Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Bertemu Almeera


__ADS_3

"Tapi janji ya pi, kalau aku merasa tidak cocok, jangan dipaksa. Ini hanya pertemuan." Tegas Benji.


"Ya ya ya. Baiklah nak. Dan lagi wanita itu sangat cantik. Kurasa kau akan menyukainya. Baiklah, Papi telepon dulu keluarga mereka." Sambil bergegas pergi pak Wijaya menelepon keluarga Almeera.


"Naaaai !!!!!!!naik ke kamarku." Dengan berteriak Benji memanggil Nai.


Naipun mendengar perintah tersebut kemudian pergi ke kamar tuannya.


Dikamar.


"Nai, menurutmu aku harus pakai apa? Ada - ada saja papi itu." Gerutu Benji.


"Kemeja tuan?" tawar Nai.


"Kau fikir aku mau rapat?"


"Apa aku pakai piyama ?" Benji menggaruk kepalanya.


"Kalau tidak diikuti, kasihan papi pasti tersinggung, tapi menikah dengan wanita yang tidak aku kenal sama sekalipun kasihan diriku sendiri Nai." Sambung Benji yang sedari tadi bicara sendiri.


"Dicoba saja dulu tuan, pasti wanitanya cantik. Tuan besar tidak mungkin sembarang memilihkan pasangan hidup untuk anaknya." Nai tidak ingin salah bicara.


"Jika aku hanya ingin wanita cantik, berserakan diluar sana. Tapi apa mereka bisa menyayangiku ? keluargaku? Apa dia tau sebuah perusahaan bisa bangkrut dalam waktu 1 menit? Apa dia akan berubah? Apa dia setia disampingku? Aku benci perubahan Nai. Dan bagiku mencari wanita untuk dijadikan istri tidak semudah perjodohan." Dengan nada sedikit tinggi Benji memberikan penjelasan pada Nai.


"Dicoba dulu tuan, bagaimana bisa tau jika tidak dicoba." Nai mulai mau berdiskusi dengan tuannya.


semua kalau tidak dicoba bagaimana anda tau tuan? so tau rentang kejadian yang belum terjadi dapat dikategorikan takabur.


" Kau fikir pernikahan coba - coba? Jika terbukti tidak baik, bisa cerai begitu saja?" Tanya Benji.


"Kau, kenapa dulu kau bercerai? kau janda bukan?" Sambungnya.


kenapa jadi saya sebagai korban tuan? kan saya hanya memberikan saran.


" Iya tuan, saya bingung menjelaskannya, intinya memang sudah jalannya saja saya bercerai." Gelagapan Nai tidak bisa disembunyikan.


"ITULAH EFEK COBA-COBA! Sambil melotot memandangi Nai, Benji tersenyum. Seolah ingin mencairkan suasana. Nai tersipu malu.


"Nai, kau tidak punya pekerjaan selain disini?" Ucap Benji sembari memilih pakaiannya sendiri.


"Tidak tuan."


"Baguslah." Benji tersenyum dingin.


"Bagaimana jika aku memakai sarung dan peci saja Nai? wanita Glamour seperti Almeera akan risih jika melihat aku seperti itu. Aku tau seleranya. Sambung Benji memberikan ide.


"Ah boleh saja tuan,, atau lebih baik tuan jangan memakai peci, coba pakai blangkon." Nai tak mau kalah memberikan ide.


"Biar apa Nai?"


"Biar mirip dalang tuan."


"Wahahahahahahahahahahahha,," Benji tak kuasa menahan tawanya. Nai hanya melongo tak percaya bisa melihat tuannya yang selama berbulan - bulan tidak pernah tertawa.


Dia bisa juga tertawa rupanya.


" Ah sudahlah, aku pakai pakaian ini saja. Paling papi marah. Ayo Nai turun temani aku."


Benjamin menuruni tangga dengan santai, semua yang ada di meja makan memperhatikannya. Apalagi dibelakang Benji ada Nai yang mengikuti. Terlihat kawan lama ayah Benji dengan putri cantiknya sudah duduk menunggu.


"Malam om, sehat?" Basa - basi Benji pada pak Darmawan.


"Sehat, duduk disini agar om lebih mengenal calon menantu om ini. " Ucap pak Darmawan ramah.


"Kau mau duduk disini, Benjamin? Ah beruntungnya aku." Dengan wajah menggoda Almeera bicara sambil mengulurkan tangannya. matanya terus menatap Benji.


"Almeera.."


"Benjamin.."


"Saya permisi tuan " Naipah berpamitan untuk kebelakang.


Di meja makan kini ada 2 keluarga yang sedang fokus menyantap makan malamnya. Almeera terlihat sangat senang bisa bertemu dengan Benji. Lelaki impiannya kini nyata ada didepan matanya.


"Ini pasti buatan Nai. Enak sekali. " Batin Benji.


Dia sama sekali tidak menghiraukan Almeera yang sejak tadi bertingkah seolah mencuri perhatian.


Makan malam selesai.


"Bagaimana Benji? Apa sudah kau putuskan nak, kapan pernikahan ini akan dilaksanakan? " Tanya pak Darmawan."


"Sepertinya masih harus saya fikirkan lagi om, saya masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Dan lagi, teralu dini untuk bertanya tentang pernikahan, terlebih saya dan putri om baru pertama bertemu. Maaf pi, om, saya permisi, saya harus membuat laporan untuk persentasi besok di kantor." Ucap Benji sembari berdiri.


"Benji, jika kamu tidak keberatan, aku bisa menemanimu, bagaimana? " Tawar Almeera sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak perlu repot- repot. Terimakasih."


Benji pamit menuju ke kamarnya di atas.


"Naaaaai,,, Naaaaiii,, Naaaaaaiii, temani aku."


Sebelum menaiki tangga, Benji berteriak memanggil Nai.


"Baik tuan"


"Siapa perempuan itu? Mengapa Benji lebih memilih ditemani perempuan itu? Dia kan pembantu ? Almeera.


"Maafkan anak saya, dia memang begitu. Tapi kita lihat saja,, seiring berjalannya waktu dia akan luluh. Benarkan ? Ucap pak Wijaya


"Tidak apa apa om. Tapi boleh kan om kalau aku main kesini? Sekedar untuk mengetahui bagaimana calon suamiku." Jawab Almeera.


"Tentu,, mainlah kesini.."


Keluarga Almeera pun pamit pulang.


Dikamar.


"Masuklah. Kunci pintunya." Titah sang majikan.


"Bagaimana tuan pertemuannya? " Naipah membuka obrolan.


"Aku ternyata pernah melihatnya. Dia mantan kekasih Roni saat kuliah. Aku tau siapa dia."


"Wahhhh dunia begitu sempit. Dia cantik ya tuan, seperti boneka hidup."


bagaimana wanita itu bisa terlahir cantik sempurna? kulitnya saja seperti porselen. apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana susahnya cari uang untuk bertahan hidup?


"Lagi - lagi selalu mata yang jadi andalanmu Nai. Dia satu angkatan saat sekolah model bersama Bianca, mungkin Bianca juga mengenalnya. Tapi, aku lebih percaya Bianca daripada dia." Jelas Benji.


"Oh ya Nai, sudah sebulan lebih kau bekerja disini. Aku belum memberikanmu hadiah. Kau mau hadiah apa? Tanya Benji mengalihkan pembicaraan.


"Terimakasih tuan, tapi bagi saya cukup. Se..."


"Katakan saja."


"Emhh.. bolehkah saya ke balkon tuan? Sepertinya sangat indah melihat pemandangan dari luar sana pada malam hari." Pinta Nai yang memang sejak awal menginjakkan kaki dikamar itu, pintu balkon selalu terkunci dan Nai hanya bisa memandang semua dari jendela.


"Tentu. Oh ya, kau memang tidak pernah keluar sini saat malam karena sore kau selalu pulang. Kesanalah, tidak aku kunci."


"Benar tuan? Terimakasih." Senyum bahagia Nai terpancar saat dia menatap tuannya itu.


Jantung Benji serasa berhenti berdetak.


Senyum itu.... mata itu..


Naipah sumringah saat melihat pemandangan diluar. Benar - benar indah. Dia merasa damai melihat suasana malam ditambah semilir angin yang bertiup sedikit kencang. Lampu lampu, gunung, terlihat indah meski dari kejauhan.


"Kau senang?" Tanya Benji.


"Sangat senang tuan. Terimakasih. Lagi - lagi senyumnya tak bisa disembunyikan. Dia kembali menatap mata tuannya. Tak lama dia kembali menatap pemandangan.


Sangat nyaman. Aku bisa menghirup banyak udara untuk melonggarkan sedikit sesak didadaku.


Tuhan, apa kau tau? Kau menciptakan Alam yang begitu indah di muka bumi ini. Maafkan aku yang teralu sibuk sehingga tidak bisa menikmati ciptaanmu.


Tuhan, apakah ada waktuku untuk bisa seperti ini lagi? Aku percaya padaMu semua akan berakhir, tapi kapan? Aku lelah Tuhan.


Lamunan Nai terpecahkan oleh suara Benji.


"Kau menangis?" Benji yang tiba - tiba berada disamping nai menatap tajam.


"Ah tidak tuan, saya terharu. Apakah saya akan bisa memiliki rumah sebesar ini?"Jawab Nai sambil menghapus air mata.


"Tuhan maha segalanya Nai. Tak ada yang tak mungkin. Jika Dia berkehendak, bahkan semua harta yang aku punya bisa jadi milikmu juga."


"Nai.."


"Apa dulu sejak kau menikah, kau merasa bahagia?" Benji bertanya sembari menunduk.


"Semua pengantin pasti bahagia saat menikah tuan." Nai tersenyum sembari menjawab.


"Apa ada masalah serius?lalu apa kalian kembali seperti semula saat masalah belum terselesaikan?" tanyanya lagi.


"Namanya menikah, kita harus bisa memahami satu sama lain tuan. Kelakuan, kebiasaan, kita harus memaklumi dan berluas hati. Karena rumah tangga itu perjuangan seumur hidup, maka masalah pasti ada, namun kan sudah ada 2 kepala, jadi bisa saling bertukar pikiran tuan. Masalah pasti akan terselesaikan jika kita berniat menyelesaikannya. Dan apakah kita kembali seperti semula? Tentu. Yang kita lawan itu masalahnya, bukan pasangannya."


Jawab Nai sambil menatap jauh.


"Aku butuh wanita yang sangat sabar sepertinya Nai. Apa kau tau? Aku banyak sekali mengenal wanita. Namun tidak pernah terfikir olehku untuk hidup bersama. Sejak dulu. Sebelum aku diberi perusahaan, sebelum mami pergi.


"Jadi ibu tuan..."

__ADS_1


"Dia masih hidup. Akupun tak tau dimana sekarang. Saat itu perusahaan papi disita sebagai jaminan karena papi belum bisa membayar hutang. Mami pergi. Entah kemana hingga kita tidak bisa menemukannya sampai detik ini. Itulah alasan mengapa aku sangat pemilih. Dengan aku yang sekarang, wanita mana yang menolak? Tapi jika keadaanku berbalik, wanita mana yang mampu bertahan?"


"Tuhan menjaga nyonya besar tuan. Suatu hari jika sudah waktunya, pasti tuan akan bertemu nyonya besar. Dan lagi, setiap orang memiliki jodohnya masing - masing, tuan orang baik, pasti jodohnya orang baik pula.


" Ya Nai, aamiiin, semoga. Tapi hatiku bicara bukan Almeera orangnya."


"Siapa yang tau tuan?"


"Oh ya, kau punya pacar? Atau seseorang yang spesial begitu?" Kembali Benji mengalihkan pembicaraan.


"Ada tuan" Nai tersipu malu.


sudah kuduga. wanita cantik seperti dia tidak mungkin masih sendiri, meskipun dia janda, meskipun pekerjaannya hanya pembantu.


"Oh ya, baguslah. Siapa namanya? Dimana dia bekerja? Sudah berapa lama kalian berhubungan? Kapan dia akan menikahimu?" Naipah dicecar dengan banyak pertanyaan sinis.


"Namanya Dharma Dikara tuan. Dia memiliki usaha sendiri. Kita berhubungan sudah 3 tahun. Untuk menikah, mungkin kita harus mengumpulkan uang dulu."


"Hai, 3 tahun berpacaran apa saja yang kalian lakukan? Apa tidak bosan? Apa menikahi wanita dengan melakukan masa penjajakan butuh waktu selama itu?" Benji kebingungan.


"Bagi segelintir orang menikah adalah hal mudah tuan. Namun, kita sama - sama bukan dari orang berada, biaya pernikahan menjadi salah satu alasan."


hidupmu sangat santai tuan, hanya tentang memilih wanita. Uangmu segunung. tidak akan memikirkan biaya sewa kantor RW.


"Nai, menikah urusannya dengan Tuhan, bukan dengan tamu undangan. Niatmu menikah apa sih? Hanya ingin pamer resepsi? Atau memang itu alasan kekasihmu saja karena dia tidak mau menikahimu?" senyum sinis Benji seolah ingin merobohkan keyakinan Nai.


Nai hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Nai, pastikan kapan kekasihmu menikahimu, jika kekasihmu bulan depan tidak menikahimu, bisakah kau bantu aku?"


" Maaf tuan membantu apa?"


maaf tuan, saya pembantu. apapun permintaanmu pasti saya bantu tuan.


"Berpura - puralah sudah menikah denganku, aku tidak suka Almeera tapi akupun tidak sanggup melawan papi." Dengan ringan Benji bicara. Sedangkan lawan bicaranya terlihat kaget namun berusaha mati - matian tetap terlihat baik - baik saja.


" Maaf tuan, pernikahan bukan soal pura- pura." pungkas Nai.


maaf lagi tuan, kali ini apalagi kejahilanmu?kenapa harus melibatkanku.


"Kita tidak benar menikah Nai, aku akan bilang pada papi bahwa sebenarnya kita sudah menikah dibawah tangan. Dan... Ah alasan lainnya biar aku fikirkan nanti jika kau setuju."


" Maaf tuan.. tapi..."


"Ayolah Nai, sementara. Hanya agar Almeera tidak mendekatiku, agar aku bisa fokus mencari wanita yang benar - benar aku inginkan. 1 tahun saja. Biaya pernikahanmu dengan kekasihmu itu aku yang tanggung. Keluargamu, anakmu, semua jadi tanggung jawabku. Bagaimana?" Penawaran yang menggiurkan.


"Kenapa saya tuan? "


"Sebab kau yang paling muda disini Nai, apa kau ingin aku berpura - pura menikah dengan bi Nuni?"


"Kau akan mendapatkan uang,, kau mau rumah ini? Kau bisa memilikinya jika kau mau membantuku. Kau tidak perlu bekerja lagi, kau hanya diam dan menjadi istri yang baik. SIMULASI. Anggap saja aku sedang simulasi bagaimana menjadi suami yang baik. Jadi ketika aku menikah nanti, aku sedikitnya memiliki ilmu." Sambungnya.


"Tuan, jika saya hanya memikirkan uang, saya akan dengan mudah menerima tawaran ini, tapi tuan, jika saya menerima uang tapi saya harus menipu tuan besar seper...."


"Ini bukan menipu, ini berpura - pura."


"Maaf tuan, apa bed..."


"Beda Nai, menipu itu menguntungkan dan merugikan sebelah pihak, dan jika kau ikut didalamnya, itu kau dapat uang haram, tapi jika berpura - pura, para artis di tanah air inipun dalam sinetron selalu memiliki peran dan dalam perannya pun semua berpura - pura, dan dia mendapatkan uang. Apa itu namanya uang haram juga? Bukan kan ? Tidak ada yang dirugikan. Papi senang, aku aman dan kau mendapatkan uang. Kau sangat membutuhkan uang bukan ?


"Tuan apa kata keluarga tuan, pembantu yang lain, teman tuan,," Nai menolak secara halus.


Tidak ada yang bisa menentang keinginanku. Mereka akan diam. Aku jamin. Itu semua urusanku."


"Maafkan saya tuan,, saya tidak bisa." Tegas Nai.


" Jangan terburu - buru.., bulan depan. Kau boleh menjawabnya. Pergilah ke kamarmu dan tidurlah."


Nai mengaggukan kepala, dia melangkah pergi dengan fikiran yang entah kemana.


Saat keluar kamar ternyata Bhrams sedang duduk diruang tengah.


"Hai Nai, sedang apa ? Sepertinya betah sekali dikamar kak Benji?" Sindir Bhramsy yang terlihat kesal.


"Eh mas Bhramsy, abis liat pemadangan dari balkon mas,," dengan polosnya.


" Masa? Dikamarku juga pemandangannya bagus, ayo mau.."


Ayolah berkata mau Nai, aku harus mengutarakan perasaanku.


Ckleeek....


"WAKTUNYA NAI TIDUR BHRAMSY!" Sang kakak kembali membuka pintu.


"Pergi ke kamarmu sekarang Nai." Perintahnya membentak.

__ADS_1


Nai yang sudah lelah melihat pertengkaran kakak beradik itu segera menuruni tangga dengan menunduk.


Tidak pernah ada kedamaian dimanapun, termasuk dirumah megah ini.


__ADS_2