
Mendengar ucapan lia seperti itu mengingatkan pada darandra yang sarkas.
"baru sehari menikah...sudah satu frekuensi..."ucapannya membuat lia mengerutkan dahinya.
lia meninggalkan orang tersebut dan masuk ke dalam kamarnya.
ada panggilan tak terjawab dari darandra.
lia pun menelpon balik.
"Assalamualaikum mas..kenapa???"
"waalaikumsalam...kangen li"
"baru 10 menit mas"
"aku putar balik ya...aku mau ajak kamu ikut sama aku...hatiku gak tenang li"
"Hah"
belum selesai bicara ,suara klakson sudah berkali -kali di bunyikan.
lia keluar setengah berlari, dan mendekat ke jendela mobil darandra.
"Loh..kenapa mas???"
"Naik li"
"kita mau kemana "
__ADS_1
"Naik!!!!"
wajah darandra tampak serius membuat lia tidak enak.
lia pun naik setelah pintu mobil dibuka dari dalam.
"Mas...kenapa???"tanya lia menoleh pada darandra.
"ikut kemana pun mas pergi..mas gak tenang kalau jauh dari kamu"
"so sweet deh mas ini...tapi bagaimana dengan semua keperluan kita"
"nanti kita beli di sana"
"tapi kita belum pamitan sama ibu"
"dasar"lia memukul bahu darandra. darandra menggenggam tangan lia dan kemudian menciumnya.
sepanjang jalan keduanya hanya diam tak berbicara, sholawat yang mengalun merdu menjadi saksi betapa indah hubungan mereka berdua.
sesekali lia ikut bersenandung membuat darandra tersenyum, suara lia yang merdu membuatnya terpesona.
darandra menghentikan mobilnya, lia menatap dengan bingung. darandra mendekat dan mencium pipi kanan lia dengan gemas.
"Kemana pun mas pergi..janji ya sayang..kamu akan ikut"
"walaupun mas gak ngajak aku...aku ikut aja ya"
darandra menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tiba di sebuah hotel, darandra segera menemui teman bisnis nya, darandra mengenalkan lia sebagai istrinya.
semua orang tampak saling melirik, darandra sudah berubah, wanita cantik dan seksi bukanlah pilihannya sebagai istri.
"hemh...pindah haluan nih bos kita"xeletuk salah satu temannya itu.
"senakal-nakalnya laki-laki..dia akan memilih wanita baik-baik untuk dijadikan istri...kalau ingin punya anak yang soleh/soleha bukan saat istrimu hamil tapi saat kamu memilih seorang wanita yang kamu jadikan istri"darandra menatap tajam pada teman-temannya itu.
"WOW....boleh nih kata-kata motivasinya...ngomong-ngomong istri model.gini nemu dimana bos????"
"di pondok pesantren lah cuy"jawab yang lain serempak.
"tidak...aku.menemukannya bukan di pondok pesantren tapi kami sudah menjalani ini semua sebelum hijrah ke pesantren"
"Hebat bro...Allah begitu sayang sama kamu...sampai Allah menurunkan bidadari dari surga"
Semua orang terkekeh, namun darandra tetap waspada, ada sesuatu di balik sesuatu jika mereka mengulur waktu seperti ini.
benar saja apa yang dipikirkan oleh darandra, mereka mengepung tempat itu, sedangkan darandra hanya bersama asisten dan lia.
lia tetap diam melihat situasi, darandra dan asisten berusaha melawan semua musuh yang ada disana , tapi bukannya berkurang malah nambah banyak, keduanya tampak kewalahan.
beberapa orang memukul lia namun lia berusaha menahannya, lia tersenyum di balik cadarnya.
"kalian salah pilih musuh"gumamnya pelan.
orang-orang yang tadi menyerang darandra dan asistennya berbalik malah menyerang lia. Lia menendang dan memukul orang -orang itu dengan santai.
lia jungkir balik ke sana kemari untuk menghindari, darandra tersenyum geli.
__ADS_1