
FLASH BACK ON.
"Nai, kenapa kau tidak membolehkan aku meminta maaf pada orangtuamu? aku telah menghina orang tuamu."
"Lalu, kau selama ini mengurus Caca sendirian? Maaf, apakah orang tua Caca keduanya sudah tiada? Tapi kenapa kau harus berbohong padaku?"
"Yang ku tangkap kau mengaku bekerja kantoran pada ayahmu, kenapa kau berbohong pada orangtuamu sendiri? Lalu kau seolah berhenti bekerja karena tidak betah. Menurutku sinetronmu ini tentang kebohongan tingkat tinggi."
Flash back off.
"Ah soal itu. Kenapa aku tidak membolehkan tuan bicara tentang kesalahan tuan ? Aku bisa memaafkanmu tuan, tapi mungkin orangtuaku tidak. Namanya orang tua, sulit untuk beradu logika. Tidak ada yang mampu mengalahkan, jadi kuputuskan untuk jadi rahasia diantara keluargamu saja. Aku tidak tega jika tuan sampai dibenci oleh orangtuaku, bukan karena hinaanya, jika hanya hinaan, mama papa dulu kerap menerimanya, mungkin yang akan menyakitkan perihal ketika tuan melontarkannya, tuan sambil memarahiku, orang tua mana yang tega anaknya dimarahi orang lain walaupun anak itu dinyatakan salah? Aku rasa tidak ada tuan." Nai menjelaskan dengan senyuman.
Benji menatap Bai yang menjawab sambil memotong beberapa cabai rawit. Jawaban yang jelas namun sarat akan majas.
"Kemudian soal Caca, aku sudah menganggapnya anakku sejak dia dilahirkan, bukan hanya itu, ketika dicetuskan untuk disimpan di panti, aku yang langsung menentangnya setengah mati. Aku tau mungkin dia tidak terlahir dari orang tua berkasih sayang penuh, sejak saat itu kuputuskan bahwa aku yang akan mengurus segala tentangnya, dengan utuh. Beberapa bulan setelahnya, rumah tangga kakakku tidak bisa bertahan, ayah Caca pergi karena memang tak papa ijinkan kembali, dan 2 taun yang lalu, ibunya pergi. Mungkin pertanyaan di benak tuan adalah Kenapa aku harus mengaku janda? Kenapa aku tidak bilang saja aku mengurus anak kakakku ? Bukan munafik tuan, sejak saat itu, aku mengaku dia anakku, pada siapapun. Kenapa? Karena apa yang akan aku peroleh jika aku tak mengakuinya? Sebutan hebat dari segelintir orang? Kekaguman seseorang yang menilai aku sangat berbesar hati mengurus anak ini? Dan berakhir dengan iba, kasihan, kemudian aku diberi segala dari sana sini? Sempat sedikit tergoda untuk melakukannya, namun tidak aku iya kan. Karena nanti mentalku tidak akan kuat, bagaimana jika aku keenakan diberi karena merasa menjadi pahlawan bagi Vaca?
Ironi , bagaimana perasaan Caca ketika mendengar aku bicara, " Ah dia bukan anakku, aku hanya mengurusnya, ibunya telah meninggal." Dia anak malang tuan, aku tidak boleh menambah luka masa kecilnya. Aku berusah memberi tau semua orang dia anakku agar dia memiliki kepercayaan diri bahwa dia walaupun tanpa ibu dan ayah, masih memiliki kasih sayang penuh." Sejenak Nai seperti mengingat memori.
"Kau sangat menyayanginya?" tanya Benji
"Lebih dari hidupku sendiri. Entah kenapa aku merasa aku benar - benar ibunya. Tuan tau? Aku jarang sekali melawan pada papa atau mama, tapi ketika mereka memarahi Caca, aku kadang balik tidak terima kemudian hampir marah pada mereka. Hahahahahaha."
Tersirat tanpa kau beri tahu Nai. Ku percayakan nanti anakku padamu. 1 lusin. Kau ibu yang baik.
"Terkait sinetron tingkat tinggi, ku akui, ya.
Pertama, Tuhan belum memberikan jalan untukku bekerja di kantor betulan, sedangkan saat itu kondisi dirumah sedang chaos tuan. Uang keluarga ini benar - benar habis karena dipakai kerumah sakit. Hanya aku tumpuan papa mama. Papa dulu pegawai BUMN, mimpinya sangat tinggi, apa menurutmu, pantas seorang anak menjatuhkan mimpi ayahnya yang setengah mati berusaha menguatkan sayapmu untuk mampu mengepak ke langit? Bagiku tidak. Kenapa aku berbohong? Karena papa tidak mengijinkan aku untuk bekerja jika tidak pasti, apalagi jadi pembantu, namun kondisi memaksaku saat itu. Aku tidak mau berbohong tuan, namun aku juga tidak mau terus - terusan mendengar keluhan dan tangisan orang tuaku. Keadaan teralu genting, seolah memaksa aku memilih di perempatan perdebatan. Ketika lampu hijau, aku harus menentukan arah, jalan mana yang harus ku pilih?"
"Kenapa menjadi pembantu? Karena saat itu, hanya itu pilihan kedua selain menyanyi. Aku berusaha setengah mati memasukan lamaran kesana kemari, namun belum ada panggilan, yang ada diotakku hanyalah bagaimana cara cepat mendapat uang dengan halal. Dan aku diberi jalan untuk menjadi pembantu dirumahmu, dengan gaji fantastis yang akupun tak tau. Cara Tuhan mengabulkan doaku. Suatu hari jika aku sukses pun, aku tidak akan pernah menceritakan ini pada papa, biarlah dia tau bahwa anaknya sukses tanpa cela. Mungkin ini caraku untuk membuatnya bahagia." Pungkasnya.
Benji seperti tercekik leher menahan tangis. Betapa tak bisa ditebak pribadi gadis yang dia hadapi. Dia berbohong, adalah kesalahan, namun alasannya sangat masuk akal.
__ADS_1
Apakah benar yang dikatakannya? akupun tidak sanggup menjangkau luas hatinya menerima semua cobaan.
"Jadi karena itu kau sabar menghadapiku?"
"Ahahahahahahah mungkin, iya. Tapi setiap orang memiliki pribadi yang berbeda, tugasku hanya memahami saja. Beres kan ?"
"Selesai masakanku. Tinggal ku siapkan." Dengan bangga Nai bertolak pinggang.
"Kau selalu menyelesaikan semuanya Nai. Kau terbaik." Pungkas Benji sembari melemparkan senyuman.
Mereka makan bertiga. Seperti keluarga kecil yang bahagia. Selera makan Benji kembali, lama sekali tidak mengecap rasa masakan Nai hingga dia menambah nasi dan lauk beberapa kali.
Setelah makan mereka menghabiskan waktu diruang tengah. Caca pergi ke kamarnya karena sudah waktunya tidur siang. Kini hanya tinggal Benji dan Nai diruangan itu.
"Nai? Boleh ku teruskan soal tadi ?"
"Boleh tuan."
"Hidup dan mati adalah masalah tuan. Dulu atau sekarang, masalah tetap datang pada semua orang."
"Ya aku tau, dan lagi kau bertanggung jawab atas kesalahanmu kan? Itu poin pentingnya. Untuk pertanyaan ini, jika menyakitimu, jika kau tidak mau menjawab, biarlah. Kau tidak usah menjawabnya. Berapa uang yang kau hilangkan ? Dan untuk apa? Apapun kesalahanmu aku dapat memakluminya jika menggunakan sudut pandangmu."
Nai menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Bersiap untuk memulai penjelasan. Benji seolah tau sepertinya Nai berat menceritakan.
"Tak usah kau jawab yang lainnya, jawablah 1 pertanyaanku, berapa uang yang habis ?" Lanjutnya kembali.
"Kurang lebih beberapa ratus juta." Nai menunduk, seperti menyembunyikan kesedihan.
"Sebutkan nominal!!!" Benji menegaskan suaranya.
"Sekitar 350 juta tuan."
__ADS_1
"Ya. Terimakasih telah menjawab pertanyaanku. Hari ini kau tidak akan kemana mana Nai?" Benji mencoba mengalihkan pembicaraan, dia menghargai Nai, khawatir Nai menangis gara - gara dia tekan masalah uang.
"Sepertinya tidak tuan. Eh apakah tuan tidak bekerja?"
"Papi suruh aku mengurus beberapa perusahaan baru di kota ini. Bagus kan? Semoga saja urusannya panjang."
Meskipun tidak panjang, aku yang akan membuatnya semakin panjang.
"Tuan, apa kabar tuan Bhramsy ?" Tanpa sengaja Nai mengingat seorang lelaki yang sangat baik padanya.
"Baik, ada apa kau bertanya tentangnya?"
"Tidak tuan. Hanya tiba - tiba teringat saja dikepalaku."
"Apa kau juga pernah tiba - tiba mengingatku? ku kuras sungai Cikapundung jika itu terjadi." Ucap Benji ngasal.
"Ah.. sepertinya aku harus menjawab tidak tuan." Nai menatap wajah tuannya dengan manis.
"Ya kau memang tak pernah sedikitpun mengingatku nai. Nampaknya harus sadar diri." Benji memalingkan wajah. Dia kesal.
" Ahahahahahahahah tidak begitu tuan, bagaimana aku bisa tidak ingat padamu? setiap hari setiap waktu tuan selalu mengganggu waktuku, apalagi saat aku bekerja padamu, aku selalu mengingatmu, mengingat hal apa yang tuan suka atau tidak, makanan apa kesukaan tuan, mengingat kemeja mana, jas mana, dasi mana, baju mana, celana mana yang tuan suka. Aku benar - benar mengingat semua tentangmu. Kenapa aku jawab tidak, aku sedikit memahami bahwa jika tuan kelelahan, tuan akan cepat marah, hihihi, dan apa jadinya jika tuan menguras cikapundung? pasti lelah sekali dan pasti sering marah, upssss!!!" Nai menutup mulutnya sembari menahan tawa, seolah menyindir.
"Nai, bekerjalah ditempatku, biar kau jadi kerja di kantor betulan." Tawar Benji.
"Dijakarta lagi tuan? hmmmm.. masih aku pertimbangkan, namun sepertinya tidak untuk sekarang, aku masih merindukan Caca setiap waktu, aku ingin berbagi kasih sayang lagi dengan anak cantik itu, makanya aku memasukan lamaran pekerjaan di daerah Bandung saja tuan." Jelas Nai.
"Sudah ada panggilan ?"
" Tadi pagi ada, jadwal interview hari Rabu tuan. 2 hari lagi." Nai sangat antusias.
" Dimana kau melamar pekerjaan?"
__ADS_1
"Di Berjaya Group tuan."