumah Siska.


"DEG...! DEG... DEG...!!!"


kembali jantung Via berdetak keras dan kencang.


dari jauh, nampak Bram berjalan santai.


"lho, Adi mana...?!" batin Via, menyadari Bram berjalan sendiri.


"bangsat...!!! dari mana saja kamu...?!kok lama sekali...?!" tiba-tiba dari buah Bladuk berteriak dengan nada kesal.


"maaf Bro, maaf...! rumahnya lumayan jauh...!" balas Bram santai.


"kamu kok sendiri...?! Adi mana...?!" kali ini Ayu yang bertanya dengan raut wajah penasaran.


"oh, mereka lagi mampir ke Nusatoko, katanya mau beli ******...! sebentar lagi juga mereka sampai...!" balas Bram tetap santai.


"eh, ternyata kita kedatangan tamu...! apa kabar Sonia yang cantik dan seksi...?" sapa Bram ke Sonia.


"baik, Bram..." balas Sonia.


"katanya kamu sudah putus dengan Adi...?! gimana kalau sekarang pacaran sama aku aja...? aku ga kalah kok sama Dia, hehehe...!" goda Bram.


"GA SUDI...!!!" Balas Sonia ketus.


"yakin...???"


"yakin seribu persen...!!! aku ga sudi pacaran sama kamu, dasar Buaya cacingan...!" balas Sonia.


"ya sudah, terserah kamu saja...! yang penting jangan pernah menyesal karena ga pernah pacaran sama orang terganteng di dunia ini, hehehe..."


"ga akan...!" balas Sonia lagi.


"woi...! ngapain pada bengong...?! lanjutin dong pestanya...!"


kembali pesta malam itu dilanjutkan.


...


sudah lebih dari 30 menit sejak kedatangan Bram, tetapi Adi belum juga menampakkan diri, sehingga membuat Via semakin gelisah.


dalam kondisi setengah mabuk, Via yang sudah kehabisan kesabaran berjalan mendekati Bram.


baru saja Via berjalan, tiba-tiba


Sonia sudah terlihat berdiri didepan Bram.


"Bram, sebenarnya Adi dimana...? katamu sebentar lagi Dia sampai..., ini sudah hampir sejam ga datang-datang...?!" Sonia terlihat kesal.


Bram tidak menjawab, asik bernyanyi dan memainkan gitar.


"Bram...! Adi mana...?!" Sonia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan suara yang lebih keras.


Bram tetap cuek.


melihat Bram cuek, Sonia yang kehabisan kesabaran langsung memegang gitarnya.


"Bram...! aku serius...!!! Adi mana...?!" Sonia setengah berteriak.


Bram tetap tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti.


melihat Bram yang tetap Diam membuat Sonia mulai frustasi,


"ayolah, Bram....! kasi tau aku, Adi dimana...?!"


"mau tau? apa mau tau aja? hehehe..." kali ini Bram membalas sambil bercanda.


"aku serius Bram...! Adi dimana...! kumohon, kasi tau aku dimana Dia...?!" pinta Sonia nyaris menangis.


"kan aku sudah bilang, Dia lagi..."


"cukup Bram...! jangan bohong...!!!" tiba-tiba dari jauh terdengar Siska berteriak, memotong kata-kata Bram.


"masa beli ****** saja sampai satu jam ga balik-balik...?! pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan...!!!" lanjut Siska penuh emosi.

__ADS_1


melihat Siska marah, tiba-tiba Bram tertawa, "hahahaha... hahahaha... kamu benar...! memang ada yang kusembunyikan, eh..., tepatnya kami...! hahahaha... hahahaha..."


"apa itu...?!" tanya Siska lagi.


"seharusnya dari awal kamu sadar ada sesuatu yang direncanakannya dengan menjadikan rumahmu sebagai tempat acaranya, bukan dirumahnya...!" balas Bram.


"aku tau itu...! tapi terus terang aku tidak bisa menebak apa yang direncananya...!" balas Siska.


"memang kenapa Dia memilih rumahku sebagai tempat acaranya...?" tanya Siska lagi.


"karena tidak mungkin TUAN RUMAH MENINGGALKAN ACARA LEBIH DULU...!!! hahahaha... hahahaha..." Bram tertawa semakin lebar.


"DEG...!!!"


mendengar kata-kata Bram, semua yang ada disana nampak terkejut, begitu juga dengan Via. jantungnya kembali berdetak keras, sebuah perasaan tidak enak tiba-tiba menyelimutinya.


"jadi maksudmu Dia sudah pulang...?!" tanya Siska lagi.


"bukan pulang Sis..., tapi PERGI...!!!"


"per... pergi kemana...?!" kali ini Sonia yang bertanya, wajahnya nampak tegang, tubuhnya bergetar hebat.


"KE NEGERI NAN JAUH DISEBERANG SANA, KE TEMPAT TUJUANNYA ITU...!!!"


"brengsek kamu Bram...!!! kenapa daritadi kamu ga bilang kalo Dia..., ah, sudahlah...! katakan dimana Dia sekarang...?! biar aku menyusulnya...!" Sonia terlihat panik.


"kejar saja sana kalau kamu mau...!!!" balas Bram kembali santai.


"yang jelas, terakhir kali aku melihatnya, Dia sudah berada diatas kapal, dan mungkin saat ini kapalnya sudah berangkat, hehehe..."


"Bruk...!!!"


mendengar jawaban Bram, seketika Sonia langsung terduduk lemas.


"Brengsek kamu Bram...! brengsek...!!! hiks..." maki Sonia, air mata terlihat mulai menetes pipinya.


"kenapa...!!! kenapa dari tadi kamu ga bilang kalau Dia..., kalau Dia..., hiks...hiks... hiks..." Sonia yang tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya mulai menangis.


melihat Sonia menangis, Siska yang tersulut emosi langsung membentak Bram,


"dasar manusia brengsek...!!! dari awal kamu melihatnya ada di sini kamu pasti sudah tau Dia ingin bertemu Adi...! tapi kenapa kamu malah berbohong dan mengulur-ulur waktu...?! dasar manusia ga punya perasaan...!!!"


"hei, hei...! jangan salahkan aku...!!!" balas Bram ikut emosi.


"tiga hari lalu, Dia datang menemuiku dan berkata, Bram, pesta perpisahan yang menyedihkan tidak cocok untukku...! karena itu aku ingin pesta perpisahan yang meriah dan gembira, tanpa tangisan dan air mata...! setelah itu Dia lalu menjelaskan rencananya dan memintaku ikut membantunya...! yah, karena Dia sudah kuanggap SAUDARAKU sendiri, maka kuputuskan untuk membantunya, walaupun harus membohongi kalian semua, hehehe..." jelas Bram.


"tapi kamu keterlaluan Bram...! masa hal sepenting itu kamu sembunyikan dari kami...!" balas Siska lagi.


"iya..., dasar manusia ga punya otak...!!!" Ayu ikut menghujat.


"bukan manusia, tapi Buaya ga punya otak...!" Bladuk ikut-ikutan.


"Buaya kampung ga punya Otak...!" sambung Tommi.


"dasar Bodoh...!!!"


"Tolol...!!!"


"Goblok...!!!"


"CUKUP...!!! memang kalian pikir aku juga mau seperti ini...!!!" teriak Bram marah, membuat semua yang ada disana langsung berhenti memakinya .


"biar kalian tau saja...! dari awal aku juga tidak setuju dengan rencananya yang gila ini...!!! tapi ini adalah permintaan terakhirnya...! kalau kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan...?!"


seakan paham apa yang dimaksud Bram, semua yang ada disana langusng membisu, tidak ada seorangpun yang berani membalas kata-kata Bram.


saat suasana sudah kembali tenang, kembali Bram berkata,


"baginya..., saat perpisahan tiba, hatinya sudah mantap, dan tidak ada lagi keraguan...l oleh karena itu, kita sebagai teman, sahabat, dan juga saudaranya..., sebaiknya menghormati keputusannya, dan melakukan apa yang Dia inginkannya...!"


"berarti kita pesta lagi...?" tanya Bladuk penuh semangat.


"tentu saja...!!! hahahaha... hahahaha..."


***


malam itu, kembali pesta dilanjutkan...


ada yang bergembira,


ada yang bersedih...


ada yang tertawa,


ada juga yang menangis...


tapi yang pasti,


Dia telah pergi...

__ADS_1


dan tidak akan kembali...


setidaknya dalam waktu yang cukup lama...


__ADS_2