
Ibu menatapku dengan lekat, ibu hanya menghela napasnya.
"tunggu setelah ayah dan suamimu pulang ya li..."
suara takbir menggema di semua mesjid.
satu jam kemudian, darlan dan ayah pun pulang dari mesjid, ibu mencium punggung tangan ayah dan memeluk ayah.
"Ibu minta maaf ya ayah..kalau selama ini ibu banyak salah sama ayah...mohon maaf lahir dan batin ya yah"
darlan dan lia saling tatap,merasa bingung dan canggung.
'Li...kok kamu diam aja sama suami kamu"ucap ibu melihat dua sejoli yang hanya diam tak bergerak.
lia pun mendekat dan menyalami darlan yang mengangkat tangannya untuk di cium oleh lia.
Setelah sarapan, darlan dan lia pun di panggil oleh kedua orang tua lia.
__ADS_1
"Maaf mas darlan...kalau pertanyaan ayah menyinggung mas darlan....tapi dari kemarin kami merasa ada yang janggal kenapa bisa mas darlan ada di jalan yang sama dengan lia"
"kedatangan saya ke sini karena mencari pengasuh buat anak saya bu...di kota Jakarta saya mempunyai seorang istri dan satu orang putri usianya 5 tahun, saya berhenti di jalan karena merasa bingung, makanya saya tanya alamat pada lia, dengan raut bingung lia malah nanya balik ke saya, sampai akhirnya kami di arak ke sini"darlan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"kenapa mas darlan mencari pengasuh???apakah istrinya kerja juga"tanya ibu menimpali.
"tidak bu..istri saya mengalami kelumpuhan sejak 3 tahun lalu karena kecelakaan mobil..sudah berobat kemana saja tapi belum.ada perubahan"darlan tertunduk mengingat istrinya itu.
"kalau mas darlan sudah punya istri..kok diam saja waktu mau dinikahkan dengan lia"
"mas darlan kan udah punya istri dan anak...dan aku juga gak mau mas jadi istri kedua mas darlan...bagaimana kalau kita berpisah"
"Lia!!!!!"wajah ayah memerah menahan kesal, ayah marah karena lia seolah mempermainkan pernikahan.
"apa kata orang yah...istri lumpuh malah nikah lagi..mau di taruh dimana wajahku ini...aku gak mau jadi omongan orang lain...kalaupun aku harus menutup kedua telingaku...apa harus setiap hari menutupnya. ayah ngertiin perasaan lia yah...ayah juga gak mau kan di kira memanfaatkan situasi ini"
hening...suasana hening...solusi didepan mata malah akan menjadi boomerang tersendiri buat lia nantinya.
__ADS_1
"bawa lia pergi bersamamu mas...dia istrimu sekarang...dia harus ikut kemanapun suaminya pergi"
"Ayah...ayah tega ya...ayah"
Lia menangis sesenggukan, tidak terima keputusan ayahnya yang membela darlan.
Keputusan ayah tidak bisa diganggu gugat, darlan pun membawa serta lia.
Satu minggu berlalu,
Darlan pamitan untuk kembali ke kota, dalam hati yang paling dalam darlan sebenarnya enggan membawa lia ikut bersamanya.
Di terminal,
"Li...kamu mau kan jadi pengasuh di rumahku, kalau status pernikahan kita biar hanya kita yang tahu"
"Maaf mas...aku sudah berfikir dari tadi...aku gak bisa jadi seorang pengasuh mas, aku gak suka anak kecil...kalau kamu rela..kita berpisah di sini...kita ambil jalan masing-masing....lagian aku bukan pohon pisang yang punya jantung tapi tidak punya hati....aku kasian dengan istri dan anakmu kalau mereka tahu kalau kamu sudah menikah dengan ku...aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan mereka"lia menatap darlan
__ADS_1