
"SAH"
Suara-suara orang yang hadir dalam pernikahan tidak diinginkan ini terus menggema.
Malam ini adalah malam pernikahan yang digelar karena adanya kesalahpahaman.
Malam itu, aku diminta oleh ibu ku untuk membeli beberapa bahan untuk membuat kue.
di tengah jalan, ketika aku pulang dari warung, aku melihat seorang laki-laki yang tidak tahu dari mana datangnya, berhenti tepat di hadapanku. dia menanyakan alamat rumah seseorang yang aku sendiripun tidak tahu.
Di saat aku dan dia sedang berbicara itu, segerombolan orang datang dan mengatakan kalau kami berdua sedang berzina.
Adat istiadat di kampung kami masih kental dengan norma-norma agama , jadi barang siapa yang tertangkap sedang berdua maka akan langsung dinikahkan.
Glek...aku menelan ludah dengan kasar begitu juga dengan laki-laki ini yang terlihat bingung dengan situasi yang ada.
Kedua orangtuaku sangat terkejut ketika orang-orang membawaku dengan seorang laki-laki.
Ayahku hanya tertunduk tidak bisa berkata apa-apa. begitu juga dengan ibuku yang hanya menangis.
Disinilah aku sekarang, berasa dalam satu kamar dengan laki-laki yang satu jam lalu jadi suamiku.
__ADS_1
"Oh ya..pak...mas...abang...aku manggilnya apa ya"tanyaku membuka obrolan yang aku sendiripun tidak mau memulainya.
"Panggil aku Darlan"jawabnya menoleh padaku.
"oh darlan aja ya...tapi kalau ayahku mendengar ku hanya memanggil nama saja..pasti ayah marah...aku panggil mas aja boleh gak ya"ucapku lagi cengengesan.
"terserah kamu"balasnya pendek sambil menatap ke langit-langit kamarku yang hanya terbuat dari bilik bambu.
"ini baju dari ayah...katanya suruh ganti...kamar mandi ada di dekat dapur, kamu nya keluar dari sini terus belok kanan...kalau mau mandi pake sumur timba ya...jadi selamat mandi"aku memberikan satu stel milik ayah yang baru di beli ibu tadi pagi di pasar.
Laki-laki yang bernama darlan pun hanya menghela napas dan keluar dari kamar.
Satu jam kemudian dia masuk dengan wajah segarnya.
melihat aku melongo laki-laki itu hanya mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya.
"oh iya namamu siapa??"?tanyanya duduk di depanku yang sedang rebahan.
aku pun duduk dari tidurku, "aku Darliani..tapi kamu boleh manggil aku lia..atau ani ya...tapi manggil ani nya jangan seperti rhoma irama ya"ucapku mencairkan suasana.
Darlan terkekeh.
__ADS_1
Malam yang panjang ini hanya kami habiskan di tempat tidur masing-masing.
Darlan di kamarku dan aku menyelinap keluar dari kamarku untuk tidur di kamar kakakku yang sudah menikah.
Adzan subuh sudah berkumandang, melihat aku keluar dari kamar kakakku, ayah hanya berdehem.
"eh ayah"gumamku tertunduk.
"bangunkan suamimu, ikut ayah sholat di mesjid"ucap ayah menatap sendu padaku.
"iya ayah"
Sampai di kamar, aku kembali terpana pada ketampanan wajah suamiku.
darlan tersenyum padaku, seolah sedang mengejekku karena aku sedang terpesona padanya.
darlan memakai baju koko berwarna putih dan sarung dengan warna yang sama dilengkapi dengan peci warna hitam.
setelah darlan pergi, aku pun bergegas mandi dan menunaikan sholat subuh.
Aku membantu ibu memasak di dapur.
__ADS_1
"Li...kamu ikut sama suamimu ya"tanya ibu menatap sendu padaku.
"ikut kemana bu...aku aja gak tahu dia bujangan apa suami orang...kalau dia bujangan!!!...kalau suami orang dan punya anak...bagaimana bu"aku menatap wajah ibu yang sudah menua