
lia tersenyum saat bayi lian terbangun.
"tampannya kamu dek...ibu sayang banget sama kamu...wajah nya sih mirip ibu banget ya..."lia mencium pipi bayi lian yang tampak kemerahan.
Shila menggosok kedua matanya dan tampak tidak berkedip melihat lia yang tidak menggunakan cadarnya.
"ibu...ini ibu...ibu cantik sekali..."
ucapan Shila membuat lia gelagapan, kenapa lia bisa lupa tidak memakai cadarnya. bisa ada pernah irak lagi nih sama tuan yang maha benar.
darandra datang membawa cadar lia, "om kalau di rumah boleh tidak menggunakan cadar kan om???"tanya Shila membuat darandra mengerutkan kedua alisnya.
"kata siapa???"tanya darandra mendekati Shila dan berjongkok didepannya.
"kata nenek!!!..kata nenek...cadar kalau di dalam rumah boleh tidak di pakai asal di dalam rumah tersebut , tidak ada yang bukan muhrimnya"
darandra menghela napasnya..."baiklah...karena Shila masih kecil...om bebaskan ibu lia untuk tidak memakai cadarnya kalau bersama dengan Shila..tapi kalau ada ayah Shila..ibu lia harus pakai cadar nya ya"
Shila mengangguk kemudian memeluk leher darandra.
"terima kasih ya om..om baik...Shila suka"
__ADS_1
lia tersenyum melihat Shila yang tidak terlihat takut pada wajah garang sang suami.
"ibu..ibu kalau tersenyum makin cantik...pantes saja om ingin ibu selalu pakai cadar"
lia dan darandra saling menatap kemudian tertawa bersama. Shila memperhatikan betapa ked"ua orang ini sangat bahagia.
Shila seakan tidak mau pergi dari rumah ini kalau saja rendra tidak mengetuk.pintu kamar liandra.
"ayah..apa boleh aku main ke sini setiap hari???"Shila menatap rendra yang hanya terdiam.
"Shila kan sekolah...kalau libur aja ya..gak enak sama dede lian... dede lian nya perlu istirahat biar cepat tumbuh gede... bisa diajak main ayunan"
Dua bulan berlalu,
hari ini adalah pernikahan samsul dan yaya, di sebelah kiri yaya ada darlan dan Astari, sedangkan di sebelah kanan samsul ada darlan dan lani yang sedang hamil empat bulan.
lia berjalan lebih dulu, sedangkan darandra menggendong liandra di tangan kirinya.
kedua mata darlan tampak tidak melepaskan pandangannya pada sosok lia yang sangat elegan.
Astari pun hanya menghela napas dengan pelan, setiap ada lia Astari selalu kalah dua langkah.
__ADS_1
laras yang berada di samping yaya, menarik baju lia yang berwarna biru laut, senada dengan yang dipakai oleh darandra.
"tante...masih ingat aku kan???"laras mendongak sedangkan lia berusaha mensejajarkan badannya dengan laras.
"ingat dong..anak cantik yang gak pernah nangis"
"bukan gak pernah nangis...tapi kata tante yaya..kalau nangis aku gak boleh tinggal di rumah tante lagi"
lia hanya memandang sayu pada laras, yaya menundukkan kepalanya merasa takut jika lia marah padanya.
lia berdiri memandang yaya dan samsul yang hanya terdiam.
lia memeluk yaya dengan sangat erat. yaya pun menangis merasa telah kehilangan sosok kakak perempuan yang selalu mendengar keluh kesahnya.
lia tidak bisa menjabat tangan samsul seperti dulu sebelum lia berhijab, lia menangkupkan tangannya di depan dada...dan samsul paham akan hal tersebut.
darandra terlihat lega melihat lia yang sangat memahaminya. darandra memeluk samsul,"selamat ya sul...saya kasih waktu dua minggu ya buat bulan madu".
samsul mengangguk, bahagia kalau bosnya itu bisa juga bermurah hati.
"
__ADS_1